Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose : Suasana Mencekam


__ADS_3

Cesar melempar asal koper milik Gracia saat gadis itu dengan tengilnya meminta Cesar agar membantunya. Sebenarnya Cesar enggan, tapi entah mengapa dia merasa sedikit terintimidasi oleh tatapan Rose yang sejak tadi terus saja memperhatikannya. Belum lagi dengan tatapan garang dari Adamar yang merasa cemburu gara-gara Cesar menyita perhatian Rose, membuat Cesar mau tidak mau terpaksa membantu Gracia.


“Hehe, terima kasih banyak ya atas bantuanmu. Aku senang sekali,” olok Gracia sesaat sebelum dia masuk ke dalam mobil.


“Kalau bukan karena kedua kakakmu, matipun aku tidak akan sudi membantumu. Dasar kurang ajar,” gerutu Cesar sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil yang sama dengan Gracia.


Seulas senyum tipis muncul di bibirnya Rose setelah dia melihat pemandangan lucu yang baru saja terjadi di hadapannya. Rose cukup kaget melihat keagresifan Gracia yang secara terang-terangan telah memberi jawaban kalau Gracia akan tetap mengejar Cesar meski semalam Rose telah memperingatkannya.


Nyalimu cukup besar juga, Grace. Aku harap kau tidak akan menyesalinya nanti. Hmmmm,


“Honey, ayo masuk!” ajak Adam sambil mengelus pelan pinggangnya Rose. Dia lalu menutup bagian atas mobil, memastikan agar ratunya tidak terluka.


“Dam, apa rujak kesukaanku sudah kau pesankan?” tanya Rose. Bayinya belum mendapatkan vitamin pagi ini, jadi Rose tidak akan pergi kemanapun tanpa rujak langganannya itu.


“Rujak kesukaanmu sudah menunggu di landasan. Kau jangan khawatir. Suamimu ini tidak akan mungkin melewatkan sesuatu yang sangat kau sukai itu. Terlebih lagi rujak itu bukan rujak biasa, jadi mana mungkin aku melupakannya,” jawab Adam seraya tersenyum kecil.


Cup


“Kau suami yang sangat siaga, Dam. Aku mengandalkanmu.”


Senyum lebar langsung mengembang di bibir Adam saat dia mendapat hadiah yang tak terduga dari Rose. Sambil bersiul riang, Adam membantu Rose masuk ke dalam mobil kemudian berlari memutar masuk lewat pintu samping. Setelah itu Adam memerintahkan bawahannya untuk segera melajukan mobil menuju landasan pesawat di mana jet pribadi miliknya berada.


Dalam perjalanan kali ini, Adam sengaja meminta Cesar agar tak satu mobil dengannya. Alasannya satu, karena permintaan Rose. Adam bukan tidak tahu kalau Gracia menyukai Cesar, dia hanya berpura-pura tidak peduli saja karena Adam tak yakin Gracia akan mampu menghadapi sikap Cesar yang sangat aneh dan juga gelap. Terkadang Cesar bisa terlihat seperti pria konyol yang gemar bergonta-ganti pasangan. Namun ada kalanya juga Cesar terlihat dingin bak vampire yang bisa menghilangkan nyawa orang tanpa bisa di duga-duga. Bukannya Adam tak mengenal baik orang kepercayaannya itu, hanya saja Adam tak terlalu mempedulikannya karena selagi Cesar tidak berkhianat, maka Adam akan membebaskannya dalam bersikap. Begitu.


“Adam?”

__ADS_1


“Hmm?” Adam menoleh. Dia lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya Rose. “Ada apa, Hon? Rindukah?”


“Kau selalu menempel padaku. Lalu bagaimana caraku merindukanmu?” tanya Rose. Dia lalu menghela nafas. Rose … dia menginginkan sesuatu.


“Katakan. Aku tahu kau sedang menahan diri untuk tidak memberitahuku tentang apa yang ingin kau makan,” ucap Adam tanggap akan arti helaan nafas istrinya.


Rose sedikit tersipu. Bahkan sekarang Adam bisa dengan mudah mengetahui apa yang sedang dia inginkan. Mungkinkah ini adalah pertanda baik? Entahlah, Rose tidak berani meyakini. Dia takut kenyataan yang akan terjadi nanti berbeda dengan apa yang dia harapkan.


“Honey, kenapa diam, hm? Katakan, beritahu aku makanan apa yang di inginkan oleh anak kita. Mommy Grizelle bisa memanggangku hidup-hidup kalau cucu pertamanya sampai terlahir dengan air liur yang terus menetes gara-gara keinginannya tidak terpenuhi saat masih tinggal di dalam perutmu. Ayo cepat katakan, Hon!” desak Adam saat Rose tak kunjung memberitahunya.


“Bisakah aku memakan sandwich yang di taburi irisan cabai dan sambal?” tanya Rose sambil menelan ludah. “Aku … tiba-tiba sangat ingin makan sandwich yang seperti itu.”


Nyawa Adam seperti terbang keluar begitu dia mendengar jenis makanan yang di inginkan oleh anaknya. Sungguh, ini mengerikan. Bayangkan saja. Sekarang masih jam enam pagi dan Rose menginginkan makanan yang di penuhi dengan cabai dan sambal. Menurut kalian jenis sandwich seperti ini sangat mengancam kenyamanan perut tidak? Kalau menurut Adam sih iya.


“Honey, dengarkan aku. Aku bukan tidak mau membelikan sandwich seperti yang sebutkan barusan. Akan tetapi dengan irisan cabai dan juga sambelnya, jujur aku sedikit keberatan. Kau belum makan apa-apa, Honey. Aku takut perutmu sakit,” jawab Adam mencoba membujuk Rose agar tidak memakan makanan mengerikan itu.


Rose kesal. Rasanya dia seperti akan menangis sekarang. Ternyata hormon ibu hamil mampu membuat Rose yang biasanya mandiri berubah menjadi wanita manja yang mudah merengek. Tapi jujur, Rose sangat menyukai moment manis ini. Masa bodo Adam akan menganggapnya cengeng atau manja, Rose tak peduli.


“Pesankan sandwich seperti yang di inginkan oleh istriku!” perintah Adam pada pengawalnya. Adam mengalah. Dia berusaha untuk memenuhi keinginan Rose meski hatinya sedikit tidak rela.


“Baik, Tuan!”


Adam menoleh. Dia lalu mengusap pelan bibirnya Rose yang sedang menampilkan sebuah senyum bahagia di sana. “Sesenang itu, hm?”


“Apalagi yang bisa membuat seorang wanita merasa senang selain perhatian dan juga kepedulian dari suaminya sendiri, Dam. Terima kasih ya sudah bersedia mengertiku yang sedang dilanda badai manja ini,” jawab Rose.

__ADS_1


“Badai itu datang karena aku yang membuatnya. Jadi kau tidak perlu berterima kasih padaku,” sahut Adam. “Dan aku malah senang melihatmu mau bermanja padaku. Coba saja kalau kau tidak sedang hamil. Kau pasti akan langsung membelinya sendiri tanpa harus merengek padaku seperti tadi. Iya ‘kan?”


Rose menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia diam merenung, ketakutan itu datang lagi. Apa yang akan terjadi pada bayinya kelak jika Adam sampai memutuskan untuk memihak pada Royce? B*ajingan itu … astaga. Rose sungguh tidak menyangka kalau selama ini Adam bersahabat dekat dengan manusia yang ternyata adalah dalang di balik dalangnya Flyn, si pria k*parat yang telah menghancurkan memori masa kecilnya. Semakin Rose memikirkan tentang Royce, dia semakin merasa penasaran mengapa pria ini bisa menyimpan dendam terhadapnya. Mungkinkah ada satu kejadian yang telah Rose lupakan?


{ Jeng jeng jeng … Di part ini emak akan membawa kalian berwisata ke masa lalu yang menjadi asal-muasal tentang kehadiran Royce. Bagi kalian yang sudah membaca novel emak yang berjudul HISTORY OF LIANG ZHU { REINKARNASI KEDUA } kalian pasti akan tahu ada salah satu part yang sengaja emak biarkan menggantung tanpa ada jawaban yang jelas. Sedikit clue-nya. Ini tentang balas dendam yang Abigail lakukan pada keluarganya. Kalau ketemu, fiks kalian anggota gengnya Mbak Liona }


“Kau melamun, Honey,” bisik Adam. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Rose kemudian mencium pundaknya. “Ada apa, hm? Apa yang sedang kau pikirkan?”


“Dam, jika nanti kita di hadapkan pada satu persimpangan, keputusan apa yang akan kau ambil?” tanya Rose.


Sebelah alis Adam terangkat ke atas. Tatapan matanya langsung berubah dingin saat dia menyadari kemana arah pembicaraan Rose.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Kau tahu benar alasan mengapa aku bertanya seperti ini padamu, Dam. Jawablah.”


“Apapun jawabanku, kau hanya harus yakin kalau aku tidak akan mungkin mencelakai anak kita,” jawab Adam.”


“Sesimpel itu?”


“Ya,”


“Termasuk menjadi musuhku?”


Suasana di dalam mobil berubah mencekam saat Adam dan Rose saling melayangkan tatapan dingin. Bahkan kedua pengawal yang saat itu duduk di kursi depan sampai mengusap tengkuk belakang mereka saking takutnya merasakan aura gelap yang menyelimuti udara di dalam mobil. Sungguh mengerikan. Pasangan suami-istri itu bak sepasang iblis yang mampu merubah suasana hanya dalam sekejab. Horor sekali bukan?

__ADS_1


***


__ADS_2