
Wajah Adam berubah masam begitu pintu apartemennya terbuka. Rose, istrinya ini ternyata tidak memakai kemeja seperti yang dia pesankan pagi tadi. Sedikit kecewa sih, tapi Adam juga tidak mungkin marah. Dia hanya merasa seperti ada yang patah di bawah sana setelah apa yang dia fantasikan tidak berjalan seperti yang dia harapkan.
"Kenapa cemberut seperti itu, hm?" tanya Rose sambil menahan senyum. Dia jelas tahu penyebab suaminya jadi seperti ini.
Setelah berperang di dapur bersama Gracia, Rose bergegas pergi membersihkan tubuhnya. Dia memang sengaja tidak memakai pakaian yang sudah di pesan oleh Adam pagi tadi karena adik iparnya masih ada di sini. Rose yakin kalau Gracia pasti akan berpikir yang tidak-tidak jika melihatnya yang hanya memakai kemeja putih saja. Ya meskipun dia dan Adam sudah menikah tapi tetap saja perlu untuk menjaga adab. Rose tidak mau di anggap sebagai pasangan yang gila n*fsu, walaupun pada kenyataannya Adam memang selalu bern*fsu setiap kali berada di dekatnya. π
"Ayolah Hon, kau tahu dengan jelas kenapa aku jadi seperti ini," jawab Adam lesu. Dia lalu merengkuh pinggang Rose kemudian menciumi rambutnya yang wangi. "Kenapa tidak patuh, hm?"
"Ada seseorang di sini. Jadi aku tidak mungkin memakai pakaian seperti tadi malam."
Kening Adam mengerut. Dia melepaskan rengkuhannya kemudian melongok ke dalam. Ya, saat ini dia masih berdiri di depan pintu apartemen, jadi Adam sama sekali tidak tahu kalau ada orang lain di sana.
"H-hai, Kak!" sapa Gracia sambil tersenyum kikuk ke arah sang kakak yang sedang menatapnya datar.
Kenapa anak si medusa itu bisa ada di sini sih. Mengganggu kenyamanan orang lain saja.
"Jawablah. Gracia tadi sudah bekerja keras membantuku menyiapkan makan siang untukmu. Jangan terlalu dingin padanya. Kasihan," bisik Rose.
"Kenapa kau biarkan dia masuk kemari sih, Hon. Harusnya tadi kau langsung mengusirnya begitu dia datang."
"Adam, dia adikmu."
Adam berdecih pelan. Meski merasa enggan, Adam akhirnya menuruti perkataan Rose untuk menjawab sapaan dari adik tirinya.
"Kau di sini. Dengan siapa kau datang?"
"A-aku datang di antar sopir, Kak. Kakak apa kabar?" jawab Gracia gembira melihat sang kakak mau bicara dengannya.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja karena dirawat oleh wanita yang tepat," sahut Adam sambil melirik ke arah istrinya.
Rose tersenyum hangat. Dia lalu mengajak Adam untuk masuk ke dalam.
"Kau mau langsung makan atau ingin pergi mandi dulu, Dam. Biar aku siapkan," ucap Rose berusaha membujuk suaminya yang sedang merajuk.
Aku ingin memakanmu, Hon.
__ADS_1
"Mandi dulu saja," sahut Adam pasrah.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menyiapkan handuknya dulu."
Gracia diam memandangi kakaknya yang terus mengekori Rose. Dia tersenyum, sebahagia inikah kehidupan dalam rumah tangga? Gracia tentu tidak buta kalau sang kakak terlihat begitu kesal saat melihatnya ada di apartemen ini. Dia juga sangat amat menyadari kalau ada sesuatu yang perlu di tuntaskan oleh kedua orang tersebut. Tak ingin menjadi nyamuk pengganggu, Gracia memutuskan untuk menghilang dari sana. Dia pergi diam-diam tanpa berpamitan pada pemilik apartemen tersebut.
"Lucu juga ya melihat orang yang biasanya selalu bersikap acuh dan dingin menjadi patuh seperti anak anjing. Hihi, Kak Adam sepertinya cinta mati pada mantan musuhku itu. Imutnya," gumam Gracia di dalam lift. Dia tidak henti-hentinya tertawa membayangkan raut wajah kakaknya tadi.
Sementara itu di dalam kamar, Adam terus saja merengek pada istrinya. Kepalanya sudah sangat pusing karena menahan gairah sejak pagi. Rose yang melihat kelakuan suaminya hanya bisa terkekeh lucu. Dia mengambil pakaian dari dalam lemari dengan Adam yang terus memeluknya erat dari belakang.
"Hon," ....
"Apa?"
"Sebentar sajalah. Ya?" ucap Adam kembali merengek. "Aku bisa mati berdiri kalau tidak segera di tuntaskan. Kepalaku sudah sangat sakit sedari pagi. Memangnya kau tidak kasihan pada suamimu ini, hm? Ayolah, tolong aku."
Tidak bisa. Apapun yang terjadi Adam harus mendapatkan obatnya sekarang juga. Dia tidak peduli meski sekarang adiknya sedang berada di luar kamar. Biar saja, lagipula siapa suruh gadis itu datang di saat yang tidak tepat. Adam mana mau mengalah hanya demi seseorang yang sebelumnya sangat dia benci. Dia bukan kakak yang sebaik itu.
"Malam saja bagaimana? Di luar ada Gracia, Dam. Kasihan dia kalau harus menunggu kita selesai menuntaskan hasrat," ucap Rose masih berusaha bernegosiasi dengan suaminya yang sedang terbakar gairah.
"Tidak bisa, Honey. Harus sekarang," sahut Adam kekeh. "Jangan pedulikan gadis itu. Kamar kita kedap suara, dia tidak akan mungkin bisa mendengar suara desahanmu."
"Jangan begitulah, Dam. Biar bagaimana pun kita harus tetap menghargai keberadaan Gracia di sini. Tolong tahanlah untuk beberapa jam ke depan. Nanti malam kau bisa memelampiaskannya sampai pagi. Aku janji."
"Ck!"
Tak ingin suaminya makin menggila, Rose memutuskan untuk keluar kamar. Dia mengernyitkan kening saat rumahnya terlihat begitu sepi tanpa ada suara apapun lagi.
"Kemana perginya gadis itu?" gumam Rose bingung.
Curiga terjadi sesuatu pada Gracia, Rose memutuskan untuk menghubungi anak buahnya yang berjaga di luar apartemen. Dia harus tahu kemana adik iparnya itu pergi.
"Apa kalian melihat Gracia keluar dari apartemen?" tanya Rose begitu panggilan tersambung.
"Iya, Nona. Mobil Nona Gracia baru saja keluar dari tempat parkir. Nona, apakah terjadi sesuatu di dalam sana? Apa perlu kami mengejar Nona Gracia?"
__ADS_1
"Tidak usah. Semua baik-baik saja," ucap Rose kemudian mematikan panggilan.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Rose. Dia kemudian tersenyum sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kau menang, Adam. Gara-gara kerakusanmu Gracia jadi pergi dari sini. Hmmm, padahal dia sudah susah payah membantuku memasak makan siang. Aku jadi kasihan padanya."
"Honey, kau bicara dengan siapa?"
Adam bertanya sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Dia cukup tahu diri untuk tidak keluar kamar karena sekarang dia hanya memakai handuk sebatas paha.
"Gracia pergi dari sini."
"Oh."
Sedetik kemudian ....
"APA??? Waahhh, gadis itu sangat tahu diri ternyata. Hahahaha, tahu saja kalau junior kakaknya sedang gelisah!" pekik Adam kegirangan. "Hon, ayo cepat datang kemari, kita mandi bersama. Sekarang kan sudah tidak ada penghalang, jadi kau tidak punya alasan lagi untuk menolak bercinta denganku. Cepatlah, aku sudah tidak tahan."
"Kau gila ya, Dam?" tanya Rose sambil tertawa.
"Benar, Honey. Aku memang sudah menjadi anggota orang gila semenjak mengenalmu. Otakku bahkan baru bisa normal kembali setelah menyentuh tubuhmu. Maka dari itu cepatlah datang kemari, sayangku. Biarkan suamimu yang gila ini mereguk candunya!" bujuk Adam sambil memperlihatkan seringai licik di bibirnya.
Jujur saja, Rose sebenarnya sedikit tersipu mendengar perkataan Adam. Entahlah, perasaannya jadi begitu sensitif sejak beberapa hari ini. Padahal biasanya Rose selalu bisa menutupi perasaannya dengan baik meski Adam memujinya setinggi langit. Mungkinkah hormon di dalam tubuhnya semakin bertambah akibat beban yang selama ini dia simpan telah terlampiaskan? Hmmm.
"Jangan melakukannya terlalu lama, Dam. Kau belum makan siang dan masih harus kembali ke perusahaan," ucap Rose sambil berjalan menghampiri suaminya.
"Akan kuusahakan, Hon. Tapi aku tidak janji," sahut Adam sambil mengangkat tubuh istrinya kemudian membawanya masuk ke dalam kamar.
Dan setelah itu, terjadilah peperangan sengit di siang bolong. Adam dan Rose, pasangan ini sama-sama saling mencurahkan hasrat yang sudah mereka tahan sejak pagi. Di tambah lagi dengan sikap Rose yang semakin manja dan menggemaskan, membuat Adam seperti kerasukan saat sedang menyentuhnya. Detik itu juga dunia serasa milik berdua, sementara makhluk lainnya tiba-tiba berubah menjadi mahkluk tak kasat mata π
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
...πΉJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss πͺπͺπͺ...
__ADS_1
...πΉIg: rifani_nini...
...πΉFb: Rifani...