Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Fakta


__ADS_3

Adam dan Cesar memutuskan untuk mengunjungi ibunya Rolland yang masih di rawat di rumah sakit. Mereka merasa tak enak hati sebab kemarin malam Rose melakukan penolakan keras terhadap keluarga ini. Bahkan saat berada di lokasi proyek, Rolland sama sekali tak mau bicara. Wajahnya terlihat sangat murung dan juga sedih.


"Dam, kenapa ya Rose bisa sama sekali tidak mengenali keluarganya? Padahal saat dia hilang kan umurnya sudah tujuh tahun. Harusnya masih ada sedikit serpihan kenangan bersama Rolland dan orangtuanya dulu. Rasanya ini aneh sekali," ujar Cesar sembari melangkah masuk ke dalam lift.


"Itu juga yang membuatku bingung, Ces. Sudah bertatap muka pun Rose masih tak mengenali keluarganya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya setelah dia menghilang dalam kecelakaan itu," sahut Adam.


"Jangan-jangan Rose mengalami amnesia akut, Dam. Makanya dia sama sekali tidak bisa mengenali keluarga kandungnya. Atau jangan-jangan ada seseorang yang memiliki niat jahat dengan sengaja merusak memori masalalunya Rose. Itu bisa saja terjadi mengingat kalau Rose berasal dari keluarga yang banyak membuat orang merasa iri."


Adam menghela nafas. Ini sulit sekali untuk di pecahkan. Dia kemudian keluar dari dalam lift saat pintunya terbuka. Sambil merapihkan jasnya, Adam dan Cesar segera berjalan menuju ruangan tempat ibu mertuanya berada.


"Maaf Tuan, bisa tolong tunjukkan kartu identitas kalian terlebih dahulu?" tanya salah seorang penjaga yang berdiri di depan pintu.


Adam dan Cesar pun segera memberikan apa yang diminta oleh penjaga. Pengamanan di lorong ini sangat ketat, wajarlah mengingat kalau yang ada di bagian ini adalah pemilik rumah sakit.


"Silahkan masuk, Tuan Adam, Tuan Cesar."


"Terima kasih,"


Tepat ketika Adam hendak memutar knop pintu, dari dalam ruangan keluar Rolland yang muncul dengan wajah sembab. Adam hampir terjerangkang ke belakang jika saja Cesar tidak sigap menahan tubuhnya karena Rolland yang tiba-tiba menghambur memeluknya.


"Astaga Rolland, kau kenapa?" pekik Adam kaget.


"Rose, Dam. Rose. D-dia adalah adikku, dia kembaranku," sahut Rolland sambil menahan tangis.


Adam terdiam. Dia lalu menepuk bahu Rolland, ikut lega karena ternyata memang benar kalau istrinya adalah kembaran Rolland yang hilang tujuh belas tahun lalu.


"Apa kau melakukan tes DNA untuk mendapat kepastian ini?"


Sebelum menjawab, Rolland terlebih dahulu melepask pelukannya. Dia menyeka airmata kemudian mengangguk.


"Masuklah ke dalam. Nanti kau akan tahu semuanya,"


Cesar dan Adam saling melirik sekilas. Mereka berdua lalu mengikuti Rolland yang sudah masuk lebih dulu. Sesampainya di dalam ruangan, Adam dan Cesar segera menyapa semua orang yang ada di sana. Tak lupa Adam meletakkan buah tangan yang dia bawa ke atas meja sebelum akhirnya menghampiri sang ibu mertua yang sedang terisak-isak di atas ranjang.


"Selamat ya Bi, ternyata Rose adalah benar saudara kembarnya Rolland. Aku turut bahagia mendengarnya,"


Grizelle menyeka airmatanya. Dia lalu meraih tangan Adam, pria tampan yang kini berstatus sebagai suami dari putrinya.

__ADS_1


"Panggil Mommy. Kau adalah suaminya Rose, jadi jangan memanggilku Bibi."


Adam tersenyum kemudian mengangguk.


"Dam, boleh Daddy bertanya?" tanya Drax sembari menyeka genangan air di matanya.


"Boleh Paman. Em maksudku... Daddy," jawab Adam masih merasa canggung.


"Apa kau tahu dengan siapa Rose tinggal selama ini? Dari hasil tes DNA, ditemukan zat yang aneh di dalam tubuhnya. Sepertinya ini yang membuat Rose tidak bisa mengenali kami semua. Dia memberi penolakan karena tidak ada satupun ingatan tentang kami yang masih tersisa di dalam memori otaknya. Orang yang menyuntikkan zat itu ke dalam tubuhnya Rose pasti memiliki masalah tersendiri dengan salah satu di antara kami. Dan dia sengaja menargetkan Rose sebagai alat untuk membuat kami lemah tepat sewaktu Rose hilang dalam kecelakaan malam itu. Daddy khawatir orang itu masih mengendalikan Rose sampai saat ini!" ucap Drax mengungkap fakta akan putrinya.


Rahang Adam mengetat. Giginya saling menggeretak begitu dia mendengar kebenaran tentang istrinya. Sungguh, Adam benar-benar tidak menyangka kalau selama ini ada bahaya besar yang sedang mengancam keselamatan Rose. Fakta ini benar-benar sangat mengejutkan.


"Yang aku tahu selama ini Rose tinggal di satu pedesaan bersama kakeknya. Tapi aku sendiri tidak tahu dimana desa itu dan siapa nama kakeknya. Rose begitu pintar menutupi identitasnya, data-datanya di kunci dengan sandi yang sangat rumit!"


"Itu tidak mengejutkan, Dam. Karena Rolland sendiri tidak mampu menyaingi kecerdasan Rose dalam mengutak-atik komputer. Dia juaranya," timpal Liona bangga.


Adam menoleh.


"Apa Nyonya yang menemukan fakta ini?"


"Nenek!"'tegur Liona saat Adam salah memanggil.


Cesar yang selama ini sibuk mencari tahu tentang Rose pun membuka suara. Dia sebenarnya sudah mendapat informasi tentang keberadaan kakeknya Rose, hanya saja dia belum memberitahu Adam karena informasi tersebut masih belum terlalu jelas.


"Em maaf semuanya, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua!" ucap Cesar dengan raut wajah yang sangat serius. "Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu Dam karena telah menyimpan informasi ini seorang diri. Kakeknya Rose bernama Frans, dia tinggal di salah satu desa yang sangat terpencil dimana hanya ada beberapa kepala keluarga saja yang menetap di sana. Entah ini benar atau tidak, Kakek Frans kabarnya tunawicara. Dia bukan cacat dari lahir, melainkan ada seseorang yang dengan sengaja memotong lidahnya. Awalnya aku tidak percaya, kedengarannya sedikit mustahil jika memang benar ada orang yang bersedia memilih hidup sebagai orang cacat. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Paman Drax, sepertinya masalah ini saling berhubungan. Sangat masuk akal jika memang benar ada orang yang sengaja membuat Rose kehilangan ingatannya. Karena kejadian ini terjadi di saat Rose berusia tujuh tahun, besar kemungkinan kalau orang ini adalah musuh yang ingin membalas dendam pada salah satu dari kalian. Dan satu-satunya orang yang bisa menguak kebenaran ini hanya Kakek Frans. Dialah saksi kunci dari apa yang terjadi pada Rose setelah kecelakaan waktu itu!"


Mata semua orang terbelalak lebar begitu mendengar perkataan Cesar. Bahkan Adam yang saat itu sedang berpegangan tangan dengan mertuanya langsung menghadiahi Cesar dengan dua bogem mentah di perutnya.


Buugghhh, bughhhh


"Brengsek! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau menemukan informasi sepenting ini hah!"


"Aku kan sudah bilang kalau kabar itu mustahil di mataku. Lagipula saat itu kita masih belum tahu kalau Rolland adalah saudara kembarnya Rose, Dam. Mau bagaimana pun aku memikirkannya tetap saja tidak masuk akal. Coba saja kau pikir, manusia mana yang bersedia untuk di potong lidahnya. Tidak ada kan? Tapi setelah aku mendengar penjelasan ayah mertuamu, aku langsung menemukan asalan kenapa Kakek Frans memilih untuk menjadi orang cacat. Orang yang saat itu mengancamnya pasti sengaja memotong lidah Kakek Frans supaya dia tidak bisa bicara dan memberitahu semua orang kalau Rose ada padanya. Jadi kau jangan salah paham padaku!" sahut Cesar sambil meringis menahan sakit.


"Masuk akal!" sahut Liona.


"Hansen, segera selidiki siapa musuh yang pernah bermasalah dengan keluarga kita. Aku jadi penasaran bajingan mana yang sudah berani menumbalkan cucu kesayanganku sampai seperti ini!" geram Greg penuh emosi.

__ADS_1


"Baik, Tuan Besar!" sahut Hansen kemudian pamit undur diri dari sana.


Rolland datang mendekat ke arah ibunya lalu memeluknya dengan sangat erat. Sungguh, tidak ada yang menyangka kalau sang mawar akan mengalami nasib setragis ini.


"Jangan khawatir, Mom. Aku yakin Rose pasti bisa melewati semua ini," ucap Rolland menguatkan sang ibu.


Grizelle mengangguk lemas. Orangtua mana yang tidak syok jika mendengar kabar yang sangat mengerikan tentang bahaya yang mengikuti anak mereka. Sama halnya dengan Grizelle, dia sungguh mengutuk orang yang telah membuatnya terpisah dengan Rosalinda. Pantaslah waktu itu kakak iparnya memberitahu kalau putrinya sedang terjebak di suatu tempat yang sangat gelap. Rupanya ini jawaban dari teka-teki mimpi tersebut.


"Land, kapan proyek ini bisa aku tinggalkan. Di sana Rose hanya sendirian, aku khawatir orang itu melakukan sesuatu yang jahat kepadanya," tanya Adam gelisah.


"Kau pulang saja dulu, Dam. Nyawa Rose jauh lebih penting dari apapun. Urusan proyek di sini biar aku dan Cesar saja yang menyelesaikannya. Pulanglah!" jawab Rolland.


Adam mengangguk. Dia lalu berbalik menatap ke arah Cesar yang masih terlihat kesakitan.


"Maaf sudah memukulmu."


Cesar mengangguk. Dia lalu menepuk bahu sahabatnya yang sedang risau.


"Pergilah. Rose sedang membutuhkanmu saat ini."


"Mom, Dad, Nenek, Kakek, semuanya. Aku pamit!" ucap Adam terburu-buru.


Semua orang menganggukkan kepala. Sebelum Adam pergi, Liona terlebih dahulu menggenggam tangannya dengan sangat erat.


"Jaga Rose kami dengan baik, Dam. Kami semua mengandalkanmu sekarang."


"Pasti Nek, aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik. Jangan khawatir."


"Hati-hati!" ucap Liona memperingatkan cucu menantunya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2