
Dag dag dag
"Adaaammm!! Tolong keluarkan Papa dari dalam peti ini, Nak. Papa kesakitan, tolong bukaaaaa!" teriak Zidane sambil terus menendang bagian atas peti yang mengurung tubuhnya.
Seluruh kulit di tubuh Zidane rasanya seperti terkelupas sekarang. Panas, perih, sakit, dan juga ngilu. Entah racun apa yang di tuangkan ke dalam peti ini, sampai-sampai Zidane merasa sangat menderita dalam pesakitan seperti ini.
"Dasar kau sialan, Karina. Gara-gara kau, sekarang Adamar jadi membenciku. Awas saja. Begitu ada celah untuk kabur dari sini, aku bersumpah akan menculikmu kemudian mencincang tubuhmu sampai halus. Dasar j*lang, kenapa juga kau harus di temukan hah! K*parat!" amuk Zidane menggila sendirian.
Kalau saja Zidane tahu akan ada kejadian seperti ini setelah pertemuannya dengan Rose, dia pasti akan langsung membunuh Karina hari itu juga. Siapalah yang menyangka kalau Rose dan orang-orangnya ternyata sangat licik. Mereka menggunakan tipu muslihat untuk menjebaknya agar mau menunjukkan di mana Karina berada. Bahkan tidak hanya itu. Zidane juga kehilangan seseorang yang begitu dia cintai tepat sebelum Karina di bawa pergi dari tempat penyekapan. Marah, benci, mendendam, itu sudah pasti. Tapi sekarang Zidane tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya terbelenggu dalam sebuah peti besar yang mana telah di paku dari luar.
Jika di dalam peti Zidane tengah meratapi nasibnya, di luar peti Reina and the gengs sedang tertawa-tawa sambil melihat layar CCTV yang tersambung ke dalam peti. Ya, Adamar Clarence meminta agar segala hal yang dilakukan oleh Zidane bisa di saksikan oleh semua orang agar dia bisa memastikan kalau pria gemulai tersebut benar-benar tersiksa. Sadis bukan? Dan itu baru mulut Adamar saja yang bertindak. Nona mereka ... ho-ho-ho. Itu sudah pasti akan jauh lebih sadis dan mengerikan lagi di banding apa yang sedang di rasakan oleh Zidane sekarang.
"Resan, Lorus, bagaimana kalau kita bertaruh berapa lama si Zalina itu akan mampu bertahan menghadapi siksaan dari Marcellino. Sehari, seminggu, sebulan, atau bahkan setahun. Dan hadiah untuk pemenangnya adalah satu buah mobil keluaran terbaru. Bagaimana? Kalian setuju tidak?" tanya Reina dengan semangat.
Resan dan Lorus hanya diam tak menanggapi ajakan Reina. Mereka memilih fokus menyaksikan bagaimana Zidane yang tengah meronta-ronta menahan sakit saat bubuk beracun itu kembali di tabur melalui lubang-lubang kecil yang ada di bagian atas peti. Sesuai keinginan suami dari Nona mereka, pria gemulai yang terjebak di dalam peti tersebut tidak akan memiliki nasib baik meski hanya sedetik. Mereka bertiga akan benar-benar menciptakan neraka terburuk yang pernah ada di dunia ini.
"Haisshhh, kenapa kalian mengabaikan aku sih!"
"Diamlah, Rein."
"Reina, Lorus. Bukan Rein. Isshhhh!"
Kesal karena Lorus terus memanggilnya Rein, Reina akhirnya memukul peti untuk meluapkan kemarahannya. Dan dia semakin menggila saat terdengar suara jeritan minta tolong dari arah dalam. Tanpa merasa kasihan sama sekali, kini Resan dan Lorus malah mengikuti jejak Reina. Mereka ingin mengerjai Zidane karena semakin kuat mereka memukul, maka akan semakin banyak serbuk racun yang berjatuhan ke tubuhnya.
"Aaaaa, sakiiitttt! Tolooonnggg ... tolong keluarkan aku dari sini. Tolong aku!" teriak Zidane sambil menggaruki tubuhnya yang terasa sangat gatal.
__ADS_1
"Keluar saja sendiri kalau kau bisa, Zalina. Dasar makhluk dua alam kau!" sahut Reina dengan suara yang sangat kencang.
Eh, bukankah itu suaranya Nona Reinadelwis? Sedang apa dia di sini? Apa Rose dan Adam yang memerintahkannya untuk menyiksaku? Sialan. Jika ini benar, maka matilah aku. Di luar fisiknya mungkin adalah seorang wanita. Tapi jati diri asli Nona Reinadelwis adalah seorang pria. Kegilaan dan kekuatannya setara denganku. Arrrggghhh, brengsek! Kalau sudah terkepung seperti ini bagaimana caraku untuk melarikan diri? Brengsek, brengsek, brengsek.
"Kenapa dia diam? Tidak mati kan?" tanya Reina penasaran saat tak lagi mendengar suara teriakan Zalina.
"Tidak. Mungkin dia kaget setelah mendengar suara teriakanmu tadi," jawab Resan sambil menatap layar yang menampilkan raut bingung Zidane.
"Sialan."
Suasana menjadi hening untuk beberapa menit. Baik Resan, Lorus, Reina, maupun Zidane, tidak ada satupun dari mereka yang berkata-kata. Entah apa sebabnya. Yang jelas, diamnya Zidane adalah karena dia yang tengah merasa panik setelah mengetahui kalau Reina ternyata ada di sana. Saking kagetnya Zidane, dia sampai melupakan rasa sakit yang tengah mendera tubuhnya.
"Hmmm, ini sudah waktunya untuk menjalankan perintah dari Tuan Adam, Resan. Jangan lupa, dia juga meminta rekaman video dari setiap kesakitan yang akan di tanggung oleh ayah palsunya itu!" ucap Lorus seraya membunyikan tulang-tulang di jari tangannya.
"Baiklah," sahut Resan. "Hati-hati. Bubuk beracun tadi belum sepenuhnya melebur ke kulit Zidane. Tangan kalian bisa terkelupas jika sampai terkena. Gunakan sarung tangan saja sebelum membuka peti ini."
"Kau yang terbaik, Reinadelwis!"
"Oh, itu tentu saja."
Resan kemudian mundur ke belakang saat Lorus mengambil satu sarung tangan dari tangannya Reina. Dia memperhatikan dengan seksama bagaimana pria tidak sabaran ini mencongkel paku yang tertanam di bagian atas peti. Tak lupa juga Resan mengabadikan moment tersebut ke dalam sebuah rekaman video yang nanti akan dia kirim pada Tuan Adamar.
"Ambil posisi paling keren saat kau mengarahkan kamera ke arahku, Resan. Aku bisa di ejek Adam kalau gambarku jelek nanti!" ucap Reina mengingatkan.
"Iya, aku tahu. Tenang saja, kau yang paling bagus di dalam video ini," sahut Resan dengan sabar mengiyakan keinginan rekannya tersebut.
__ADS_1
Tak tak tak
Dari dalam peti, Zidane berubah menjadi sangat panik saat mendengar bunyi-bunyian dari bagian atas peti. Dia gelisah, panik dan juga takut. Zidane tidak bodoh. Dia jelas tahu kalau sekarang orang-orangnya Rose sedang berusaha membuka peti tempat dia di sekap. Zidane juga tahu begitu dia keluar, maka dia akan menerima jenis siksaan baru yang mungkin akan jauh lebih mengerikan dari apa yang sedang dia rasakan sekarang.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau di sentuh oleh orang-orangnya Rose. Mereka kejam dan tidak berperikemanusiaan. Tolong, siapapun tolong aku. Selamatkan aku dari orang-orang kejam ini!" ratap Zidane lirih.
Andai saja kata-kata tersebut di dengar oleh Reina, Zidane pasti akan langsung tamat. Bagaimana tidak! Apakah kalian pikir Reina dan kedua rekannya akan sudi untuk menyentuhnya? Yang benar saja. Mereka sebenarnya tidak hanya ingin menyentuhnya saja, tapi mereka sudah sangat ingin menguliti Zidane hidup-hidup. Kalau bukan larangan dari ketua mereka, saat ini Zidane pasti sudah menjadi makanan anjing jalanan. Cihhh, seenaknya berpikir mereka ingin menyentuhnya. Mencabut nyawanya iya.
Setelah beberapa menit menghabiskan tenaga untuk mencongkel paku, Lorus akhirnya berhasil membuka penutup petinya. Dia tersenyum lebar ke arah Resan dan Reina sebelum membuka penutup peti tersebut.
"Ohohoho, permainan seru akan segera di mulai, Lorus. Ayolah cepat buka. Aku sudah tidak sabar ingin segera menyapa tuan konglomerat kita!" ucap Reina sembari menggosok-gosokkan telapak tangannya.
"Oke!"
Cklaak
Dan peti pun terbuka!
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...