Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Karma Yang manis


__ADS_3

"Selamat datang kembali di Negara N, Niel, Shireen!" sapa Greg menyambut hangat kedatangan orang yang pernah menjadi manusia paling dia percaya di dunia ini selain istrinya.


"Terima kasih banyak, Tuan Greg, Nyonya Liona," sahut Niel dengan sopan.


Liona mengangguk. Dia kemudian saling berpelukan dengan Shireen, mengelus bahunya pelan saat tak sengaja mendengar apa yang sedang di pikirkannya.


"Tenanglah. Sebentar lagi Mona pasti akan segera menyusul kalian kemari!" ucap Liona mencoba menenangkan Shireen yang sedang resah memikirkan keadaan cucu semata wayangnya.


"Nyonya Liona, apakah benar sekarang Mona sedang di incar oleh orang-orang itu?" tanya Shireen tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya.


"Benar. Dia kini sedang menjadi incaran dari para anggota sekte yang ada di negaramu," jawab Liona jujur. "Dan dengan datangnya kalian ke negara ini, aku berharap Mona bisa menemukan ketenangan baru dalam hidupnya. Kau jangan khawatir. Selama kalian berada di bawah perlindungan keluargaku, aku pastikan kalian semua akan aman. Bukan begitu, Greg?"


"Tentu saja, Honey. Mona adalah cucu kita juga, itu artinya keselamatannya akan menjadi tanggung jawab kita bersama. Jadi Nyonya Shireen, kau tidak perlu mencemaskan tentang hal ini. Setibanya Mona di sini, kita akan langsung mengganti namanya dengan nama yang baru. Di sini juga dia akan di didik dengan keras supaya bersedia meninggalkan jati dirinya yang lama. Termasuk juga dengan perasaannya terhadap Rose!"


Niel menganggukkan kepala saat Shireen menatapnya. Dia mencoba meyakinkan istrinya kalau apa yang di ucapkan oleh Tuan dan Nyonya Ma pastilah akan menjadi kenyataan. Niel tentu saja sangat amat memahami perangai kedua orang ini kalau mereka tidak akan pernah main-main dengan sesuatu yang telah mereka katakan. Dan tentu saja Niel sangat amat berharap kalau cucunya benar-benar bisa di sembuhkan dari perasaan yang tidak seharusnya dia rasakan. Niel begitu ingin melihat Mona menjalani kehidupan normal seperti gadis-gadis yang lainnya. Dia sangat berharap akan hal itu.


"Ayo masuk. Grizelle dan yang lainnya sudah menunggu kalian di dalam!" ajak Liona.


"Baik, Nyonya,"'sahut Niel dan Shireen berbarengan.


Para penjaga langsung menundukkan kepala mereka menyambut kedatangan seseorang yang konon adalah mantan orang kepercayaan Tuan mereka. Dan hal ini tentu saja membuat Shireen terkesima melihatnya. Shireen kemudian di buat tercengang takjub begitu menyaksikan betapa megahnya tempat tinggal dari pasangan suami istri yang dulu menjadi majikan suaminya. Sungguh, ini adalah kali pertama Shireen melihat bentuk rumah yang sangat luar biasa megah. Semacam negeri dongeng dalam cerita anak-anak.


Grrrrrrrr


"Aaaaaa!"


Shireen langsung jatuh terduduk di lantai begitu dia mendengar suara auman binatang buas di rumah ini. Dan di detik selanjutnya, Shireen hampir pingsan melihat ada seekor harimau besar tengah berjalan pelan sambil menatapnya.


"Sayang, tidak apa-apa. Harimau itu sudah jinak, dia mengaum karena masih asing dengan keberadaan kita. Jangan takut ya?" hibur Niel kemudian membantu istrinya berdiri. Dia sangat amat maklum akan keterkejutan Shireen saat tahu kalau di rumah ini ada seekor harimau yang di pelihara.

__ADS_1


"Lan, kemarilah. Pria ini dulunya sering bermain dengan mendiang Ayah dan Ibumu. Namanya Niel, dan itu adalah Shireen, istrinya. Kau bersikaplah ramah pada mereka. Oke?" ucap Liona memperkenalkan Niel dan Shireen pada Lan. Dia lalu mengelus puncak kepala Lan saat binatang ini terus menggesekkan kepala di kakinya. "Jangan takut. Mereka bukan orang jahat. Iyakan Niel, Shireen?"


"Benar, Lan. Aku dan istriku akan menjadi bagian darimu mulai hari ini. Jadi mohon kerjasamanya ya, aku harap kita bisa menjadi teman akrab seperti mendiang orangtuamu dulu," sahut Niel dengan santai berbicara pada Lan.


Gggrrrrrrrr


Seolah mengerti, Lan menyambut teman barunya dengan auman yang sedikit lebih sopan. Dan hal ini membuat Shireen perlahan-lahan mulai merasa tenang. Meskipun takut, Shireen merasa kalau binatang buas satu ini cukup baik padanya dan juga pada suaminya. Terbukti karena sekarang Lan menatapnya malu-malu. Sungguh lucu.


"Paman Niel, Bibi Shireen, selamat datang. Akhirnya kalian sampai juga di negara ini. Aku senang sekali!" sapa Brenda sambil berlari menghambur ke pelukan neneknya Mona. "Bibi Shireen, apa kau sudah berkenalan dengan Lan? Dia manis sekali kalau Bibi mau tahu,"


"Sudah, Bibi baru saja berkenalan dengannya," jawab Shireen sembari mengelus rambut gadis manja yang sedang memeluknya. Dia jadi merindukan Mona, cucunya.


"Oh ya, Bibi. Bibi tahu tidak kalau tiga hari lagi aku dan Kak Oland akan segera bertunangan?" tanya Brenda kemudian mengurai pelukan. "Gara-gara aku yang tidak sengaja membuntuti Mona malam itu, aku akhirnya mendapatkan hadiah yang selama ini sangat aku idam-idamkan. Kalau saja aku tahu Mona adalah dewi penyelamatku, sudah sejak dulu aku pergi ke Negara S untuk menemuinya. Dengan begitu kan aku bisa dengan mudah mendapatkan cintanya Kak Oland. Benar tidak, Nek?"


"Benar sekali, sayang," jawab Liona menanggapi kekonyolan Brenda sambil tersenyum kecil. Tidak di pungkiri karena berkat gadis ini jugalah Rose bisa di ketemukan. Juga dengan Mona, sesosok gadis yang tidak sengaja telah menyelamatkan Rose dari sebuah kehinaan.


"Sepertinya gunung es ini sudah mulai mencair, Drax. Lihatlah, pria yang dulu tak pernah menganggap keberadaan calon menantu kita saat ini sedang memandangnya dengan penuh cinta. Karma ini sungguh manis sekali bukan?" ledek Grizelle sembari menyenggol pelan tubuh putranya.


"Kau benar, sayang. Beruntunglah karena gunung es ini menemukan karma yang manis. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya yang datang adalah karma buruk. Gunung es ini pasti akan membatu selamanya," sahut Drax ikut meledek Rolland.


"Mom, Dad, berhentilah menggodaku. Lebih baik kalian sapa dan sambut Paman Niel dan juga Bibi Shireen saja. Aku sedang tidak ingin di ganggu," ucap Rolland santai.


"Aduuhh, yang sedang kasmaran karena sebentar lagi akan bertunangan,"


"Mom, pleaseee ....


Grizelle dan Drax terkekeh. Mereka kemudian pergi menghampiri yang lain untuk menyapa Paman Niel dan juga Bibi Shireen.


"Selamat datang kembali di Negara N, Paman Niel. Kami senang sekali bisa kembali berkumpul denganmu, apalagi sekarang juga ada Bibi Shireen di sini. Keluarga kita pasti akan menjadi semakin ramai nantinya," ucap Grizelle dengan penuh bangga.

__ADS_1


"Terima kasih, Grizelle. Paman dan Bibi juga merasa sangat senang karena bisa berkumpul dengan orang-orang hebat di keluarga ini," sahut Niel.


Brenda mendengarkan dengan seksama percakapan para orangtua di keluarga ini. Dia sama sekali tidak menyadari kalau calon suaminya terus saja menatapnya dengan penuh cinta.


"Kalau rindu, dekati sajalah, Land. Kenapa kau harus malu-malu seperti itu sih?"


"Nenek, aku sama sekali tidak malu. Akan tetapi Brenda menjadi semakin cantik jika sedang diam seperti itu. Nenek pasti tahu sendiri kan apa yang akan Brenda lakukan jika dia sampai melihatku? Sekarang ini kita harus fokus pada Paman Niel dan juga Bibi Shireen dulu. Aku tidak kau kebucinan Brenda mengacaukan obrolan kalian!"


"Benarkah hanya Brenda saja yang membucin?"


Grizelle dan ibunya langsung melirik ke arah Rolland saat anak itu menjawab tidak melalui pikirannya. Sungguh lucu. Sudah sampai tahap seperti ini tapi Rolland masih saja bersikap sok jual mahal. Padahal semua orang juga tahu betapa posesifnya Rolland pada Brenda. Ada-ada saja.


"Paman, Bibi, semuanya. Bagaimana kalau sekarang kita makan siang dulu. Karena sebentar lagi kita semua harus melakukan fiting pakaian yang akan kita kenakan saat Dantian Group berulang tahun. Tidak apa-apa kan obrolan ini di tunda dulu!" ucap Grizelle mengajak semua orang untuk pergi makan siang.


Dan pada akhirnya, semua orang menyetujui ajakan Grizelle. Brenda yang menyadari kalau Rolland ada di sana pun segera berlari kemudian memeluknya dengan sangat erat. Dia nampak tersipu saat di goda oleh Paman Niel di mana dia dan Rolland di sebut sebagai pasangan yang sangat amat serasi.


"Malu, hm?" bisik Rolland.


"Tidak," jawab Brenda.


"Lalu?"


"Hehe, aku terlalu senang sampai-sampai wajahku memanas karena tersipu,"


"Itu sama saja, sayang," gemas Rolland. Dia lalu menggandeng tangan Brenda menyusul semua orang yang sedang menuju ruang makan.


Ah, kenapa pipiku makin memanas saja saat di gandeng seperti ini oleh Kak Oland ya. Ih, aku genit sekali. Hihihihi 😅


*******

__ADS_1


__ADS_2