
"Dudu ... dududu," ....
Dari dalam sebuah kamar, terdengar suara seorang wanita yang tengah bersenandung. Dia adalah Vanya, nyonya di keluarga Clarence. Setelah puas berendam dengan air hangat, Vanya tak langsung pergi tidur. Dia berdiri di depan cermin memandangi wajah dan tubuhnya yang begitu terawat. Meski telah menghabiskan malam yang sangat panjang bersama dengan daun muda peliharaannya, tak terlihat sedikitpun raut kelelahan di wajahnya. Yang ada malah Vanya terlihat semakin muda karena terus menerima kehangatan yang tidak dia dapatkan lagi dari Zidane.
"Hmmm, Tuhan benar-benar baik padaku. Dia menganugerahkan fisik yang sangat sempurna sehingga aku bisa menjadi ratu seperti sekarang. Tidak apa di anggurkan oleh suami sendiri, yang penting aku masih menerima suntikan kenikmatan dari pria muda di luaran sana. Sungguh sangat bahagia sekali hidupmu, Vanya. Hahaha."
Tak puas mengagumi tubuhnya yang masih terbalut kimono mandi, Vanya akhirnya menelanjangi diri di depan cermin. Dia tak henti-hentinya berdecak, sangat puas dengan bentuk tubuhnya yang sekarang.
"Benar-benar sangat mengagumkan. Pantas saja ada banyak daun muda yang tidak rela berpisah denganku. Mereka pasti sangat ketagihan setelah menikmati malam denganku. Hmmm," ucap Vanya sembari mengelus bekas keunguan yang tertinggal di dadanya.
Saat sedang mengagumi kecantikan diri, tiba-tiba saja Vanya teringat pada anak dan juga suaminya. Dia tersentak. Ini sudah tidak sewajar biasanya. Jika semua pelayan dan penjaga tidak ada yang tinggal di rumah ini, lalu kemana perginya Gracia dan Zidane? Memikirkan hal tersebut membuat benak Vanya di dera ketakutan dan kecemasan yang cukup besar. Suaminya adalah jenis orang yang sangat anti kalau rumah mereka di datangi oleh orang asing. Terlebih lagi itu adalah para tukang yang Vanya tidak tahu kenapa bisa membongkar lokasi yang menjadi tempat favorit suaminya. Dan Gracia, putrinya itu tidak bisa jika tidak ada pelayan yang mengurusnya. Ini aneh, ada yang tidak beres di rumah ini.
Apa mungkin Zidane dan Gracia sedang berada dalam bahaya sekarang? Rasanya benar-benar sangat ganjal. Lebih baik aku hubungi mereka saja untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Aku jadi takut.
Saat Vanya mulai panik saat akan menghubungi nomor anak dan suaminya, dari luar kamar ada dua orang pria yang tengah berdiri di dekat jendela. Salah satu dari pria tersebut adalah tukang yang tadi berbicara dengan Vanya di bawah. Mereka datang untuk memastikan apakah Vanya terlibat dengan suatu organisasi atau tidak.
"Sial! Aku salah membawa obat!" umpat salah satu pria.
"Dasar bodoh. Memangnya tidak kau baca dulu sebelum di ambil? Kalau begini caranya kita hanya akan membuang-buang waktu saja. Nona Rose bisa murka nanti."
Kedua pria tersebut berjengit kaget saat pundak mereka tiba-tiba di tepuk oleh seseorang. Segera mereka berbalik sambil mengacungkan pisau bergerigi yang mereka sembunyikan di dalam sepatu.
"Ssssttt, ini aku, Lorus!" bisik Lorus pelan. Dia kemudian membuka topeng yang menutupi wajahnya. "Kalian sedang mengintai wanita itu?"
"Untuk jaga-jaga saja, memastikan apakah dia terlibat dengan organisasi atau tidak. Wanita itu terlanjur melihat wajahku tadi, kami khawatir dia akan membocorkannya pada musuh."
Lorus menghela nafas. Dia kemudian melihat ke arah kamar di mana ibunya Gracia berada.
"Aku membawa obat bius di dalam saku. Ayo!"
__ADS_1
Bersama dengan kedua rekannya, Lorus berputar arah agar bisa masuk melalui pintu kamar Nyonya Vanya. Tak lupa juga dia memakai topeng untuk menutupi identitasnya. Setelah mereka sampai di depan kamar, Lorus meminta salah satu rekan mereka untuk mengetuk pintu. Sementara dia sendiri menyiapkan obat bius pada sebuah sapu tangan yang akan dia tutupkan ke wajah ibu tirinya Tuan Adam.
Tok tok tok
"Siapa?"
Vanya yang saat itu tengah menghubungi nomor Zidane sedikit kaget saat pintu kamarnya di ketuk. Untuk sesaat dia hanya diam melihat ke arah pintu, ada semacam perasaan aneh yang mana memintanya agar tidak membukanya.
"Zidane, apa itu kau?" teriak Vanya.
Tak ada sahutan.
"Gracia?"
Masih tak ada sahutan. Vanya mengeratkan tangannya yang masih memegang ponsel. Setelah itu dia memakai kimono mandinya tanpa mengalihkan tatapan dari arah pintu. Meski suhu udara di dalam kamarnya sudah cukup dingin, hal itu tak membuat keringat berhenti menetes di kening Vanya. Ya, dia sedang sangat ketakutan sekarang. Bagaimana tidak! Anak dan suaminya sedang tidak ada di rumah, mereka juga tidak menjawab panggilannya. Di tambah lagi di rumah ini ada banyak pria asing yang sedang bekerja di lantai bawah. Wajar kan kalau Vanya merasa parno sendiri saat ada seseorang yang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya? Iya mending jika orang tersebut mau menyebutkan siapa namanya. Nah ini, di tanya beberapa kali pun tetap tidak mau menjawab. Tidak mungkin setan kan yang tadi mengetuk pintu?
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Nomor siapa yang harus aku hubungi? Aku butuh bantuan, yang di luar kamar pasti orang-orang jahat," bisik Vanya dengan bibir gemetar.
Vanya hampir mati jantungan saat pintu kamarnya di dobrak dengan sangat kuat. Dia kemudian jatuh terduduk di lantai begitu melihat ada tiga orang asing memaksa masuk dengan salah satu dari mereka memakai topeng.
"K-kau? K-kalian mau a-apa?" tanya Vanya sembari menunjuk ke arah tukang yang tadi bicara dengannya di lantai bawah.
Tanpa babibu lagi, Lorus langsung menutup mulut dan hidung Vanya menggunakan sapu tangan yang sudah dia lumuri obat bius. Hanya dalam hitungan detik, wanita ini sudah tidak sadarkan diri. Lorus kemudian meludah saat tidak sengaja menyingkap kimono mandi yang di pakai oleh Nyonya Vanya hingga memperlihatkan buah dadanya yang sangat bulat. Iya, bulat. Bulat karena tertanam silikon di dalamnya.
"Periksa ponselnya. Sadap!" perintah Lorus.
Tanpa banyak membantah, kedua rekannya langsung melakukan apa yang di suruh oleh Lorus. Dengan sangat cekatan mereka membobol sandi yang mengunci ponsel tersebut. Sedangkan Lorus, pria dingin tersebut berjalan ke arah satu lemari yang entah mengapa begitu menarik perhatiannya. Setelah sampai, Lorus langsung menendang hingga terbuka.
"K*parat!"
__ADS_1
"Ada apa?"
"Aku pikir lemari ini berisi hartanya Zidane. Ternyata malah berisi pakaian d*lam milik Zalina. Dasar sialan!" umpat Lorus dengan wajah merah padam. Dia jijik sekali rasanya.
Meski sangat ingin tertawa, kedua pria tersebut berusaha menahannya. Mereka tak mau memantik kemarahan pria berbahaya ini. Alhasil, mereka memilih untuk menyibukkan diri dengan terus memeriksa seluruh isi ponsel milik wanita yang sedang terkapar di lantai.
"Wanita ini bersih, Lorus. Dia tidak terlibat dengan oraganisasi manapun!"
"Apa kalian sudah memastikannya dengan benar? Jangan sampai kecolongan, nyawa kita taruhannya!"
"Kau bisa memastikan sendiri kalau tidak percaya!"
Dengan sigap Lorus menangkap ponsel yang di lemparkan ke arahnya. Dia sangat serius saat memeriksa apakah Nyonya Vanya benar-benar bersih atau tidak.
"Hmmm, kau beruntung, Nyonya Vanya. Aku pikir malam ini kau akan menemani Zidane di markas. Ternyata kau hanyalah sampah yang tidak berguna. Cihhh!"
"Lorus, sekarang apa yang harus kita lakukan padanya? Kalau tidak di bunuh, besok pagi dia pasti akan merusuh."
"Nona tidak memberikan perintah untuk menghabisinya. Karena pekerjaan kalian masih banyak, maka aku akan membuatnya tertidur sampai pekerjaan kalian di bawah selesai. Dan mengenai ingatan tentang kejadian tadi, aku yang akan mengurus. Kalian tidak perlu khawatir!" jawab Lorus kemudian melangkah keluar dari dalam kamar di susul oleh kedua rekannya setelah mereka memindahkan Nyonya Vanya ke atas ranjang.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...BOM KOMENTAR GENGSS...
...๐นJangan lupa vote, like and comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...