Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Sikap Yang Berbeda


__ADS_3

"Kau yakin ingin tetap pergi ke markas?" tanya Adam ragu. Dia menatap lekat wajah cantik sang istri yang sedang merapihkan dasi di lehernya.


Rose mengangguk. Tubuhnya sebenarnya masih terasa sedikit lemas, tapi Rose sudah tidak bisa menahan diri untuk segera mengunjungi sahabatnya. Dia ingin memastikan sendiri kalau Mona sudah baik-baik saja.


"Biar aku saja yang mengantarmu ke sana ya? Aku khawatir, Hon."


"Aku baik-baik saja, Dam. Kau tidak perlu cemas. Lagipula kan tadi Cesar bilang kalau hari ini kau ada meeting penting di perusahaan. Sekalian mengurus segala sesuatunya sebelum aku dan Mona mulai masuk bekerja," sahut Rose seraya tersenyum tipis.


Adam menghela nafas panjang. Rasanya sungguh berat merelakan istrinya di jemput oleh pria lain meski itu adalah anggota Queen Ma. Adam ingin setiap saatnya Rose selalu bergantung padanya. Dia sangat sangat berharap kalau istrinya yang cantik ini merengek manja seperti semalam.


"Kau melamunkan apa?" tanya Rose ketika mendapati tatapan aneh di mata sang suami. Sedetik kemudian Rose merebahkan kepalanya di dada Adam, dia menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh suaminya ini.


"Hon, sebelum kau bergabung di CL Group, apa tidak sebaiknya di umumkan saja pernikahan kita? Aku takut para karyawanku akan melirikmu," jawab Adam. Dia sudah tidak tahan terus berpura-pura belum menikah. Terlebih lagi setelah apa yang dilakukan oleh Gheana. Semakin membuat Adam ingin segera mengumumkan pada dunia kalau Rose adalah miliknya.


"Jadi kau takut hanya karena hal itu?" ledek Rose. Lucu juga suaminya ini. Membuatnya menjadi tidak tahan untuk tidak mengelus abs yang ada di perut Adam.


"Hei, aku ini sedang dalam mode serius. Jangan menggodaku dulu, Hon," ucap Adam sembari menahan tangan istrinya yang sedang merayap di atas perutnya.


Sejak semalam Adam terus saja melihat keanehan di diri istrinya ini. Mulai dari suara manja yang mengajaknya untuk bercinta, kemudian tidur harus dengan Adam yang memeluknya dengan erat. Dan sekarang, tiba-tiba saja Rose menempel seperti permen karet. Sangat jauh berbeda dari kebiasaannya yang selalu mandiri dan juga tidak manja. Sebenarnya ini adalah kemenangan untuk Adam, akan tetapi dia hanya merasa sedikit aneh melihat sikapnya yang benar-benar sangat berbeda.


"Aku hanya ingin menyentuh perutmu, Dam. Kenapa di larang?"


Mata Rose berkaca-kaca saat keinginannya di cegah oleh Adam. Dadanya terasa sangat sesak, seolah ada batu besar yang menghantam di bagian sana.


"Astaga Honey, kenapa kau menangis, hm. Aku-aku tidak bermaksud melarangmu. Maaf ya," sahut Adam syok melihat mata istrinya sudah di genangi air mata. Sungguh, keadaan ini semakin membuat Adam merasa aneh.


Ya Tuhan, istriku jadi seperti ini apa karena batinnya terguncang setelah kejadian kemarin? Ck, kenapa masalahnya masih terus berbuntut sih. Harusnya Rose bahagia karena Agler dan para anggota sekte itu sudah berhasil di lumpuhkan. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?


"Sudah waktunya untuk kau berangkat ke perusahaan, Dam," ucap Rose sembari menyeka air matanya. Hatinya terasa begitu sedih.


"Honey," ....


"Sudah sana. Cesar sudah menunggumu di luar."

__ADS_1


"Kau marah?"


Adam menangkup kedua pipinya Rose. Dia lalu menyatukan kening mereka. "Maaf."


Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Rose begitu Adam meminta maaf. Dia bingung, tidak tahu kenapa suasana hatinya jadi mudah berubah. Padahal yang terjadi barusan hanyalah permasalahan sepele. Bisa-bisanya Rose merasa sedih dan merajuk seperti ini. Sangat kekanakan.


Sadar kalau sang istri tersinggung dengan perkataannya, Adam dengan lembut menarik tangan Rose kemudian menempelkan di perutnya. Matanya yang tajam terus mengamati perubahan emosi di wajahnya Rose, merasa senang karena sekarang istrinya ini sudah mau tersenyum meski terlihat samar.


Sebenarnya ada apa dengan dirimu, Hon. Hari ini kau aneh sekali.


"Senang, hm?"


"Senang," jawab Rose jujur. Dia kemudian mendongak. "Apa Papa dan Mamamu akan menerimaku jika pernikahan kita di umumkan?"


"Mereka tidak punya hak untuk menolakmu karena kau adalah istri sahku. Kalaupun mereka berani menolak, maka aku tidak akan peduli. Ini adalah hidupku, dan aku tidak mengizinkan siapapun untuk mengacaukannya. Kau milikku, Rosalinda Osmond adalah istrinya Adamar. Yang artinya kau adalah Nyonya Clarence. Paham?" jawab Adam sembari merapihkan anak rambut yang menutupi kening istrinya.


"Adam," ....


"Hmm?"


"Rahasia apa yang masih kau sembunyikan dariku?" tanya Rose dengan nada suara yang sangat datar. "Sebenarnya aku bisa saja mencari tahu semuanya. Akan tetapi aku rasa itu akan sedikit tidak sopan mengingat kau adalah suamiku. Jadi bisakah kau memberitahuku sekarang?"


Rose tahu betul kalau suaminya ini menyimpan satu rahasia yang cukup kelam. Dan dia ingin mendengarnya secara langsung karena tak ingin ada salah paham. Tapi sepertinya Rose tidak akan semudah itu mendapat apa yang dia inginkan karena Adam terlihat seperti enggan untuk bicara.


"Honey, apapun rahasianya aku ingin kau sendiri yang datang ke singgasanaku. Aku ingin kau memahami siapa aku sebenarnya. Tidak apa-apa kan?" jawab Adam sudah final dengan keputusannya untuk tetap menutupi rahasia itu.


"Emmm, kau cukup keras kepala juga ya, Dam. Ya sudah, jangan bahas masalah ini lagi. Aku tidak mau memaksamu untuk bicara," sahut Rose mengalah. "Karena hari sudah semakin siang, sebaiknya kau segera turun ke bawah. Cesar pasti sudah mengomel karena terlalu lama menunggu."


"Biar saja, aku tidak peduli," ucap Adam.


Dan benar saja. Begitu Adam selesai bicara, pintu apartemen langsung digedor dengan sangat kuat dari arah luar. Cesar, pria itu terdengar sangat frustasi ketika memaki Adam yang tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.


"Yaaakkk Adam, Rose. Tidak bisakah kalian menunda waktu untuk tidak bermesraan dulu? Ini sudah siang, dan di perusahaan semua orang sudah lelah menunggu. Tolong jangan membuatku kesal ya!"

__ADS_1


"Kau benar-benar lalat pengganggu, Ces!" marah Adam setelah membuka pintu apartemen.


"Lalat pengganggu kepalamu. Ayo cepat berangkat, ponselku hampir meledek karena terus di hubungi oleh mereka. Ayo!" sahut Cesar kemudian hendak menarik tangan Adam.


"Biarkan aku memberi ciuman perpisahan pada istriku dulu, Ces. Kau ini kenapa buru-buru sekali sih. Aku adalah bos di CL Group, siapa yang berani marah jika kita datang terlambat."


Kalau saja tidak ingat jika pria ini adalah atasannya, Cesar pasti sudah menendang bokongnya Adam dengan sangat kuat. Dia kemudian mencebikkan bibir ketika Adam dengan mesranya mencium kening dan pipinya Rose.


"Minta Resan untuk berhati-hati saat mengendarai mobil. Bilang padanya kalau aku akan sangat marah jika kau sampai kenapa-napa," ucap Adam sambil mengelus pipinya Rose yang lembut. Dia kemudian tersenyum.


"Dia tidak akan mungkin membuatku celaka, Dam. Karena mereka sangat menyayangiku," sahut Rose. Mendadak Rose seperti ingin ikut pergi ke perusahaan saat melihat senyum manis yang tersungging di bibir Adam. Sungguh, pagi ini hormonnya sedang berada di level yang sangat tinggi. Rose benar-benar sangat genit sekarang.


"Hmmm,"


Adam cemburu.


"Haiisshhhh, sialan kalian berdua. Sudahlah, lebih baik aku menunggu di bawah saja daripada harus menjadi makhluk yang tak terlihat di sini. Benar-benar sangat sial pagi ini," gerutu Cesar sambil melangkah pergi meninggalkan Adam yang sedang bermesraan dengan Rose.


"Nah, pergilah. Cesar sudah merajuk."


Cupp


"I love you," bisik Adam sesaat sebelum pergi menyusul Cesar.


I love you too, Adam.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2