Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Something


__ADS_3

Sesampainya Adam di dalam ruangan Zidane, dia langsung pergi mengambil cambuk di dalam lemari. Tanpa mengindahkan rengekan Zidane yang terus meminta air minum, Adam dengan santai malah sengaja membuang semua air yang tersimpan di dalam ruangan tersebut. Tujuannya? Sudah pasti untuk membuat penderitaan Zidane semakin bertambah parah. Setelah itu Adam membuka laci meja, mengambil satu botol kecil yang berisi cairan berwarna biru pekat. Racun, yang langsung dia oleskan pada bagian atas cambuk.


"A-Adam ... t-tolong Papa, Nak," bisik Zidane menahan sakit sambil meringkuk di lantai.


Semalam, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Zidane di datangi oleh seseorang yang sangat mirip dengannya. Dia sangat syok, itu sudah pasti. Namun Zidane berusaha bersikap tenang dengan mengajak kembarannya itu untuk bicara karena Zidane pikir orang ini datang untuk menyelamatkannya. Akan tetapi Zidane melupakan satu hal. Yaitu ...


"Tuan Zidane, apa kau pikir karena wajah kita serupa lalu aku sengaja datang untuk menolongmu? Kau sepertinya sedang berhalusinasi, Tuan. Karena kedatanganku kemari bukan untuk menolongmu, tapi untuk memberikan neraka siksaan atas apa yang pernah kau perbuat dulu."


Dan di tangan orang itu, Zidane harus rela menanggung kesakitan yang begitu luar biasa. Dia di perlakukan bak seekor anjing yang seenaknya di ikat dan di tarik ke sana kemari dalam kondisi kaki terpasang bola baja yang begitu berat. Dan yang menyebabkan Zidane meringkuk seperti ini adalah karena tubuhnya di injak-injak sesuka hati oleh orang tersebut. Kalian bayangkan saja sendiri. Tubuhnya sudah tua, di tambah lagi dia jarang di beri makan dan juga minum. Sudah pasti stamina di dalam tubuhnya akan langsung terkuras habis hanya dengan menerima satu pukulan saja. Sedangkan semalam, ya ampun. Zidane bahkan enggan untuk mengingatnya kembali. Terlalu amis dan juga kejam.


"Zidane, kalau saja kau hanya menyekap Mama di ruangan ini, mungkin aku masih akan berbesar hati untuk memaafkan kesalahanmu. Akan tetapi apa yang telah kau perbuat pada wanita yang telah melahirkan aku benar-benar di luar nalar seorang manusia normal. Wanita yang kau sekap dan kau siksa adalah istrimu sendiri, bagaimana bisa kau tega melakukannya? Kau menyiksa, melecehkan, bahkan menekan mental Mama hingga membuatnya seperti orang gila. Kau waras tidak? Hah?" teriak Adam.


"M-maafkan Papa, Dam. P-Papa menyesal. Papa benar-benar menyesal telah melakukan semua itu pada Mamamu. Tolong maafkan Papa ya, Papa janji akan meminta maaf pada Mamamu setelah kau mengeluarkan Papa dari sini. Oke?" sahut Zidane mencoba untuk terus membujuk Adamar.


"Jangan pernah menyebut dirimu sebagai Papa di hadapanku. Itu menjijikkan, ZIDANE!"


Cttaaaarrr cctaaaaarrr

__ADS_1


Dengan gilanya Adamar mencambuki tubuh Zidane yang sudah tergolek lemah di lantai. Ya, dia benar-benar memelampiaskan kekesalannya dengan sangat brutal, tak peduli apakah Zidane masih sanggup menerima siksaan ini atau tidak. Karena yang jelas inilah bukti dari sumpah yang pernah Adamar katakan kalau dia akan membalas rasa sakit yang telah sang ibu terima dengan rasa sakit yang rasanya berkali-kali lipat menyakitkan. Dan kemarahan Adamar kian menjadi-jadi ketika dia terkenang dengan kondisi ibunya yang di nyatakan cacat mental oleh dokter dari kelompok Ma Queen. Artinya ... trauma yang di alami oleh sang ibu selamanya tidak akan pernah bisa di hilangkan dari ingatannya. Sebagai seorang anak, sudah pasti Adamar sangat tidak menerima hal ini. Jadi dia harus memastikan dengan kedua tangannya sendiri kalau Zidane Clarence, bajingan yang telah membuat hidup ibunya menjadi sangat menderita harus menerima balasan yang tiada akhir. Harus.


"Apa kau suka dengan hadiah ini, Zidane?" tanya Adamar sembari menjilat percikan darah yang mengenai sudut bibirnya. "Kau begitu suka melihat pasanganmu menyiksa Mama Karina. Lalu apa kau suka ketika aku memberikan rasa yang sama seperti yang di rasakan oleh Mama waktu itu, hm? Kau suka?"


Bukannya sadar, Zidane malah terkekeh lucu mendengar pertanyaan Adamar. Dalam kondisi yang sudah begitu lemah Zidane malah dengan sengaja memprovokasi kemarahan Adamar dengan menceritakan hal gila apa yang telah dia lakukan pada Karina. Sudah kepalang tanggung. Sengaja Zidane melakukannya agar Adamar tidak membiarkannya terus hidup dalam kondisi seperti sekarang. Jadi sebisa mungkin Zidane mencari cara untuk memancing kemarahan Adamar yang mana akan berujung dengan dia yang akan langsung di bunuh.


"Adamar-Adamar. Sebenarnya ya, apa yang kau dan orang-orangmu lakukan padaku sama sekali tidak sebanding dengan apa yang telah Papa berikan pada Mamamu. Dulu, setiap satu minggu sekali Papa akan membawa pasangan Papa masuk kemari kemudian memintanya untuk memp*rkosa Mamamu. Itupun dengan syarat baru boleh dilakukan setelah Mamamu di siksa terlebih dahulu," ucap Zidane pelan. "Kau tahu, Adamar. Rasanya benar-benar sangat membahagiakan melihat Mamamu di tunggangi bak kuda liar dengan tubuh berbalut luka dan noda darah. Itu semacam pemandangan alam yang sangat memanjakan mata. Sungguh!"


"Oh, jadi begitu ya?"


Adamar bukan orang bodoh. Dia tentu tahu rencana apa yang coba dilakukan oleh bajingan ini. Alih-alih merasa terprovokasi, Adam malah dengan santainya menukar cambuk yang sudah berlumuran darah dengan sebilah belati yang begitu tajam. Sambil menatap tajam ke arah Zidane, Adamar perlahan-lahan berjalan mendekatinya. Dia kemudian berjongkok, menjadikan ujung belati untuk mengangkat wajah Zidane agar menatapnya.


Zidane menelan ludah.


"Apa yang akan kau lakukan, Dam?"


"Membuatmu meminum darahmu sendiri. Bukankah itu yang selama ini kau lakukan sejak bergabung dengan sekte sialan itu? Ohh, bukan. Kau jauh lebih menjijikkan dari pada sekedar menelan ludah. Kau bahkan menikmati bangkai seorang bayi. Cuihhh!"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Adamar mengajak ujung belati untuk menari di wajahnya Zidane. Dia tersenyum mengejek ketika mendengar suara desisan pelan dari mulut bajingan ini.


"Ssshhhh ... s-sakit, Adamar," lirih Zidane.


"Sakit? Tidak, Zidane. Ini sangat indah dan juga menyenangkan. Jadi kau tidak pantas menyebut kata sakit hanya karena luka gores seperti ini. Apa kau tidak malu pada Mama Karina yang mampu menahan semua derita yang di rasakannya selama ini, hmm? Kau rela kalah darinya? Tapi bukannya kau itu adalah orang yang begitu menjunjung tinggi sesuatu yang di sebut harga diri ya? Apa tidak masalah jika kau di kalahkan oleh mantan istrimu sendiri?" ejek Adamar sembari membuat selokan kecil dari arah pelipis mata hingga pinggiran bibirnya Zidane. Adam berniat membuat saluran darah supaya nanti alirannya bisa langsung dinikmati oleh bajingan ini. Ide briliant bukan?


Rose yang saat itu sedang duduk dengan di temani mutannya Zidane dan juga Cesar hanya tersenyum kecil saat menyaksikan betapa kejamnya Adamar dalam memberi pelajaran pada Zidane. Dia melihat pertunjukan ini sambil menikmati rujak yang tadi dia beli di jalan. Mungkin jika orang lain yang ada di posisinya Rose sekarang, di jamin mereka pasti akan langsung muntah-muntah melihat kejadian yang sedang berlangsung. Akan tetapi semua itu tidak berlaku untuk seorang Rosalinda Osmond. Psycho? Maybe yes, maybe no.


"Ini belum seberapa. Aku yakin Adamar mampu melakukan sesuatu yang seribu kali lebih kejam daripada ini," ucap Rose. Pandangan matanya terus tertuju ke arah layar.


"Seyakin itu?" tanya Cesar.


"Aku memilih suami yang tepat. Mungkinkah aku salah mengenalinya?" sahut Rose balik bertanya.


"Puzzle, puzzle, puzzle. Aku suka ini."


Rose dan Cesar saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya mereka sama-sama tersenyum tipis. Tidak ada yang tahu sebenarnya ada hubungan apa antara mereka berdua. Di awal kisah Cesar di jelaskan sebagai sahabat dan juga penjaga bayangan yang di kirim oleh Philippe Lorenzo untuk menjaga Adamar. Akan tetapi kenapa sekarang Cesar berbalik akrab dengan Rose? Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah ada something yang membuat keduanya bisa terhubung seperti sekarang? Mari kita berpikir.

__ADS_1


*******


__ADS_2