Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tempat Yang Salah


__ADS_3

📢 BESTIE, NOVEL NANIA SUDAH TAYANG DI YUTUP EMAK YA. YUK MAMPIR BUAT LIAT KESERUAN NANIA DALAM MENANGANI PELAKORNYA. 💜


📢 Jangan lupa mampir ke novel lainnya juga ya bestie 💜


- My Story ( Gabrielle & Eleanor)


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Marriage Contract With My Secretary


- Pesona Si Gadis Desa


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Mona terus saja diam sambil memandangi air danau yang terlihat begitu tenang. Setelah dia menolak untuk bertemu Rose dan Adam, Dante langsung membawa Mona pergi ke tempat ini. Cukup menenangkan, dan hal ini membuat pikiran Mona bisa sedikit teralihkan. Sebenarnya Mona sadar betul kalau dia sempat berujar akan belajar untuk melupakan perasaannya terhadap Rose. Namun apa daya. Ternyata ucapan adalah hal yang paling mudah dalam membuat janji. Mau bagaimana lagi, nama Rose sendiri sudah cukup lama melekat di hatinya Mona. Jadi memang butuh waktu yang cukup lama bagi Mona untuk benar-benar melepaskan perasaannya. Benar tidak?


"Bagaimana? Apa kau nyaman kubawa kemari, hem?" tanya Dante. Dia kemudian duduk di samping Mona, memberikan segelas minuman yang baru saja dia beli dari salah satu kedai makanan yang ada di sekitar danau tersebut.


"Lumayan," jawab Mona acuh. Dia lalu menerima pemberian Dante, tak lupa juga untuk mengucapkan terima kasih padanya.


"Lalu?"


Dante tersenyum samar.


"Apa kau sudah menemukan celah untuk melepaskan perasaanmu pada adikku?"


"Tidak semudah itu kalau kau mau tahu. Nama Rose sudah terlalu dalam melekat dalam ingatanku, sangat sulit untukku bisa melepaskannya dengan cepat!" jawab Mona sedikit kesal mendengar cara Dante bertanya padanya. "Dante, aku tahu niatmu baik dengan terus berada di sampingku seperti sekarang. Akan tetapi aku tidak suka kalau kau terlalu ikut campur dalam masalahku dengan Rose. Masalah ini biar aku sendiri saja yang menangani, kau tidak usah bertanya ini dan itu terus kepadaku. Karena apapun yang keluar dari mulutmu, itu hanya membuatku semakin bertambah stress saja. Tahu kau?"


Mendapat protes seperti itu dari Mona tak membuat Dante merasa tersinggung. Tak lama kemudian ketika Dante ingin kembali mengganggu Mona, tiba-tiba saja dia mendengar satu pergerakan aneh yang berasal dari arah belakang mereka. Posisi danau yang memang berada di dalam hutan membuat suasana tempat ini terasa sangat hening ketika para tamu yang datang berkunjung pergi berkeliling ke lokasi yang lain. Akan tetapi hal ini tak serta merta membuat Dante menurunkan kewaspadaannya. Dante paham betul meski Flynn dan sekte-sekte sesat itu sudah di bantai habis oleh Rose dan anak buahnya, hal itu masih belum bisa menjamin keselamatan Mona sepenuhnya. Karena apa? Karena anak dari seseorang yang adalah keturunan penganut sesama sekte, akan di anggap sebagai penumbalan yang begitu berharga karena bisa mendatangkan kekayaan yang seribu kali lebih banyak dari apa yang biasa mereka terima. Dan sekarang, orang-orang ini pun mulai mengincar nyawanya Mona.


"Dante, aku ....

__ADS_1


"Syuutttt, diam dan jangan bicara apa-apa dulu. Ada yang sedang mengawasi kita dari arah belakang," setengah berbisik Dante meminta agar Mona diam. Dia butuh suasana yang cukup tenang agar bisa mengetahui dimana posisi orang itu sekarang.


Tubuh Mona langsung kaku begitu mendengar ucapan Dante. Tangan yang tadinya sedang sibuk merobek dedaunan kering seketika tremor. Mona kemudian mulai terbayang-bayangi kejadian mengerikan di mana dia di arak oleh sekelompok orang-orang aneh hanya dengan memakai gaun putih tipis tanpa mengenakan pakaian dalam miliknya. Dia langsung sesak nafas.


Ya Tuhan, bukankah mereka sudah di habisi oleh Rose dan teman-temannya? Lalu kenapa mereka bisa datang lagi? Tidak mungkin kan mereka hidup lagi hanya karena aku tidak jadi mati dalam acara penumbalan mereka? Aku tidak mau, Tuhan. Aku tidak mau mengalami hal mengerikan itu lagi. Aku tidak mau!


Diam-diam Dante mengambil belati yang selalu dia selipkan di pinggangnya ketika merasa ada langkah kaki yang mendekat. Setelah itu dengan cepat Dante berbalik kemudian mengarahkan belati tersebut pada orang yang berdiri di belakangnya.


"Ini aku, Tuan Dante!" ucap seorang pria berwajah datar sambil menahan belati yang terarah pada bagian dadanya.


Sebelah alis Dante terangkat ke atas. Barulah dia tersadar kalau pria ini adalah mutan ciptaan keluarganya sendiri.


"Ada apa? Kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Dante sembari menyimpan kembali belati miliknya. Dia sedikit lega karena yang muncul bukan orang-orang sekte sialan itu. Membuat orang jantungan saja. Huh.


Sebelum menjawab, mutan tersebut menatap lama ke arah Mona. Dia lalu meminta Dante untuk sedikit menjauh darinya.


"Tuan Dante, tempat ini tidak aman. Orang-orang itu sudah menyadari siapa Nona Mona begitu kalian sampai kemari. Nona Rose yang memintaku agar datang menyusul kemudian memberitahukan hal ini padamu. Keselamatan Nona Mona sedang terancam. Silahkan bawa dia pergi dari sini. Dan mereka ... aku yang akan membereskan!"


Tanpa berpikir panjang lagi Dante langsung menghampiri Mona kemudian menarik tangannya menuju mobil. Dan ekor matanya tak lepas mengawasi keadaan sekitar, jaga-jaga saja siapa tahu ada salah satu dari mereka yang melakukan penyerangan.


"Masuk dan pakai sabuk pengamanmu dengan cepat. Jangan banyak bertanya. Lakukan sekarang!" perintah Dante begitu membukakan pintu mobil untuk Mona. Rahangnya mengerat saat Dante melihat mutan itu mematahkan leher seorang pria yang hendak membidik Mona dengan anak panah.


Sialan. Ternyata aku membawa Mona masuk ke sarang mereka. Argghhhg, kau bodoh sekali, Dante. Untung saja Rose teliti. Jika tidak, matilah kau di tangannya.


"Pejamkan matamu kalau kau takut. Perjalanan kita keluar dari hutan ini sepertinya akan sedikit memacu andrenalin," ucap Dante sambil menyalakan mesin mobil. Segera dia tancap gas dari lokasi sialan itu ketika Dante melihat ada beberapa orang yang sedang berjalan cepat menuju ke arahnya. "Benar-benar sekelompok orang gila. Bagaimana bisa dia mengincar anak dari anggota mereka sendiri? Psycho!"


"A-ada apa, Dante? S-siapa yang ingin mengincarku?" tanya Mona ketakutan.


"Mona, kau sudah tahu kan kalau Ibumu adalah orang kaburan dari sebuah keluarga penganut sekte?" sahut Dante balik bertanya.


"I-iya,"

__ADS_1


"Mereka adalah bagian dari orang-orang sesat itu. Dan dari yang aku tahu, jika mereka bisa menumbalkan anak dari anggota mereka sendiri, setan yang mereka sembah akan memberikan kekayaan yang sangat amat tak terhingga. Dan kini mereka sedang menargetkan dirimu. Paham?"


Sudahlah. Jangan kalian tanya lagi bagaimana keadaan Mona setelah mendengar penjelasan Dante. Sekujur tubuhnya lemas dan wajahnya langsung berubah pucat seperti mayat. Dante yang sadar kalau Mona sedang ketakutan pun tanpa sungkan mengelus pipinya pelan. Dia cukup terenyuh akan nasib buruk yang di alami oleh gadis tak berdosa ini.


"Jangan takut. Aku dan orang-orangnya Rose tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Oke?"


"B-benarkah?"


"Tentu saja. Dan aku .....


Doorrr


Jantung Mona hampir terlepas keluar saat mobil Dante tiba-tiba di tembak oleh seseorang. Mona lalu tak sengaja melihat ke arah kaca spion. Dan sedetik kemudian, mata Mona langsung membelalak lebar saat dia melihat ada sebuah motor yang dinaiki oleh dua orang berpakaian serba hitam tengah mengarahkan pistol ke arah ban mobil yang sedang dia naiki. Seketika Mona menjerit.


"Ban ... ban! Mereka akan menembak ban mobil ini!"


Dante langsung mengerem mobilnya lalu membanting stir agar motor yang ada di belakang menabrak mobilnya. Dan benar saja, kejadian berlangsung sesuai dengan yang di inginkan oleh Dante. Setelah itu Dante mengelus puncak kepala Mona, takjub karena meskipun takut gadis ini masih memiliki kekuatan untuk memberi peringatan.


"Good job, girl. Benar begitu, lawan rasa takutmu karena kau tidak sendiri!" puji Dante dengan tulus.


"A-apa masih ada yang lain?" tanya Mona dengan perasaan campur aduk. Senang dan juga takut.


"Tentu saja masih ada. Tapi untuk yang lain sudah ada orang yang membereskan. Jangan khawatir," jawab Dante.


"B-benarkah?"


Dante mengangguk. Dia lalu menambah kecepatan mobilnya agar bisa sesegera mungkin keluar dari dalam hutan. Meski sekarang ada banyak mutan yang membantu menghabisi orang-orang sialan itu, Dante tetap merasa kalau keselamatan Mona masih terancam selama mereka belum keluar dari hutan ini.


Maafkan aku, Mona. Aku tidak tahu kalau tempat ini adalah tempat dari para pengabdi setan itu berkumpul. Sekali lagi tolong maafkan aku ya,


*******

__ADS_1


__ADS_2