
📢📢📢 Bom komentarnya bestie 💜
***
Gracia berjalan mondar-mandir sambil terus melihat ke arah gerbang. Saat ini dia tengah berada di rumah orangtuanya Rose. Dan sejak Gracia sampai di rumah ini, dia sama sekali tak bisa duduk dengan tenang. Bayangan ketika melihat Rose yang pingsan dan kesakitan terus menghantui pikiran Gracia. Dia sangat amat takut memikirkan keselamatan kakak ipar dan juga keponakannya. Makanya sekarang Gracia memilih untuk berjaga di luar saja sambil menunggu Rose dan kakak iparnya pulang ke rumah ini.
"Mau kau pelototi sampai biji matamu keluarpun mereka tidak akan kembali kemari, Gracia. Sekarang kau lebih baik masuk ke kamarmu dan beristirahatlah. Jangan malah mondar-mandir di sini seperti setrika pakaian!"
Gracia mendengus. Dia sudah sangat hafal dengan kata-kata pedas yang dilontarkan oleh seseorang dari arah belakang. Karena pikirannya sedang resah, Gracia tak berniat meladeni perkataan Cesar. Dia terus saja berjalan kesana kemari sambil mengawasi pintu gerbang.
"Hmmm, dasar bebal. Aku kan sudah bilang kalau malam ini mereka tidak akan kembali. Adam dan Rose sekarang sedang berjuang melawan kematian. Jadi kau kembali saja ke kamarmu kemudian tidur. Jangan menambah masalah!" kesal Cesar saat omongannya di abaikan oleh Gracia.
"Maaf, Cesar. Kau tidak di ajak untuk mengkhawatirkan kedua kakakku, jadi lebih baik kau diam saja dan urus urusanmu sendiri. Jangan menggangguku!" sahut Gracia dengan cetus. Dia masih enggan untuk berbalik badan karena matanya fokus melihat gerbang. Gracia begitu berharap akan ada kendaraan yang datang membawa kedua kakaknya pulang. Ya, hanya itu yang Gracia harapkan sekarang.
Sadar kalau Gracia benar-benar sedang mengkhawatirkan Adam dan Rose, Cesar memutuskan untuk mendekatinya. Dia lalu mencekal kuat lengan Gracia saat gadis ini terus saja bergerak tak mau diam.
"Apa sih!" kesal Gracia sambil berusaha melepaskan lengannya dari cekalan tangan Cesar.
"Mataku sakit melihatmu berjalan kesana kemari," sahut Cesar.
"Hah, omong kosong. Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk melihat apa yang sedang aku lakukan? Tidak ada 'kan?"
Kali ini raut wajah Gracia benar-benar sedang tidak bersahabat. Bahkan Cesar sampai terheran-heran di buatnya. Dia sempat tak berkedip menatapnya saat Gracia dengan begitu berani menyikut tulang rusuk milik Cesar hanya agar cekalan tangannya terlepas. Hmm, sepertinya tenaga gadis ini menjadi semakin kuat saja saat sedang emosi. Cesar jadi gemas sendiri melihatnya.
Eh, apa yang baru saja aku pikirkan? Gemas? Ya Tuhan, hidupku sungguh sangatlah sial jika aku sampai tertarik pada wanita sejenis Gracia. Amit-amit.
"Ekhmmm, malam ini Rose dan Adam tidak akan kembali ke rumah. Mereka sedang berada di satu tempat milik Gerald. Tadi kau lihat sendiri bukan seperti apa keadaannya Rose? Dan jika malam ini dia di bawa pulang, besar kemungkinan besok pagi kita semua akan menghadiri pemakamannya. Kau paham kan apa maksud perkataanku?" ucap Cesar memberitahukan garis besar keadaan Rose pada Gracia.
__ADS_1
"Cesar, sebenarnya apa yang terjadi pada Rose? Kenapa orang sekuat dia bisa sampai setidakberdaya itu ketika di hadapkan dengan masa lalunya dulu? Kalau hanya amnesia, seharusnya efek yang timbul tidak sampai separah inikan?" cecar Gracia yang merasa sangat amat penasaran dengan apa yang di alami oleh Rose.
"Kau tahu, Gracia. Orang yang banyak ingin tahu biasanya ....
"Ya ya ya, aku tahu kalau orang yang banyak ingin tahu urusan orang lain biasanya akan mati lebih cepat!" sela Gracia sambil memutarkan bola matanya jengah. Dia sudah sangat muak mendengar kata-kata ini dari mulutnya Cesar.
"Good."
"Tapi sayangnya Rose bukan orang lain bagiku. Dia kakakku, sekaligus orang yang telah menyelamatkan hidupku dari kegelapan. Jadi wajar saja jika aku ingin mengetahui semua hal yang terjadi padanya. Benar 'kan?"
"Kenapa kau keras kepala sekali sih!"
"Itu karena aku menyayangi Rose, bodoh."
"Apa kau bilang?"
Gracia menyeringai. Dia lalu menatap kesal ke arah Cesar sambil bersedekap tangan. "Aku bilang kau bodoh. B-o-d-o-h. Bodoh. Sudah jelas bukan?"
Meradang. Cesar menjadi sangat amat meradang setelah dirinya di katai bodoh oleh Gracia. Tanpa harus berpikir dua kali, Cesar dengan cepat mencekik lehernya Gracia. Namun, alih-alih merasa takut Gracia malah menyunggingkan senyum yang membuat Cesar mengerutkan keningnya heran.
"Kau tersenyum?" tanya Cesar dingin.
"Matamu tidak buta bukan? Aku yakin kau pasti bisa membedakan mana senyum dan mana tangisan," jawab Gracia tanpa merasa takut sedikitpun. Saat ini dia sudah tidak takut mati. Karena yang ada di dalam pikirannya Gracia hanya tentang bagaimana keadaan Rose dan calon keponakannya. Jadi gertakan yang coba Cesar berikan padanya sama sekali tak berpengaruh meski nafasnya sendiri cukup sesak karena Cesar mencekiknya dengan kuat.
"Sebegini ingin tahunya kau tentang apa yang di alami oleh Rose?"
"Menurutmu?"
__ADS_1
Cesar menyerah. Gracia menjadi keras kepala begini juga karena dia yang memintanya. Alhasil Cesar memilih untuk memberitahu Gracia tentang keadaan Rose yang sebenarnya. Namun, tidak semuanya dia katakan. Gracia masihlah seorang gadis polos di mata Cesar, jadi dia tidak bisa sembarangan menceritakan rahasia Rose kepadanya. Cesar takut nantinya kepolosan Gracia ada yang memanfaatkan, jadi dia cukup memberitahu sedikit saja.
"Dulu saat Rose hilang dari keluarganya, ada seseorang yang menyuntikkan racun perusak memori ingatan kepadanya. Sejak racun itu menyatu dengan darahnya Rose, sejak saat itu pula dia akan selalu sekarat setiap kali ada serpihan ingatan yang tidak sengaja melintas di pikirannya. Dan apa yang kau lihat tadi adalah yang paling buruk dari semua penderitaan Rose. Namun karena di sana tadi ada Gerald yang mengawasi, semua orang bisa sedikit berlega hati meski sebenarnya mereka tidak tenang. Gerald sudah seperti tambang obat bagi keluarga besarnya Rose, dan kini dia sedang berjuang untuk membebaskan Rose dari racun menjijikkan itu. Sampai di sini apa kau sudah paham?"
"Siapa orang yang telah menyuntikkan racun itu ke tubuhnya Rose, Ces? Dan kenapa juga dia tega melakukannya pada Rose yang kala itu masih anak-anak?"
"Kalau untuk masalah yang ini aku kurang tahu juga, Gracia. Sebelum Rose di temukan oleh keluarganya, aku dan Adam hanya mengenal Rolland dan Dante saja. Itupun hanya sebagai rekan bisnis. Jadi mengenai siapa dan apa penyebab orang itu bisa mengincar Rose hanya keluarga besarnya saja yang tahu pasti. Kau harus ingat kalau aku ini hanya orang luar, jadi akan sangat kurang ajar jika aku berani banyak bertanya tentang sesuatu yang bukan menjadi urusanku!" jawab Cesar menghambat Gracia agar tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Benar kau hanya tahu ini saja tentang Rose?" tanya Gracia sambil menatap Cesar penuh selidik.
"Kau ingin kuhajar atau bagaimana?" sahut Cesar balik bertanya. Gadis ini benar-benar ya.
"Ck, ya sudah sih tidak perlu sekasar ini juga menanggapi pertanyaanku. Kalau bukan karena aku yang mengkhawatirkan keadaan Rose, aku juga tidak akan mencecarmu seperti ini. Begitu saja sudah langsung marah. Dasar tempramen kau!" hardik Gracia jengkel.
Cesar menghela nafas sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Sabar sabar. "Karena sekarang kau sudah mengetahui apa yang ingin kau ketahui, maka kembalilah ke kamarmu. Di sini kau masih orang baru, bagaimana jika sampai ada musuh yang tiba-tiba menyerang kemudian salah menembakkan peluru ke kepalamu. Mau kau mati dengan kepala hancur?"
Secepat kilat Gracia langsung menggaet lengan Cesar saat dia di takut-takuti seperti itu. Dia lalu merengek meminta agar Cesar mengantarkannya pergi ke kamar.
"Kau mau mati ya?" kesal Cesar saat mendengar rengekan Gracia.
"Ayolah, Cesar. Ketampananmu tidak akan berkurang meski kau mengantarkan aku pergi ke kamar. Ayolah, aku benar-benar takut sekarang. Ya?" bujuk Gracia.
"Brengsek. Menyesal aku sudah bersikap baik padamu, Gracia!"
"Tidak apa-apa. Ayo!"
Dengan berat hati Cesar terpaksa menuruti keinginan Gracia. Sungguh, baru kali ini Cesar di taklukkan oleh wanita. Dan sialnya wanita ini adalah adiknya Adam. Menyebalkan sekali bukan?
__ADS_1
***