Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Penderitaan Zidane


__ADS_3

Zidane hanya mampu menahan sakit setelah sekujur tubuhnya menjadi bulan-bulanan Adamar. Bau amis sekaligus anyir nampak memenuhi udara di dalam ruangan gelap yang sangat cocok di sebut sebagai neraka dunia. Di tempat dan di ruangan ini, Zidane mengalami siksaan dan juga pelecehan dari Adamar dan juga anak buahnya yang lain. Namun yang lebih menyakitkannya lagi, Zidane bisa menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana Zidane palsu bisa hidup dengan begitu bebas di dalam rumah ini, termasuk juga dengan istrinya yang tidak berguna itu, Vanya. Sementara dia, hah. Jangan di tanya seperti apa nasibnya sekarang. Benar-benar sangat menyedihkan.


"Shhhhh," ....


"Sakit?"


Adamar bertanya. Di tangannya ada cambuk berduri yang baru saja dia gunakan untuk menyiksa orang yang dulu menjadi ayahnya. Brutal? Itu sudah semestinya. Kejam? Memang. Tega? Tentu tidak. Adamar hanya membalas apa yang sebelumnya Zidane berikan kepada sang ibu selama dalam masa penyekapan.


"Kenapa diam, hm? Apa terlalu menghayati penyiksaan ini sampai kau lupa bagaimana cara untuk bicara?" tanya Adamar sarkas. Dia lalu berjalan memutari tubuh ringkih Zidane yang sudah terkapar bersimbah darah di lantai. "Ini masih dalam hitungan hari, Zidane. Tapi lihatlah, kau bahkan sudah sebegini lemahnya menghadapiku. Sungguh mengecewakan!"


"A-Adamar, t-tolong ampuni, Papa. P-Papa janji Papa akan bert-ttaubat. Tolong lepaskan Papa ya?" sahut Zidane mencoba untuk memelas. Dia benar-benar sudah tidak kuat lagi disiksa seperti ini. Tubuhnya sudah sangat lemah sekarang.


"Papa?" beo Adamar. Dia kemudian berjongkok di hadapan Zidane sembari memainkan cambuk di tangannya. "Dari sudut sebelah mana kau berhak untuk di panggil Papa, hm?"


"Adamar ....


"Namaku Marcellino, k*parat!"


"A-Adamar Clarence, itu nama yang Papa pilihkan khusus untukmu. T-tolong kau jangan asal menggantinya," sahut Zidane berusaha untuk terus mengembalikan kepercayaan Adamar. Walaupun terdengar mustahil, tapi hanya ini satu-satunya cara yang bisa membuat Zidane bisa di keluarkan dari tempat menjijikkan ini.


Mendengar kebebalan Zidane membuat Adamar menghela nafas panjang. Matanya yang tajam menelusuri deretan luka-luka di tubuh renta yang dulu pernah di panggilnya dengan sebutan Papa. Andai saja Zidane tidak mengurung dan menyiksa ibunya sampai sebegitu parahnya, mungkin Adamar masih akan berbaik hati dengan membiarkannya hidup dengan tenang. Namun, saat kebencian sudah tertanam di dalam hati seseorang, akan sangat sulit untuk orang tersebut mau berdamai dengan sesuatu yang di bencinya itu. Padahal jelas-jelas di sini ibunya Adamar tidaklah bersalah. Ibunya dipaksa naik ke ranjang pria lain kemudian tak sengaja memiliki rasa pada pria yang dilemparkan oleh suaminya demi agar aibnya tidak terbongkar. Menjijikkan sekali bukan?


"Kalau saja kau tidak sebegini kejam pada Mama Karina, aku mungkin masih mempunyai hati untuk memaafkan kesalahanmu, Zidane. Akan tetapi apa yang telah kau lakukan terhadap wanita yang telah melahirkan aku benar-benar sudah sangat keterlaluan. Aku muak!"


Ctaaarrr ctaaarrr


Dengan ringkihnya Zidane hanya bisa pasrah menerima ayunan cambuk yang kembali mencabik-cabik daging di tubuhnya. Dia hanya merintih lirih ketika duri yang terpasang di cambuk menggores kulit tubuhnya hingga terkelupas dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


"B*ngsat! Mati saja kau Zidane. Dasar manusia iblis kau, pergilah ke neraka!" teriak Adamar kian menggila mengayunkan cambuk ke tubuh Zidane. Amarahnya meluap setiap kali terkenang akan penderitaan sang ibu.


Sementara itu di luar ruangan, Vanya yang baru saja keluar dari dalam kamar langsung menelan ludah ketika mendapati suaminya tengah duduk santai bersama Rose di ruang keluarga. Kedua orang tersebut terlihat seperti sedang menonton sesuatu. Namun karena posisi Vanya yang masih berada di anak tangga, dia tidak bisa melihat jelas apa yang sebenarnya sedang mereka tonton. Akhirnya karena penasaran, Vanya memberanikan diri untuk mengintip. Dia menuruni anak tangga dengan sangat perlahan, berharap kalau Zidane dan Rose tidak akan menyadari kedatangannya.


"Di rumah ini apa kau memelihara seekor anjing yang suka mengusik urusan orang?" tanya Rose sarkas. Sudut bibirnya berkedut, menertawakan sesuatu yang tengah mengendap-endap di belakang tubuhnya.


"Tidak!" jawab Zidane palsu. Dia lalu menoleh, merasa ada yang kurang pas dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh majikannya ini. "Apa kau sedang merasa tidak nyaman?"


"Ya,"


"Apa yang membuatmu merasa tidak nyaman?"


Rose segera berbalik menghadap ke belakang. Setelah itu dia menunjuk ke arah Vanya yang tengah berdiri membeku sambil menatapnya. "Anjing betina itu yang membuatku merasa tidak nyaman. Siapa dia?"


"Oh,"


"S-sayang, maaf. A-aku tidak bermaksud mengganggu kalian. Aku hanya ... hanya ....


Vanya tergagap. Sejak Vanya tiba-tiba seperti amnesia dadakan, sejak hari itu pula sikap suaminya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia merasa kalau suaminya ini seperti orang lain yang sedang menyamar.


"Lancang!"


Plaakk plaakk


Rose berdiri diam tanpa ada niat menolong Vanya yang kini tengah dicekik oleh Zidane setelah menerima dua tamparan di wajahnya. Sambil mengelus perutnya, Rose meminta pada Tuhan agar anaknya kelak tidak menuruni sikap buruk Vanya.


"Zidane, kenapa kau menamparku. A-aku kan sudah meminta maaf," tanya Vanya ketakutan sambil memegangi tangan Zidane yang tengah mencekiknya. Mati-matian Vanya mengatur nafas saat cekikan tangan Zidane semakin menguat. "Lepas, Zidane. Ini aku Vanya, istrimu."

__ADS_1


"Kalau benar kau istriku, harusnya kau tahu kalau aku sangat tidak suka pada manusia yang suka mencampuri urusanku!" sahut Zidane kasar. "Jangan kau kira dengan menjadi istriku kau bisa bebas mencari tahu tentang apa yang aku lakukan ya. Karena meskipun kau adalah Ibu dari anak-anakku, aku tidak akan segan untuk menghabisimu. Paham!"


Setelah berkata seperti itu Zidane dengan kuat mendorong tubuh Vanya hingga jatuh terjerangkang ke belakang. Dia kemudian kembali berdiri di sisi majikannya, memberi tanda kalau penyebab yang membuat sang majikan merasa tidak nyaman telah berhasil dia singkirkan.


Brengsek, Zidane ini kenapa sebenarnya. Kenapa semakin ke sini dia semakin saja membela dan memperlakukan Rose bak seorang majikan. Bukankah selama ini Zidane begitu membenci wanita ular itu ya? Aneh.


"Nyonya Vanya, daripada kau sibuk bertanya-tanya dalam hati, aku sarankan sebaiknya kau segera pergi menemui brondong simpananmu saja di hotel. Kasihan mereka nanti," ucap Rose tanpa ada ekpresi apapun di wajahnya.


"A-apa kau bilang? Brondong?" Vanya syok. Dia lalu memberanikan diri untuk melihat ke arah Zidane. "S-sayang, itu fitnah. A-aku sama sekali tidak memiliki brondong seperti yang di tuduhkan oleh Rose barusan. Kau jangan percaya padanya!"


"Enyah dari hadapanku sekarang juga. Atau aku akan menghabisimu hingga hancur berkeping-keping!" ancam Zidane dingin.


"Tapi aku ....


"Satu lagi, Nyonya Vanya. Di mana Gracia? Sudah sangat lama aku tidak bertegur sapa dengan adik iparku itu. Dia ... tidak kau jual 'kan?"


Kali ini Rose bicara sambil tersenyum. Dia ingin tahu apakah wanita di hadapannya ini masih memiliki sisi seorang ibu atau tidak. Karena jika tidak, maka Rose siap menjadikan Gracia sebagai salah satu orangnya.


"Omong kosong apa yang kau bicarakan, Rose. Gracia adalah putriku, kau gila ya menuduhku sudah menjualnya. Dasar wa ....


"EKHMMMM!"


Vanya langsung lari terbirit-birit saat Zidane berdehem dengan cukup kuat. Rose yang melihat ibu mertuanya pergi dengan cara seperti itu tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia lalu mengajak Zidane palsu untuk kembali menonton rekaman CCTV yang masih menayangkan bagaimana Adamar begitu gencar menyiksa Zidane asli yang sudah tidak berdaya. Kasihan sebenarnya, tapi apa mau dikata. Kejahatan yang Zidane lakukan terlalu kelewatan, terlebih lagi itu menyangkut tentang nasib seorang wanita yang Adam anggap sebagai ibunya.


Hmmmmm, sungguh menarik melihatmu seperti ini, Dam. Aku suka.


***

__ADS_1


__ADS_2