
Mona memandang kosong ke arah restoran yang menjadi tempat Rose bekerja. Pagi ini dia sengaja meminta izin pada kakek dan neneknya untuk pergi jalan-jalan. Sejak semalam pikirannya sangat kacau, Mona bahkan tidak sedetikpun mampu memejamkan mata. Hatinya sangat sakit, tapi dia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Dan begitu matahari muncul, Mona bergegas mendatangi kakek dan neneknya. Dia kemudian berbohong dengan mengatakan kalau ingin pergi mencari udara segar. Padahal tujuan yang sebenarnya adalah dia ingin menemui Rose, Mona ingin sekali bertanya apakah benar Rose telah menikah dengan Adamar atau tidak.
"Rose, kenapa harus ada sesuatu seperti ini di antara kita. Aku....
Ucapan Mona terhenti saat dia melihat sebuah mobil sport berhenti sedikit jauh dari lokasi restoran. Mona yang saat itu berada di dalam mobil nampak mengerutkan kening ketika dia melihat Rose keluar dari dalam mobil tersebut. Dan apa yang terjadi selanjutnya membuat mata Mona berkaca-kaca. Dadanya serasa seperti ditusuk dengan samurai saat matanya menyaksikan sendiri bagaimana Adamar mencium kening sahabatnya sebelum pergi. Hati Mona hancur, cinta kembali mengoyak perasaannya.
Kenapa Rose, kenapa!! Kenapa harus begini....
Mona terus berada di dalam mobil sampai akhirnya Adamar benar-benar pergi dari sana. Dia lalu memerintahkan supirnya untuk maju mendekat ke arah restoran.
"Biar saya bantu, Nona."
"Tidak usah, Paman. Aku masih bisa sendiri," ucap Mona menolak halus tawaran si sopir yang ingin membantunya keluar dari dalam mobil.
Entah karena pengaruh sakit hati atau bagaimana, Mona sama sekali tidak merasakan sakit lagi di telapak kakinya. Langkahnya terus tertuju ke dalam restoran dimana kini sahabatnya sedang sibuk mengelap meja. Ada yang sakit, sesak, dan juga perih ketika Mona mencium aroma tubuh sahabatnya dari jarak yang dekat. Dia ingin menangis, tapi mati-matian Mona tahan karena dia tidak mau Rose menyadari perasaan yang dia pendam. Sebenarnya Mona sadar kalau ini bukan salah Rose maupun Adamar. Ini adalah murni kesalahannya sendiri karena telah menyimpan perasaan tanpa memberitahu orangnya secara langsung. Ya, Mona dibuat kecewa oleh kebodohannya sendiri.
"Mau sampai kapan kau berdiam seperti itu?"
Rose bertanya tanpa berbalik ke belakang. Dia sedari awal sudah mengetahui keberadaan Mona yang hanya duduk diam di dalam mobilnya. Heran dengan kelakuan temannya, Rose lalu sengaja membiarkan Mona yang mendatanginya sendiri. Dia tahu ada sesuatu yang sedang mengganggu perasaan gadis ini karena tidak biasanya Mona hanya melihatnya dari kejauhan. Gadis culun ini biasanya akan langsung menempel seperti permen karet jika melihat muncul. Tapi kali ini tidak, dan Rose yakin sekali ada sesuatu yang tengah mengusik pikiran sahabatnya.
"R-Rose, kau tahu aku di sini?" tanya Mona kaget.
Telapak tangan Mona berkeringat dingin. Dia begitu gugup ketika Rose menganggukkan kepala tanpa berbalik untuk melihatnya.
"Apa kakimu sudah sembuh?"
"S-s-belum, Rose."
"Kenapa keluyuran? Berharap ada yang mematahkan kakimu atau bagaimana?"
Kali ini Rose bicara sambil berbalik ke arah Mona. Sebelah alis Rose terangkat ke atas ketika melihat wajah Mona yang sangat sayu. Rose kemudian meletakkan lap yang sedang di pegangnya, dia lalu mengajak Mona untuk duduk bersama.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
Mona gelisah. Dia ingin sekali bertanya, tapi lidahnya kelu. Alhasil, Mona hanya bisa diam dengan kepala tertunduk ke bawah. Dia tidak berani menatap wajah sahabatnya.
"Tidak mau bicara?" desak Rose dingin.
"Aku-aku....
"Bicara yang benar atau aku akan menarik lidahmu keluar!"
"Roseee!!"
Rose terkekeh pelan mendengar suara rajukan Mona. Dengan sayang Rose mengusap-usap kepala Mona yang masin betah menunduk. Dia mencoba menebak gerangan apa yang sudah membuat sahabatnya jadi seperti ini. Patah hatikah? Tapi ini mustahil. Selama ini Rose tidak pernah mendengar Mona menyebut nama seorang pria ketika mereka bersama. Atau ada yang membully-nya? Ini jauh lebih mustahil lagi karena Rose selalu meminta anak buahnya untuk sesekali mengawasi Mona ketika berada di luar seorang diri.
"Rose, apa aku boleh bercerita padamu?" tanya Mona hati-hati.
"Jika aku bilang tidak apa kau akan mendengarkan?" sahut Rose balik bertanya.
Ekor mata Rose melirik ke arah luar. Dia lalu menggelengkan kepala ketika anak buahnya membuat kode yang hanya di mengerti oleh mereka. Sesuatu yang buruk telah terjadi, tapi Rose tidak mungkin meninggalkan Mona dalam keadaan seperti ini.
"Rose, aku patah hati. Orang yang kusukai ternyata telah menikah dengan orang lain. Hatiku hancur, Rose. Rasanya aku ingin mati saja," ucap Mona sambil menahan tangis.
"Kalau begitu matilah."
Seketika Mona langsung menatap syok ke arah Rose. Dia tidak percaya kalau sahabatnya akan langsung bicara seperti ini.
"Hanya gara-gara seorang pria kau sampai ingin mati? Mona, kau sebenarnya punya harga diri tidak! Jujur, aku paling benci melihat manusia-manusia to lol sepertimu. Dunia ini luas Mon, masih ada banyak pria yang jauh lebih baik di luaran sana. Untuk apa kau mengorbankan hidupmu hanya untuk seorang bajingan yang tidak bisa menghargai perasaanmu? Orang-orang bo doh sepertimu sangat tidak pantas untuk hidup. Matilah sana. Atau jika perlu aku sendiri yang akan mengirimmu pergi ke neraka. Silahkan kau pilih kematian seperti apa yang kau inginkan!" teriak Rose emosi.
Manager restoran yang tidak sengaja mendengar teriakan Rose tampak gemetaran dengan wajah pucat pasi. Dalam hatinya, dia tidak berhenti mengumpat pada gadis culun yang sudah berani memancing emosi dari seseorang yang sangat dia takuti.
"Rose, jangan marah. Aku... aku....
__ADS_1
"Pergi kau dari sini. Jangan pernah berani menemui aku sebelum otakmu yang kecil kembali normal. Aku benar-benar sangat kecewa padamu, Mona. Aku pikir kau adalah gadis yang kuat, tidak di sangka kau hanyalah seorang sampah yang tidak berguna. Pergi kau!" usir Rose dengan mata berkilat marah.
Airmata langsung membanjiri wajah Mona saat dia di usir dengan begitu kejam oleh Rose. Tak mau kehilangan satu-satunya sahabat yang dia punya, Mona segera menggenggam tangan Rose saat melihatnya yang ingin pergi. Dia meminta maaf sambil menangis terisak-isak.
"Hikss, maafkan aku Rose. Aku bo doh, aku to lol. Maafkan aku, tolong jangan marah, hem?"
"Aku bilang menyingkir dari hadapanku, Mona. Aku muak melihat orang lemah sepertimu!" hardik Rose tanpa merasa kasihan sama sekali.
"Tidak Rose, aku tidak mau. Aku salah, aku minta maaf. Ak-aku janji tidak akan berpikiran sempit lagi, aku tidak akan memikirkan orang itu lagi. Tolong jangan buang aku Rose, aku tidak bisa jika tidak ada dirimu. Aku minta maaf," ucap Mona terus membujuk. Dia benar-benar sangat takut Rose tidak akan mau berteman lagi dengannya.
Rose menarik nafas panjang kemudian melihat ke arah Mona yang berlinang airmata. Dia sedikit menyesal karena sudah memperlihatkan sisi gelapnya barusan. Sebenarnya Mona tidak salah dengan perasaannya, hanya saja Rose benci mendengar kata-katanya yang terlalu berlebihan. Dia tidak suka melihat wanita merendahkan hidupnya sendiri hanya gara-gara patah hati pada seorang pria. Dia tidak suka itu.
"Pulang dan istirahatlah di rumah. Gunakan otakmu untuk memikirkan sesuatu yang positif, bukan malah mengisinya dengan sampah!" ucap Rose sembari menyeka airmata di wajah sahabatnya. "Pulang ya. Nanti jika ada waktu aku akan datang mengunjungimu. Istirahatlah, aku tahu kau kurang tidur semalam."
"Hiksss, k-kau tidak marah lagi kan Rose?" tanya Mona cemas.
"Tidak,"
"Kau masih mau berteman denganku kan?"
Tak menjawab, Rose langsung membantu Mona keluar menuju mobilnya. Dia acuh saat Mona terus menatapnya tak berkedip. Sedikit aneh, tapi Rose menyikapi hal tersebut dengan santai. Mungkin ini karena Mona terlalu ketakutan setelah dia membentaknya tadi. Rose akui kalau dirinya memang sedikit keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, dia sangat benci dengan keputus-asaan yang ditunjukkan oleh Mona. Tidak salah bukan kalau dia mengamuk sampai membuatnya ketakutan begini?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1