
Semua anggota kelompok Queen Ma langsung menundukkan kepala saat sang ketua tiba di markas. Rose yang melihat kepatuhan para bawahannya tanpa sadar tersenyum. Terkecuali Resan dan Lorus, semua orang yang ada di sana nampak terkesima melihat senyum tersebut. Wajarlah, selama ini ketua mereka tak pernah sekalipun memperlihatkan raut wajah ramah meski mempunyai paras yang sangat cantik. Sudah pasti kejadian langka ini membuat semua orang menjadi terpana.
"Halo sayang," sapa Grizelle sembari berjalan mendekat ke arah putrinya yang baru saja datang.
"Halo ... Mom," sahut Rose sedikit malu. Pipinya bersemu.
Grizelle langsung memeluk tubuh putrinya dengan penuh sayang. Hangat, hatinya benar-benar terasa sangat hangat saat Rose memanggilnya Mom. Kening Grizelle kemudian mengerut saat Rose tiba-tiba mendorong tubuhnya ke belakang sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Hoeeekkkk
"Umm, tubuhmu bau, Mom!" ucap Rose sambil menahan rasa mual yang begitu hebat.
"Bau?"
Drax yang saat itu juga ada di sana langsung mengendus tubuh Grizelle begitu Rose menyebut kalau tubuh istrinya bau. Aneh, tubuh istrinya sangat wangi, tapi kenapa Rose bilang bau?
"Tubuh Mommy sangat bau. Iya kan, Dad?" tanya Rose memastikan.
"Tidak, sayang. Tubuh Mommy-mu sangat wangi seperti biasa. Di bagian mananya yang bau? Daddy sama sekali tidak menemukan darimana bau itu berasal," jawab Drax bingung.
"Rose, kau baik-baik saja kan?" tanya Grizelle yang langsung khawatir.
Belum sempat Rose menjawab, Brenda sudah lebih dulu datang sambil berteriak. Gadis manis itu segera menghambur ke pelukan Rose tanpa mempedulikan apa yang sedang terjadi di sana. Dan anehnya, Rose sama sekali tidak mencium bau aneh di tubuh Brenda seperti yang dia rasakan ketika memeluk sang ibu. Benar-benar sesuatu yang sangat janggal.
"Akhirnya kau datang juga ya, Rose. Aku dan Mona sudah dari tadi menunggu kedatanganmu," ucap Brenda setelah melepas pelukannya. "Mom, Dad, aku pinjam Rose dulu ya. Kami bertiga sudah ada janji untuk makan malam bersama."
"Apa Mommy tidak boleh ikut?" tanya Grizelle tak rela berpisah dengan kedua perempuan ini. Dia juga masih khawatir akan sikap Rose yang tiba-tiba ingin muntah setelah memeluknya.
"No no no. Hanya ada aku, Rose dan juga Mona. Tidak dengan Mommy," sahut Brenda dengan tegas.
"Kenapa pelit sekali?"
"Bukan pelit, Mommy sayang. Tapi ini adalah permintaan Mona yang ingin menghabiskan momen indah bersama kami berdua. Jadi aku harap Mommy bisa mengerti ya?"
__ADS_1
Rose tersenyum kecil melihat bagaimana Brenda menolak ibunya agar tidak mengganggu acara mereka malam ini. Ya, siang tadi Rose mendapat pesan dari Brenda kalau Mona ingin mengajak mereka untuk makan malam bersama. Dan tentu saja Rose langsung menyetujuinya meski sebenarnya tubuhnya masih sangat lelah setelah dia dan suaminya saling meluapkan hasrat siang tadi.
"Sudah ya Mom, Dad. Aku dan Rose pergi dulu. Daahh!" pamit Brenda lalu mengajak Rose pergi menuju kamarnya Mona.
Sepeninggal Brenda dan Rose, Drax dan Grizelle saling melempar pandangan. Setelah itu keduanya di buat kaget oleh celetukan sang ibu yang sejak tadi hanya berdiri diam tak jauh dari sana.
"Tidak usah bingung begitu. Rose bertingkah aneh seperti tadi karena di dalam tubuhnya ada jiwa lain yang sedang tumbuh!" ucap Liona seraya tersenyum senang. "Kalian berdua akan segera menjadi kakek dan nenek, Zel."
"M-maksud Ibu Rose ... hamil?" tanya Grizelle tak percaya.
"Itu hanya firasat Ibu saja, Zel. Dan untuk memastikan apakah Rose hamil atau tidak sebaiknya nanti kita tanyakan langsung padanya," jawab Liona. "Tapi Ibu seratus persen yakin kalau Rose tengah mengandung anaknya Adam. Dia mendadak ingin muntah begitu mencium aroma tubuhmu. Dan biasanya, gejala-gejala seperti ini hanya akan terjadi pada wanita yang tengah hamil muda. Bukankah kau dulu juga merasakan hal yang sama ketika hamil si kembar?"
Grizelle langsung memekik kencang begitu menyadari maksud dari ucapan ibunya. Setelah itu dia langsung memeluk Drax dengan erat. Saking senangnya, mata Drax dan Grizelle sampai berkaca-kaca saat membayangkan kalau mereka akan segera mendapatkan cucu.
Sementara itu Rose dan Brenda yang baru saja masuk ke dalam kamarnya Mona segera memberi salam pada Kakek Niel dan juga Nenek Shiren.
"Halo Kakek Niel, Nenek Shiren!" sapa Rose sopan.
"Iya, Nenek Shiren. Terima kasih banyak," sahut Brenda kemudian segera duduk di sebelah Mona yang berada di kursi roda.
Mona menatap dalam ke arah Rose yang juga sedang menatapnya. Dia bahagia, entah karena apa. Yang jelas, malam ini Mona merasa waktu yang sedang berputar sekarang adalah sesuatu yang sangat berharga. Andai tubuhnya tidak sedang di penuhi luka, Mona pasti akan langsung memeluk Rose. Dia sangat rindu pada sahabat sekaligus orang yang begitu di sukainya ini.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rose.
"B-baik," jawab Mona tergagap. "Rose, aku sebenarnya sangat ingin memelukmu. Tapi tidak bisa aku lakukan karena tubuhku di penuhi luka. Kalau boleh bisakah kau mengusap rambutku? Sebentar saja, ya?"
Deg
Perasaan macam apa ini? Bayangan apa yang baru saja muncul di matanya? Bukankah saat ini Rose tidak sedang tidur? Tapi kenapa bisa dia bermimpi seperti tadi? Apa Rose sedang tidak sadar?
Wajah Mona terlihat sendu saat keinginannya tidak mendapat respon yang baik dari Rose. Brenda yang menyadari ada yang tidak beres pada diri calon adik iparnya pun segera mengguncang lengannya pelan. Dia ikut berjengit kaget saat Rose tiba-tiba memekik akibat kelakuannya barusan.
"Aaaaa!" ....
__ADS_1
"Yakk, kenapa kau berteriak sih Rose. Aku kan jadi ikut kaget!" omel Brenda sambil mengelus dada.
"Kau itu yang kenapa!" sahut Rose balas mengomel. Setelah itu dia menarik nafas dalam-dalam. "Mona, tadi kau bicara apa padaku?"
"Haa?"
"Tadi kau bicara apa, aku tidak dengar!" ucap Rose kembali mengulang pertanyaannya.
"O-oh itu ... Ak-aku ingin kau mengelus rambutku sebagai ganti pelukan yang tidak bisa aku lakukan," jawab Mona malu-malu.
Tanpa bicara apapun lagi Rose langsung melakukan apa yang Mona inginkan. Sambil mengelus rambutnya, kening Rose tidak berhenti mengernyit. Aneh, ini benar-benar aneh. Kejadian ini seperti de javu. Ya, Rose seperti pernah melihatnya di dalam mimpi.
"Haihhh, aku iri sekali melihat kedekatan kalian sebagai seorang sahabat. Sayang sekali teman-temanku tidak ada yang setulus kalian. Mereka semua mau berteman denganku hanya karena aku punya uang!" celetuk Brenda sambil berpangku dagu menatap apa yang sedang dilakukan oleh Rose pada Mona.
"Miris sekali!" ejek Rose.
"Iya, benar. Hidupmu ternyata jauh lebih miris daripada hidupku, Brenda. Walaupun temanku hanya Rose seorang, setidaknya masih ada orang yang tulus di sisiku!" timpal Mona ikut mengomentari celetukan Brenda. Dia lalu terkekeh lucu saat gadis ini mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa ya Mon orang-orang di dunia ini selalu mengukur orang lain lewat status dan harta kekayaannya saja. Padahal kan tidak semua orang baik memiliki harta yang berlimpah. Justru biasanya orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi adalah orang yang berhati busuk dan bermuka dua. Heran!"
Rose dan Mona hanya tersenyum saja saat mendengar keluhan Brenda. Setelah itu mereka memutuskan untuk segera menikmati makan malam yang telah di sediakan sambil terus mengobrol. Tak lupa juga Brenda mengabdikan moment mereka dalam sebuah foto seperti yang di inginkan oleh Mona. Sungguh malam yang sangat berkesan.
Ya Tuhan, semoga apa yang aku lihat hanyalah mimpi semata. Aku tidak siap jika semua itu harus terjadi.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1