Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Rose duduk dengan tenang sambil menatap pasangan g*y yang sedang duduk di hadapannya. Dia menghela nafas, membayangkan akan seperti apa reaksi Adam jika melihat ayahnya dengan penampilan seperti ini. Meski Rose merasa sedikit geli, dia berusaha menutupi perasaan tersebut karena bagaimana pun Tuan Zidane adalah ayah mertuanya.


"Sejak kapan kau jadi seperti ini, Tuan Zidane?" tanya Rose membuka pembicaraan.


"Bukan urusanmu," jawab Zalina cetus. Jantungnya hampir copot saat tahu kalau orang yang ingin bertemu dengannya adalah Rose, gadis yang dia buru agar bisa bergabung dengan CL Group.


Bagaimana ini? Aku sungguh tidak menyangka kalau orang yang ingin menemuiku adalah Rose. Harga diriku bisa hancur kalau dia sampai memberitahukan hal ini pada Adamar. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku memohon padanya untuk tidak mengatakan apapun pada Adamar saat mereka bertemu nanti?


"Hmmm, kau tidak sopan sekali, Tuan Zidane. Kenapa? Apa kau sedang panik memikirkan Adamar? Oho, kau sedang dalam masalah besar sekarang."


"Reina, diamlah!" tegur Rose.


"Ck, aku hanya ingin menakutinya saja, Rose. Kenapa kau pelit sekali sih," gerutu Reina sambil mengerucutkan bibir.


Rose diam sejenak. Setelah itu dia kembali menatap ayah mertuanya yang terus saja melihat ke arah lain.


"Tenang saja, aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada Adam."


Jeda sejenak.


"Tapi dengan satu syarat!" ucap Rose melanjutkan perkataannya.


"Apa?" tanya Zidane dengan cepat. Dia langsung menatap penuh harap ke arah Rose. Ada sedikit jalan yang bisa dia tempuh demi menutupi identitasnya sebagai Zalina.


"Katakan padaku siapa ayah kandungnya Adam. Aku tahu kau tidak pernah bisa berhubungan dengan seorang wanita, Tuan Zidane. Jadi aku perlu tahu siapa orang yang telah meniduri istri pertamamu dulu. Dan juga ... " Rose menajamkan tatapannya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya Adam. Aku tahu kau menyembunyikan sebuah fakta kebenaran tentang kematiannya. Bicaralah, aku akan menyimak tanpa menyela!"


Glukk


"Kau jangan keterlaluan, Nona. Apa hakmu untuk bertanya seperti itu pada kekasihku, hah!" bentak Eroz tak terima. Dia naik pitam.


"Rekam lalu sambungkan ke internet agar semua orang di negara ini tahu kalau Tuan Zidane Clarence adalah seorang g*y yang bernama Zalina. Juga retas keamanan di kelompok sekte itu agar mereka tahu siapa Eroz sebenarnya!" ucap Rose dingin.


Nafas Zidane bagai terhenti saat Reina tiba-tiba mengarahkan kamera ke wajahnya. Ini petaka. Harga diri yang selama ini dia jaga bisa hancur dalam sekejab mata jika pertemuan mereka di publikasikan ke media. Zidane tidak siap menerima hujatan dari orang-orang, terlebih lagi kedua anak dan istrinya. Mengabaikan kehormatan yang selama ini dia junjung tinggi, Zidane dengan cepat berlutut di bawah kakinya Rose. Tubuhnya gemetaran, dia sangat sadar kalau nyawanya benar-benar sedang di ujung tanduk sekarang.


"Tolong jangan lakukan hal ini, Rose. Aku mohon!"

__ADS_1


"Zalina, apa-apaan kau. Jangan merendah seperti itu padanya!" teriak Eroz kaget melihat kekasihnya yang duduk bersimpuh di bawah kakinya Rose.


"Diam kau Eroz! Jangan ikut campur!"


Eroz tergugu.


"Kau tidak harus melakukan hal serendah ini padaku, Tuan Zidane. Karena yang aku harapkan bukan sujudmu, melainkan jawaban atas pertanyaanku tadi," ucap Rose tenang. "Duduklah. Kau bisa menjelaskannya secara perlahan."


Reina menyeringai puas kemudian menyimpan kembali kamera miliknya. Dia lalu memilin ujung rambutnya yang bergelombang sambil memandangi wajah ayahnya Adamar yang sudah sangat pucat seperti mayat.


Kau kasihan sekali, Tuan Zidane. Malam ini kau pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak setelah menarik perhatian Rose. Ckck, aku prihatin padamu.


"Jangan membuatku bicara dua kali, Tuan Zidane. Duduk dan jelaskan semua penyebab tentang kematian ibunya Adam. Dan sebagai jaminan, semua rekaman yang berisi percakapan kita sekarang tidak akan pernah bocor ke media. Juga dengan jati dirimu yang sebenarnya, aku pastikan Adam maupun Gracia tidak akan pernah mengetahuinya. Kau boleh membunuhku jika aku sampai berkhianat pada ucapanku sendiri!"


"Benar kau tidak akan mengungkap jati diriku yang sebenarnya?" tanya Zidane memastikan.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Rose. Dia hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Bukan sedang marah, melainkan tengah menahan desakan rasa mual yang membuatnya sangat ingin muntah.


Apa iya aku masuk angin? Kenapa rasanya mual sekali.


"Tidak apa-apa, ini jalan yang terbaik agar hubungan kita tidak terekspos ke media. Aku belum siap, Eroz. Kau tahu itu kan?" ucap Zalina pasrah.


"Tapi bagaimana kalau mereka sampai berkhianat?" tanya Eroz ragu. "Di dunia ini tidak ada satupun manusia yang bisa di percaya, Zalina. Terlebih lagi untuk mereka yang baru kita kenal. Aku takut kau hanya di manfaatkan!"


Tanpa di duga-duga, Lorus yang saat itu mendengar percakapan lirih antara pasangan g*y ini langsung menyuntikkan obat ke bahu Eroz yang mana membuat tubuh pria ini menjadi lumpuh dan tidak bisa bicara untuk sementara waktu.


"Banyak bicara kau. Dasar sampah!"


"Yaa, kau terlalu agresif, Lorus. Kenapa malah membuatnya menjadi manekin hidup begitu sih!" kesal Reina.


"Orang ini membuat ketua kita menunggu lama, Rein. Dan aku tidak suka melihatnya," sahut Lorus sambil melirik ke arah Eroz yang terlihat sedang menahan sakit.


"Dasar orang jahat!"


"Itu faktanya. Dan aku tidak menolak!"

__ADS_1


"Cihhh!" decih Reina.


Zidane menelan ludah. Mati, dia benar-benar mati rasa sekarang. Zidane sungguh tidak menyangka kalau Rose ternyata tidak sesederhana yang dia lihat. Gadis ini begitu berbahaya, sangat sangat berbahaya.


"Jadi Tuan Zidane, kapan kau akan mulai bicara. Aku sudah mengantuk dan ingin segera berbaring di ranjang kamarku. Tolong jangan mengulur waktu lagi atau kau dan kekasihmu itu akan kubuang ke pinggir jalan supaya nanti orang-orang bisa melihat wajah aslimu secara langsung. Bagaimana, tertarik untuk mencobanya?" tanya Rose sambil menekan perutnya yang semakin mual.


"A-aku akan bicara. Aku bicara."


"Bagus."


Dalam kondisi terintimidasi, Zidane akhirnya menguak satu rahasia besar tentang siapa Adamar dan juga tentang kematian istri pertamanya. Sesekali matanya tampak berkaca-kaca, seolah menggambarkan kalau dia juga ikut terluka atas apa yang terjadi beberapa tahun silam.


Rose dan anggotanya sangat terkejut begitu mereka mengetahui tentang nasib tragis yang di alami oleh seorang Adamar Clarence. Bahkan saking terkejutnya, Reina tanpa sadar memekik kencang hingga hampir menendang kepala Zidane. Untung saja saat itu Resan dengan cepat menahannya. Jika tidak, ayah mertua Rose pasti akan pulang dalam kondisi babak belur.


"Aku sudah memberitahu segalanya pada kalian semua. Tolong jangan katakan apapun pada Adamar, aku tidak ingin dia marah padaku!" pinta Zidane memelas.


"Setiap perbuatan pasti ada karmanya, Tuan Zidane. Dan sedalam apapun kau mengubur bangkai, suatu saat bau busuknya pasti akan tercium juga. Rasa sayang yang kau peruntukan untuk Adam bukanlah rasa sayang yang tulus dari dalam hati. Akan tetapi kau sengaja menahannya untuk tujuan tertentu. Sepandai apapun kau mencoba mengelabui kami, aku pastikan semuanya pasti akan terbongkar sebagaimana mestinya!" gertak Rose kemudian berdiri. "Ayo pergi!"


Zidane hanya bisa pasrah menatap kepergian Rose dan Reina. Dia lalu terhenyak kaget saat menyadari kalau orang yang telah membuat Eroz menjadi kaku masih ada di sana.


"K-kenapa k-kau masih ada d-di sini?" tanya Zidane gugup.


Lorus memperlihatkan sebuah smirk di sudut bibirnya. Dia kemudian mengeluarkan senjata lalu mengarahkannya ke kepala Zidane.


"Baammm! Isi kepalamu akan pecah berhamburan kalau aku sampai tahu kau dan kekasihmu mencoba berbuat ulah untuk menyakitimu nona kami. Dengarkan perkataanku, Tuan Zidane. Semua percakapan kita sudah direkam, dan kau akan tamat jika rekaman tersebut sampai bocor ke media. Ingat itu baik-baik!" ucap Lorus sebelum akhirnya pergi menyusul teman-temannya yang lain.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2