Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Rasa Yang Hangat


__ADS_3

Rolland dengan hati-hati menggeser kepala Brenda dari lengannya. Dia kemudian tersenyum kecil saat gadis ini menggerutu dalam tidurnya.


"Kau sangat menggemaskan saat sedang diam begini, Brenda," bisik Rolland sebelum akhirnya turun dari ranjang.


Luka yang dibuat oleh Rose mengharuskan Rolland untuk banyak-banyak istirahat. Tapi berkat kepiawaian dokter-dokter yang menjadi bagian dari kelompok Queen Ma, kesehatan Rolland dengan cepat bisa kembali pulih. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk membuka jahitan di perutnya. Lalu setelah itu bersiap untuk segera kembali ke Negara N karena perusahaan sudah menunggunya. Rolland merasa kasihan pada kakaknya yang harus menanggung semua pekerjaan seorang diri. Dia tidak sekejam itu pada saudaranya.


"Mau kabur kemana kau?"


Rolland berjengit kaget saat ada orang yang tiba-tiba bertanya begitu dia keluar dari dalam kamar. Dia kemudian berbalik.


"Oh, kau rupanya. Membuat kaget saja."


"Kau mau kemana?" tanya Rose sembari menatap ke arah perutnya Rolland. "Lukamu, bagaimana?"


"Kelompokmu menanganiku dengan sangat baik. Jangan khawatir," jawab Rolland. "Kau sendiri mau kemana? Dimana Adam, tumben sekali dia tidak bersamamu."


Rose menarik nafas. Mendadak dia di terpa perasaan rindu yang begitu besar pada suaminya itu. Sungguh aneh. Padahal semenjak mereka menikah Rose tidak pernah merasakan rasa seperti ini. Benar-benar sangat mengherankan.


"Dia ada di perusahaan. Pekerjaannya menumpuk setelah libur beberapa hari karena menemaniku."


"Owh, pantas dia tidak mengekorimu. Sedang sibuk ternyata."


"Dimana Brenda? Aku ingin rbicara dengannya," tanya Rose. Dia butuh seseorang yang bisa membuat hatinya merasa terhibur.


Rolland membuka pintu kamar kemudian menunjuk ke arah ranjang dimana ada seorang gadis yang sedang tertidur dengan sangat nyenyak. "Dia belum bangun."

__ADS_1


"Oh."


Sebenarnya aku ini kenapa ya? Kenapa aku bisa memimpikan Brenda dan Rolland yang sedang berada di atas pelaminan dengan raut wajah begitu bahagia? Apa iya mereka akan menikah? Tapi bukannya Rolland tidak menyukai Brenda ya. Ah, kau ini kenapa sih, Rose. Jangan mengada-ada.


Tatapan Rolland menjadi begitu dalam saat mendengar apa yang sedang dipikirkan oleh Rose. Tanpa di sadari oleh adiknya, sebenarnya Rose sudah melihat kejadian di masa depan dimana dia akan benar-benar menikah dengan Brenda. Kalau saja tidak memikirkan dampak dari rasa sakit yang akan di tanggung oleh Rose jika di paksa untuk mengingat akan sesuatu hal, Rolland pasti akan memberitahunya kalau dia itu mempunyai kelebihan bisa melihat masa lalu dan juga masa yang akan datang. Tapi sayangnya semua itu harus tetap di rahasiakan karena Rolland tidak mau melihat adiknya kesakitan. Biarlah Rose menyadarinya sendiri seiring berjalannya waktu.


"Land, apa kau sudah menemui Mona?" tanya Rose.


"Em, apa harus?"


"Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Akan tetapi ada baiknya kalau kalian berdua bicara dari hati ke hati. Mona masih berpikir kalau aku belum mengetahui perihal perasaannya yang tidak sengaja dia ungkapkan padamu. Jadi aku ingin kau bicara padanya untuk tidak mempermasalahkan hal itu karena kau tidak mengatakan pada siapapun."


Rolland diam menyimak. Dia mencoba untuk mencerna perkataan adiknya dengan sebaik mungkin. Rolland tak ingin melakukan kesalahan fatal untuk yang kedua kalinya. Dia cukup menyesal dengan apa yang terjadi malam itu.


"Mona itu ... bisakah perasaannya terhadapmu di hilangkan? Jujur saja Rose, aku sangat tidak nyaman dengan semua ini. Meskipun di sekeliling kita ada banyak orang-orang yang memiliki kelainan s*ksual, tapi melihat wanita tulen seperti Mona memendam rasa terhadap sesamanya membuatku merasa sangat aneh. Aku menjadi begitu marah karena wanita yang di sukainya adalah adikku sendiri. Bisa kau bayangkan betapa emosinya aku saat mendengar semua itu, Rose," ucap Rolland mengungkapkan isi hatinya.


"Jangan tersinggung dengan kata-kataku barusan, Rose. Aku tahu ada alasan kuat yang membuat Mona bisa memiliki rasa seperti itu padamu!" ucap Rolland khawatir ketika melihat kebungkaman adiknya. Dia tak ingin hubungan mereka kembali memburuk karena kesalahpahaman.


"Aku sama sekali tidak merasa tersinggung, Land. Wajar kalau kau bereaksi seperti ini, aku bisa memakluminya," sahut Rose tenang. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita hanya perlu fokus untuk menyembuhkan Mona dari kesalahpahaman yang dia rasa. Semoga saja dengan begini dia bisa sadar kalau yang dia rasakan bukanlah sebuah cinta, melainkan halusinasi yang sengaja dibuat oleh orang suruhan Agler."


"Ya, semoga saja."


Meski merasa ragu, Rolland memberanikan diri untuk mengusap puncak kepala adiknya. Hampir saja dia menitikkan air mata saat tindakannya itu di sambut dengan senyum kecil di bibir Rose.


"Rasanya hangat," ucap Rose pelan.

__ADS_1


"H-hangat?"


Rose mengangguk. Baru kali ini Rose merasa nyaman ketika di sentuh oleh orang asing yang tidak terlalu dekat dengannya. Selain Adam, Mona dan Reina, Rose selalu merasa risih jika tubuhnya bersentuhan dengan orang lain. Namun anehnya hal itu tidak dia rasakan ketika Rolland mengusap kepalanya. Malah ada semacam perasaan nyaman dan juga hangat, membuat keyakinan Rose sedikit bertambah kalau antara dia dan Rolland memang terikat satu hubungan yang istimewa.


"Biasanya aku akan langsung memukul orang yang menyentuh bagian tubuh tanpa seizinku. Tapi hari ini sepertinya kau mendapat pengecualian, Land."


"Benarkah?" tanya Rolland dengan tatapan berbinar. "Rose, apa sekarang kau sudah percaya kalau kita memiliki ikatan batin yang kuat? Kita kembar, Rose. Kita adalah saudara sekandung."


"Mungkin. Tapi sayangnya aku masih belum bisa mengingat tentang kebersamaan kita. Maaf ya," jawab Rose sedikit merasa bersalah.


"Jangan meminta maaf. Bukan salahmu jika kau melupakan semua kenangan tentang kita dulu. Yakin saja kalau suatu hari nanti ingatanmu pasti akan kembali. Dan saat hari itu tiba, percayalah kalau aku adalah orang yang paling bahagia di muka dunia ini. Aku selalu menantikanmu sejak di malam perpisahan kita, Rose. Aku rindu kau memanggilku kakak," ucap Rolland kemudian menarik tubuh Rose ke dalam pelukannya.


Tanpa di sadari oleh Rolland dan Rose, ada dua orang wanita yang sedang menguping sambil mengusap air mata. Ya, mereka adalah Grizelle dan Liona. Pasangan ibu dan anak ini merasa sangat amat terharu melihat kebekuan di diri Rose yang mulai mencair. Mereka begitu bersyukur karena akhirnya Rose mau berbicara santai pada saudara kembarnya yang selama ini terjebak oleh rasa bersalah. Tuhan begitu adil. Setelah sekian tahun menanti akhirnya jalan menuju kebahagiaan ini mulai terbuka.


"Akhirnya kita bisa melihat Oland dan Rose bersama seperti dulu lagi, Bu. Aku sangat bahagia," bisik Grizelle tanpa mengalihkan pandangan dari kedua anaknya yang masih berpelukan.


"Kau benar, sayang. Ibu sungguh merasa sangat lega karena Rose perlahan-lahan mulai bersedia membuka hatinya untuk Rolland," sahut Liona seraya tersenyum kecil. "Dan semua kebahagiaan ini berawal dari Elea yang tidak lelah meyakinkan kalau Rose masih hidup dan akan kembali lagi pada kita. Juga berkat Brenda kita akhirnya bisa menemukan keberadaan Rose. Orang-orang di keluarga kita sangat di berkati, Zel."


Grizelle mengangguk setuju dengan apa yang di sampaikan oleh sang ibu. Dia lalu mengajak ibunya untuk pergi dari sana karena tak mau mengganggu kebersamaan si kembar.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2