
Sudah tiga jam Mona menunggu di kostnya Rose seorang diri. Tapi sahabatnya itu tak kunjung muncul. Untuk menghilangkan kebosanan, Mona membuka-buka isi lemari pakaian milik sahabatnya itu. Dia lalu menemukan sebuah kemeja berwarna putih milik laki-laki. Seketika Mona terbakar api cemburu.
"Adam, kenapa kau tega merebut Rose dariku. Memangnya di luaran sana sudah tidak ada wanita lain apa? Aku sangat membencimu, Dam. Aku bersumpah suatu saat nanti aku pasti akan membuatmu kau terpisah dari Rose. Kau tidak pantas untuknya!" geram Mona yang tiba-tiba saja di kuasai emosi.
Entah hanya perasaannya atau bagaimana, sejak matahari mulai meredup suasana hati Mona berubah menjadi tidak enak. Dia juga terus mencium aroma yang sama seperti yang tempo hari ada di kamarnya. Sesekali Mona juga seperti mendengar seseorang memanggilnya. Suara itu terdengar seperti sebuah bisikan yang meminta Mona untuk mengikuti arah yang dia katakan. Namun karena Mona tak tahu itu suara apa, dia memutuskan untuk sedikit membuka pintu kamar agar aura jahat yang ada di sini bisa keluar. Dia masih ingat dengan pesan Rose yang memberitahunya agar tidak mudah terbujuk ketika ada yang memintanya untuk pergi ke suatu tempat.
"Hmmm Rose, aroma tubuhmu benar-benar sangat wangi. Aku suka," gumam Mona sambil menciumi pakaian Rose yang tergantung di dekat lemari.
Bagai seorang psikopat, Mona mengelap sekujur tubuhnya dengan pakaian milik Rose. Atau bisa di katakan kalau Mona tengah bergairah hanya dengan membayangkan jika yang sedang dia usapkan ke tubuhnya adalah tangan Rose. Mona terbakar birahi ilusi yang dia ciptakan sendiri.
"Rose, aku mencintaimu. Apapun yang terjadi aku akan merebutmu dari Adam. Jika perlu aku juga akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku sangat mencintaimu, Rose. Aku ingin hidup berdua denganmu, sayang!"
"APA-APAAN INI!!"
Tubuh Mona langsung menegang kaku saat dia mendengar suara teriakan dari arah pintu. Baju milik Rose yang masih berada di tangannya perlahan-lahan dia lepaskan hingga jatuh teronggok di lantai.
"Mona, aku tidak menyangka ternyata hatimu begitu busuk ingin merusak rumah tangga adikku. Kau sudah gila ya!" teriak Rolland murka.
Dengan di kuasai amarah yang begitu besar, Rolland melangkah cepat menghampiri Mona kemudian menarik tangannya dengan kuat. Sungguh, Rolland benar-benar tidak menyangka kalau satu-satunya teman yang di miliki adiknya ternyata menyimpan perasaan terlarang dan bahkan ingin merusak rumah tangganya. Ini benar-benar gila.
"Kak sabar, Kak!" bujuk Brenda yang juga sangat syok setelah mendengar dan melihat prilaku menyimpang Mona.
"Diam di sana, Brenda. Jangan mendekat!"
"Tapi Kak, kau sedang kerasukan setan. Aku harus mendampingi dan menyadarkanmu!" sahut Brenda dengan suara bergetar. Ini pertama kalinya dia merasa takut akan kemarahan seorang Rollando Osmond.
Mata Rolland memerah bagaikan iblis ketika dia menatap Mona yang hanya diam tanpa berkata apa-apa. Ini sangat menjijikkan. Bagaimana bisa adiknya memiliki teman menyimpang begini.
__ADS_1
"Jangan harap kau bisa menyentuh kebahagiaan adikku, Mona. Sekalipun kau adalah cucu dari orang kepercayaan kakekku, aku tidak akan segan untuk menghabisimu kalau kau berani macam-macam pada adikku!" ancam Rolland penuh emosi. "Apa kau tahu, awalnya aku sempat merasa respect padamu. Tapi setelah mendengar pengakuanmu yang sangat menjijikkan itu, di mataku sekarang kau hanyalah sampah yang sangat kotor. Kau sampah, Mona!"
"A-a-aku ... aku," ....
Mona tergagap. Suaranya seperti terhenti di tenggorokan saat saudara kembarnya Rose menyebut dirinya sebagai sampah. Hatinya hancur, sangat hancur. Cintanya tulus pada Rose, lalu apa yang salah? Kenapa dia harus di anggap sebagai sampah? Bukankah setiap orang itu memiliki hak untuk mencintai siapapun? Kenapa dia di hina seperti ini? Apa salahnya?
"Enyah kau dari rumah adikku, Mona. Dan ingat, jangan pernah kembali lagi karena aku tidak akan membiarkan sampah menjijikkan sepertimu berada dekat di sekeliling adikku. Cepat pergi sebelum aku membunuhmu!"
Plaaakkkk
Pandangan Mona menjadi berkunang-kunang setelah Rolland menampar pipinya. Airmatanya menetes, dia sangat sedih sekarang. Sangat menyakitkan, tapi tidak berdarah.
"Aku-aku tulus mencintai Rose. Ak-aku sangat mencintainya," ucap Mona lirih.
"Jangan katakan hal menjijikkan itu lagi di hadapanku, Mona. Pergi, pergi sekarang juga!" teriak Rolland menggila kemudian menyeret Mona dengan sangat kasar.
"Kalau kau berani menolongnya, jangan pernah kembali lagi padaku, Brenda. Aku tidak sudi bersentuhan dengan tangan bekas memegang sampah menjijikkan itu. Kau dengar aku tidak, hah!" gertak Rolland dengan mata berkilat marah.
"Tapi Kak, kasihan Mona!" sahut Brenda sambil menahan tangis.
"Brenda, kau tadi juga ikut mendengar kan saat sampah ini berniat membunuh suami dari calon adik iparmu? Kau juga dengar sendiri kan kalau dia menyukai Rose? Jadi bagaimana bisa kau masih merasa kasihan padanya hah! Cepat menjauh atau ...
Takut akan ancaman Rolland, Brenda akhirnya memutuskan untuk tidak membantu Mona. Dia terisak sedih melihat betapa tidak berdayanya gadis ini.
"Hiksss ... benar kalau aku mencintai Rose. Kau juga benar kalau tadi aku berniat membunuh Adam. Tapi aku bukan sampah, aku tidak serendah itu Rolland. Aku hanya mencintainya saja, aku tidak bisa jika tidak ada dia di sisiku. Kenapa kau begitu jahat padaku? Kau sangat kejam, Rolland. Kau tidak sebaik Rose yang mau menjadi temanku di saat semua orang tidak ada yang mau mendekat. Aku membencimu. Dan aku pastikan kau akan sangat menyesal karena sudah berani membuatku jadi seperti ini. Kau akan menyesal Rolland!"
Setelah berkata seperti itu Mona bangkit berdiri kemudian berlari pergi dari sana. Dia yang sedang putus asa tanpa sadar mengikuti suara bisikan yang terus berdengung di telinganya. Mona malu, terluka, sedih, juga kecewa. Dia tidak menyangka kalau perasaannya yang tulus akan di anggap layaknya kotoran oleh saudara kembarnya Rose. Hati Mona terkoyak.
__ADS_1
Rolland yang sebelumnya tidak mengetahui fakta kalau Mona menyukai Rose langsung diam mematung ketika membaca pesan masuk yang di kirim oleh sang nenek. Tanpa Rolland sadari dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Nenek: Land, tolong kau jangan biarkan Mona keluar dari tempat kosnya Rose. Anak buah Agler sudah berkumpul untuk menjemputnya, kau jangan sampai lengah. Sekarang Nenek dan yang lainnya sedang dalam perjalanan ke sana. Rose dan Adam juga sedang dalam perjalanan. Tolong jaga Mona dengan baik. Dan satu lagi, apapun yang dilakukan Mona biarkan saja. Otaknya sudah di cuci untuk mencintai sesama jenis demi agar kesuciannya tidak terenggut sebelum waktunya tiba untuk di korbankan. Kita semua berharap padamu, sayang.
"Tidak mungkin!" gumam Rolland kemudian luruh ke lantai. "Apa yang barusan aku lakukan. Aku dengan bodohnya malah mengirim Mona pada Agler. Argghhh, kau to lol, Rolland. To lol!!"
Dengan perasaan yang sangat kacau, Rolland segera berdiri kemudian berlari keluar. Dia lalu berteriak memanggil Mona seperti orang gila.
"Tuan Rolland, ada apa?" tanya salah seorang anggota Queen Ma yang saat itu berjaga tak jauh dari sana.
"Tolong bantu aku mencari Mona. Dia ... dia pergi!" jawab Rolland frustasi sambil menjambaki rambutnya sendiri.
"APAA!!!!"
Kabar hilangnya Mona langsung menyebar cepat seperti udara. Rolland yang merasa sangat bersalah memutuskan untuk ikut pergi mencari. Dia sangat berharap kalau Mona masih ada di sekitar sana. Saking paniknya Rolland, dia sampai tidak menyadari kalau sekarang Brenda tengah seorang diri di dalam kosnya Rose. Sementara anak buahnya Agler masih berkeliaran di sana. Akankah Brenda yang menggemaskan itu ikut menjadi korban persembahan untuk menemani Mona?
Rolland... kau dalam masalah yang sangat besar sekarang ๐ฅฑ
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1