Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kebimbangan


__ADS_3

Mona diam memperhatikan Adam dan Rose yang tengah duduk berdua. Ada rasa perih yang hinggap di hatinya, tapi Mona berusaha untuk berlapang dada. Meski sangat berat, Mona sudah tertekad kalau dia akan melupakan rasa yang tidak seharusnya pada sahabatnya itu. Dia sadar kalau perasaannya ini akan menyakiti banyak pihak jika tetap di pertahankan. Tidak apa-apa sedikit menahan sakit, asalkan Rose tidak membencinya maka itu sudah lebih dari cukup.


"Jangan menuruti bisikan yang memintamu untuk terus mencintai Rose, Mona. Kau harus ingat kalau bisikan itu tidaklah benar. Kau adalah gadis yang normal, kau pasti bisa melewati semua ini dan memiliki kehidupan yang layak seperti Rose dan yang lainnya. Jangan takut sakit, oke?"


Liona tersenyum ke arah gadis yang menjadi cucu dari mantan orang kepercayaan suaminya. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Mona yang terlihat kikuk karena ketahuan sedang memperhatikan Rose dan Adam dari jauh. Layaknya seorang ibu, Liona membelai rambut panjang Mona yang tergerai begitu saja. Hatinya miris, sedih karena hidup gadis ini telah di hancurkan oleh orang-orang biadap yang sangat tidak manusiawi.


"Jangan malu dan jangan takut. Kami semua tidak ada yang membencimu, jadi tenang saja ya?"


"Nenek Liona, apa kau tidak jijik padaku?" tanya Mona lirih.


"Jijik? Karena apa?"


Karena aku kotor.


Seulas senyum kecil muncul di sudut bibir Liona saat mendengar jawaban di pikiran Mona. Sepertinya gadis ini sedang di lema. Namun dari hal ini Liona bisa menarik kesimpulan kalau Mona sudah tidak terlalu bergantung pada perasaannya terhadap Rose. Gadis ini mulai keluar dari zona merah yang selama ini membelenggu hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Mona, semua orang di dunia ini pasti pernah melakukan sesuatu hal yang salah, bahkan menjijikkan. Tapi itu bukan berarti kalau orang tersebut tidak memiliki masa depan lagi untuk memperbaiki diri. Begitu juga dengan dirimu. Kau bertanya apakah Nenek merasa jijik padamu atau tidak bukan? Jawabannya tidak sama sekali. Ingat Mona, yang terjadi dulu dan sekarang bukan atas kehendakmu sendiri. Kau adalah korban, kau adalah orang yang paling di rugikan atas semua yang terjadi. Jika pun sampai ada orang yang jijik terhadapmu, maka Nenek akan menganggap kalau orang tersebut sakit jiwa. Karena apa? Karena kau sama sekali tidak bersalah!" ucap Liona dengan tegas. Dia harus membantu gadis ini menguatkan mentalnya yang sudah berada di titik terendah di hidupnya.


"Nek, entah aku sanggup atau tidak, aku ingin melupakan rasa ini. Aku tidak mau membuat semua orang kecewa, aku ingin hidup normal seperti Rose. Tapi apakah aku bisa? Apakah akan ada laki-laki yang mau menerima aku yang seperti ini? Aku sangat kotor, Nek. Aku bahkan memiliki kelainan yang menyimpang. Aku takut di tolak, Nek. Tolong bantu aku mengatasi masalah ini. Aku ... aku," ....


"Ssssttt, tenang. Tarik nafas perlahan, kemudian hembuskan."


Mona yang sedikit kesulitan bernafas segera mengikuti arahan Nenek Liona. Dia menarik nafas sedalam mungkin kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Hal tersebut terus Mona ulangi sampai debaran di dadanya sedikit demi sedikit mulai mereda. Jika kalian ingin tahu seperti apa perasaannya sekarang, jawabannya adalah putus asa. Sebelum Mona mengintip Adam dan Rose dia sempat terfikir untuk kembali melakukan bunuh diri. Namun niat tersebut dia urungkan saat tidak sengaja melihat neneknya yang tengah bersenda gurau bersama kakeknya dan juga Kakek Greg. Benak Mona langsung di hinggapi rasa bersalah jika seandainya dia tega menghilangkan senyum bahagia di wajah kakek dan neneknya dan menggantinya dengan tangis kesedihan. Mungkin Mona akan menjadi cucu paling tidak tahu diri di dunia ini jika dia tetap nekad untuk mengakhiri hidup. Dan alhasil, Mona memilih untuk melupakan semua perasaannya terhadap Rose demi menjaga perasaan dan juga kebahagiaan orang-orang yang selama ini sudah sangat tulus mencintainya.


"Tidak ada yang instan di dunia ini, sayang. Nenek pun tidak bisa menjanjikan kalau ada pria yang bersedia untuk menerima kekuranganmu. Akan tetapi, kau harus tahu kalau di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha. Nenek tahu seperti apa kalutnya hatimu sekarang. Nenek juga tahu kalau batinmu tengah berperang hebat antara ingin melepaskan atau tetap bertahan dengan rasa yang sudah terlanjur ada."


Jeda sejenak. Liona kembali lanjut memberikan nasehat sambil terus membelai kepala Mona yang terlihat begitu frustasi.


"Apakah mungkin, Nek? Ak-aku sangat takut. Aku juga tidak tahu apakah aku sanggup untuk menceritakan semua masa lalu kelam itu padanya atau tidak. Itu terlalu menjijikkan untukku, Nek?" tanya Mona sesak.


Mungkin secara normal Mona memang masih perawan. Tapi di lain tempat, dia tetaplah seorang gadis yang pernah menjadi piala bergilir bagi beberapa pria sesat itu. Rasanya Mona seperti tercekik setiap mengingat kejadian menjijikkan tersebut. Membuatnya menjadi gelap mata dan ingin mengakhiri hidup agar tidak terus merasa tersiksa.

__ADS_1


"Sayang, Nenek tahu apa maksudmu. Dan Nenek juga tidak bisa menyalahkanmu atas perasaan jijik tersebut. Tapi Mona, di luar sana ada banyak sekali wanita yang berprofesi sebagai penghibur dunia malam yang masa lalunya bisa di terima oleh pria berhati malaikat. Mereka pendosa, tapi mereka bersedia untuk membuka lembaran baru dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sedangkan kau, kau sama sekali tidak melakukan kesalahan apa-apa, sayang. Kau murni adalah korban. Jadi kau harus bisa meyakinkan diri kalau suatu hari nanti kau pasti bisa menemukan pria yang mau dan juga mengerti akan masa lalu kelam yang pernah kau alami dulu. Dan satu hal lagi, jangan pernah berhenti meminta pada Tuhan. Karena Dia adalah sebaik-baiknya takdir perjodohan. Mintalah pada-Nya agar di datangkan seorang pria bertanggung jawab dalam hidupmu. Nenek yakin Tuhan pasti akan menjawab doa tulus dari hanba-Nya yang teraniaya!" jawab Liona dengan bijak.


"Pantaskah aku memohon seperti itu pada Tuhan, Nek?"


"Pantas, sangat pantas. Tuhan tak pernah menolak hamba-Nya yang datang dengan membawa segala keluh kesah. Bahkan seorang pendosa pun tetap Dia terima dengan hati terbuka. Maka dari itu, mintalah pada-Nya. Yakinkan hatimu dengan doa-doa yang ingin kau panjatkan."


Mona dan Liona terus berbincang hangat seakan mereka memiliki hubungan darah yang begitu dekat. Liona dengan penuh kasih terus menyemangati Mona yang tengah terjebak oleh perasaan dilema. Dia tak henti-hentinya menasehati Mona yang masih maju mundur dalam mempertahankan keputusannya. Sulit memang, bahkan Liona sampai terbawa suasana karena perkataan Mona yang mudah berbolak-balik. Namun dia berusaha untuk terus sabar karena bagaimanapun yang di alami Mona sangatlah buruk. Jadi wajar saja kalau gadis ini masih terombang-ambing oleh suatu kenangan buruk yang telah menghancurkan sebagian dari hidupnya.


Aku yakin kau pasti bisa, Mona. Kami semua ada di sini untuk mendukungmu. Dan juga, kami telah menyiapkan seseorang untukmu. Semoga saja kalian berjodoh agar hubungan kita bisa semakin erat.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2