Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Mawar Hitam


__ADS_3

Doorr doorr doorr


Rose menembaki satu-persatu orang yang sedang sibuk membaca mantra sesembahan. Dia tidak membunuhnya, hanya membuat orang-orang ini menjerit kesakitan saat sebutir peluru panas mendarat di kaki masing-masing.


"Brengsek! Siapa kalian hah! Berani-beraninya kalian mengacaukan acaraku. K*parat!" amuk Agler dengan mata berkilat marah.


"Aku Rose. Kenapa memangnya?" sahut Rose penuh nada menantang.


Mona yang saat itu sudah berada di ambang kematiannya perlahan-lahan menoleh ke arah suara yang begitu dia kenal. Dia tersenyum, bahagia karena di detik-detik terakhir hidupnya orang yang paling dia sayang datang menghampiri. Kehadiran Rose membuat Mona melupakan rasa sakit yang begitu menyiksa dimana ada puluhan jarum tengah menyedot seluruh darah yang ada di tubuhnya. Tadi setelah kelompok sesat ini melakukan ritual yang sangat aneh, Mona langsung di baringkan di atas meja kaca dalam kondisi polos tanpa pakaian. Lalu setelahnya Tuan Agler memerintahkan beberapa orang untuk mulai mengambil seluruh darah miliknya dengan cara sama persis seperti orang yang sedang melakukan donor. Sementara luka bekas sayatan di tubuhnya semakin di buat dalam hingga membuat darahnya menetes ke dalam baskom persembahan. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa menderitanya Mona saat ini? ๐Ÿ˜ญ


"Kau... kau bukannya wanita yang saat itu datang ke club dengan menyamar sebagai anggota?" tanya Agler kaget begitu menyadari siapa wanita yang tengah berdiri di hadapannya.


"Ya. Dan juga aku adalah gadis kecil yang dulu kau lecehkan saat bersama Mona. Kau tidak lupa kan dengan dua gadis yang telah kau hancurkan mentalnya bahkan sejak usia kami belum mencapai sepuluh tahun?"


Agler terdiam sesaat. Setelah itu dia membelalak tak percaya begitu mengingat tentang gadis tanpa ekpresi yang belasan tahun lalu dia biarkan selamat atas permintaan Mona. Sedetik kemudian, Agler tertawa senang lalu maju mendekat sambil mengacungkan pisau yang biasa dia gunakan untuk menghabisi nyawa para korban sesembahan. Dia seperti mendapatkan jackpot.


"Owh, jadi kau datang kemari untuk balas budi pada temanmu itu ya?"


Rose hanya diam tak berekspresi. Mungkin jika bisa di gambarkan, saat ini ratu dari para iblis tengah merasuki jiwa dan pikirannya ketika melihat Mona yang terbaring dalam kondisi menyedihkan. Sakit, itu yang Rose rasakan ketika mata tidak berdaya itu terus menatapnya tak berkedip.


"Kau terlalu berani mencari masalah dengan mawar keluarga kami, Agler. Dan maaf, kedatangan Rose kemari bukan untuk membalas budi. Melainkan untuk mengirimmu pergi ke api persembahan!" ucap Adam yang tak terima istrinya di perlakukan hina.


Liona dan Grizelle berjalan memutari api persembahan sambil sesekali melirik ke arah tetesan darah yang di tempatkan pada sebuah baskom merah. Merinding, itu yang mereka rasakan. Sungguh, untuk pertama kalinya Liona dan Grizelle menyaksikan sendiri betapa gilanya para pemuja sesat ini. Mereka bahkan tak segan-segan menyiksa manusia tak berdosa hanya demi memenuhi dahaga mereka yang tidak masuk akal. Menjijikkan.


"Mengirimku ke meja persembahan? Hahahahaa...


Tawa Agler begitu membahana di tempat tersebut. Meski sadar kalau dirinya sedang dalam bahaya, Agler sama sekali tidak merasa gentar. Kenapa bisa begitu? Karena dia yakin kalau para mafia yang tergabung dalam kelompoknya akan segera datang untuk memberi bantuan. Jadi dia berpikir untuk mengulur waktu terlebih dahulu sambil menunggu orang-orangnya datang. Sayangnya apa yang sedang di pikirkan oleh Agler tak akan pernah menjadi kenyataan karena Zucca ada di tangannya Rose. Mafia yang juga adalah anggota sekte itu kini sedang dalam perjalanan kemari.


"Tuan Adamar Clarence, aku sungguh tidak menyangka kalau kau ternyata adalah seorang pengkhianat. Atau jangan-jangan mereka belum tahu siapa dirimu sebenarnya? Owhh ****, kau pandai menyimpan bangkai, Tuan Adamar!" ejek Agler.

__ADS_1


"Kalau kau merasa mengetahui sesuatu tentangku, cobalah untuk memberitahu mereka. Dan satu lagi, orang yang kau sebut dengan mereka adalah keluargaku. Dan wanita cantik ini," sahut Adam kemudian mencium rambut istrinya. "Dia adalah Rosalinda Osmond, pemimpin kelompok Queen Ma. Dia adalah wanita kesayanganku sekaligus istriku tercinta. Jadi kalau kau merasa mampu, maka katakan saja semua hal yang kau ketahui tentangku. Akan tetapi aku yakin sekali kalau kau tidak akan lebih tahu dari istriku. Benarkan, Honey?"


"Waktunya hampir tiba!" sahut Rose dengan mata yang sudah memerah seperti iblis. "Bersiaplah Agler. Malam ini bukan Mona yang akan menjadi persembahan, tapi kau. Darah di dalam tubuhmu lah yang akan kau gunakan untuk memuaskan rasa haus para anggotamu. Purnama hampir sempurna, Agler. Dan aku sudah menantikan hal ini selama belasan tahun lamanya. Aku tidak tahan lagi!"


Hening.


Agler hanya bisa diam mematung saat dari arah belakang tiba-tiba ada orang yang mengalungkan pisau ke lehernya. Saat dia hendak menoleh, Rose dengan brutal merebut pisau yang ada di tangannya lalu menghujamkan ke arah miliknya. Nafas Agler bagai terhenti saat itu juga ketika darah segar mengalir deras membasahi lantai persembahan.


"Bawa orang-orang gila itu kemari, Reina. Paksa mereka untuk menjilati darah yang ada di lantai. Jika menolak, lemparkan mereka ke dalam api persembahan itu!" perintah Rose dengan begitu dingin.


"Dengan senang hati, sayangku!" sahut Reina begitu semangat. Dia kemudian mulai mencari wajah orang-orang yang nampak menjijikkan untuk menikmati darah milik ketua mereka.


Resan yang saat itu masih mengalungkan pisau di leher Agler terus membisikkan kata agar dia tidak berteriak sesakit apapun rasa yang sedang dia tanggung. Itu sengaja Resan lakukan agar nonanya tidak langsung membunuh bajingan ini.


"R-Rose, k-kau tidak bisa membunuhku dengan cara seperti ini. M-Mona, Mona adalah anak dari salah satu anggota seperti kami. Sekuat apapun kau melindunginya, suatu saat dia akan tetap di ambil oleh kelompok yang lain. K-kalau kau tidak percaya, c-coba lihatlah di bagian dadanya. A-ada mawar hitam di sana!" ucap Agler dengan suara gemetar menahan sakit.


Setelah mendengar ucapan Agler, Rose pun segera berjalan ke arah Mona. Dia kemudian melepas satu-persatu jarum yang tertempel di tubuhnya.


"Sssttt tenanglah. Kau selamat, ada aku bersamamu," sahut Rose menahan sesak.


"Aku," ....


"Diam, atau aku akan memasukkan semua jarum ke dalam mulutmu."


Mona hanya bisa pasrah sambil mengernyitkan kening ketika jarum-jarum itu terlepas dari tubuhnya. Dia sempat tersenyum kecil sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.


"Lorus!" panggil Rose sambil menggeretakkan gigi. Dia sangat ingin menangis sekarang.


"Dia belum kembali, Nona!" sahut salah satu anggota Queen Ma.

__ADS_1


"Bawa Mona ke markas. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kau akan berurusan denganku!"


"Baik, Nona!"


Liona dan yang lainnya berdiri diam sambil menatap kepergian Mona. Terkejut, itu sudah pasti. Siapa yang akan menyangka kalau cucunya Niel ternyata adalah anak dari salah satu anggota sekte. Saat mereka sedang bertanya-tanya, mereka di kejutkan oleh tindakan Rose yang tiba-tiba melepas jaket yang di pakainya. Adam yang melihat hal itupun berniat melindungi tubuh sang istri dari mata semua pria yang ada di sana. Akan tetapi baru selangkah Adam berjalan, dia langsung di hentikan oleh Reina yang berdiri menghadang sambil menggerakkan jari telunjuknya.


"Ckckck, no no no Tuan Adamar. Biarkan kesayanganku bermain dengan puas. Oke?" ucap Reina sambil menjambak rambut salah satu anggotanya Agler.


"Tapi Rose,"


"Ssssttt, diam dan lihat saja. Jangan banyak protes!"


Sebelum berbalik badan, Rose terlebih dahulu menutupi bagian dadanya dengan jaket. Dia berniat membungkam mulut Agler dengan sesuatu yang terukir di punggungnya.


"Agler, kau menganggap Mona adalah persembahan terbaik karena dia memiliki tanda mawar hitam di dadany bukan?"


"I-iya," jawab Agler tergagap. Firasatnya mengatakan kalau wanita dingin ini akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.


"Kalau dengan mawar sekecil itu kau sudah menganggap Mona dengan sebutan terbaik, lalu sebutan apa yang paling cocok untuk orang yang memiliki mawar hitam dalam ukuran yang jauh lebih besar?" ucap Rose seraya memperlihatkan tatto mawar hitam yang tersembunyi di punggungnya. "Kau tamat, Agler."



Malam ini angin bertiup dengan semilir, membuat daun-daun di batang pohon bergerak dengan begitu indah. Sayangnya malam yang sempurna ini akan menjadi malam paling berdarah dalam hidup Agler karena sekarang dia sedang berhadapan dengan ratu di atas ratunya persembahan. Tidak dinyana kalau Agler akan langsung bertatap muka dengan mahluk yang di sebut iblis.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2