Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

Joshua memelototkan mata ketika melihat banyaknya sosok berhoodie yang bermunculan di dalam club. Hal serupa juga di rasakan oleh Lionel dan juga anak buahnya. Mereka semua kebingungan, tidak mengerti bagaimana bisa ada begitu banyak orang yang datang membantu wanita bernama Reina. Sungguh, di awal tadi mereka merasa begitu yakin bisa mengalahkan ketiga orang yang datang dari kelompok Ma Queen. Akan tetapi setelah melihat keadaan aneh ini, mereka jadi pesimis karena orang-orang berhoodie ini tidak berhenti bermunculan dari berbagai arah.


"Siapa kalian sebenarnya, hah!" teriak Lionel mulai panik.


"Kami?"


Resan tersenyum. "Kami hanyalah orang-orang yang sangat menjaga ketenangan dari kelompok Ma Queen. Atau singkatnya kami datang untuk menyingkirkan para sampah yang berniat mencari panggung dengan sengaja menargetkan ketua kami sebagai alat pelampiasan atas kerugian yang kalian alami."


Jeda sejenak.


"Tuan Lionel dan Tuan Joshua, bukankah tadi rekanku sudah berbaik hati dengan mengajak kalian untuk bernegosiasi? Tapi apa respon kalian? Kalian malah lancang meminta ketua kami untuk menunjukkan wajah aslinya. Jadi ya sudah, kita akan sama-sama berjuang kelompok siapa yang mampu bertahan dalam pertempuran ini. Benarkan, Reina?"


"Sebenarnya aku ingin menjawab tidak, Res. Akan tetapi karena kau sudah begitu yakin dengan kata-kata itu, maka aku akan menjawab iya," jawab Reina menirukan kata yang tadi di ucapkan oleh Tuan Joshua.


"Brengsek! Apa kau baru saja mengolok-olokku, Nona Reina?" tanya Joshua sambil menggeram marah


"Upsss, maaf, Tuan Joshua. Bibirku terkadang suka kelepasan bicara," jawab Reina sambil tertawa puas karena berhasil mempermainkan emosi pria tua tersebut.


Gatal melihat perkelahian yang sedang terjadi, Reina dan Resan akhirnya ikut turun tangan. Mereka berjalan cepat menghampiri salah satu anak buah Lionel yang tengah asik melakukan baku tembak dengan orang-orang yang tidak akan pernah bisa mati di tembak. Sosok berhoodie ini adalah mutan, mustahil untuk mereka mati jika tidak mencabut paksa alat yang tertanam di belakang kepala mereka.


Doorrrr srreeeettt


Reina dengan brutal menembak pistol yang ada di tangan musuh kemudian menggorok leher hingga putus. Jika kalian penasaran kemana perginya para tamu yang tadi ada di club ini, mereka semua sudah di amankan oleh kelompoknya dengan tujuan mencuci otak mereka agar tidak membuka mulut tentang apa yang terjadi di sini. Gampang bukan?


"Kau ... yakkk, apa yang kalian lakukan? Cepat bunuh j*lang sialan itu!" teriak Lionel setelah tersadar dari keterkejutannya melihat betapa sadis Reina dalam menghabisi nyawa anak buahnya.


Sial. Rupanya rumor itu benar kalau kelompok Ma Queen berisi orang-orang yang sadis seperti monster. Kalau terus seperti ini lama-lama aku bisa mati konyol di tangan mereka. Arrgghh, apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Jangan takut, Lionel. Kau dan bosmu itu tidak akan mati di sini!" ucap Resan yang dengan begitu cerdik memanfaatkan celah untuk mendekati Lionel ketika pria ini sedang tidak fokus dengan pikirannya.

__ADS_1


"K*parat! Mati saja kau sana!"


Resan dan Lionel terlibat perkelahian yang cukup sengit karena keduanya sama-sama menguasai ilmu bela diri dengan sangat baik. Reina yang melihat perkelahian sengit itupun menjadi semakin semangat ketika kembali mematahkan leher dan tulang rusuk di tubuh lawan. Sesekali dia juga menoleh ke arah Tuan Joshua kemudian menyeringai sambil menembakkan satu peluru ke kepala anak buahnya. Reina benar-benar menikmati sensasi membunuh orang-orang ini karena sudah cukup lama dia tidak berwisata ke wahana amis ini.


Bugghhhhh


"Ughhhhh!"


Lionel jatuh tersungkur setelah Resan berhasil menendang ulu hatinya yang mana membuat Lionel memuntahkan darah segar. Joshua yang sadar kalau kelompoknya kalah telak segera memikirkan cara untuk kabur dari sana. Meski di awal dia sangat yakin bisa mengalahkan anggota Ma Queen, keyakinan tersebut akhirnya runtuh setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana puluhan sosok berhoodie terus bermunculan di sana. Di tambah lagi sekarang nyawa Lionel sudah berada di tangan temannya Reina, membuat Joshua semakin yakin untuk segera pergi dari sana.


Namun, harapan tinggallah harapan di mana Tuhanlah yang berhak menjadi penentu. Di saat Joshua sedang mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri, tepat di hadapannya muncul sosok berhoodie yang langsung meninju wajahnya hingga membuat kedua giginya tanggal. Joshua menjerit kesakitan sambil memegangi mulutnya yang berdarah. Tubuhnya langsung oleng kemudian menabrak dinding sebelum akhirnya sosok berhoodie tersebut mencekik lehernya.


"Lepaskan aku!" teriak Joshua di sela-sela rasa sakitnya.


"Lepas, kemudian gantung dia di sana!" olok Reina yang sedang berjalan mendekat sambil menenteng dua kepala di tangannya. Wajahnya yang cantik sudah di penuhi oleh cairan pekat yang mana baunya sangat amat amis.


"Membunuhku?"


Reina melemparkan kedua kepala yang dia bawa ke arah Joshua kemudian menyeka wajahnya. "Kau yang akan mati di tanganku, bodoh!"


"Cuihhh, percaya diri sekali kau, j*lang sialan. Jangan harap kau bisa membunuhku ya. Itu tidak akan mungkin terjadi meski dunia ini kiamat sekalipun!"


"Hahahaha, benarkah?" tanya Reina. "Memang benar kalau kematian seseorang hanya ada di tangan Tuhan, tapi takdir kematianmu itu ada di tanganku. Tidak percaya? Maka rasakanlah ini!"


Tanpa ragu Reina langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Joshua yang sudah di penuhi darah akibat giginya yang tanggal. Setelah itu Reina mengambil pisau kemudian menyayat sebagian kulit leher Joshua yang mana membuatnya tidak berhenti menjerit kesakitan.


Sementara itu Lionel yang sudah mulai kewalahan menghadapi serangan Resan tanpa sengaja menginjak genangan darah yang langsung membuatnya jatuh terjungkal ke belakang. Hal ini di gunakan Resan untuk menikam perutnya menggunakan belati yang dia bawa. Serangan ini terus Resan lakukan dengan mencabut belati tersebut lalu menusukannya ke bagian paha.


Jleeebb jleebbbbb

__ADS_1


"Aarrrrggghhhhhh!" teriak Lionel tak berdaya saat kedua pahanya terus mendapat banyak tusukan.


Club yang tadinya di penuhi orang-orang yang sedang asik dengan minuman dan juga musik yang di putar oleh dj, kini berganti dengan suara jerit kesakitan dan juga kolam darah di mana ada banyak mayat bergeletakan di lantai. Mayat-mayat tersebut kebanyakan mati dengan cara kepala putus dan juga hancur karena tertembak. Sementara di bagian meja bartender, ada seorang pria tua yang kini sudah jatuh tak sadarkan diri di tangan Reina.


"Fyiuhhh, lelah juga ya setelah sekian lama tidak berolahraga," gumam Reina seraya menyeka keringat di keningnya. Dia kemudian beralih melihat ke arah Resan yang tengah menggeret kakinya Lionel. "Res, setelah ini tolong bokingkan satu salon untukku ya. Tubuhku sangat lengket dan baunya tak sedap. Nanti aku tidak bisa tidur kalau tidak langsung di bersihkan!"


Resan langsung menganggukkan kepala begitu mendengar rengekan Reina. Ini sudah ritual tetap yang akan diminta oleh Reina setiap kali mereka pergi berburu nyawa. Resan kemudian melirik ke arah Tuan Joshua yang nasibnya tidak jauh lebih baik dari nasib Lionel yang kini masih setengah sadar dalam menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Ayo bawa pulang hasil buruan kita malam ini, Reina. Mereka berdua biar ketua saja yang membereskan!" ajak Resan sambil membersihkan jam di tangannya.


"Ck, kenapa tidak kita saja sih yang membereskan mereka? Tanggung, Res," sahut Reina merasa keberatan jika sandranya di bawa pulang ke markas.


"Tidak ada perintah lanjutan dari ketua. Akan sangat lancang jika kita mengambil tindakan tanpa ada persetujuan dari ketua. Bisa-bisa kita malah akan bernasip sama seperti mereka. Memangnya kau mau?"


"Ih, amit-amit. Aku masih belum menikah ya."


"Ya sudah, ayo kita pulang."


Dengan berat hati Reina akhirnya mengikuti langkah Resan untuk keluar dari sana. Sedangkan Lionel dan Tuan Joshua, mereka akan di bawa oleh para mutan seusai mereka membereskan tempat kejadian perkara. Jika kalian merasa sangat penasaran kenapa di semua scene ini tidak ada polisi, jawabannya adalah karena mereka juga bergantung pada para mafia seperti kelompok Ma Queen dan juga kelompoknya Tuan Joshua. Antara penjahat dan pihak kepolisian, ada satu ikatan di mana mereka tidak akan bisa di tangkap, atau istilah katanya simbiosis mutualisme di mana mereka sama-sama menguntungkan. Jangan kalian pikir para mafia yang ada di sini tidak membayar mahal kepada pemerintah, kalian salah jika berpikir seperti itu. Justru dari para mafia inilah sebagian dari orang kepemerintahan mendapat suntikan dana lebih untuk menopang kebutuhan pribadi mereka. Sampai di sini paham?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2