
Adam memandangi wanita cantik yang masih terlelap di ranjang. Dia tersenyum. Tidak biasanya istrinya ini bangun siang. Apa mungkin karena kelelahan?
"Kau terlihat seperti bayi yang menggemaskan jika sedang diam seperti ini, Hon. Hmm," gumam Adam lirih.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Adam harus mengakhiri aktifitas menyenangkan ini. Dia dengan malas beranjak turun dari ranjang kemudian berjalan menuju pintu. Adam bersumpah dalam hati kalau dia akan langsung menghabisi orang ini jika tidak mengabarkan sesuatu yang penting kepadanya.
"Yo, santai saja, Bung. Aku datang bukan untuk menggangu kesenanganmu dengan Rose di dalam sana," ucap Cesar seraya terkekeh puas melihat raut jengkel di wajah Adam.
"Kecilkan suaramu, bodoh. Rose masih tidur," omel Adam pelan.
"Whaaat? Rose masih tidur?" kaget Cesar. Sedetik kemudian barulah dia teringat sesuatu. "Hormon ibu hamil. Pantas saja kelakuannya jadi berbeda. Hm."
"Ada apa kau pagi-pagi begini mengacau di depan kamarku?" tanya Adam sambil mendorong Cesar menjauh dari depan pintu kamarnya. Dia tidak mau percakapan mereka mengganggu tidur istrinya.
Sebelum menjawab Cesar mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu. Setelah itu dia membuka bagian pesan lalu menunjukkannya pada Adamar. "Gheana memintaku untuk datang ke rumah sakit siang ini. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk bergerak."
Sebuah smirk jahat muncul di bibir Adam begitu dia membaca pesan yang ada di ponsel Cesar. Sungguh, Adam benar-benar tak habis pikir dengan kenekatan Gheana dalam memancing kekesalan Rose. Bayangkan saja. Di dalam pesan tersebut tertulis kalau Gheana ingin Cesar menjebak Rose agar keluar dari rumah kemudian menculik dan menggugurkan paksa bayi di dalam perutnya. Adam berani jamin jika pesan ini sampai di baca oleh Mommy Grizelle dan juga Nenek Liona, detik itu juga Gheana pasti akan langsung di kirim ke labolatorium Grisi untuk di jadikan kelinci percobaan. Gheana tidak tahu kalau Rose itu di lindungi oleh satu kekuasaan di mana kekuasan tersebut banyak membuat orang gemetar ketakutan. Tidakkah menurut kalian wanita ini sangat to lol?
"Heh, menggugurkan bayinya Rose? Jika bukan Tuhan yang melakukan, mustahil penerusku tidak terlahir ke dunia ini. Dan kau, Cesar. Apa kau tidak menasehati Gheana supaya menggunakan otaknya sebelum mengatur sebuah rencana? Ini memalukan, Cesar!" tanya Adam sambil menggenggam erat ponsel di tangannya.
Kau lihat saja, Gheana. Aku pastikan rencana bodohmu itu akan terlaksana hari ini juga. Karena dengan begitu aku bisa segera menyingkirkanmu dari muka bumi ini. Ingin menyentuh anak dan istriku? Heh, jangan mimpi.
Melihat sorot kemarahan di mata Adam membuat Cesar tak lagi bercanda. Raut wajahnya berubah serius, hingga membuat mereka terlihat seperti manusia yang sedang di rasuki iblis jahat.
"Kau ingin aku bagaimana, Dam?" tanya Cesar dingin.
"Turuti kemauan Gheana. Setelah itu kau harus memastikan kalau dia akan ikut pergi bersamamu. Aku sudah sangat muak padanya!" jawab Adam sembari menggeram marah.
Sebelum sempat Cesar menyahut, pintu kamar sudah lebih dulu terbuka. Muncullah Rose yang keluar dengan raut wajah yang begitu masam. Dia kemudian menatap kesal ke arah Adam dan Cesar yang tengah berdiri diam sambil menatapnya.
"Apa kalian tidak bisa bicara pelan sedikit, hm?" tanya Rose.
"Maafkan kami, Hon. Padahal tadi kami sudah berusaha bicara menjauh agar tidak menggangu tidurmu," jawab Adam kemudian berjalan menghampiri Rose. Setelah itu Adam memeluk wanita yang terlihat kesal karena tidurnya terganggu. "Jangan marah ya? Aku dan Cesar benar-benar tidak sengaja. Sungguh."
__ADS_1
Rose diam tak menyahut. Dia balas memeluk Adam, kemudian menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Wangi, dan Rose sangat menyukainya.
"Dam, bisakah kita membeli rujak di tempat yang kemarin?"
Mendengar nama rujak membuat perut Cesar mendadak terasa mulas. Dia kemudian pamit pergi karena tak mau menjadi tumbal kegilaan ibu hamil ini yang mana kemarin sempat meminta Resan untuk ikut mencicipi minuman jahanam yang membuatnya muntah sampai lemas. Cesar tak mau itu.
"Honey, ini masih pagi. Apa perutmu tidak pedih jika makan makanan yang asam?" tanya Adam dengan lembutnya membelai pipi Rose yang semakin berisi.
"Malah akan terasa jauh lebih pedih kalau keinginanku tidak terpenuhi. Ayolah, Dam."
Melihat Rose yang merengek membuat Adam jadi gemas sendiri. Dia menangkup kedua pipi Rose kemudian mengecup bibirnya beberapa kali. Sungguh, momen-momen seperti ini harus Adam abadikan sebaik mungkin. Karena merengeknya seorang Rosalinda Osmond hanya terjadi ketika wanita ini sedang mengandung saja. Jika dalam kondisi normal, jangankan merengek, meminta tolong pun tidak pernah. Benar kan?
"Hmmm, baiklah. Setelah kau bersiap kita akan langsung pergi ke sana," ucap Adam setelah puas menciumi bibirnya Rose.
Rose tersenyum senang.
"Apa yang di katakan oleh Cesar padamu? Gheana atau orang-orang yang semalam di buru oleh Reina dan Resan?"
"Astaga, Hon. Aku pikir kau tidak tahu alasan kenapa Cesar menemuiku tadi," jawab Adam kaget melihat perubahan emosi di diri istrinya. Ini menakjubkan.
Sorot mata Adam berubah menjadi sangat dingin setelah tahu kalau ternyata Gracia menguping pembicaraannya dengan Cesar. Selintas terpikir di benak Adam untuk memberi pelajaran pada gadis kurang ajar itu. Namun pikiran tersebut sudah lebih dulu di cegah oleh Rose yang mana membuat Adam langsung mengangguk patuh.
"Gracia ada bersama kita. Hanya belum waktunya saja untuk dia bergabung dengan kita, Dam. Masih banyak yang harus di pelajari oleh Gracia sebelum dia mengetahui siapa kita sebenarnya. Paham?!"
"Apa kau masih menginginkan rujak itu, Honey?" tanya Adam mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau istrinya ini berlanjut marah karena kelalaiannya.
"Ini sudah siang. Bukankah kau harusnya pergi ke CL Group sekarang?"
"Urusan kantor ada Cesar yang mengurus. Kau dan bayi kita seribu kali lebih penting dari apapun."
"Kapan aku dan Mona akan di izinkan untuk bekerja di perusahaanmu, Dam?" tanya Rose penasaran.
"Kau pemiliknya. Untuk apa kau bekerja di sana, Hon?"
Adam berjongkok di lantai sambil menekuk sebelah kakinya. Adam kemudian menepuk satu pahanya meminta agar Rose duduk di sana.
__ADS_1
"Wanita hamil tidak baik jika di biarkan terlalu lama berdiri. Duduklah Hon. Aku tidak mau kau kelelahan," ucap Adam dengan penuh perhatian.
"Hmmm, apa ini adalah ciri-ciri suami dan calon ayah yang siaga?" tanya Rose sembari mendudukkan bokongnya ke atas pahanya Adam. Jujur, Rose senang sekali dengan perlakuan seperti ini. Dia merasa sangat di cintai.
"Hon?"
"Hm?"
Adam dan Rose saling menatap.
"Gheana meminta Cesar untuk membantunya menggugurkan kandunganmu."
"Lalu?"
"Aku mengizinkannya."
"Itu bagus. Apa kau membawa ponsel?" tanya Rose santai.
Adam menggeleng.
"Ini ponselnya Cesar."
"Kemarikan!"
Untung saja di ponsel Cesar ada nomor Resan. Jadi Rose bisa dengan mudah menghubungi nomor anak buahnya itu.
"Halo, Nona. Apakah ada sesuatu yang terjadi di apartemen?"
"Katakan pada Nenek Liona kalau siang ini aku membutuhkan mutan itu. Harus sudah ada sebelum aku sampai di markas!"
Setelah berkata seperti itu Rose langsung mematikan panggilan. Dia kemudian berdiri, menarik tangan Adam agar masuk ke dalam kamar mereka.
Honey, kau selalu saja membuatku kagum.
*****
__ADS_1
MANA BOM KOMENTARNYA