
Byuuurrrr
Seorang pria terlihat gelagapan ketika wajahnya disiram menggunakan air yang sangat dingin. Pria tersebut terlihat begitu mengenaskan dimana kedua kelopak matanya sudah terpotong. Dan tidak hanya itu saja, kedua tangan dan kakinya juga sudah terpotong dimana bekas lukanya masih terbungkus perban.
"Hmmm, apa tidurmu nyenyak?" tanya Reina dingin.
"M-m-mau apalagi kau?"
Reina menyeringai. Dia kemudian melemparkan ember yang ada di tangannya ke kepala pria tersebut kemudian berjongkok di sebelahnya. Tatapan Reina begitu bengis, menandakan kalau saat ini dirinya sedang dalam kondisi terbakar emosi.
"Sudah saatnya kau dikirim ke neraka yang sesungguhnya. Apa kau sudah siap?"
"K-kau manusia jadi-jadian, apa kau masih belum puas setelah membuatku jadi seperti ini? Kau menculikku kemudian memotong satu-persatu bagian tubuhku padahal kita tidak pernah saling kenal. Apa maumu sebenarnya hah! Masalah apa yang pernah muncul di antara kita berdua!"
Di teriaki seperti itu oleh tawanannya membuat Reina tertawa terbahak-bahak. Puas, dia selalu merasa puas setiap kali pria ini mengeluh. Jika kalian penasaran tentang siapa pria ini, maka Reina akan dengan senang hati mengenalkannya pada kalian.
Pria ini adalah psikiater yang dikirim Agler untuk mencuci otaknya Mona. Dan manusia keji ini baru bisa di temukan dua hari yang lalu. Baik Rose maupun Reina mereka sengaja menyembunyikan psikiater ini dengan tujuan yang lain. Akan tetapi karena kesalahan yang tidak sengaja dibuat oleh Rolland membuat psikiater ini selamat dari menjadi daging panggang seperti yang lainnya. Namun itu bukan berarti kalau dia bisa lolos dengan mudah. Semalam, setelah Rose kolaps, Reina jadi menggila. Dia mendatangi psikiater ini kemudian dengan marah memotong bagian-bagian tubuhnya. Menjadikannya manusia cacat yang tidak akan pernah bisa melakukan apa-apa sekalipun di lepas bebas ke jalanan.
"Sudah selesai bicaranya? Jika sudah, mari aku antar kau menemui seseorang yang akan segera mencabut nyawamu."
"A-ap-apaa?"
"Oho, jangan tergagap begitu. Kesayanganku tidak akan terlalu lama mempermainkan nyawamu karena sekarang dia sedang tidak sehat. Em mungkin kau bisa langsung mati dalam hitungan menit!" ucap Reina kemudian membopong tubuh buntung si psikiater lalu memindahkannya ke kursi roda.
Sambil bersiul, Reina membawa sang psikiater ke ruangan dimana kesayangannya telah menunggu. Ya, dia akan membawanya menemui Rose.
Aku datang membawakan sesuatu yang bisa membuat perasaanmu sedikit membaik, Rose. Semoga saja dengan kau membunuh psikiater ini hatimu bisa sedikit terhibur.
Tak lama kemudian, sampailah Reina di ruangan tempat Rose berada. Dia menatap lama ke arah Rose yang sedang berdiri diam sambil memandangi Mona yang masih terbaring tak berdaya. Dini hari tadi, Rose sadar dan langsung datang kemari. Bahkan wanita ini sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri meskipun itu sudah berlangsung selama beberapa jam.
"Rose, lihat apa yang aku bawa untukmu."
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin di ganggu, Reina," sahut Rose dingin.
"Lihat dulu."
Meski enggan, Rose akhirnya berbalik badan. Dia terdiam begitu manik matanya mendapati sesosok laki-laki dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Seketika jiwanya Rose terbakar amarah begitu dia ingat kalau orang ini yang telah membuat Mona tersesat dengan rasa yang salah. Bagai singa yang kelaparan, Rose langsung melayangkan satu pukulan ke wajah psikiater tersebut.
Bugghhhh
"Apa kau senang telah membuat Mona jadi seperti ini, hm?" tanya Rose emosi. "Apa kau puas setelah melecehkannya lalu berpura-pura menjadi dewa penolongnya? Jawab aku!"
Si psikiater tersebut terlihat sangat ketakutan ketika Rose bergerak mengelilingi kursi roda tempat dia duduk. Dengan sudut bibir yang masih meneteskan darah, dia mencoba melakukan pembelaan. Tapi baru saja mulutnya akan terbuka, dia sudah dibuat kaku oleh suara bisikan di samping telinganya.
"Kau tahu, aku sudah mengirim Agler dan teman-temanmu ke tempat yang seharusnya. Mereka sekarang sudah berkumpul dengan para iblis yang selama ini kalian sembah. Ku beritahukan padamu tuan psikiater, aku membuat mereka semua mati di atas api persembahan. Aku memanggang mereka sama persis dengan apa yang kalian lakukan pada gadis-gadis tidak bersalah itu. Suara kesakitan mereka... membuatku merasa sangat bahagia. Itu terdengar seperti melodi langka yang baru pertama kali aku dengar. Apa kau ingin mencobanya?" bisik Rose dengan mata memerah marah.
Semua orang yang ada di sana langsung merinding ketika aura gelap muncul dari tubuhnya Rose. Mencekam, bahkan mampu membuat bulu kuduk mereka semua berdiri. Selain Brenda dan Nenek Shiren, mereka semua sudah sangat siap jika seandainya Rose melakukan sesuatu yang amis pada si psikiater sialan itu.
"Jangan takut, rasanya tidak akan sesakit apa yang telah kalian lakukan pada Mona. Mungkin hanya akan terasa seperti sedang di gigit semut. Benar kan, Reina?" tanya Rose sambil mengulurkan tangan ke belakang.
"A-a-aku minta maaf, N-Nona. Ak-aku hanya menjalankan perintah Tuan Agler saja. T-tolong ampuni aku!" ucap si psikiater ketakutan saat ujung belati tertuju ke bola matanya.
"Ampun? Kau ini bicara apa, tuan psikiater. Aku ini bukan Tuhan, tapi aku adalah setan yang di ciptakan untuk menghabisi manusia-manusia berwujud iblis seperti kalian. Coba kau lihat ke depan sana, Mona kami terluka parah. Kalau kau bisa membuatnya sadar, aku janji aku akan mengampunimu. Aku bahkan akan membiarkanmu hidup bebas seperti dulu. Bagaimana? Apa bisa?"
Darah segar mulai menetes di wajah sang psikiater saat Rose mulai menggoreskannya. Semuanya menunggu dengan sangat tegang, menanti akan seperti apa cara Rose menghabisi manusia keji tersebut.
Jleebbbb
"Hkkkkk!"
Mata si psikiater melotot dengan sangat lebar di barengi dengan semburan darah segar dari mulutnya. Bisa terlihat dengan begitu jelas betapa dia sangat menderita ketika ujung belati itu terus menikam jantung dan paru-parunya.
"Biarkan dia tetap di sini menemani Mona sampai darah di tubuhnya mengering," ucap Rose sambil menancapkan ujung belati ke kening si psikiater yang sedang merintih kesakitan menjelang ajalnya.
__ADS_1
"Apa kau tidak berniat memotong kepalanya?" tanya Reina sambil mengusap leher sang psikiater.
"Itu hanya akan membuatnya mati dengan mudah. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang sangat luar biasa ketika darah di tubuhnya perlahan-lahan mengering."
"Oh, baiklah. Apapun itu asal kau merasa senang."
Adam menarik nafas panjang-panjang setelah menyaksikan betapa santainya Rose ketika menghabisi sisa anak buahnya Agler. Dia kemudian melirik ke arah ibu mertua dan juga neneknya Rose. Adam tertegun saat mendapati senyuman kecil di bibir mereka.
Baru kali ini aku melihat seseorang yang tersenyum dengan begitu mengerikan. Huftt, sepertinya kekejaman Rose menurun dari Mommy Grizelle dan Nenek Liona. Sungguh menegangkan.
"Menjadi anggota keluarga kami memang sudah sepatutnya menjadi bengis dan kejam, Adam. Akan tetapi semua itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu saja. Namun Nenek harus akui kalau Rose sedikit lebih gila jika di bandingkan dengan kami semua. Karena hanya dia saja yang tega meracuni suaminya sendiri hanya karena satu kebohongan. Nenek harap kau lebih berhati-hati padanya setelah menyaksikan semua ini, Dam!" ucap Liona memperingatkan.
"Aku rasa aku masih akan merasakan kematian seperti kemarin karena aku belum sepenuhnya jujur pada Rose, Nek. Bukannya apa, aku hanya ingin dia datang ke singgasanaku. Aku ingin dia menyadari sendiri siapa aku sebenarnya," sahut Adam.
"Nenek tidak akan ikut campur, itu terserah kalian saja mau bagaimana. Yang jelas, jangan pernah balik menyentuhnya kalau kau masih ingin hidup."
"Aku mencintainya, dan aku lebih memilih mati jika sampai menyakitinya."
"Daddy pegang ucapanmu, Dam!" sahut Drax yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Adam mengangguk. Mereka semua kemudian memandang ke arah Rose yang sedang berdiri diam menghadap ke ruangan Mona sambil tangannya mengusap kepala si psikiater yang sudah mati. Sedangkan di bawah kakinya menggenang darah segar yang memenuhi lantai, membuatnya terlihat seperti sedang berdiri di pinggiran kolam renang berwarna merah.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1