
Di Negara N, Rolland yang baru saja kembali dari kantor langsung tersenyum semringah ketika mendapati Brenda yang tengah tergolek santai di sofa ruang tamu rumahnya. Dia kemudian melangkah dengan sangat ringan, berniat mengejutkan calon istrinya yang bandel ini.
"Aih, kenapa Kak Oland lama sekali sih pulangnya. Cacing di dalam perutku sudah kurus kering karena menahan lapar. Kapan dia akan pulang?" gumam Brenda sambil mencebikkan bibir.
Selang satu detik setelah Brenda selesai bergumam, dia di kejutkan oleh telapak tangan besar yang tiba-tiba menutupi matanya. Untuk beberapa saat Brenda hanya terdiam dengan tubuh kaku. Namun sedetik kemudian, suara jeritannya langsung menggema memenuhi setiap sudut rumah.
"WAAAAAAAA!! PENCURI! SETAAAANNNN!"
Rolland yang tidak menyangka kalau Brenda akan berteriak sekuat itu hampir saja jatuh terduduk di lantai karena kaget. Dia yang awalnya berniat mengageti gadis ini, malah berujung dengan dia yang kaget sendiri.
"Setaann!! Tolong aku! Siapapun, tolong selamatkan aku dari setan berjari besar!! Tolong!" jerit Brenda dengan mata yang terpejam erat. Dia benar-benar sangat takut sekarang.
"Hei hei hei, ini aku, Rolland!" sahut Rolland seraya mengguncang bahu Brenda yang terus saja berteriak.
"Ha? Kak Oland?"
Begitu mendengar nama calon suaminya, Brenda langsung berhenti berteriak. Rasa takutnya pun langsung hilang seketika begitu dia membuka mata dan mendapati wajah tampan di sebelahnya. Tanpa di duga-duga, dengan gerakan yang sangat cepat Brenda melompat ke pelukan Rolland. Dan hampir saja keduanya jatuh terjungkal ke lantai jika seandainya tidak ada pelayan yang menahan tubuh Rolland dari samping.
"Hati-hati, Tuan Muda, Nona Brenda. Kalian berdua bisa terluka jika sampai terjatuh tadi!"
"Hehehe, maafkan aku ya, Bi. Aku terlalu senang melihat calon suamiku pulang sampai-sampai tidak sadar kerasukan jurus monyet. Makanya aku bisa melompat seperti tadi," sahut Brenda seraya menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Sementara Rolland, pria itu hanya diam saja sambil menatap lekat gadis cantik yang masih berada di pelukannya. Ingin marah, tapi ini adalah Brenda. Jadi Rolland memutuskan untuk diam membiarkan gadis ini mau bicara apa.
"Oh ya Tuan Muda, tadi Tuan Gerald datang kemari. Beliau bilang ada sesuatu hal yang ingin di bicarakan dengan anda!" ucap seorang pelayan melaporkan.
"Kapan?" tanya Rolland cepat.
"Sore tadi sekitar pukul lima sore, sebelum Nona Brenda datang kemari. Dari raut wajahnya sepertinya hal tersebut sangatlah penting. Tuan Gerald juga berpesan agar anda segera pergi ke rumahnya setelah pulang dari kantor."
__ADS_1
Rolland mengangguk. Benaknya mulai bertanya-tanya mengapa saudaranya itu tidak langsung menemuinya saja di kantor. Jika kalian penasaran siapa Gerald, dia adalah anak dari Bibi Barbara Ann dan Arion Thampson, dan cucu semata wayang dari pasangan Kakek Vrey Thampson dan Nenek Cleo Oliver Ma, yang tak lain adalah adik dari kakek neneknya, Greg Ma dan Liona Serra. Dulu sebelum Gerald lahir, Organisasi Grisi di pimpin oleh Paman Arion. Dan setelah saudaranya lahir ke dunia, Organisasi Grisi kembali menjadi satu-satunya organisasi yang sangat di takuti berkat kepiawaian Gerald dalam memimpin. Mungkin jika di Negara S ada kelompok Queen MA yang di pimpin oleh Rose, di Negara N ada organisasi Grisi yang di ketuai oleh saudaranya. Kedua kelompok ini kemungkinan besar memiliki kekuatan yang cukup berimbang. Karena Gerald ... dia sama kejam dan dinginnya seperti Rose.
"Kak Oland, apa setelah ini kau akan pergi lagi?" tanya Brenda sambil memainkan dasi di leher Rolland.
"Gerald datang sendiri untuk mencariku. Itu artinya ada sesuatu yang telah terjadi. Mau tidak mau aku harus pergi mencarinya untuk menanyakan kenapa dia datang kemari. Kau tahu sendiri bukan kalau keluarga calon suamimu ini memiliki banyak musuh di luaran sana? Kami harus saling bantu membantu agar semuanya bisa aman terkendali," jawab Rolland.
"Emm, begitu ya. Ya sudah tidak apa-apa, tapi malam ini bolehkan kalau aku menginap di kamarmu? Tenang saja, Kak. Sebelum datang kemari aku sudah menyuap Mama dan Papa agar mengizinkan aku untuk tidur di sini."
"Dan mereka mengizinkan?"
Brenda mengangguk dengan cepat.
"Malah Papa bilang jika bisa saat aku pulang ke rumah besok aku memberikan oleh-oleh cucu untuk mereka. Papa dan Mamaku sangat keren kan, Kak?"
Para pelayan yang masih belum pergi dari sana nampak menundukkan kepala sambil mengulum senyum saat mendengar ucapan Brenda yang blak-blakan. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau gadis ini akan bicara tanpa memandang situasi. Juga tidak peduli kalau kata-katanya mengandung maksud yang vulgar atau tidak.
Kuatkan imanku dalam menghadapi calon istriku yang polos ini, Tuhan. Aku tidak mau malam ini terjadi sesuatu yang belum seharusnya boleh terjadi.
"Kak, aku lapar. Cacing di dalam perutku sudah meronta-ronta sejak tadi. Ayo makan!" rengek Brenda dengan tatapan memelas.
"Baiklah," sahut Rolland sembari menghela nafas. Jakunnya bergerak naik turun ketika benda kenyal yang menempel di dadanya terus saja bergerak saat dia mulai berjalan menuju ruang makan.
Astaga Brenda, kau benar-benar menguji mentalku malam ini.
"Oh iya Kak, apa Rose sudah menelponmu?"
Rolland langsung teringat dengan kabar baik yang di terimanya siang tadi begitu Brenda menyebut nama adiknya. Segera dia memberitahukan kabar tersebut kepadanya.
"Sayang, ada kabar baik yang ingin kusampaikan padamu. Rose hamil, dia sedang mengandung anaknya Adam sekarang."
__ADS_1
"Woaaahhh, benarkah? Keren sekali, Kak. Itu artinya kita akan segera menjadi Paman dan Bibi ya? Waahh, Adam benar-benar tokcer. Ternyata dia bisa mencetak anak juga!" pekik Brenda seraya bersorak senang.
"Tidak hanya Adam saja yang bisa mencetak anak, sayang. Aku juga bisa. Tapi belum sekarang!" ucap Rolland yang merasa iri saat mendengar Brenda membanggakan pria lain. Dia cemburu, meski Adam adalah suami dari adiknya.
"Kenapa tidak sekarang, Kak?"
"Karena belum waktunya."
"Kalau setelah kita makan malam, bagaimana?"
Brenda menatap penuh harap ke arah Rolland yang hanya diam tak menanggapi. Dia lalu mengernyitkan kening melihat wajah Rolland yang tiba-tiba memerah. Khawatir calon suaminya demam mendadak, Brenda segera memeriksa suhu badannya dengan menempelkan punggung tangan ke kening Rolland.
Aneh, suhu tubuhnya normal. Bahkan tidak ada rasa panasnya sama sekali. Tapi kenapa wajah Kak Oland merah begini ya? Masa iya dia terkena alergi gara-gara aku mengajaknya untuk membuat anak? Ah, sepertinya aku perlu konsultasi pada teman-temanku untuk membahas tentang keanehan ini.
Setelah sampai di ruang makan, Rolland segera menurunkan Brenda dari gendongannya kemudian pergi untuk mencuci tangan. Dia lalu membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin, berharap kalau sesuatu yang sedang menegang di bawah sana bisa segera kembali normal.
"Aku bisa gila. Brenda benar-benar masih sangat polos. Dia bahkan tidak menyadari kalau ucapannya tadi bisa membangunkan macan yang sedang tidur. Ck, kalau begini ceritanya apa aku sanggup menunggu sampai Brenda lulus kuliah? Bagaimana kalau aku dan juniorku mati jamuran? Kan tidak lucu?" ujar Rolland sebelum kembali ke ruang makan. Dia di buat frustasi oleh kepolosan dari calon istrinya sendiri.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...BOM KOMENTAR SELUCU, SEDONGKOL, DAN SEPUAS KALIAN YA BIAR EMAK MAKIN SEMANGAT CRAZY UP ๐...
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1