
Brraaakkkk
Kepala Gracia menghantam stir saat mobilnya tiba-tiba di tabrak dari arah belakang. Dia kemudian meringis sambil memegangi keningnya yang sedikit membenjol.
"Siapa yang menabrakku?" gumam Gracia sambil menahan rasa nyeri dan juga pusing di kepalanya.
Saat Gracia pergi ke perusahaannya Gheana, dia memang sengaja tidak meminta sopir untuk mengantarnya pergi ke sana. Bukannya apa, Gracia hanya tidak ingin ayah ataupun ibunya mengetahui kemana dia pergi karena sopir yang bekerja di rumahnya sangat patuh pada mereka. Namun sungguh sial, di jalanan yang tidak terlalu ramai ini Gracia harus menelan pil pahit karena mobilnya di tabrak oleh seseorang. Untung saja tadi dia menginjak rem tepat waktu. Jika tidak, mobilnya pasti sudah mengalami kecelakaan parah setelah menabrak pembatas jalan.
Setelah rasa pusing di kepalanya sedikit mereda, Gracia memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Dia berniat menghampiri si penabrak guna meminta pertanggungjawaban darinya.
"Wahhh, mobilnya penyok. Aku tidak boleh diam saja, dia harus membayar ganti rugi!" gerutu Gracia begitu melihat kondisi belakang mobilnya yang rusak lumayan parah.
Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, Gracia berjalan menuju mobil si penabrak dimana pelakunya masih ada di dalam mobil. Gracia kemudian mengetuk kaca jendela, berharap kalau pemiliknya bisa segera keluar untuk menyelesaikan masalah.
Tok tok tok
"Hei Tuan, cepat keluar dari dalam sana. Aku perlu tahu alasanmu mengapa tiba-tiba menabrak mobilku. Cepat keluar!" teriak Gracia kesal saat si pemilik mobil tak kunjung keluar.
Setelah cukup lama menunggu, Gracia akhirnya bisa melihat batang hidung dari orang yang telah menabraknya. Seketika dia langsung menelan ludah karena yang muncul adalah tiga pria kekar dengan wajah yang sangat menyeramkan.
"Ada masalah apa, Nona?" tanya salah satu pria menyeramkan tersebut.
"M-mobil kalian m-menabrak mobilku. Lihatlah, bagian belakang mobilku rusak cukup parah!" jawab Gracia terbata. Dengan tangan gemetaran dia menunjuk ke arah mobilnya.
"Lalu apa yang kau inginkan dari kami? Bertanggung jawab?"
Gracia tercengang. Entah mengapa dia merasa ada yang aneh dari pertanyaan pria ini. Sudah jelas-jelas mereka yang menabrak mobilnya lebih dulu, tapi bagaimana bisa mereka bertanya seperti itu padanya? Tidak mungkin mereka buta dan tidak bisa melihat apa yang terjadi bukan?
"Tuan, aku tahu wajah kalian itu menyeramkan. Tapi bukan berarti aku akan menyerah untuk meminta pertanggungjawaban. Di sini mobil kalianlah yang bersalah karena sudah mengarak mobilku. Dan sudah sepantasnya sebagai pemilik mobil kalian bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi!" tegur Gracia yang tak lagi merasa takut. "Ganti rugi!"
Ucapan Gracia di sambut gelak tawa oleh ketiga pria kekar tersebut. Salah satu dari mereka kemudian maju mendekat ke arah Gracia, setelah itu menjambak rambutnya dengan sangat kuat.
"Akhhh, sakit!" pekik Gracia.
"Hahahaha, baru begini saja sudah kesakitan. Dasar lemah!"
__ADS_1
"Aku tidak lemah, tapi kau yang terlalu kasar. Lepaskan rambutku!" teriak Gracia sambil menepuk-nepuk tangan si pria yang terus menarik rambutnya. Kulit kepalanya serasa sedang di kelupas paksa sebab tarikan pria ini benar-benar sangat kuat.
"Kalau kau tidak berisik dengan meminta pertanggungjawaban dari kami, kau pasti tidak akan mengalami kejadian seperti ini Nona. Siapa suruh kau sok pemberani dengan mencari masalah dengan kami. Jadi ya sudah, nikmati saja apa yang akan kami lakukan padamu. Hahahahahaha!"
Entah apa yang terjadi pada orang-orang. Mereka semua seolah menutup mata ketika melihat ada seorang gadis yang sedang di keroyok oleh tiga orang pria kekar. Tidak ada satupun dari mereka yang berinisiatif untuk memberikan pertolongan. Atau setidaknya berbelas kasih untuk menelpon polisi dan meminta mereka agar segera datang kemari. Gracia yang melihat betapa acuhnya orang-orang yang ada di sana hanya bisa pasrah saat pipinya di tampar dengan sangat kuat oleh pria yang tadi menjambak rambutnya.
Plaaaakkkkk
"Hiksss ... sakit," keluh Gracia sambil memegangi pipinya yang terasa begitu kebas. Mungkin ini adalah pukulan tersakit yang pernah dia rasakan dalam hidupnya.
"Sakit? Hahahaha... Nona-Nona, kalau nyalimu hanya sebatas ini harusnya kau tidak sok menjadi seorang pemberani tadi. Menangis kan kau sekarang!"
"Dan kalau kau bukan seorang b*nci, harusnya kau tidak menyerang seorang wanita. Tidak malu?"
Ketiga pria kekar tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara, dan begitu juga dengan Gracia. Dia kemudian tertegun melihat kehadiran seorang laki-laki yang sama sekali tidak pernah Gracia pikirkan akan sudi untuk menolongnya. Kakak tirinya. Ya, sang kakak kini tengah berjalan ke arahnya dengan di temani oleh Cesar di sampingnya.
"K-Kak Adam?"
Adam menghela nafas. Dia melirik sekilas ke arah luka memar yang ada di pipi adiknya. Sebenarnya tadi Adam sama sekali tidak ingin mempedulikan adiknya yang tengah di ganggu oleh tiga orang pria. Namun ketidakpeduliannya itu berubah saat salah satu dari pria tersebut tiba-tiba menjambak rambut dan menampar pipi adiknya. Meskipun dia dan Gracia tidak terikat hubungan darah, Adam tetap saja merasa tak tega jika membiarkannya di sakiti seperti itu. Belum lagi jika istrinya tahu. Bisa-bisa Rose marah dan pergi meninggalkannya karena memang sekarang hubungan Rose dan Gracia lumayan dekat.
"Oh, jadi gadis lemah ini adalah adikmu? Pantas, wajah kalian sama-sama terlihat lemah. Hahahaha!"
Cesar menyeringai. Tanpa mengatakan apa-apa dia langsung melemparkan pisau kecil yang selalu dia bawa kemana-mana hingga mengenai lengan dari pria yang sedang menertawakan Adam.
Jleeb
"Argghhhhh!! Brengsek, beraninya kau menyerangku. Dasar sialan!"
"Sialan kau bilang?" tanya Cesar santai. "Pria lawan pria itu namanya bukan sialan, tapi seimbang. Lain cerita kalau pria melawan wanita. Itu baru namanya sialan karena artinya kalian tidak mempunyai urat malu menyerang kaum yang lemah. Kenapa? Tidak terima?"
Gracia langsung berlari ke arah sang kakak kemudian bersembunyi di belakang tubuhnya. Dia sedikit menelan ludah ketika menyadari kalau kakaknya seperti tidak suka saat dia berada dalam jarak yang terlalu dekat.
Hmm Rose, sepertinya memang hanya kau saja yang bisa mencairkan kebekuan di diri Kak Adam. Meskipun aku sangat menyayanginya, tapi dia masih tetap menjaga jarak denganku. Kira-kira apa ya yang bisa aku lakukan agar hubungan kami bisa sedikit mencair?
"Banyak bicara kau. Habisi ketiga cecunguk ini, jangan beri ampun!"
__ADS_1
"Baik bos!"
Dalam sekejap, pinggiran jalan yang harusnya menjadi tempat berlalu lalang kendaraan berubah menjadi arena tinju dimana ada satu orang pria tengah bertarung melawan tiga orang pria berbadan kekar. Sementara itu di dekat mobil ada dua orang yang hanya berdiri diam menyaksikan pertarungan tersebut.
"Lain kali kalau kau mengalami kejadian seperti ini lagi jangan berani-berani untuk keluar dari dalam mobil sendirian. Kau sebaiknya menghubungi seseorang untuk meminta bantuan, bukan malah datang mengantarkan nyawa. Dunia ini sangat kejam, Gracia. Jadilah orang yang cerdas agar kau tidak mati sia-sia!" ucap Adam memberi sedikit nasehat pada adiknya.
"Baik, Kak. Tadi itu aku hanya ingin meminta pertanggungjawaban dari mereka karena mobilku rusak parah. Aku sungguh tidak menyangka kalau mereka akan menyakitiku. Tolong maafkan kecerobohanku, Kak. Aku janji lain kali tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," sahut Gracia sambil tersenyum lega. Secara tidak langsung kakaknya baru saja memberikan perhatian.
Adam mengangguk. Setelah itu dia mengajak Gracia untuk masuk ke dalam mobilnya begitu melihat Cesar yang telah berhasil melumpuhkan ketiga preman gadungan yang telah menyerang adiknya.
"Mobilmu biar nanti orang bengkel saja yang urus. Sekarang kau katakan ingin pulang kemana," ucap Adam setelah Cesar masuk ke dalam mobil.
"Aku ... aku sebenarnya ingin bertemu dengan Rose karena ada sesuatu yang ....
"Dia sekarang kakak iparmu. Tidak sopan jika hanya memanggil nama!" sela Adam dengan tegas menegur cara Gracia memanggil istrinya.
"Baiklah, aku ralat kembali ucapanku," ucap Gracia dengan cepat. "Aku sebenarnya ingin bertemu dengan kakak ipar, Kak. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya."
"Kita ke apartemen, Ces!" ucap Adam. "Rose sedang ada di luar. Kau bisa menunggu kepulangannya di apartemen kami."
Gracia mengangguk.
"Terima kasih banyak, Kak."
"Hm."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1