Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Bermain Peran


__ADS_3

"Halo Bibi, selamat malam," sapa Gheana kemudian mencium pipi Bibi Vanya.


"Halo juga sayang. Wahh, mau cantik sekali malam ini," sahut Vanya memuji kecantikan dari wanita yang akan dia jodohkan dengan putra tirinya. Gen yang sangat sempurna.


Gheana tersenyum saat di puji seperti itu oleh ibunya Adam. Dia kemudian beralih menghampiri Paman Zidane yang sedang duduk di sofa sambil menatapnya tak berkedip.


"Selamat malam, Paman Zidane. Bagaimana kabarmu?"


Ada kilatan aneh di mata Zidane saat dia melihat kecantikan Gheana. Dia lalu berusaha menutupi perasaan tersebut dengan berpura-pura menyambut baik kedatangannya ke rumah ini.


"Apa ini calon Nyonya Clarence kita, Vanya?"


"Kau benar sekali, sayang. Dia adalah wanita yang akan segera menjadi istrinya Adamar," jawab Vanya semringah.


Hahaha, akhirnya kau setuju juga dengan wanita pilihanku, Zidane. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan.


"Paman, Bibi, kalian ini bicara apa sih. Aku dan Adam bahkan belum pernah bertemu secara pribadi. Jadi bagaimana mungkin kalian menganggapku sebagai Nyonya Clarence?" kilah Gheana berbohong kalau dia sebenarnya sudah pernah bertemu dengan Adam.


"Lho, ini memang benar, Ghe. Masalah pertemuan pribadi antara kau dan Adam bisa Bibi atur. Yang penting kau bersedia menerima perjodohan ini. Iya kan sayang?" tanya Vanya sembari menatap ke arah suaminya yang lebih banyak diam sambil terus memperhatikan calon menantu mereka.


Zidane menganggukkan kepala. Dia kemudian mengambil ponsel di atas meja lalu menghubungi nomor putranya.


"Dam, kau dimana sekarang? Gheana sudah ada di rumah, cepatlah datang," ucap Zidane saat panggilannya di jawab.


"Aku sedang dalam perjalanan ke rumah, Pa. Jalanan sedikit macet dan tadi ada beberapa berkas yang harus di selesaikan malam ini juga. Tolong minta Gheana untuk bersabar sebentar."


Gheana diam-diam memperhatikan seluruh furnitur yang ada di rumah ini. Entah kenapa tengkuknya meremang saat dia melihat foto keluarga dimana ayahnya Adam duduk sambil tersenyum aneh. Dia seperti merasakan ada satu rahasia besar yang tersembunyi di balik senyum tersebut. Tak ingin membuat si pemilik rumah mengetahui isi pikirannya, cepat-cepat Gheana mengalihkan pikiran dengan cara mengajak ibunya Adam mengobrol. Tapi tetap saja senyum misterius itu mengganggunya. Gheana merasa tak tenang.


"Ya sudah kalau begitu kau hati-hati di jalan."


"Baik, Pa. Aku tutup dulu teleponnya."

__ADS_1


Setelah panggilan terputus, Zidane ikut menimbrung obrolan Vanya dan juga Gheana. Ekor mata Zidane sama sekali tidak bisa berhenti melirik ke arah wanita yang akan di jodohkan dengan putranya.


Hingga tak lama kemudian, orang yang sedang di tunggu oleh mereka bertiga akhirnya muncul. Adam datang dengan raut wajah yang terlihat segar. Vanya yang melihat hal itupun merasa senang. Ini adalah pertanda baik jika putra tirinya ini mau menerima wanita yang akan di jodohkan dengannya.


"Selamat malam, Pa,"


Adam melirik sekilas ke arah ibu tirinya yang duduk bersebelahan dengan Gheana. Dia sama sekali tak memiliki niat untuk sekedar menyapanya. Malas, dan juga muak. Perasaan seperti ini yang selalu muncul setiap kali Adam bertatap mata dengan wanita medusa bernama Vanya.


"Dam, perkenalkan, ini Nona Gheana. Dia berasal dari keluarga Lesham dan Nona Gheana ini baru saja kembali dari Aussie setelah menyelesaikan pendidikannya di sana," ucap Zidane memperkenalkan siapa tamunya. "Dan Nona Gheana, ini adalah putra kebanggaanku. Namanya Adamar Clarence, dia adalah penerus CL Group. Putraku sangat tampan bukan?"


"Iya, Paman. Putramu benar-benar sangat tampan," jawab Gheana menanggapi candaan ayahnya Adam. "Selamat malam, Tuan Adamar Clarence. Senang berkenalan denganmu."


"Selamat malam juga, Nona Gheana," sahut Adam sambil tersenyum kecil.


Bagaimana tidak tersenyum kalau sebelum perkenalan ini berlangsung Adam sudah lebih dulu menemui Gheana. Dan untungnya wanita ini bersedia untuk bekerjasama dengannya. Andai Gheana menolak, Adam pasti tidak akan sudi menemuinya malam ini. Dia tidak akan mau berhubungan dengan wanita yang bisa mengancam ketentraman rumah tangganya dengan Rose. Ah, memikirkan hal ini mendadak Adam jadi merindukan istrinya. Apalagi sejak Rose berbincang dengan ayahnya, mereka belum sempat bertemu lagi. Istrinya yang cantik itu pasti sedang menunggunya di tempat kost.


"Tidak kusangka kau jauh lebih berkarisma ketika bertemu secara langsung, Tuan Adam. Sepertinya aku terpesona padamu," ledek Gheana sambil menahan tawa. Rasanya sungguh lucu berpura-pura di hadapan orangtuanya Adam.


"Kau terlalu pandai membual, Tuan CEO. Telingaku seperti ingin terbang rasanya,"


Vanya dan Zidane hanya menjadi pendengar yang baik saat Adam dan Gheana saling melempar ejekan. Mereka berdua sama-sama merasa lega karena kali ini usaha perjodohan bisa berjalan lancar. Baik Vanya maupun Zidane, mereka tidak menyadari kalau apa yang sedang terjadi di hadapan mereka hanyalah sebuah tipuan belaka. Adam dan Gheana sedang memainkan peran sebagai anak-anak yang patuh atas kehendak para orangtua.


"Oh ya Tuan Adam ....


"Panggil Adam saja," sela Adam sambil menggulung lengan kemejanya. Dia lalu mengirimkan pesan untuk seseorang yang saat ini terus berkeliling memenuhi pikirannya.


Adam: Honey, aku sekarang sedang di rumah Papa untuk menemui Gheana. Dan saat ini kami sedang memainkan peran sebagai anak yang baik di hadapan Papa dan si wanita medusa ini. Tolong tunggu aku sebentar lagi ya. Aku pasti akan segera pulang dan menemuimu.


"Ekhmm, sepertinya Tuan CEO kita begitu sibuk ya, Bi. Apakah mungkin ada bunga lain di luaran sana?" sindir Gheana sambil mengerlingkan mata ke arah Adam yang dia tebak sedang sibuk berkirim pesan dengan istrinya.


Vanya dan Zidane langsung menatap tajam ke arah Adam begitu mendengar ucapan Gheana. Mereka begitu penasaran dengan siapa Adam berkirim pesan.

__ADS_1


"Aku lupa memberitahu Cesar kalau meeting besok pagi di undur menjadi sore hari karena penerbangan klien kami di tunda. Dia bisa mengomeliku seharian jika aku tidak segera memberitahunya," jelas Adam setelah menyimpan ponsel ke saku kemeja.


"Memangnya kenapa harus di tunda, Dam? Apakah klienmu itu sedang mempermainkan perusahaan kita?" tanya Zidane penuh selidik. Dia curiga.


"Bukan klien itu yang menunda, Pa. Tapi itu merupakan pemberitahuan langsung dari pihak bandara. Lagipula kita hanya akan menunggu selama beberapa jam saja. Bagiku itu bukan masalah karena bukan klien kita yang mengendalikan cuaca," jawab Adam.


"Oh, begitu ya?"


Gheana menahan tawa saat Adam melirik ke arahnya. Tidak di sangka kalau pria ini cukup pandai menutupi hubungan pernikahannya dengan Rose. Gheana jadi penasaran seperti apa rupa dari wanita yang sudah berhasil membuat Adam jadi seorang pembohong.


"Grace dimana Pa? Aku belum melihatnya sejak tadi," tanya Adam sambil melihat ke lantai atas.


"Adikmu sedang berada di rumah temannya, Dam. Mungkin tengah malam nanti dia baru akan pulang," jawab Vanya menggantikan suaminya bicara.


Tangan Vanya terkepal kuat ketika anak tirinya ini langsung membuang muka begitu dia bicara. Dalam hati, Vanya bersumpah akan membuat anak kurang ajar ini menjadi gelandangan supaya tidak bisa lagi bersikap sombong. Vanya benar-benar geram di buatnya.


"Karena semuanya sudah berkumpul bagaimana kalau kita langsung makan malam saja. Cacing di dalam perut sepertinya sudah mulai melakukan demo," ajak Zidane sambil mengelus perutnya yang rata.


"Itu ide yang sangat bagus, Paman. Padahal aku baru saja ingin mengemis makanan pada kalian, tapi untungnya Paman bisa memahami situasi perutku saat ini!" sambung Gheana tanpa malu-malu.


Semua orang tertawa bersama begitu mendengar ucapan Gheana yang terlalu terus terang. Mereka kemudian bergegas pergi ke ruang makan untuk menikmati hidangan makan malam yang sudah di siapkan oleh para pelayan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2