
Dengan tergesa-gesa Mona keluar dari dalam mobil. Dia berlari dengan sangat cepat menuju tempat kos Rose dengan raut wajah yang begitu cemas. Mona bahkan sampai tidak mempedulikan rasa perih dari luka di tangannya yang mana masih mengeluarkan darah.
"Rose, kau baik-baik saja?" teriak Mona begitu membuka pintu kamar kos.
Rose yang saat itu tengah menelpon Lorus sedikit kaget dengan kemunculan Mona. Dia kemudian memutuskan panggilan, menatap datar ke arah gadis culun yang kini sedang bernafas terengah-engah.
"Hanya sedikit tidak enak badan."
"Kau sudah minum obat belum? Sarapan?" cecar Mona sembari melangkah menuju ranjang tempat Rose berada.
Mata Rose memicing saat dia melihat tetesan darah yang bercecer di lantai. Dia lalu mengeratkan rahang begitu tahu kalau darah itu berasal dari tangannya Mona. Di saat yang bersamaan, Reina dan Resan masuk ke dalam kos. Mereka berdua sama-sama menelan ludah ketika merasakan aura mencekam yang berasal dari si ketua.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai temanku terluka begini hah!" teriak Rose.
Mona yang tidak menyangka kalau Rose akan berteriak seperti itu terlonjak kaget. Dia kemudian melihat ke arah tangannya, terkejut karena ternyata luka itu masih mengeluarkan darah.
"Astaga, kenapa masih berdarah juga sih," gumam Mona.
Reina maju mendekat sambil mulutnya bergerak mengatakan sesuatu tanpa suara. Sedangkan Resan, tangannya sudah langsung berselancar di dalam ponsel pintarnya untuk mencari tahu sesuatu.
Agler, dia datang.
Sorot kemarahan di mata Rose langsung menghilang, berganti dengan satu kebekuan yang begitu dalam saat dia tahu kalau orang yang selama ini dia cari-cari telah muncul ke permukaan. Rose kemudian melirik ke arah Mona yang sedang menghentikan pendarahan dengan cara menekan lukanya menggunakan ujung pakaian.
"Kemari!"
"Hah?" sahut Mona membeo.
"Aku tahu kau tidak tuli, Mona. Cepat mendekat atau aku akan menyumpal telingamu dengan kotoran sapi!" gertak Rose.
Reina dan Resan sedikit kaget melihat Mona yang dengan begitu cepat berpindah duduk ke samping ketua mereka. Setelah itu mereka memperhatikan baik-baik setiap ucapan yang keluar dari mulut si ketua.
"Darimana luka ini berasal?" tanya Rose pura-pura tak tahu sambil memeriksa jari tangan Mona. "Reina, tolong ambilkan kotak obat. Aku juga perlu pisau untuk memotong jari ini."
"A-apa?? Me-memotong jariku?" pekik Mona syok.
__ADS_1
"Ya,"
"K-k-kau gila ya, Rose. Tanganku hanya tidak sengaja tergores cincin milik Tuan Agler, kenapa harus sampai di potong. Tolong jangan menakutiku!"
Rahang Rose kian mengerat begitu mendengar Mona menyebut nama Agler. Dia tidak mengira kalau bajingan itu akan memperkenalkan dirinya secara langsung pada gadis yang telah di tandainya sejak beberapa tahun yang lalu.
"Resan, buatkan minum untuk Mona. Sekarang!" perintah Rose dengan maksud tersendiri.
"Baiklah."
Tanpa menunggu perintah dua kali, Resan pun segera membuat segelas minuman. Sementara Reina, wanita abu-abu itu dengan langkah gemulainya mengambil kotak obat.
"Minumlah!" ucap Rose setelah Resan selesai membuatkan minum.
Meski Mona merasa bingung dengan raut wajah ketiga orang ini, dia tetap menuruti keinginan Rose. Kebetulan juga dia merasa haus setelah menangis cukup lama saat di taman tadi.
Resan, Reina, dan Rose terus memperhatikan Mona yang langsung meneguk habis minuman tersebut. Setelah itu mereka menunggu beberapa detik hingga akhirnya Mona jatuh terkapar di ranjang dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ya, minuman yang Resan buat sebelumnya sudah di bubuhi obat bius dalam kadar yang cukup tinggi sebelum di serahkan pada Mona.
"Dimana kalian bertemu Agler?" tanya Rose sambil membenarkan posisi tidur teman culunnya. Dia kemudian menyelimutinya dengan hati-hati.
"Ini bukan luka, tapi bagian dalam salah satu persyaratan untuk memanggil Mona agar datang ke tempat mereka melakukan ritual nanti. Dulu Agler pernah bilang kalau dia akan datang tepat ketika Mona berusia dua puluh empat tahun, dan itu hanya tinggal seminggu lagi. Ini adalah pertandanya!"
Resan dan Reina mendengarkan dengan seksama penjelasan Rose. Musuh yang bertahun-tahun mereka nantikan telah muncul, dan sepertinya perang akan segera di mulai.
"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk menangkap bajingan itu, Rose? Kita tidak mungkin hanya diam membiarkan Mona menjadi tumbal mereka kan?" tanya Reina sambil membantu Rose mengambil gunting untuk memotong perban.
Sambil menjawab, Rose membungkus luka di jari Mona dengan hati-hati. Setelah itu dia menatap lekat wajah Mona yang terlihat damai dalam tidurnya meski mata dan hidungnya terlihat membengkak. Iba, itu yang di rasakan oleh Rose sekarang.
"Melindungi Mona menjadi tugas utama kalian. Dalam waktu seminggu ini kalian harus memberikan penjagaan yang sangat ketat untuknya. Terlebih lagi saat dia berada di keramaian. Dan tolong salah satu dari kalian menyelinaplah untuk memasang kamera tersembunyi di kamar Mona. Aku khawatir bajingan Agler akan mencurinya di saat malam tiba!" ucap Rose resah.
"Lalu apalagi Rose?"
"Bersiaplah. Karena kita akan menghancurkan sekte k*parat itu tepat ketika mereka akan melakukan ritual. Aku sudah muak dengan langkah keji mereka yang terobsesi dengan gadis-gadis cantik. Perbuatan hina mereka harus segera di hentikan, tak peduli meski mereka mendapat dukungan dari orang-orang pemerintahan sekalipun!"
"Kau yakin akan memusnahkan mereka? Dengan cara apa? Selama ini kita bahkan tidak bisa menemukan jejak sama sekali. Aku sedikit ragu, Rose," tanya Reina sambil memilin rambut panjangnya.
__ADS_1
Rose langsung memberi tatapan tajam ke arah Reina. Dia bukan marah, melainkan memberi isyarat bahwa tidak ada yang tidak bisa dia lakukan selama itu masih berada di jalan yang benar.
"Falcon. Sudah waktunya aku menagih janji pada kelompok mereka. Kalian tahu bukan kalau dia memiliki beberapa koneksi yang cukup penting di belakangnya? Ini yang akan menjadi kunci untuk kita bisa menemukan keberadaan Agler dan anggotanya. Itulah kenapa waktu itu aku melarang kalian untuk menghabisinya, Falcon masih sangat berguna untuk kita!" jawab Rose.
Jika kalian penasaran tentang siapa Falcon, dia adalah ketua dari salah satu kelompok yang dulu anak buahnya ingin melecehkan Rose dan Mona ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman.
"Apa kau yakin dia akan bersedia untuk membantu kita?"
"Aku tidak suka di tolak!" sahut Rose singkat kemudian berjalan menuju lemari.
Mata Reina terus memperhatikan Rose yang tengah memakai hoodie hitam yang selama ini menjadi lambang ketua kelompok Queen Ma. Dia menyeringai.
"Bolehkah aku ikut denganmu, Rose sayang?"
"Bukankah kau harus kembali ke studio?" tanya Rose sembari menyelipkan dua buah senjata ke balik baju.
"Abaikan tentang pekerjaanku, sayang. Aku lebih tertarik untuk pergi bermain denganmu."
Rose mengangguk. Dia lalu melihat ke arah Mona yang sedang terlelap di ranjang. Gadis ini... beberapa tahun lalu yang telah menyelamatkan hidupnya dari tangan Agler. Mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindungi seorang gadis yang saat itu tengah kehilangan arah. Rose bahkan tidak bisa melupakan suara jerit kesakitan Mona yang terdengar begitu memilukan saat Agler dengan kejamnya meninggalkan tanda di tubuh kecilnya.
"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, Agler. Kau dan para anggotamu harus mati di tanganku!" geram Rose dengan mata memerah marah. Dia murka.
Resan segera mengatur beberapa anak buahnya untuk menjaga Mona yang masih tidak sadarkan diri. Setelah itu dia menyusul Reina dan nonanya yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Retas ponsel Mona dan katakan pada neneknya kalau dia ada di rumahku!" ucap Rose saat mobil mulai bergerak.
"Baik, Nona!"
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...