Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kerumunan Berjubah


__ADS_3

Kraaakk


Brenda meringis pelan saat kakinya tidak sengaja menginjak ranting pohon yang ada di tanah. Dia lalu melirik ke arah sekumpulan orang berjubah hitam yang tengah berdiri mengelilingi lingkaran api besar dengan sebuah meja kaca di sampingnya. Tadi, begitu Mona pergi keluar dari kosnya Rose, Brenda memutuskan untuk mengejarnya. Dia takut terjadi sesuatu pada gadis culun itu. Sementara Rolland, calon suaminya yang sedang kerasukan setan sama sekali tidak menyadari kepergiannya setelah mendapat pesan. Lalu ketika Brenda tengah mencari Mona, dia tidak sengaja melihat gadis culun tersebut tengah di seret oleh dua orang berpakaian serba hitam dengan kondisi mulut tertutup kain hitam yang kemungkinan besar adalah obat bius. Mengesampingkan rasa takut dan juga terkejutnya, Brenda diam-diam membuntuti orang-orang itu. Untung saja tubuhnya ramping dan sedikit mungil, jadi dia bisa berkamuflase dengan mudah seperti bunglon saat beberapa kali hampir ketahuan. Hingga pada akhirnya sampailah Brenda di tempat ini. Sebuah bangunan mewah yang berdiri di tengah-tengah hutan.


Jika kalian penasaran bagaimana caranya Brenda sampai di tempat ini, jawabannya adalah dia menumpang sebuah mobil tua yang membawa makanan untuk b*bi. Untung saja pemilik mobil tersebut bersedia menolongnya dengan iming-iming anting berlian yang Brenda kenakan. Jika tidak, Brenda pasti akan kehilangan jejak Mona. Dan yang pasti semua orang akan mengutuk Rolland jika tahu kalau gadis itu hilang.


"Paman, tolong bantu aku mengikuti mobil itu ya. Mereka mencuri perkakas make-up ku. Paman tenang saja, nanti aku akan membayar Paman dengan anting berlian yang aku punya. Dan kalau Paman ingin satu pasang, maka Paman harus mau memberikan ponsel Paman padaku. Bagaimana? Begini adil kan?"


Kurang lebih seperti itulah perjanjian konyol antara Brenda dengan si pengemudi mobil tua yang telah mengantarkannya kemari. Dan sebelum pergi, paman tersebut mengingatkan Brenda agar berhati-hati karena tempat ini di huni oleh beberapa orang asing yang memiliki kelakuan aneh nan misterius. Katanya di malam-malam tertentu tempat ini akan menjadi sangat ramai sebelum akhirnya di tutup oleh suara jeritan yang cukup menyayat hati. Dulu ada beberapa orang yang sempat merasa penasaran dengan apa yang terjadi kemudian memutuskan untuk mengintip. Namun orang-orang itu tak pernah kembali ke rumah sampai detik ini. Mereka seakan hilang bak di telan bumi.


"Aarrkhhhh, sakiiittttt!"


Saat Brenda tengah melihat-lihat, dia di kejutkan oleh suara rintihan yang ternyata berasal dari mulut Mona. Dia membelalakkan mata begitu melihat Mona tengah di arak hanya dengan memakai jubah putih transparan tanpa pakaian d*lam. Dan tidak itu saja, keadaan Mona sungguh sangat kasihan. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat banyak luka sayatan dimana sudah terpasang semacam alat infus yang biasanya ada di rumah sakit. Brenda yang tidak tahan melihat hal itupun berniat untuk datang membantu. Namun sedetik kemudian dia sadar kalau dia tidak akan mungkin bisa menyelamatkan Mona seorang diri. Brenda lalu teringat dengan ponsel yang dia dapatkan dari hasil menggadaikan anting berliannya.


"Untung saja aku memakai anting yang berguna. Kalau tidak, aku pasti tidak akan bisa menghubungkan nomor Kak Oland. Humm, ayo gunakan otakmu dengan baik Brenda untuk mengingat berapa nomor calon suamimu yang tampan itu," gumam Brenda lirih sambil menekan pinggiran kepala.


Senyum lebar langsung muncul di bibir Brenda begitu dia mengingat nomornya Rolland. Cepat-cepat dia melakukan panggilan saat mendengar suara rintihan Mona yang kian menjadi.


"Siapa ini?"


"Kak Oland, ini aku calon istrimu. Kak, tolong Mona, Kak. Dia sedang di aniaya oleh orang-orang berjubah hitam. Kasihan dia, Kak," jawab Brenda pelan. Dia bicara sambil terus mengawasi keadaan, khawatir kalau-kalau ada yang menyadari keberadaannya.


"Brenda, kau dimana? Apa yang sedang mereka lakukan pada Mona? Astaga, kenapa kau nakal sekali sih. Harusnya aku mengurungmu saja di hotel. Cepat katakan kau ada dimana!"

__ADS_1


Bibir Brenda mengerucut saat dia mendapat omelan dari Rolland. Saat dia hendak bicara, dari arah kerumunan terdengar suara seperti orang yang sedang membaca mantra. Untuk beberapa saat pikiran Brenda seperti terhipnotis. Matanya tiba-tiba memberat hingga suara teriakan dari dalam ponsel menyadarkannya.


"Brenda, kau baik-baik saja kan? Kau ada dimana sekarang? Brenda!!!!"


"Em, aku-aku ada di hutan, Kak. Tolong cepatlah datang kemari, kasihan Mona. Hiksss, tolong cepat datang," sahut Brenda mulai menangis melihat penderitaan yang sedang di alami oleh Mona.


Terdengar beberapa percakapan dari balik telepon sebelum akhirnya suara Rose membuat isak tangis Brenda sedikit mereda.


"Jangan takut, calon kakak iparku bukanlah orang yang lemah. Sekarang tolong kau arahkan layar ponselmu ke sekeliling tempat itu. Biarkan kami semua melihat apa yang sedang dilakukan orang-orang itu pada Mona. Ya?"


"Hiksss, iya."


Posisi Brenda yang saat itu membaur dengan pepohonan lebat membuat dia sedikit kesulitan ketika hendak mengarahkan layar ponsel ke arah kerumunan setelah panggilan di alihkan ke panggilan video. Sambil terus berusaha, Brenda meminta agar semua orang di dalam telepon jangan ada yang berbicara. Dia sangat takut ketahuan.


Sungguh, siapalah yang tahu betapa sakitnya penderitaan yang sedang Mona rasakan. Tadi setelah Mona melarikan diri dari kemurkaan Rolland, tiba-tiba saja dia di sergap oleh beberapa orang asing yang langsung membuatnya tidak sadarkan diri. Dan begitu Mona bangun, dia sudah berada di dalam sebuah kamar dimana ada satu orang pria yang wajahnya cukup familiar di mata Mona.


"Halo gadis kecil, apa kau masih mengingatku?"


"Tuan Agler, kaukah itu?" tanya Mona memastikan.


"Ya, kau benar sekali, gadis manis. Bagaimana, sudah siap melakukan pengorbanan?" tanya Agler dengan seringai di bibirnya.


"P-pe-pengorbanan?"

__ADS_1


Mona gugup. Tubuhnya bahkan sampai gemetaran ketika Tuan Agler mulai menggunting pakaiannya. Mona sebenarnya ingin berontak, tapi tubuhnya terlalu lemas akibat obat bius yang tadi dia hirup. Alhasil, dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya di t*lanjangi oleh Tuan Agler. Dan di mulai dari detik itulah Mona terdorong ke dalam jurang kesakitan yang tak pernah dia bayangkan.


"Tolong Mona, Rose. Tolong dia," desak Mona sambil menatap layar ponsel dimana wajah calon adik iparnya terlihat begitu dingin.


"Kau tetaplah diam di tempat. Jangan lakukan apapun dan jangan pergi kemanapun. Aku dan yang lainnya akan segera datang kesana untuk menolong kalian berdua. Kau dengar apa yang aku katakan kan? Dan satu hal lagi, Brenda. Jangan matikan ponselmu dulu karena Resan sedang mencari titik lokasi keberadaan kalian."


Brenda mengangguk. Dia menuruti apa yang di katakan oleh Rose dengan tidak memutuskan panggilan. Tubuh Brenda kembali gemetaran ketika dia mendengar suara jeritan Mona yang begitu melengking. Sepertinya orang-orang berjubah itu semakin gila dalam memberi siksaan.


"Mona, tolong bertahanlah sebentar lagi. Rose dan calon suamiku sedang mencari jalan untuk menyelamatkanmu. Aku mohon bertahanlah, Mona. Jangan menjerit terus," gumam Brenda sambil menangis tertahan.


Saat Brenda sudah hampir tidak kuat menahan suara tangisannya, dari dalam telepon terdengar suara Resan yang mengatakan kalau lokasi keberadaan Brenda berhasil terlacak. Namun sayangnya Brenda sudah tidak bisa fokus mendengar suara Rose begitu dia mendengar suara jeritan Mona yang di barengi dengan bacaan mantra-mantra aneh yang membuat bulu kuduk Brenda meremang hebat.


"Dasar bedebah, manusia sesat. Semoga saja Tuhan mengutuk kalian menjadi binatang paling tak terselamatkan di dasar neraka nanti. Dasar jahat!" maki Brenda sambil menangis sesenggukan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: Rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2