Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Iblis Betina


__ADS_3

"Awhhh, pelan-pelan, dokter. Itu rasanya sangat sakit!" jerit Gheana ketika dokter hendak memasang gift di kakinya.


Setelah di siksa oleh dua orang suruhan Rose, Gheana sempat tak sadarkan diri selama beberapa jam. Rasa sakit karena kakinya yang patah di tato paksa, juga dengan siksaan-siksaan lain yang membuat Gheana tak mampu bertahan. Sungguh, Gheana sangat tak habis pikir mengapa Adam bisa menikah dengan wanita sekejam Rose. Gheana kemudian terpikir untuk memberitahukan hal ini pada Bibi Vanya dan juga Paman Zidane. Mereka harus tahu siapa Rose sebenarnya.


Aku harus segera pergi ke sana setelah keluar dari rumah sakit ini. Keluarga Clarence harus tahu wajah aslinya Rose, begitu juga dengan Adamar. Dia perlu aku ingatkan kalau Rose adalah wanita yang sangat licik dan juga berbahaya. Dia iblis.


"Maaf, Nona Gheana. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai-sampai keadaan Nona jadi seperti ini? Bukankah sebelumnya kaki anda sudah di obati dan di perban? Kenapa sekarang bisa terbuka dan juga ada tatto mawar hitam di sini. Ini saya yang salah lihat atau bagaimana?" tanya dokter kebingungan.


"Sejak awal tatto ini memang sudah ada, dokter. Mungkin kau yang tidak menyadarinya," jawab Gheana berkilah.


"Benarkah?"


Gheana mengangguk. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan setelah dokter selesai mengobati kakinya. Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa Gheana tidak bicara jujur pada dokter ini. Dia hanya merasa kalau peperangannya dengan Rose harus dia sendiri yang menyelesaikan. Gheana tidak ingin ada banyak orang yang ikut terlibat, karena hal itu akan membuat peperangan mereka menjadi tidak seru lagi. Gheana ingin menarik simpati Adamar secara perlahan-lahan sebelum akhirnya menyingkirkan Rose dengan kedua tangannya sendiri.


"Dokter?"


"Ya, Nona. Ada apa?"


"Maukah kau menolongku dengan meminta pihak keamanan rumah sakit untuk membawakan rekaman CCTV yang menuju kamar ini? Tadi siang saat aku sedang tidur aku seperti merasa di kunjungi oleh teman-temanku. Aku hanya ingin tahu saja siapa yang sudah datang kemari. Bisakah?" tanya Gheana penuh harap.

__ADS_1


Lihatlah, Rose. Dengan rekaman CCTV itu aku akan meyakinkan Adamar kalau kau itu adalah wanita berwajah iblis. Kau dengan kejinya meminta seseorang untuk mencelakai aku, dan itu sebanyak dua kali. Jika Adamar melihat bukti yang kumiliki, aku yakin dia pasti akan langsung mencampakkanmu. Adamar adalah pria yang baik. Akan sangat memalukan baginya jika dia tahu kalau istrinya adalah bagian dari komplotan penjahat. Hahaha.


"Apakah sepenting itu, Nona?" tanya dokter memastikan.


"Em, bagaimana ya. Aku sebenarnya hanya ingin memastikan apakah kekasihku datang bersama mereka atau tidak. Tapi jika dokter keberatan untuk melakukan hal itu ya sudah tidak apa-apa. Nanti biar aku mencari tahu sendiri saja," jawab Gheana pura-pura memasang raut sedih.


Aduh, bagaimana ya. Meskipun aku bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini, aku tidak memiliki wewenang dalam bagian keamanan. Bisa-bisa pihak keamanan rumah sakit malah mencurigai aku jika meminta rekaman CCTV dari mereka. Tapi jika keinginan Nona Gheana tidak di turuti ... bagaimana jika keluarga Lutfer tidak terima kemudian menuntutku? Argggg, kenapa sulit sekali sih jika berurusan dengan orang-orang yang memiliki status tinggi. Membuat repot saja.


Gheana berpura-pura biasa saja ketika dokter seperti enggan menuruti keinginannya. Padahal dalam hatinya, Gheana sangatlah berharap kalau dokter bodoh ini bersedia untuk membawakan rekaman yang dia mau. Bukannya apa, bagi Gheana rekaman kejadian di mana dia di serang oleh orang suruhan Rose adalah point terpenting dalam rencananya yang ingin menjatuhkan nama baik Rose di depan Adamar. Karena jika tanpa membawa bukti yang kuat, Gheana yakin kalau Adamar tidak akan mungkin mempercayainya.


"Nona Gheana, begini saja. Setelah ini saya akan menanyakan pada bagian keamanan apakah mereka mengizinkan saya untuk membawa rekaman CCTV yang anda minta atau tidak. Setahu saya hal ini sangat privasi. Jadi jika mereka tidak mengizinkannya harap Nona Gheana bersedia untuk maklum. Ini di luar wewenang saya sebagai seorang dokter, Nona," ucap dokter setelah menimang keputusan sekian lama.


"Oh, tidak apa-apa, dokter. Saya bisa mengerti," sahut Gheana seraya tersenyum kecil.


"Iya silahkan."


Sepeninggal dokter, Gheana mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Dia kemudian menekan nomor seseorang yang akan membantunya memuluskan rencana ini.


"Ada apa, Nona Gheana?"

__ADS_1


"Tuan Cesar, aku membawakan berita bagus untukmu," jawab Gheana dengan begitu semangat. Dia kemudian mendesis lirih saat kakinya yang terluka tidak sengaja tersenggol kaki yang satunya. "Tadi siang Rose mengirim dua orang penjahat untuk menyakitiku. Mereka menyiksaku dengan sangat kejam sampai-sampai aku tidak sadarkan diri. Tapi dengan kejadian ini aku jadi memiliki celah untuk menjatuhkan Rose di depan Adamar. Dia pasti akan langsung di ceraikan jika Adamar tahu kalau Rose sebenarnya adalah komplotan penjahat!"


"Apa?? Rose mengirim orang untuk menyakitimu? Apa kau yakin mereka adalah orang-orangnya. Rose itu kan hanya orang desa biasa, rasanya mustahil dia bisa melakukan hal seperti itu padamu. Lagipula apa kau memiliki bukti bahwa dia adalah pelakunya? Kita tidak boleh sembarangan menuduh Rose, Nona Gheana. Adamar sangat tergila-gila padanya, dia mana mungkin percaya begitu saja jika tidak ada bukti yang kuat."


Sebuah seringai licik muncul di bibirnya Gheana saat dia mendengar perkataan Cesar. Orang ini belum tahu saja kalau dirinya sudah memiliki bukti yang sangat amat kuat yang mana akan sangat berguna nanti. Sambil mengernyit menahan sakit, Gheana segera memberitahu Cesar tentang rencana yang sudah dia susun. Juga meminta sedikit bantuannya agar rekaman CCTV tersebut bisa sampai ke tangan Adamar.


"Aku tengah menunggu dokter membawakan rekaman CCTV yang merekam kedatangan dua orang penjahat itu. Sebelumnya di kamar ini aku sempat memasang beberapa kamera tersembunyi dan juga alat penyadap. Akan tetapi di sadari oleh orang-orang itu kemudian langsung di hancurkan oleh mereka," ucap Gheana sembari mengambil jam tangannya dari atas meja. "Mereka mungkin kejam, tapi otak mereka bodoh. Masih ada satu alat penyadap yang lolos dari mata mereka karena aku menyembunyikannya di balik jam tangan milikku. Di dalam alat penyadap ini ada pengakuan mereka yang menyatakan kalau mereka memang di kirim oleh Rose untuk menyakiti aku. Dengan rekaman CCTV dan juga alat penyadap ini tidak mungkin Adamar tidak mempercayai perkataan kita, Tuan Cesar. Benar tidak?"


"Wowww, bravo, Nona Gheana. Kecerdikanmu patut untuk di acungi jempol. Sungguh, baru kali ini aku mendapat partner yang otaknya begitu jenius dalam mengatur siasat. Aku jadi semakin yakin kalau kau lah yang jauh lebih pantas mendampingi Adamar. Bukan si iblis betina itu. Hahahaha!"


Kedua sudut bibir Gheana langsung tertarik ke atas saat mendengar suara tawa Cesar yang begitu membahana di dalam telepon. Setelah itu Gheana memutuskan panggilan. Dia ingin merayakan kemenangan yang sudah ada di depan mata dengan cara mengelus tato yang di buat paksa di atas kakinya yang terluka. Sungguh, baru kali ini Gheana mensyukuri rasa sakit yang mendera tubuhnya. Karena rasa sakit inilah yang akan memuluskan rencana yang dia atur bersama Cesar.


"Lihatlah, Rose. Dengan kau yang mengirim seseorang untuk mencelakai aku, yang ada kau malah membukakan jalan untukku memisahkanmu dari Adamar. Kau pikir mudah berurusan dengan seorang Gheana Lutfer? Tidak, Rose. Kau tidak akan pernah sebanding denganku. Hahahaha!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2