
📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE BIAR NANTI SORE EMAK CRAZY-UP 💜
***
Mona langsung menghambur ke arah kakek dan neneknya begitu dia keluar dari dalam mobil. Setelah itu Mona menangis, merasa sangat bersalah karena tanpa sengaja dia telah menjadi penyebab keselamatan kakek dan neneknya terancam hingga mereka harus pindah negara seperti ini.
"Sayang, kenapa menangis, hm? Apa kau sedih karena sekarang kita tidak tinggal di Negara S lagi?" tanya Shireen sembari mengelus punggung cucunya yang tengah terisak sambil memeluknya erat.
"Hiksss, Nek. Tolong maafkan Mona ya, Nek. Gara-gara Mona kalian jadi ikut menjadi korban. Mona salah, Nek," sahut Mona sambil sesenggukan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, sayang. Kau tidak salah, Nenek dan Kakek juga masih baik-baik saja. Jadi jangan menyalahkan dirimu seperti ini ya. Semuanya sudah menjadi garis takdir, sudah ada yang mengatur!"
"Nenekmu benar, Mona. Di sini tidak ada yang perlu di sesali. Yang sudah lewat maka biarkan saja, tidak usah diingat-ingat lagi. Ya?" imbuh Niel tak tega mendengar suara isak tangis cucunya.
Di saat Mona tengah menangis di pelukan neneknya, Dante yang memang sedang terluka dengan senang hati menerima uluran tangan Roland yang ingin membantunya keluar dari dalam mobil. Dia lalu tak sengaja memekik kesakitan saat luka di dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri.
"Hati-hati, Land!" ucap Grizelle panik. Sebelumnya Grizelle sudah menerima kabar kalau Dante akan pulang dalam keadaan terluka cukup parah. Namun Grizelle sama sekali tidak menyangka kalau putranya akan terluka sampai seperti ini. Anak buahnya Rose benar-benar sangat berbahaya. Bahkan terhadap saudara dari ketua mereka sendiri mereka tak ragu untuk membantainya. Grizelle jadi takut sendiri membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah Rose muncul di negara ini.
"A-aku baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir," ucap Dante sambil menekan bagian dadanya. Dia lalu menarik nafas perlahan setelah Roland membantu mendudukannya di atas kursi. "Terima kasih."
"Kau jadi seperti ini karena adikku. Jadi atas namanya Rose aku ingin meminta maaf padamu, Kak!" ucap Rolland iba melihat keadaan kakaknya yang memang lumayan parah. Rolland jadi teringat dengan keadaannya setelah di hajar oleh Rose dulu.
"Rose adalah adikku juga, bodoh. Untuk apa kau meminta maaf?"
Walaupun terluka, Dante masih sanggup berkelakar melihat Rolland yang malah meminta maaf atas apa yang terjadi padanya. Setelah itu pandangan Dante beralih ke arah Mona yang sedang menangis sambil memeluk neneknya. Kasihan, itu sudah pasti. Tadi sebelum mereka berangkat ke negara ini, Dante tak sengaja mendengar obrolan antara Rose dengan Reina. Sungguh, dia benar-benar tidak menyangka kalau Mona sama sekali tidak memiliki cara agar bisa terlepas dari sekte sialan itu. Dante merasa kalau selama ini usahanya hanya sia-sia saja karena pada akhirnya Mona akan tetap terjerat dalam lingkaran gelap mereka.
"Jangan mengusik sesuatu yang tidak seharusnya kau usik, Dante. Harusnya kau cukup sadar diri dengan apa yang terjadi padamu sekarang. Paham?" bisik Liona begitu mendengar apa yang sedang dipikirkan oleh Dante. Liona sendiri tadi cukup kaget melihat keadaan Dante yang begitu mengenaskan setelah dihajar oleh anak buahnya Rose.
__ADS_1
"Nek, apa semuanya hanya akan berakhir sia-sia?" tanya Dante lirih.
"Entahlah, Nenek juga bingung memikirkannya. Selama Nenek hidup, Nenek tidak pernah terlibat dengan masalah seperti ini. Karena biasanya kelompok mereka itu tidak suka mencari masalah dengan orang di luar lingkar pertemanan mereka. Jadi Nenek agak bingung memikirkan cara untuk memecah lingkaran itu," jawab Liona pasrah.
"Apa benar-benar sudah tidak ada jalan keluar untuk menyelamatkan Mona?"
"Kita tunggu Rose saja. Dia dan kelompoknya jauh lebih tahu tentang masalah seperti ini. Sekarang kau fokuslah pada kesehatanmu dulu. Oke?"
Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Dante setelah dia mendengar kepasrahan Nenek Liona yang ternyata juga tidak mengerti bagaimana cara untuk mengakhiri ini semua. Grizelle yang melihat Dante murungpun segera berjongkok kemudian menggenggam tangannya erat. Walaupun tidak terlahir dari rahimnya, tapi Grizelle bisa merasakan kalau putranya ini sudah mulai menyukai Mona. Jadi wajar saja jika Dante merasa kecewa karena gagal menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan hidup wanita yang di sukainya itu.
"Jangan cemas. Rose sangat menyayangi Mona, dia pasti bisa menyelesaikan masalah ini,"
"Aku sanksi, Mom. Sekte itu di ketuai oleh sepasang suami-istri yang usia mereka sendiri sudah ratusan tahun. Tidakkah Mommy berpikir kalau orang yang akan dihadapi oleh Rose sudah bisa di sebut iblis? Rose masih seorang manusia, jadi mustahil untuknya bisa mengalahkan mereka," sahut Dante setengah frustasi.
"Apapun itu kita hanya harus percaya pada Rose, selebihnya biar Tuhan yang memainkan perannya. Jika memang Tuhan berkehendak Mona tetap tinggal bersama kita, sekuat apapun persatuan sekte itu pasti bisa di hancurkan. Tapi jika tidak, kau harus rela melepaskannya, Dante. Mona ... mungkin dia terlahir untuk menjadi seorang gadis yang kurang beruntung."
"Daddy rasa perjuanganmu sudah cukup besar dalam menyelamatkan hidupnya Mona. Jadi Daddy harap kau jangan cengeng. Jadilah Dante yang selalu bisa Daddy banggakan. Oke?" ucap Vrey.
"Benar apa kata Daddy, Kak. Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi kau juga harus bisa mengerti kalau Tuhan telah menakdirkan garis hidup untuk Mona. Sekuat apapun kita berusaha untuk menyelesaikan masalah ini, jika Tuhan tidak berkehendak maka kita tidak akan berhasil. Yakin dan percaya saja kalau Mona pasti akan menemukan kebahagiaannya sendiri nanti!" tambah Rolland ikut meyakinkan kakaknya.
"Kak Oland, memangnya takdir Mona itu seperti apa sih. Dan kenapa juga Kak Dante terlihat begitu sedih. Apa karena dia babak belur begitu?"
Pandangan semua orang langsung tertuju ke arah gadis cantik yang entah sejak kapan sudah ada di sana. Rolland yang kaget melihat kemunculan Brenda pun segera menanyakan kapan dia datang.
"Kapan kau datang, hm?"
"Aku datang tak lama setelah Kak Dante dan Mona sampai di sini, Kak," jawab Brenda dengan polosnya.
__ADS_1
"Lewat mana? Kenapa aku bisa tidak tahu?"
"Oh, tadi aku naik kereta dorong yang dibawa oleh penjaga. Karena asik, jadi aku sengaja tidak menyapa kalian dulu. Hehe,"
Rolland menarik nafas. Dia lalu mengelus puncak kepala Brenda dengan penuh sayang. Calon tunangannya ini benar-benar menggemaskan. Ada saja tingkah lucunya yang membuat Rolland jadi semakin mencintainya.
"Oh ya, Kak. Kapan Rose dan Adamar datang ke sini? Mereka tidak mungkin tidak hadir di pertunangan kita 'kan?" tanya Brenda khawatir.
"Besok pagi mereka baru akan datang. Jangan cemas, mereka tidak mungkin melewatkan hari penting di hidup kita," jawab Rolland seraya tersenyum kecil.
"Benarkah? Wahhh, aku jadi tidak sabar untuk pamer pada teman-temanku kalau aku akan memiliki saudara perempuan secantik Rose. Aku yakin mereka semua pasti akan merasa sangat iri padaku!"
Mendengar celotehan Brenda yang begitu lucu membuat semua orang tak kuasa untuk tidak tersenyum. Mona yang saat itu belum sempat berterima kasih pada gadis yang telah menyelamatkan hidupnya pun memberanikan diri untuk datang menghampiri. Dia terlihat canggung saat semua mata tertuju padanya.
"Brenda, terima kasih ya karena waktu itu kau telah menyelamatkan aku. Aku sangat berhutang budi padamu," ucap Mona sambil tersenyum getir. Dia jadi teringat insiden mengerikan di hutan malam itu.
"Tidak perlu berterima kasih padaku, Mona. Yang penting sekarang kau sudah baik-baik saja dan aku berhasil menjadi kekasihnya Kak Oland. Mulai sekarang kau dan aku harus sama-sama bahagia ya karena orang jahatnya sudah di bereskan oleh Rose dan teman-temannya. Mereka tidak akan berani lagi mengganggumu," sahut Brenda dengan antusias. Brenda sama sekali tidak tahu kalau sampai detik ini nyawa Mona masih terancam.
Mona hanya tersenyum saja saat Brenda berkata seperti itu. Setelahnya Mona berbalik menghampiri Dante, menatap lekat ke arah pria yang babak belur gara-gara keegoisannya.
"Terima kasih, Dante. Aku tidak tahu harus dengan cara apa membalas semua kebaikan yang telah kau lakukan selama ini. Terlalu banyak!"
"Kalau begitu jangan di balas," ucap Dante. "Cukup dengan kau hidup bahagia, maka semua rasa lelah yang pernah aku rasakan akan langsung hilang. Tersenyumlah, berjanji padaku kalau setelah ini kau akan menjalani hari-hari sebagai Mona yang baru. Oke?"
"Aku tidak berani janji, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menata kehidupanku yang baru," sahut Mona. Dia kemudian menunduk.
Terima kasih banyak, Dante. Aku pasti akan mengingat semua hal yang pernah kau lakukan untukku. Terima kasih ....
__ADS_1
***