
Adam dengan santai membersihkan diri setelah melakukan sesuatu hal pada Zidane. Dia yang marah setelah melihat Rose kesakitan, memutuskan untuk mencari sesuatu yang bisa meredam emosinya. Adam kemudian bergegas pergi mengunjungi ruangan tempat Zidane berada. Dia tertawa lebar ketika melihatnya yang sedang tertidur dalam posisi di gantung terbalik.
"Ini belum seberapa, Zidane. Kau masih akan merasakan siksaan yang jauh lebih menyakitkan lagi dari apa yang kau rasakan barusan. Dan siksaan itu akan aku lakukan di dalam ruangan yang dulu kau gunakan untuk menyiksa Mama!" geram Adam sembari menggeretakkan gigi.
Flashback
"A-Adamar, t-tolong Papa, Nak. Papa kesakitan," ratap Zidane meminta tolong dengan suara yang begitu kecil. Dia sudah sangat tidak berdaya.
"Pada siapa kau sedang meminta tolong, hm?" tanya Adam sembari berjalan memutari tubuh pria yang dulu dia panggil dengan sebutan Papa.
Sungguh kasihan. Tubuh Zidane di penuhi luka dan juga darah yang sudah mengering. Dia seperti seekor b*bi yang sebentar lagi akan di panggang beramai-ramai dengan di bumbui racikan rempah yang sangat harum dan enak. Dalam keadaan terbalik, Adam bisa melihat dengan jelas betapa wajah tua ini amat sangat tersiksa. Lalu apa kalian pikir Adam merasa sedih? Tentu saja tidak. Justru dia malah bahagia melihatnya tersiksa seperti ini. Anggaplah kalau saat ini Zidane tengah mencicil siksaan yang pernah dia berikan pada ibunya dulu. Karena begitu ruangan terkutuk itu selesai di renovasi, maka penyiksaan yang sebenarnya akan segera di mulai.
Mata Adam langsung memerah saat dia terkenang kondisi ibunya. Secepat kilat Adam meninju dada Zidane hingga membuatnya memuntahkan darah segar. Tak sampai di sana, dengan brutal Adam menyayat senti demi senti wajah Zidane menggunakan pisau cuter yang tadi dia ambil di lantai. Adam sempat terkekeh saat wajahnya terkena percikan cairan pekat yang berasal dari urat yang terpotong.
"Akkhhhh, sakit, Adamar. T-tolong hentikan, Papa tidak kuaaaattt!" teriak Zidane sambil menggeliat kesakitan. Dia mencoba memberontak, tapi tetap tidak bisa kemana-mana karena tubuhnya terikat dengan sangat kuat sebelum di gantung seperti ini.
"Apa kau menghentikan siksaanmu saat Mama berteriak meminta tolong, hah! Tidak kan! Jadi jangan harap aku akan melakukan hal itu padamu, k*parat. Diam dan nikmati saja pembalasan dari apa yang sudah terlanjur kau semai. Oke?" sahut Adam tanpa menghentikan aktifitas tangannya di wajah Zidane.
Pukk
Saat Adam tengah membayangkan siksaan yang dia lakukan pada Zidane, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahunya dari arah belakang. Sambil memejamkan mata menahan kesal, Adam pun berbalik badan.
"Jangan marah. Ini aku," ucap Rose pelan.
"Honey?"
Secepat kilat Adam membuka mata. Amarah yang tadinya sudah berada di atas ubun-ubun langsung lenyap entah kemana begitu dia melihat wajah cantik istrinya. Sambil tersenyum penuh cinta, Adam merengkuh pinggangnya Rose lalu menyatukan kening mereka.
"Kenapa cepat sekali bangunnya, hm? Apa Mommy mengganggumu?"
Rose menggeleng. Dia menghirup dalam-dalam aroma maskulin di tubuh suaminya. Rindu, itu yang dia rasakan sejak tadi saat tak mendapati suaminya ketika bangun. Entah hormon apalagi yang muncul di diri Rose. Dia jadi ingin selalu menempel pada suaminya ini.
__ADS_1
"Honey, ada apa?" tanya Adam khawatir.
"Aku merindukanmu, Adam. Aku tidak suka jika tidak ada kau saat aku membuka mata. Aneh kan?" jawab Rose.
Kedua sudut bibir Adam langsung tertarik ke atas saat mendengar jawaban istrinya. Dengan gemas Adam mencium keningnya, lalu berpindah menciumi kedua kelopak matanya.
"Apa kau menginginkan sesuatu dariku? Katakan saja, Hon. Selagi masih bisa kudapatkan, aku pasti akan mencarikannya untukmu. Dan maaf karena tadi aku sudah pergi meninggalkanmu sendirian di dalam kamar. Lain kali aku tidak akan kemana-mana lagi saat kau tidur. I'm promise," ucap Adam di depan bibir istrinya. Dia lalu menciumnya lama, menikmati bibir ranum yang sudah membuatnya menjadi seorang pecandu. Ya, pecandu ciuman panas.
Rose membalas ciuman suaminya dengan begitu hangat. Sedetik kemudian muncul gelenyar aneh di tubuhnya. Tapi sebelum sempat Rose menikmati gelenyar tersebut, dia dibuat mual oleh aroma darah yang muncul di tubuh suaminya.
Hoeeekkk
"Astaga Honey, kau mual lagi," pekik Adamar kaget. Segera dia mengangkat tubuhnya Rose menuju kamar mandi. Tapi sebelum sempat sampai ke sana, barulah Adam ingat kalau pakaian kotor yang di penuhi darahnya Zidane masih teronggok di dalam sana. Rose yang menyadari hal itupun segera meminta Adam agar di baringkan di atas ranjang saja.
"Di ranjang saja, Dam. Aku mual karena mencium bau amis di tubuhmu. Kau tidak mandi ya?"
"Mandi, Hon. Ini aku baru saja selesai saat kau datang. Tapi sepertinya tidak bersih. Maaf ya sudah membuatmu mual!" jawab Adamar penuh sesal.
Sebelum menjawab, Adam membaringkan Rose ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. Saat ini mereka sedang berada di ruangan lain karena tadi Adam sengaja mandi di ruangan ini karena tak mau mengganggu istirahat istrinya.
"Aku butuh sesuatu untuk memelampiaskan emosiku, Hon. Dan bajingan itu adalah obat yang lumayan ampuh. Bukannya reda, yang ada malah amarahku semakin memuncak. Ternyata aku salah, bukan dia obatnya. Tapi kau ... istriku!" ucap Adamar membual.
"Jangan terlalu manis saat berucap. Kadang kala kenyataan tak sesuai dengan apa yang kita katakan."
"Ini adalah kejujuran, Honey. Buktinya aku langsung bisa tersenyum begitu kau datang. Kau adalah obatku, duniaku, canduku, dan juga ibu dari anak-anakku. Bukannya membual, tapi ini nyata. Paham kan?"
"Ya."
Adam dan Rose saling bertatapan dalam diam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Yang jelas pancaran cinta terlihat begitu cerah di mata keduanya.
"Dam, apa dia sudah mati?" tanya Rose penasaran. Dia yakin sekali kalau Zidane pasti menerima siksaan yang lumayan parah dari suaminya ini.
__ADS_1
"Dia tidak akan mati semudah itu, Hon. Tadi aku hanya meninju dadanya saja kemudian menyayat setiap jengkal kulit wajahnya. Aku benar-benar jijik melihat topeng yang dia pakai. Sebenarnya ingin aku kuliti, tapi setelah kupikir-pikir akan sangat menyenangkan jika menyiksanya di ruangan tempat Mama di sekap. Aku jamin rasa sakitnya pasti akan berkali-kali lipat!" jawab Adamar sembari mengelus perutnya Rose.
"Kasihan. Pasti darah di tubuhnya berkurang banyak."
"Aku sudah meminta Reina menambah darah ke tubuhnya. Mungkin dia hanya akan sekarat saja."
"Darah apa?"
"Darah yang sudah di campur dengan serbuk beracun," jawab Adamar. "Honey, setiap detik yang di rasakan oleh Zidane dia haruslah sangat amat tersiksa. Aku tidak rela kalau dia hanya merasakan rasa sakit yang biasa-biasa saja. Itu akan sangat tidak setimpal bagi Mama. Kau pahamkan?"
Rose mengangguk. Paham kalau emosi suaminya kembali tersulut, Rose bangkit dari pembaringan kemudian memeluknya. Sambil mengelus punggungnya Adam, Rose memberikan sebuah kehangatan untuk meredam amarah tersebut.
"Lakukan apapun itu yang bisa membuatmu merasa lega, Marcellino. Bahkan kalau kau mau penggal saja kepalanya lalu jahit kembali. Siksa dia sampai kau merasa benar-benar puas. Aku tahu hatimu sangat sakit, tapi aku ingin ikut menyaksikan penderitaan yang di rasakan oleh Zidane. Jadi bisakah saat menyiksanya nanti kau mengajakku juga? Ya?"
"Apapun yang kau inginkan Honey. Aku mencintaimu."
"Aku juga."
๐
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
GENGSSA.... ADA NOVEL BARU TENTANG KISAH GERALD NIH. KUY LANGSUNG KLIK PROFIL EMAK AJA YA. ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO DI SANA.
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...