Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Sebuah Pengakuan #1


__ADS_3

📢📢📢 DIMOHON UNTUK MENULISKAN SEGALA UNEK-UNEK KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YA BESTIE. DAN SELAMAT UNTUK KALIAN YANG SELAMA INI SUDAH IKUT STRESS MEMIKIRKAN TEORI DARI NOVEL MA QUEEN ROSE. APAKAH DI SINI ADA DI ANTARA KALIAN YANG MENEBAK ALUR SEPERTI YANG EMAK TULIS? KALAU ADA, TOLONG KOMENTAR YA !! 🙏🙏


***


Adam membelalakkan mata begitu dia melihat tamu yang baru saja datang. Dia yang kala itu tengah mengelus puggungnya Rose tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya ketika kemunculan sang ayah diikuti oleh Cesar dan Gracia.


"Tak ingin menyapa Papamu dulu, Marcellino?" tanya Phillipe cukup memaklumi keterkejutan putranya. Dia lalu menatap lama ke arah Rose, menantunya yang selalu terlihat begitu tenang. "Halo, Rose. Senang akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat, Tuan. Aku dan yang lainnya dalam kondisi baik-baik saja," jawab Rose dingin. Dia lalu mengenalkan siapa Tuan Phillipe pada keluarganya. "Tuan ini bernama Phillipe Lorenzo. Dia adalah ayah kandungnya Adam."


Phillipe dengan sopan menganggukan kepala ke arah keluarganya Rose. Sungguh, berada di tengah-tengah keluarga ini membuat Phillipe seperti sedang berada di kandang harimau. Suasananya begitu mencekam, seolah mampu menghilangkan nyawa orang tanpa harus menyentuhnya. Phillipe bukan tidak tahu sepak terjang keluarga ini. Hanya saja Phillipe tak menyangka kalau berhadapan secara langsung dengan mereka akan memberinya tekanan yang begitu besar.


"Selamat datang di kediaman keluarga Osmond, Tuan Phillipe. Adalah suatu kehormatan besar bagi keluarga kami mendapat kunjungan dari besan yang baru pertama kali ini bertemu," ucap Drax menyambut sang besan dengan tangan terbuka.


"Terima kasih, Tuan Drax. Aku juga merasa sangat tersanjung karena telah diminta untuk datang bertamu ke kediaman kalian!" sahut Phillipe. Dia kemudian duduk setelah tuan rumah mempersilahkannya.


Braaaakkkkkkk

__ADS_1


"CESAR, JELASKAN PADAKU SEKARANG JUGA!" teriak Adam setelah menendang meja kaca yang ada di hadapannya.


Gracia yang tidak tahu apa-apa nampak berjengit kaget melihat apa yang dilakukan oleh kakaknya. Tak lama setelahnya ada seorang pelayan yang mengajak Gracia untuk pergi dari sana. Walaupun sebenarnya dia ingin menolak, tapi Gracia tak berani melakukannya karena kini semua orang tengah menatapnya dengan pandangan yang sangat mengerikan. Alhasil Gracia hanya bisa patuh saja saat pelayan membawanya masuk ke salah satu kamar yang di depan pintunya telah berdiri empat orang penjaga.


"Kau ingin aku menjelaskan bagian yang mana dulu, Dam?" tanya Cesar dengan santainya bicara. Dia sudah memprediksi ledakan amarah Adam saat melihatnya datang bersama Tuan Phillipe.


Adam menyipitkan kedua matanya setelah melihat sikap Cesar yang begitu santai. Dia lalu mulai menyambungkan satu-persatu kepingan puzzle yang memang selama ini telah cukup menarik kecurigaannya. Hingga tak lama kemudian Adam akhirnya tersadar kalau Cesar adalah ....


"Yang kau pikirkan benar, Dam. Aku sebenarnya adalah bagian dari kelompok Queen Ma. Aku bukan seseorang yang dikirim oleh Tuan Phillipe untuk menjadi kaki tanganmu, tapi aku dikirim oleh Rose untuk mengawasimu yang sejak dulu telah menjadi miliknya!" ucap Cesar mengakui siapa dia sebenarnya di hadapan Adam. Setelah itu Cesar berjalan ke hadapan Rose kemudian membungkukkan tubuhnya. "Nona, tugas saya untuk menjaga milik anda telah selesai. Saya harap yang saya lakukan tidak melenceng dari rencana yang sedari awal sudah anda buat. Dan mengenai kejadian yang telah membuat anda dan Tuan Adam menikah lebih cepat, sayaminta maaf. Itu terpaksa saya lakukan karena Royce mulai memperhatikan anda!"


"Aku tahu," sahut Rose. Dia lalu menatap Adam yang terlihat syok setelah mendengar pengakuan Cesar. "Adam, mungkin kebenaran ini sedikit menyakitimu. Tapi kau harus tahu kalau aku telah lama menyukaimu. Saat aku sedang terombang-ambing oleh rasa sakit dari racun yang disuntikkan oleh Flynn, saat itu aku tak sengaja bertemu dengan Tuan Phillipe yang sedang terluka parah karena dikejar para pembunuh kiriman dari Zidane. Aku yang tidak tahu kenapa aku bisa merakit senjata, tanpa sengaja menyelamatkan nyawa ayahmu setelah memperbaiki senjatanya yang rusak. Karena saat itu kami sedang sama-sama terluka, kami akhirnya memutuskan untuk bekerjasama."


"Dam, jujur. Aku mungkin mengenalmu sebagai Adamar Clarence. Namun sebagai Marcellino Altezza Lorenzo, aku sama sekali tidak membangun puzzle di dalamnya. Itu murni adalah jalan takdir yang kau pilih sendiri, sama sekali tak ada campur tangan dariku maupun dari orang-orangku. Aku memang sedikit menyelidikimu, tapi aku berani jamin kalau yang kuselidiki hanya yang berhubungan dengan Royce. Selebihnya aku tidak tahu dan tidak ingin tahu karena semua itu adalah privasimu!" ucap Rose agak cemas melihat ekpresi mengerikan di wajah Adam. Apalagi posisinya sangat dekat dengan Adam, Rose takut Adam tiba-tiba hilang kendali kemudian mencelakai calon anak mereka.


"Lanjutkan!"


Suara dingin Adam mampu menggetarkan bulu kuduk di tubuh semua orang yang ada di sana. Mungkin inilah sisi seorang Marcellino yang selama ini selalu tersembunyi rapi di balik topengnya Adam. Mungkin.

__ADS_1


"Dari kerjasama yang aku bangun dengan Ayahmu, aku akhirnya bisa memiliki Reina, Resan, Cesar, dan juga Lorus. Tak lama setelah itu Ayahmu akhirnya memberitahuku tentang hubungan antara kau, Zidane, dan juga Mama Karina. Dan ketika pertama kali aku melihatmu, aku ... jatuh cinta. Setelah itu Ayahmu kembali meminta bantuan dari kelompokku, dan aku bersedia untuk membantu jika kau menjadi milikku. Ayahmu menyanggupinya, dan hadirlah Cesar dalam hidupmu. Aku mengirim Cesar bukan untuk menjadi mata-mata, tapi aku mengirimnya karena aku ingin ada orangku yang menjagamu waktu itu. Namun di suatu hari, aku memergoki ayahmu yang sedang mencoba berkhianat padaku. Aku marah, kemudian mengambil sesuatu yang paling berharga di hidupnya. Itulah kenapa sampai saat ini seorang Phillipe Lorenzo tak pernah bisa berkutik untuk melawanku. Karena DIA ... ada padaku!" ucap Rose sambil menatap dingin ke arah pria tua yang sedang menundukkan kepalanya. "Bagaimana, Tuan Phillipe? Apa sekarang kau sudah paham akibat dari berkhianat padaku? Aku dan orang-orangku mempertaruhkan segalanya untuk membantumu memiliki apa yang kau miliki sekarang, tapi apa balasanmu? Kau berniat menjual kami semua pada seseorang yang bisa memberimu keuntungan berlipat. Dan lihatlah sekarang. Orang yang dulu hampir kau khianati kini menjadi orang yang memegang kendali penuh atas nyawamu. Apa kau menyukainya?"


Selain Reina, Cesar, Lorus dan juga Resan, semua orang terkesiap kaget begitu mendengar ceritanya Rose. Kini mereka akhirnya tahu darimana Rose bisa memiliki kekayaan yang sangat luar biasa banyak. Tenyata Tuan Phillipe adalah sumbernya. Benar-benar puzzle yang tak bisa di tebak. Siapa yang akan menyangka kalau putrinya Grizelle Shaenette Ma dan Drax Osmond akan secerdik dan sejenius ini hingga mampu mengendalikan seorang mafia kelas berat yang dulunya terkenal bengis dan tidak punya perasaan. Lalu hal apakah yang sebenarnya telah di ambil oleh Rose dari hidupnya Tuan Phillipe hingga membuat mantan mafia itu terlihat begitu tak berdaya? Entahlah, tidak ada satupun orang yang mampu menebak jalan pikiran Rose selain anak buahnya sendiri.


"Rose, di hadapan orang-orang ini kau sudah mengungkap semua borok yang selama ini kusembunyikan dengan sangat rapat. Sekarang bisakah kau membiarkan aku bertemu dengannya? Kau pernah berjanji padaku kalau Royce telah menunjukkan dirinya, kau akan mengizinkan kami untuk bersama. Bisakah sekarang kau menepati janji itu?" tanya Phillipe dengan tatapan memelas.


Adam menoleh dan langsung menatap lekat wajahnya Rose. "Kali ini rahasia apalagi kau yang kau sembunyikan dariku?"


"Aku bisa menjelaskannya padamu," jawab Rose sambil melirik ke arah Reina. Dia ingin agar semua orang bersiaga menghadapi kemarahan Adam yang pasti akan langsung meluap begitu Rose mengungkapkan rahasia lain yang dia sembunyikan.


"Kalau begitu tunggu apalagi. CEPAT JELASKAN SEMUANYA!" teriak Adam dengan sangat kuat.


"Pelankan suaramu, Tuan Adam!" tegur Lorus sambil berjalan mendekat ke arah Nona-nya.


"Cihhhh!"


Adam mengusap wajahnya kasar kemudian berdiri. Dia lalu menunduk, menatap dingin ke arah Rose yang juga tengah menatapnya. "Aku harap ini adalah rahasia terakhir yang akan aku dengar darimu, Hon. Tolong jangan kecewakan aku!"

__ADS_1


"Adam, sebenarnya Mama Karina ....


***


__ADS_2