Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Saat Adam dan Rose tengah sibuk mengurus Zidane dan Karina, di lain tempat Gheana sedang sibuk menyusuri latar belakang Rose. Semalam Cesar mengirim sebuah email yang menunjukannya pada satu alamat yang berada di sebuah pedesaan.


"Cihh, pantas saja kau mengincar Adamar, Rose. Rupanya ini alasannya," gumam Gheana seraya menatap sinis pada seorang kakek tua yang sedang berjalan keluar dari sebuah gubuk yang sudah lumayan buruk.


Orang miskin ternyata.


Ya, saat ini Gheana tengah berada di sebuah desa terpencil yang menjadi tempat tinggalnya Rose. Dia berniat memisahkan Rose dari Adamar melalui kakeknya. Mengingat betapa Adam sangat mencintai wanita ular ini, maka saran dari Cesar adalah yang paling masuk akal untuk memisahkan mereka. Melalui kakek tua tersebut, Gheana berencana untuk menghasut dengan mengatakan kalau Rose telah menjual diri demi mendapatkan hidup yang mewah.


"Baiklah, Gheana. Waktunya beraksi!"


Karena keadaan desa yang hanya di tinggali oleh beberapa rumah saja, Gheana jadi tidak perlu repot-repot menutupi wajahnya agar tidak ketahuan. Dia dengan santai keluar dari dalam mobil kemudian berjalan menghampiri kakeknya Rose yang kini tengah meraba tanaman di depan gubuknya yang sudah cukup jelek.


"Selamat siang, Kakek!" sapa Gheana dengan suara yang sangat lembut. Dia kembali bermain peran dengan menjadi wanita baik-baik.


Kakek Frans langsung terhenyak kaget saat mendengar suara seorang wanita di dekatnya. Dia mengerutkan kening, mencoba menebak siapa gerangan yang datang ke gubuk tuanya ini.


Eh, kenapa kakek tua ini diam saja ya? Apa jangan-jangan dia bisu. Oh s*itt, benar-benar merepotkan.


"Namaku Zee, Kakek. Aku adalah sahabat dekatnya Rose, cucumu," ucap Gheana memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat yang untungnya pernah dia pelajari saat berada di luar negeri.


Sahabat? Bukankah Rose hanya mempunyai satu sahabat yang bernama Mona? Lalu siapa wanita ini? Apa jangan-jangan dia adalah orang suruhan Tuan Flynn. Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Tolong lindungi cucuku dari orang jahat ini, Tuhan. Aku mohon.


Gheana kebingungan sendiri melihat kakeknya Rose yang malah ingin pergi dari hadapannya. Dia dengan cepat memegang lengan tua kakek tersebut saat akan terjatuh karena kakinya menabrak tanah yang menggunduk.


"Awas Kakek, hati-hati. Kakek mau kemana, hm? Biar aku antarkan!" ucap Gheana pura-pura khawatir.


"M-maaf Nona, s-sebaiknya Nona pergi saja dari sini. Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjauhkan Rose dari keluarganya. Tolong jangan sakiti kami lagi. Aku mohon, Nona!" sahut Kakek Frans panik sambi menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan cepat. Dia berusaha menunjukkan kode kalau dirinya sangat tidak ingin bertemu dengan wanita tersebut. Bibirnya bahkan sampai gemetar saat teringat dengan kekejaman Flynn saat memotong lidahnya dulu.

__ADS_1


"Kakek, jangan takut. Aku ini bukan orang jahat, aku datang kemari dengan membawa maksud yang baik. Jadi Kakek jangan khawatir!" jelas Gheana yang paham akan kekhawatiran di diri kakek tua ini.


Kakek Frans mengerjapkan mata. Dia kemudian menuliskan kata "benarkah" di sebuah buku kecil lalu menyerahkannya pada wanita yang mengaku bernama Zee.


Dengan sopan Gheana menerima buku kecil tersebut kemudian membacanya. Dia lalu menganggukkan kepala membenarkan. Setelah itu Gheana membimbing kakeknya Rose untuk masuk ke dalam rumah. Dia mengernyitkan hidung saat mencium aroma tidak sedap dari dalam rumah ini. Dia benci debu.


Kalau saja bukan demi menyingkirkan Rose dari hidupnya Adam, aku tidak akan pernah sudi masuk ke kandang kerbau busuk seperti ini. Cihh, menjijikkan.


Saat Gheana tengah berusaha mengambil hatinya Kakek Frans, di luar rumah ada beberapa orang dari kelompok Queen Ma yang sedang berjaga mengawasi keadaan. Mereka sudah menerima kabar kalau siang ini akan ada seorang wanita yang datang bertamu ke desa dengan membawa niat tertentu. Dan benar saja, ada seorang wanita cantik yang datang berkunjung ke kediaman Kakek Frans. Salah satu dari mereka kemudian segera menghubungi Lorus untuk melaporkan hal tersebut.


"Bagaimana? Apa tamunya sudah tiba?"


"Sudah, Lorus. Sekarang wanita itu sedang bersama Kakek Frans di dalam rumah. Apa yang harus kami lakukan padanya? Membunuhnya langsung atau membiarkannya tetap hidup?"


"Biarkan saja. Nona kita bilang untuk tidak menyentuhnya dulu jika wanita itu tidak melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan Kakek Frans. Kalian cukup mengawasinya saja dari luar. Paham?"


Setelah itu panggilan terputus. Dua dari beberapa penjaga yang ada di sana langsung berbagi tugas untuk mengintai apa yang sedang dilakukan oleh sang tamu di rumah Kakek Frans. Mungkin kelihatannya sepele, tapi jika mereka sampai kecolongan, maka taruhannya adalah nyawa. Kakek Frans adalah orang yang harus benar-benar mereka jaga keselamatannya karena beliau adalah harta paling berharga bagi ketua mereka. Terlukanya Kakek Frans, maka itu adalah akhir dari hidup para penjaga tersebut. Jadilah sekarang mereka begitu mewaspadai keberadaan tamu tak di undang ini. Mereka tak mau mati dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan jika sampai lengah.


Di dalam rumah, Gheana terus memperhatikan setiap bangunan gubuk tempat kakeknya Rose tinggal. Bulu kuduknya sampai berdiri semua saat tangannya tidak sengaja menyentuh debu yang menempel di pinggiran meja.


"Nona, kalau boleh tahu ada urusan apa kau datang kemari? Juga darimana kau tahu alamat tempat tinggal ini?" tanya Kakek Frans membuka pembicaraan melalui tulisan tangannya.


"Begini, Kek. Kedatanganku kemari adalah untuk memberitahu Kakek tentang Rose. Jujur, aku sebenarnya mencuri alamat rumah Kakek dari data-data milik Rose yang ada di kampus. Hal ini sengaja aku lakukan karena aku tidak mau sahabatku terjerumus terlalu dalam pada sesuatu hal yang bisa menghancurkan masa depannya!" jawab Gheana menghayati lakonnya sebagai seorang sahabat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sahabatnya.


"Maksudnya bagaimana, Nona?" tanya Kakek Frans dengan terburu-buru bertanya melalui tulisan.


Meskipun sempat kaget mendengar perkataan wanita ini, Kakek Frans tak langsung menelan perkataannya secara mentah-mentah. Dia selalu percaya kalau Rose tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa kecewa. Rose adalah gadis yang sangat berbakti, mustahil gadis itu sanggup melakukan hal seperti yang di katakan oleh wanita ini.

__ADS_1


"Kakek, sebelumnya aku ingin meminta maaf jika kata-kataku nanti ada menyinggung dan menyakiti perasaan Kakek. Namun hal ini akan tetap aku katakan karena Kakek harus mencegah Rose agar berhenti dari melakukan hal-hal gila itu."


Jeda sejenak.


"Kek, Rose sebenarnya sudah menikah diam-diam dengan seorang pria kaya raya yang sudah berumur. Hal ini dia lakukan untuk menutupi gaya hidupnya yang glamor dan suka hura-hura. Saat aku mengetahui hal ini, sebenarnya aku sudah berusaha mencegahnya. Tapi Rose menolak, Kek. Dia bahkan mengataiku agar jangan ikut campur dalam urusan hidupnya. Inilah kenapa aku sampai nekad mencuri alamat tempat tinggal Kakek di sini. Aku mengkhawatirkan Rose, Kek. Tolong minta dia agar meninggalkan pria tua itu. Dia bukan laki-laki yang baik untuknya. Aku tidak bohong!" ucap Gheana terus berpura-pura.


Lucu juga bermain-main dengan orang bisu seperti ini. Gheana jadi tidak perlu terlalu banyak bicara demi memuluskan sandiwaranya.


Deg


Dada Kakek Frans seperti berhenti berdetak saat itu juga. Hampir, hampir saja Kakek Frans mempercayai perkataan wanita ini kalau saja dia tidak ingat bahwa cucunya bukanlah wanita rendahan yang sanggup menjual diri hanya demi kesenangan sesaat. Kakek Frans selalu percaya, bahkan sangat percaya kalau Rose adalah wanita terhormat. Di diri cucunya itu mengalir darah keluarga yang selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita. Jadi kata-kata wanita ini sedikit sulit untuk di percaya.


"Ekhmmm Nona, terima kasih sudah memberitahukan hal ini kepadaku. Nanti jika Rose pulang kemari, aku pasti akan langsung menegurnya. Sekarang bisakah Nona kembali saja ke kota? Aku ingin istirahat!" usir Kakek Frans dengan cara menulis kata tersebut menggunakan huruf kapital. Dia tidak suka cucunya di jelekkan seperti ini.


"Baiklah, Kek. Kalau begitu aku permisi!" sahut Gheana tanpa merasa tersinggung sama sekali.


Tanpa babibu lagi Gheana segera melangkah keluar dari gubuk kumuh tersebut. Senyum lebar terus menghiasi bibir merahnya saat tahu kalau rencananya telah berjalan dengan sangat mulus.


"Dasar tua bangka bodoh. Mudah sekali kau untuk di tipu. Tapi baguslah, aku jadi bisa menghemat energi karena tidak perlu bersusah payah untuk membujukmu!" ucap Gheana setelah berada di dalam mobil. "Tidak kakek tidak cucu. Keduanya sama-sama bodoh dan tidak punya otak. Haaahhh ... aku jadi tidak sabar melihat Rose menghilang dari sisanya Adam. Sekarang tugasku tinggal satu, membuat Rose secepatnya pulang ke desa ini. Setelah itu, akulah yang akan di kenal sebagai Nyonya Clarence. Ckck, kau sungguh brilian, Gheana. Gerakanmu sangat akurat dan memuaskan. Hahahahaha!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2