
Di sebuah rumah sakit, terlihat seorang wanita cantik tengah berbaring dalam kondisi kaki dan leher terpasang gips. Wanita ini baru saja mengalami sebuah kecelakaan di mana mobil yang di kendarainya di tabrak oleh mobil lain hingga masuk ke sungai.
"Uggghhh, sakit sekali leherku!" keluh Gheana kesakitan saat ingin menggerakkan kepalanya.
Dengan sangat hati-hati akhirnya Gheana berhasil menggeser kepala ke arah samping. Setelah itu dia meraba meja yang berada di sisi ranjang, berusaha mengambil air minum untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Sudah satu malam Gheana di rawat di rumah sakit ini. Dan hari ini tidak ada siapapun yang menemani karena orangtuanya sedang pergi menghadiri acara keluarga. Sebenarnya Gheana bisa saja meminta beberapa pelayan untuk menemaninya di rumah sakit. Namun dia enggan melakukannya karena Gheana tengah menunggu kedatangan seseorang yang sudah membuatnya jadi seperti ini.
Sembari menyesap perlahan air minum dari dalam gelas, ekor mata Gheana terus saja melirik ke arah pintu. Dia yakin sekali kalau wanita yang sudah mencelakainya akan segera datang. Kalian pasti heran bukan kenapa Gheana bisa setenang ini saat menunggu kehadiran wanita jahat tersebut? Jawabannya adalah karena dia yang sudah melakukan persiapan. Semalam, sambil menahan sakit Gheana memasang alat perekam dan juga kamera di beberapa tempat rahasia di kamar ini. Tujuannya adalah untuk menjadikannya sebagai barang bukti agar menjebloskan wanita jahat itu ke dalam penjara. Otak Gheana bekerja dengan sangat keras saat memikirkan alasan kenapa dirinya bisa tiba-tiba di serang. Dan pikiran Gheana langsung tertuju pada kakek bisu yang di temuinya kemarin.
"Rose, kalau benar wanita yang menabrakku ada hubungannya denganmu, maka bersiaplah menerima balasan dariku. Kau pikir aku tidak akan tahu kalau mereka menyerangku karena kau yang tidak suka aku bertemu dengan kakekmu? Heh, aku tidak sebodoh yang kau pikir, Rose. Aku ini Gheana Lutfer, wanita cerdas dengan segala kejeniusan di kepalaku. Menghadapi gadis desa sepertimu bukanlah hal yang sulit. Sekarang aku memang terluka, tapi nanti, waktu bisa saja berbalik kepadamu. Lihat saja, lihat bagaimana aku mengirim temanmu pergi ke tempat yang bagaikan neraka. Akan kubuat dia menderita di dalam sana nanti!" geram Gheana seraya tersenyum licik.
Benar saja. Tak lama berselang, orang yang tengah di nanti oleh Gheana pun datang. Hal itu dia ketahui dari bayangan seseorang yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Upsss, maaf mengganggu, Nona. Dokter memerintahkan aku untuk memeriksa apakah air infusmu masih ada atau tidak!" ucap Reina sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum dengan sangat manis ketika matanya beradu pandang dengan mata wanita yang kemarin dia buat jatuh ke sungai.
"Jangan berbasa-basi. Kau datang atas perintahnya Rose, kan?" tanya Gheana terang-terangan.
"Haihhh, kenapa cepat sekali ketahuannya sih. Padahal aku ingin bermain suster-susteran dulu denganmu. Ini tidak asik!"
Reina yang saat itu memakai kemeja hitam langsung membukanya sambil berjalan mendekat ke arah Gheana. Dia terkikik, merasa lucu mendapati keterkejutan di wajah wanita ini saat luka pemberian Rose terlihat olehnya.
"Lorus, tolong kau ambil barang rahasia yang terpasang di ruangan ini. Aku malu jika kegiatanku di rekam oleh mereka!"
__ADS_1
Dari arah pintu, masuklah Lorus yang muncul dengan membawa pistol di tangannya. Gheana yang melihat hal itupun menjadi sangat panik. Dia kaget dan juga bingung karena rencana yang sudah susah payah dia siapkan bisa ketahuan dengan begitu mudah. Saat Gheana hendak berteriak meminta tolong, mulutnya sudah lebih dulu dibuat bungkam oleh belati amis yang di tempelkan wanita ini ke ujung matanya.
Sial. Aku dalam bahaya sekarang. Siapapun ... tolong aku!
"Ssstttt, jangan berisik Nona Gheana yang cantik. Kau pasti tidak mau kan ujung belati ini menerobos masuk ke dalam matamu? Patuh ya. Karena aku hanya akan sedikit menggambar tato di lenganmu!" bisik Reina.
Lorus nampak tersenyum sinis melihat Gheana yang ketakutan berada di dekat Reina. Dia dengan santai mengambil kamera kecil yang terpasang di dekat vas bunga dan juga gantungan handuk yang tertutup tas berwarna hitam. Sungguh bodoh sekali wanita yang bernama Gheana ini. Di pikirnya Lorus dan Reina tidak akan menyadari trik-trik murahan yang dia lakukan? Basi. Trik kuno macam ini tentu saja sangat mudah untuk di ketahui karena level permainan Lorus bukanlah level yang bisa di gapai oleh pemain amatir seperti Gheana. Membuat perut kram saja.
"J-jangan gila kau ya. Aku-aku bisa melaporkanmu pada polisi kalau kau berani menyakitiku. K-k-kalian bisa di penjara nanti!" ucap Gheana gemetaran saat wanita jahat ini mengeluarkan alat tato dari saku kemejanya.
"Di penjara?" beo Reina. "Haihh, bahkan hukuman yang kami terima jauh lebih mengerikan dari apa yang kau katakan, Nona. Kau tahu, gara-gara kami hanya membuatmu terjun ke sungai dan membuat leher beserta kakimu patah, kami harus menerima hukuman yang sangat menyakitkan. Kau lihat kan luka di lenganku dan luka di kepala temanku? Ini terjadi karenamu, Nona Gheana. Harusnya kemarin itu kami langsung menghabisimu. Atau tidak minimal kau kehilangan kedua kakimu lah agar kami tidak di hukum begini. Sayang sekali bukan?"
Glukkk
"Akhhhhh!! Sakit! Apa yang kau lakukan padaku!" teriak Gheana kaget saat lengannya seperti tertusuk sesuatu.
"Nona, nama wanita ini Reinadelwis. Pekerjaannya selain sebagai seorang pembunuh bayaran, dia adalah pembuat tatto. Tenang saja, hasil karya tangannya tak pernah gagal. Aku jamin kau akan sangat puas setelah melihat hasilnya nanti!" ucap Lorus setelah menghancurkan kamera dan alat perekam yang dia temukan. Setelah itu dia berjalan ke sisi Reina, memperhatikan dengan seksama ukiran bunga mawar yang tengah di bentuk di lengan Gheana. "Hmmm, sangat cantik. Aku suka!"
"Siapa yang cantik? Aku atau tatonya?" tanya Reina.
"Bunganya."
Reina berdecih. Kesal karena Lorus tak memujinya, Reina dengan sengaja menekan gips yang membungkus kaki Gheana. Dia tertawa senang saat mendengar jeritan dari wanita yang sudah membuatnya menerima hukuman.
__ADS_1
"Sakiiitttt! Singkirkan tanganmu dari kakiku, brengsek!" umpat Gheana kesakitan.
"Yakkk, berani sekali kau mengumpat padaku, Nona. Apa kau tidak takut aku melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk lagi padamu?" tanya Reina emosi.
"Jangan gila kau!" sahut Gheana panik.
"Aku memang gila, Nona. Kau salah berurusan dengan orang-orang gila seperti kami!" ucap Reina dengan tatapan yang begitu mengerikan.
Reina kemudian meminta Lorus untuk membuka gips yang membungkus kaki Gheana. Dia berniat mengukir mawar di tulang kakinya yang patah. Tanpa menghiraukan jeritan dan permohonan Gheana, Reina mulai fokus melakukan tugasnya. Sedangkan Lorus, dia membantu dengan menetesi tato yang baru setengah jadi di lengan Gheana menggunakan cairan yang mengandung suatu zat tertentu. Tujuannya adalah untuk membuat agar tato tersebut tidak bisa di hapus menggunakan cara apapun.
Mungkin di antara kalian ada yang bertanya-tanya kenapa bisa tidak ada satupun orang yang datang menolong Gheana. Jawabannya adalah karena lorong kamar tempat Gheana di rawat merupakan ruangan yang di khususkan untuk orang kaya saja. Jadi keadaan di sini cukup sepi. Adapun orang yang melihat kejadian di sini, mereka tidak akan berani berbuat apa-apa karena di luar kamar sudah berjejer anggota Queen Ma yang siap menjaga keamanan.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
MAMPIR YA GENGSS.. ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...