
"Bu, menurut Ibu apa yang sedang di sembunyikan Rose dari kita semua. Kenapa dia bisa berbisik seperti itu padaku ya?" tanya Grizelle di sela-sela makan malam bersama keluarganya. Dia terus di bayangi oleh rasa penasaran akan arti dari hal yang di ucapkan putrinya siang tadi. Sebenarnya Rose meminta hal ini untuk dirahasiakan, tapi Grizelle tidak mungkin melakukannya dari sang ibu. Dia yakin betul kalau ibunya pasti sudah tahu tanpa harus di beritahu lebih dulu.
"Sebaiknya kita jangan membahas hal ini di sini, Zel. Semua ruangan di tempat ini memiliki mata dan telinga yang semua-muanya adalah milik Rose. Ibu khawatir jika kita membahasnya secara terbuka itu bisa membuat Rose hilang kepercayaan padamu. Bukankah kau tahu sendiri kalau kita butuh waktu yang cukup sulit untuk bisa mendapatkan kepercayaannya seperti sekarang? Jadi berhati-hatilah. Rose masih liar," jawab Liona seraya melirik ke arah jendela yang kacanya sedikit terbuka. Dia yakin betul kalau di sana ada seseorang yang tengah bekerja sebagai seorang penguping.
"Hah, benar juga ya. Ya sudahlah, lebih baik sekarang kita bicarakan hal yang lain saja."
Semua orang menganggukkan kepala. Namun sedetik kemudian mereka di buat heran dengan kemunculan seorang laki-laki tua yang datang bersama dengan Reina. Dan di sini orang yang pertama kali bereaksi adalah Liona. Dia langsung beranjak dari duduknya kemudian menghampiri pria tua tersebut.
"Selamat malam. Apa kau adalah kakek yang menyelamatkan cucuku?" tanya Liona tanpa basa basi.
Kakek Frans tak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk saja sembari menempelkan tangan ke dada. Ya, Kakek Frans tengah menyapa wanita yang statusnya adalah neneknya Rose. Dia merasa sangat amat beruntung bisa bertatap muka secara langsung dengan wanita nomor satu yang berada di negaranya dulu.
"Terima kasih sudah merawat dan membesarkan cucu kami, Tuan Frans. Jika kau menginginkan sesuatu, kau bisa mengatakannya langsung padaku. Tidak perlu sungkan, kita adalah keluarga!"
Hah? Keluarga? Astaga, mimpi apa aku semalam bisa di anggap keluarga oleh Nyonya Besar Liona?
Liona tersenyum samar mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Kakek Frans. Tanpa merasa canggung sedikit pun, Liona menggandeng tangan tua pria ini lalu mengajaknya bergabung dengan keluarga yang lain.
"Selamat malam, Kakek Frans. Senang bertemu dengan anda,"'ucap Drax dengan sopan menyapa. Dia lalu mengulurkan tangan pada pria yang telah menyelamatkan putrinya tujuh belas tahun lalu.
__ADS_1
Setelah membalas jabat tangan dari ayahnya Rose, Kakek Frans menuliskan sesuatu di buku kecil yang selalu dia bawa. Dia menyampaikan bahwa apa yang dia lakukan adalah sudah menjadi seharusnya. Kakek Frans juga memberitahu keluarga ini tentang awal pertemuannya dengan Rose, termasuk juga dengan alasan kenapa dia dan Rose bisa berada di negara ini.
"Kakek Frans, kau jangan terlalu panjang menulisnya. Nanti jarimu kram!" tegur Reina iseng. Dia gemas sekali melihat kakek tua ini begitu fokus pada tulisannya yang sangat panjang seperti rel kereta api.
Plaaakkk
"Astaga, Mommy Grizelle. Kenapa kau menggeplak lenganku? Nanti kalau bengkak bagaimana?"
"Biar saja. Siapa suruh kau meledek orang tua seperti Kakek Frans. Dasar jahil!" sahut Grizelle sambil terkekeh lucu. Reina selalu memberikan hiburan dengan gayanya yang tengil dan juga humoris. Dan hal ini membuat Grizelle seringkali menjadi gemas sendiri.
"Ck, aku bukan meledek. Tapi apa yang aku katakan adalah benar kalau tulisan Kakek Frans memang sepanjang rel kereta api. Jika tidak percaya kalian lihat saja nanti!" ucap Reina sambil mengerucutkan bibir.
Dan benar saja. Begitu Kakek Frans menunjukkan tulisan di buku kecilnya, Liona and the gengs sampai terbengang kaget melihatnya. Mereka kemudian membaca lembar demi lembar kertas tersebut, yang mana membuat semua orang merasa sangat sakit setelah mengetahui perjalanan Rose kecil dalam melewati badai hidupnya. Bahkan Grizelle yang tadi sempat bercanda dengan Reina sampai tidak bisa berkata-kata lagi saking sedihnya dia membayangkan betapa sulit hidup putrinya selama tujuh belas tahun terakhir. Hatinya hancur.
"Terlalu menyakitkan, Drax," sahut Grizelle lirih.
"Aku tahu."
Kakek Frans menatap satu persatu ke arah keluarga kandung Rose setelah semua orang membaca apa yang dia tulis. Lega, rasanya benar-benar lega setelah dia membongkar semua beban yang di tanggungnya selama ini. Sebenarnya sudah sejak dari di mana Kakek Frans menemukan Rose kecil, dia ingin mengembalikan gadis itu pada keluarganya. Akan tetapi semua itu terhalang oleh seseorang yang telah membuatnya menjadi orang cacat seperti sekarang. Teringat dengan kejadian di mana lidahnya di potong membuat Kakek Frans menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Kakek Frans, kami semua tahu pengorbanan apa yang telah kau lakukan untuk melindungi Rose. Kami sangat berterima kasih akan hal itu. Kau pasti menjalani hari-hari yang sangat sulit kan dengan kondisi tidak bisa bicara?" tanya Greg paham akan arti tarikan nafas pria tua ini.
Kakek Frans menganggukkan kepala. Namun kali ini di barengi dengan sebuah senyuman tulus di bibirnya. Dia ingin memberitahu Tuan Greg kalau dia sama sekali tidak keberatan menjalani hidup sebagai orang yang tidak bisa bicara. Asalkan bisa menyelamatkan hidup cucunya, Rose, Kakek Frans bahkan rela kehilangan nyawa sekalipun. Dia rela melakukannya.
"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Greg.
"Kakek Greg, tadi di perjalanan Kakek Frans sempat menulis kalau dia sangat ingin kembali ke Negara N agar bisa berziarah ke makam anak dan juga menantunya. Kedua anaknya meninggal karena di bunuh oleh suruhannya bajingan Flynn saat Kakek Frans ingin memberitahu polisi tentang keberadaannya Rose waktu itu!" sahut Reina menggantikan Kakek Frans bicara.
"Baiklah. Besok pagi kami akan menbawamu pergi ke Negara N kemudian membantu mencarikan makam anak dan menantumu. Jangan khawatir, sekarang kau sudah aman bersama kami, Kakek Frans. Tidak akan ada orang yang berani mengganggumu lagi di sana!"
Liona diam memperhatikan perubahan ekpresi di wajah Kakek Frans yang entah kenapa seperti tidak terlihat bahagia setelah Greg menjanjikan akan menbawanya pulang ke Negara N. Paham ada sesuatu yang mengganjal di hati pria tua ini, Liona pun mulai berpikir kira-kira hal apa yang membuatnya seperti berat meninggalkan negara ini.
"Kakek Frans, apa kau sedang mengkhawatirkan Rose?" tanya Liona menebak-nebak.
Tanpa di sangka-sangka Kakek Frans langsung menganggukkan kepala. Benar, dia sedang memikirkan bagaimana nasibnya Rose jika dia kembali ke Negara N.
"Rose sekarang berada di tangan orang yang sangat tepat. Dia aman bersamanya," ucap Liona. "Malam ini kau akan menginap di sini kemudian besok pagi kita semua akan kembali ke Negara N. Lima hari setelahnya Rose baru akan menyusul kita ke sana. Jangan khawatir, Rose adalah gadis yang sangat hebat. Dia akan baik-baik saja meski tanpa kita di sini. Oke?"
Dengan penuh perhatian Liona membimbing Kakek Frans untuk duduk di kursi makan. Setelah itu dia mengambilkan piring untuknya, juga menata lauk di atasnya. Bak keluarga sendiri, Kakek Frans di sambut dengan begitu hangat oleh keluarga dari gadis bernama Rose yang dulu telah di selamatkannya. Kebaikannya kini telah berbuah sangat manis.
__ADS_1
Haihh, Rose memiliki keluarga yang sangat hebat. Walaupun status mereka begitu tinggi di mata orang-orang, tapi kesantunan dan juga rasa rendah hati tetap ada di diri mereka. Aku salut dengan cara keluarga ini memperlakukan pria asing seperti Kakek Frans. Semoga saja setelah ini mereka tetap memperlakukan Kakek Frans seperti keluarga sendiri. Batin Reina penuh haru.
*****