
Kletek
Mona yang saat itu baru selesai mandi langsung menoleh ke arah jendela ketika mendengar suara aneh dari sana. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk membukanya.
"Rose, kenapa kau lewat jendela lagi sih. Kau kan bisa...
Kosong. Mona tidak menemukan siapapun ketika jendelanya terbuka. Namun saat Mona hendak menutup jendela tersebut, tiba-tiba saja tercium aroma yang sangat wangi dari arah luar. Hal itu membuat pikiran Mona seperti terbang melayang. Dia sampai memejamkan mata saking terbiusnya dengan aroma wangi tersebut.
Tanpa Mona sadari, di balik balkon kamarnya ada seseorang yang tengah bersembunyi. Bibir orang ini nampak menyeringai ketika melihat targetnya mulai terbawa halusinasi dari obat yang dia oleskan di dekat jendela.
"Hemmm, wangi sekali. Aku jadi mengantuk," gumam Mona sambil berjalan sempoyongan.
Samar-samar Mona seperti melihat bayangan seorang anak kecil yang tengah menjerit kesakitan. Dan di samping anak kecil tersebut duduk seorang gadis yang terdiam seperti orang linglung. Mona kemudian menggeram kesakitan saat dadanya seperti ikut merasakan rasa sakit ketika tangan seorang pria dewasa menggoreskan sesuatu ke tubuh gadis kecil tersebut. Saking sakitnya rasa tersebut, di tambah lagi dengan aroma wangi yang membiusnya, Mona akhirnya jatuh tidak sadarkan diri di lantai. Dia tidak tahu kalau bayangan gadis kecil yang tadi di lihatnya adalah bayangan dirinya sendiri yang tengah di tandai oleh seorang jahat dimana awalnya bukan dia yang di targetkan.
"Hehehe, gadis kecil, akhirnya kau pingsan juga. Sekarang waktunya kau ikut pergi bersamaku untuk menemui sang dewa keabadian," gumam seorang pria berjaket hitam yang kini sudah berdiri di dekat jendela.
Setelah memastikan Mona benar-benar tidak sadarkan diri, orang tersebut berniat masuk ke dalam kamar. Tapi baru saja dia melangkahkan sebelah kakinya melewati jendela, dari arah belakang tiba-tiba ada yang menarik jaketnya. Sontak saja hal itu membuat tubuhnya tidak seimbang kemudian jatuh terbangkang ke belakang. Untung saja dia hanya terjatuh dari ketinggian tiga meter, jadi itu tidak membuatnya terluka parah.
"Mau apa kau hah!" tanya Lorus sambil menduduki tubuh anak buah Agler yang ingin menculik Mona.
"Siapa kau hah! Menyingkir dari atas tubuhku!" teriaknya.
"Apa kau bilang? Menyingkir?" sahut Lorus dengan nada mengejek. "Mimpi!"
Lorus kemudian menghajar orang tersebut dengan membabi buta. Hampir saja dia kecolongan dalam menjalankan tugas. Telat satu detik saja, bisa Lorus pastikan kalau dia akan mati di tangan Nona Rose dan juga Reina.
"Bajingan kau! Berani-beraninya ingin mencelakai kesayangan Nona kami. Dasar sekte sialan, b*ngsat!" umpat Lorus kemudian beranjak dari tubuh pria yang sudah hampir tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Setelah itu Lorus segera menghubungi nomor Nona-nya untuk memberitahu kalau dia baru saja menangkap kucing yang hendak memangsa ikan asin yang kini sudah tidak sadarkan diri di dalam kamar.
"Jangan katakan kabar buruk padaku kalau kau masih ingin hidup, Lorus!" ....
Suara dingin penuh ancaman yang keluar dari dalam telepon membuat Lorus menelan ludah. Dia benar-benar sangat beruntung karena tiba tepat waktu. Andai saja dia terlambat datang, malam ini pasti akan menjadi malam terakhir dia hidup di dunia ini.
"Nona, harus saya apakan orang suruhan Agler ini? Dia hampir saja menculik Nona Mona setelah membuatnya tak sadarkan diri!" ucap Lorus melaporkan.
"Habisi saja langsung. Setelah itu kau kirim kepalanya pada Agler. Jangan lupa sertakan salam hangat dariku. Katakan padanya kalau aku akan datang untuk membakarnya sebagai tumbal keabadian yang dia sembah."
"Baik, Nona. Lalu apa yang harus saya lakukan pada Nona Mona? Dia sedang dalam pengaruh obat bius milik sekte mereka!"
Lorus kemudian menggerakkan jari ke arah leher sambil menatap anak buahnya. Dia memberi tanda untuk segera memenggal kepala orang suruhan Agler.
"Masuk dan buat kegaduhan di kamarnya sampai Kakek Niel dan Nenek Shiren datang. Jangan pergi dari sana sebelum kau melihat sendiri dokter mana yang mereka panggil. Aku tidak mau mereka di bodohi lagi oleh dokter kiriman Agler. Cukup psikiater itu saja yang telah mencuci otak Mona sampai dia tidak bisa mengenali siapa yang telah membuatnya jadi seperti ini!"
"Baik Nona!"
"Lakukan dengan perlahan. Setelah ini kirim kepalanya ke bar tempat Agler berada. Lalu kau pergilah ke markas untuk mengambil cairan penghilang bau dan juga noda darah. Ingat, ini adalah perang yang sudah lama di nantikan oleh Nona. Kalian jangan sampai melakukan kesalahan sekecil apapun itu jika ingin tetap hidup!" ucap Lorus sebelum akhirnya kembali naik ke lantai satu untuk memeriksa keadaan Nona Mona.
Mona yang saat itu masih tergeletak di lantai tidak menyadari kalau di dalam kamar Lorus tengah memindahkan tubuhnya ke depan pintu kamar mandi. Ya, anak buahnya Rose ini berniat mengatur kejadian seolah Mona pingsan karena terpeleset lantai kamar mandi. Setelah semuanya siap, Lorus mencari suara rekaman wanita yang tengah berteriak kencang kemudian memutarnya sambil membuka pintu kamar.
"AAAAAAAAAAAA!!!"
Suara teriakan yang begitu kencang membuat seisi rumah keluar dari kamar masing-masing. Kakek Niel dan Nenek Shiren yang saat itu baru akan tidur nampak tergopoh-gopoh ketika menaiki anak tangga menuju kamar cucu mereka.
"Ya Tuhan Mona!" teriak Nenek Shiren histeris melihat cucunya terbaring tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Kakek Niel dan para pelayan segera berlari masuk kemudian memindahkan tubuh lemas Mona ke atas ranjang. Sementara Nenek Shiren, wanita tua itu sudah jatuh terduduk di lantai dengan airmata berlinang.
"Panggilkan dokter. Cepat!" teriak Kakek Niel kemudian menghampiri istrinya yang sedang syok. "Tenanglah, Mona hanya pingsan saja. Sepertinya dia terjatuh karena terpeleset lantai kamar mandi yang licin."
"Hiksss, kenapa gadis malang ini terus saja terluka, Niel. Salah apa dia?" tanya Nenek Shiren sembari terisak sedih.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ini semua pasti hanya ketidaksengajaan saja, sayang. Kau jangan terlalu terbawa perasaan," hibur Kakek Niel kemudian membantu istrinya berdiri.
Sambil terisak-isak Nenek Shiren duduk di samping cucunya yang sedang pingsan. Dia benar-benar sangat iba akan nasibnya. Belum hilang rasa sedihnya karena pria yang di sukainya menikah dengan Rose, kini Mona harus pingsan begini karena terjatuh. Entah kemalangan ini ada penyebabnya atau bagaimana, yang jelas Nenek Shiren merasa sangat heran. Cucu kesayangannya selalu saja tertimpa sial, seolah tidak ada kebahagiaan yang di gariskan untuknya. Mengenang segala kesedihan itu membuat tangis Nenek Shiren kian menjadi.
"Sayang, tolong berhentilah menangis. Kau membuatku merasa sedih," ucap Kakek Niel dengan sabar.
"Bagaimana aku tidak menangis, Niel. Belum lama Mona bisa tersenyum bahagia setelah perundungan itu, hatinya sudah di patahkan oleh pernikahan Adam dan Rose. Belum juga dia sembuh dari sakit hatinya sekarang dia harus pingsan begini. Nenek mana yang tidak akan terluka jika melihat keadaannya yang selalu sial? Apa kau pernah berpikir seperti itu hah?"
Kakek Niel terdiam. Dia kemudian menoleh ke arah lemari milik cucunya. Entah apa yang akan terjadi jika seandainya tebakan Nyonya Liona benar kalau antara Rose dan Mona terjalin satu hubungan yang tidak biasa. Sebenarnya Kakek Niel ingin sekali membuka lemari tersebut, tapi dia tidak sanggup membayangkan kenyataan yang akan terjadi. Dia dan istrinya pasti akan sangat hancur jika menemukan bukti kalau Rose dan Mona ....
"Sayang, Mona pasti baik-baik saja. Hidupnya sama sekali tidak sial, dia hanya tidak seberuntung orang-orang."
Nenek Shiren tak lagi mempedulikan ucapan suaminya. Dia terus menangis hingga akhirnya salah satu pelayan masuk ke dalam kamar bersama seorang dokter.
Lorus yang saat itu mengawasi dari luar jendela segera mencari tahu identitas dokter yang tengah memeriksa Nona Mona. Dia baru bisa pergi dari sana setelah memastikan kalau dokter tersebut bukan bagian dari sekte sesat yang di ketuai oleh Agler.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...