Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Ilusi Kesakitan


__ADS_3

Setelah puas menyiksa Zidane, Adam keluar dari dalam ruangan itu dengan langkah yang sedikit sempoyongan. Ya, tadi dia sempat menjilat darah Zidane yang memercik ke wajahnya. Jadi sekarang Adamar keracunan karena cambuk yang dia gunakan tadi sudah di baluri racun sebelumnya.


"Dam, you oke?" tanya Cesar yang dengan gesitnya langsung menangkap tubuh Adam. Pria ini hampir saja tumbang ke tanah kalau dia tidak sigap menghampiri.


"Beri aku penawar!" jawab Adam sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Bawa kemari saja, Ces. Aku tahu bagaimana cara untuk menyembuhkannya!" sahut Rose santai. Dia kemudian menjilat sisa bumbu rujak yang menempel di jari telunjuknya.


"Honey, jangan!" seru Adam cemas.


"It's oke, Dam."


Rose menganggukkan kepala ke arah Cesar yang terlihat ragu saat akan membawa Adam mendekat padanya. Dia kemudian tersenyum, sadar kalau Adam mengetahui apa yang ingin dia lakukan padanya. Ya, Rose akan meng*isap racun melalui bibirnya Adam, dan tentu saja ini akan berimbas pada kesehatannya. Tapi tidak masalah, karena itu jauh lebih baik mengingat kalau di sini tidak ada penawar untuk racun tersebut. Memang tidak mematikan, tapi cukup membuat orang yang menelan racun tersebut mengalami muntah darah dan juga ilusi kesakitan yang begitu menyiksa. Kenapa Rose bisa tahu? Tentu saja dia tahu karena Rose-lah yang meracik racun tersebut. Di tambah yang menyempurnakan racun itu adalah anggota kelompok Ma Queen, sudah pasti Rose tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan Adam dari ilusi kesakitan itu.


"Hon, pikirkan tentang bayi kita. Aku masih sanggup bertahan!" ucap Adam begitu sampai di dekat Rose. Dia memang kesakitan, tapi akal sehatnya masih bisa berfungsi normal dengan tidak membiarkan anak dan istrinya berada dalam bahaya.


"Hmmm."


Tanpa mengindahkan larangan Adam, Rose dengan cepat menangkup kedua pipinya kemudian mencium bibirnya. Rose dengan memakai trik yang di kuasainya, berhasil menarik semua racun yang tertinggal di mulut Adam. Rasanya begitu pahit dan juga kelat, membuatnya hampir muntah karena rasa ini isi membuat perutnya bergejolak.


Hueeekkk


Setelah memastikan mulut Adam bersih dari racun ilusi itu, Rose dengan cepat memuntahkan darah dari mulutnya. Dia sedikit terhuyung ke samping sebelum akhirnya tubuhnya di tangkap oleh mutannya Zidane.


"Hati-hati dengan bayinya!"


"Ya."


Mata Adam sedikit berkunang-kunang, tapi sedetik kemudian rasa sakit yang tadi menderanya perlahan-lahan mulai hilang. Pandangan mata Adam kemudian tertuju ke arah Rose yang sedang di papah duduk oleh mutannya Zidane. Dan nafasnya hampir saja terhenti saat Adam melihat mulut Rose yang berdarah-darah.

__ADS_1


"Jangan panik. Darah ini berasal dari racun yang tidak sengaja kau telan!" ucap Rose tanggap akan kekhawatiran di diri Adamar.


"Ck, sudah kubilang aku bisa menahannya. Kau ini kadang-kadang keras kepala juga ya!" kesal Adam. Cepat-cepat dia berjalan menghampiri Rose kemudian menyeka darah yang tertinggal di sudut bibirnya. "Mana yang sakit, hm?"


"Tidak ada."


Adam menghela nafas. Dia kemudian menoleh ke arah dinding kaca di mana Zidane asli berada.


"Dia tidak akan mati hanya karena terkena racun ini, Dam. Paling banyak kulit di tubuh Zidane hanya akan terkelupas lalu mengeluarkan cairan yang sangat busuk. Dia tidak ikut menelan racunnya 'kan?" tanya Rose sembari mengelus pelan wajah tampan Adamar. Suka, dan hatinya begitu senang melakukan hal ini.


"Tidak. Aku hanya mengoleskan racun itu pada bagian atas cambuk yang aku gunakan untuk menghajarnya tadi," jawab Adam.


"Baguslah."


"Akan sangat menyedihkan kalau bajingan itu harus mati dengan mudah, Hon. Aku tidak rela."


"Tidak akan. Kecuali jika Tuhan sendiri yang mengirim malaikat mautnya untuk mencabut nyawa Zidane. Aku tidak memiliki kuasa untuk melawannya."


"Segeralah lahir supaya Mommy dan Daddy bisa mengajakmu mengelilingi dunia, sayang. Ketahuilah, ada banyak sekali hal menyenangkan di sekelilingmu. Termasuk juga dengan satu permainan yang bahkan orang dewasa saja sangat suka memainkannya," ucap Adam penuh maksud.


"Akan tiba sendiri waktu untuk menemukan semua anggota dari permainan itu, Adam. Hanya tinggal beberapa waktu lagi. Kau, aku, dan kita semua akan segera mengetahui kebenarannya," sahut Rose paham akan arti di balik ucapan Adam barusan.


"Setelah tahu nanti apa kau akan marah, Hon?"


"Marah?"


Rose tersenyum. Dia menggerakkan tangannya untuk mengelus tangan Adam yang berada di atas perutnya. "Mungkin kau yang akan kaget saat mengetahui kebenarannya, Dam. Karena itu sudah di atur dari begitu lama."


"Hmmm, aku jadi tidak sabar menantikan kapan hari itu tiba."

__ADS_1


Cesar dan mutannya Zidane hanya diam mendengarkan percakapan penuh teka-teki antara Rose dengan Adamar. Sebenarnya Cesar mengetahui apa arti percakapan mereka. Akan tetapi dia sadar kalau ini bukan ranahnya untuk bisa ikut campur. Satu hal yang Cesar harapkan. Jika waktunya tiba nanti, dia berharap di antara Adam dan Rose tidak akan terjadi pertikaian. Kedua orang ini sama-sama keras kepala dan sama-sama kekeh pada keinginan masing-masing. Awalnya Cesar sempat kesulitan, tapi lama-kelamaan dia akhirnya terbawa arus permainan mereka juga. Dan di sinilah dia sekarang. Menjadi orang yang berdiri di kedua kubu di mana keduanya saling memainkan puzzle yang sangat rumit.


"Honey, bagaimana kabar Mona sekarang? Apa Dante sudah berhasil menyembuhkan penyakitnya?" tanya Adam. Dia baru ingat kalau Mona masih dalam tahap penyembuhan.


"Sudah jauh lebih baik. Akan tetapi butuh waktu untuk Mona bisa menerima kehadiran Dante di hidupnya. Dia masih membutuhkan waktu yang panjang untuk beradaptasi dengan seorang pria," jawab Rose.


Sebelah alis Adam tertarik ke atas.


"Dante menyukainya?"


"Maybe yes, maybe no. Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi bukan? Mona memiliki fisik yang begitu cantik, hanya batinnya saja yang bermasalah. Tidak menutup kemungkinan kalau Mona akan menjadi miliknya Dante jika dia benar-benar sudah bisa melupakan perasaannya padaku. Tergantung usaha Dante saja."


"Apa mungkin Dante akan sungguh-sungguh dengan perasaannya?"


"Aku tidak mengenal dia sebelumnya. Jadi aku tidak bisa menjawab pasti apakah Dante akan benar-benar menyukai Mona atau hanya terbawa alur saja. Hati manusia siapa yang bisa tahu, Dam," jawab Rose seraya menghela nafas.


"Benar juga. Ya sudahlah, apapun itu kita doakan yang terbaik saja untuk mereka."


Ruangan itu menjadi hening setelah Adam dan Rose selesai bicara. Tak lama kemudian, Rose tiba-tiba teringat dengan tugas Cesar dalam mendidik Gracia. Dia penasaran sudah sampai di tahap apa kekuatan fisik adik iparnya itu.


"Cesar, Gracia baik-baik saja bukan?" tanya Rose penuh maksud.


"Selain mulutnya yang bertambah semakin cerewet, semua masih dalam batas yang normal, Rose. Akan tetapi hari ini aku liburkan karena bokongnya cidera," jawab Cesar seraya menghela nafas panjang.


"Cidera?"


"Dia jatuh di kamar mandi. Mungkin dia menggelar parti di sana sampai bisa terjatuh seperti itu.


Adam tertawa mendengar kelakar yang di katakan oleh Cesar. Dia tidak buta, juga tidak bodoh kalau Cesar sedang memendam kekesalan pada adik tirinya. Tak ingin lagi berlama-lama di rumah terkutuk itu, Adam segera mengajak Rose dan Cesar untuk pergi dari sana. Adam butuh udara segar setelah di dera rasa sakit akibat racun ilusi yang tidak sengaja dia telan.

__ADS_1


*****


__ADS_2