Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Di Ancam


__ADS_3

Eroz tersenyum semringah melihat sang kekasih melambaikan tangan ke arahnya. Saat ini dia sedang berada di sebuah bar tempat mereka biasa bertemu untuk memadu kasih.


"Kau cantik sekali," puji Eroz sembari membantu Zalina untuk duduk di sebelahnya.


"Hmmm, kau laki-laki yang sangat pandai membual, Eroz," sahut Zalina sedikit tersipu. Raut wajahnya yang tadi terlihat senang seketika berubah sendu saat Zalina teringat dengan tangisan Gracia. "Aku merasa bersalah pada Grace, Eroz. Ternyata selama ini dia mengetahui kelakuan Vanya yang suka bermain dengan para daun muda. Mereka sempat bertengkar sebelum aku mengajakmu untuk bertemu, dan gadis itu terlihat sangat tertekan. Aku jadi tidak tega melihatnya."


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Eroz begitu dia mendengar cerita kekasihnya. Semua ini memang sulit, baik itu bagi Zalina maupun keluarganya. Eroz tahu kalau Zalina sebenarnya sangat menyayangi Adamar dan juga Gracia karena kedua anak tersebut adalah keturunan dari mantan kekasihnya dulu. Tapi apa mau di kata, kondisi Zalina yang tidak sempurna mengharuskannya untuk bersikap seperti ini. Belum lagi dengan tragedi pengkhianatan berujung kematian yang membuat Zalina terpaksa menutupi kematian istri pertamanya.


"Meski fisik luarku terlihat seperti seorang wanita, dari lubuk hati terdalamku ada naluri seorang ayah yang ingin menjaga Adamar dan juga Gracia, Roz. Terkadang ingin sekali aku membunuh Vanya karena khawatir kalau-kalau mereka akan mengetahui perbuatan bejatnya. Namun masih aku tahan karena Adamar dan Gracia tak pernah meributkan hal tersebut. Siapa yang akan menyangka kalau ternyata Gracia sudah lama mengetahui hal itu dan memilih untuk diam memendam. Malam ini aku benar-benar merasa menjadi seorang ayah yang sangat buruk untuknya. Aku sedih, Roz!" ucap Zalina lirih. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca saat suara isak tangis Gracia terngiang di telinganya.


"Zalina, maafkan aku karena tidak bisa membantumu. Aku hanya orang luar dalam hubungan antara kau dengan Adamar dan Gracia. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah terus berada di sampingmu untuk memberikan semangat. Jangan sedih ya, aku yakin kau pasti bisa melewati semua masalah ini!" hibur Eroz sepenuh hati.


Zidane, upss bukan, maksudnya Zalina, dia merebahkan kepalanya di bahu Eroz. Ingatannya melayang jauh pada suatu kejadian dimana kekasih yang begitu dia cintai jatuh hati pada ibunya Adamar. Rasa itu muncul di diri mereka setelah Zalina meminta untuk menggantikan tugasnya sebagai seorang suami.


"Selamat malam, Zalina. Kita bertemu lagi!"


Eroz dan Zalina langsung menatap datar ke arah wanita seksi yang sedang berdiri di hadapan mereka. Dan nafas Zalina menderu begitu dia mengetahui siapa wanita seksi tersebut.


"Mau apalagi kau hah!" sentak Zalina emosi.


Reina terkekeh pelan saat kedatangannya di sambut dengan cara yang sedikit kasar. Sambil mengibaskan rambutnya, Reina segera duduk di samping Eroz. Dia dengan santai menuangkan alkohol ke dalam gelas lalu menyesapnya perlahan-lahan.


"Dasar j*lang, pergi kau dari sini!"


"Yoyoyo, santai, Zalina. Aku datang kemari hanya ingin mampir minum bersama kalian. Jadi tidak perlulah setakut ini padaku!" sahut Reina kemudian tertawa puas melihat reaksi ayahnya Adam yang cukup berlebihan. "Dan satu lagi, aku tidak selera menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Terlebih lagi pada hubungan orangtua dari temanku. Iyuh, sangat tidak menarik!"


Kening Zalina mengerut. Dia lalu menatap seksama ke arah Reina. Mungkinkah wanita ini adalah teman dari salah satu anaknya? Sadar kalau rahasianya yang memiliki dua kepribadian sedang terancam bahaya, Zalina segera memikirkan cara agar Reina segera pergi dari sana. Dia panik, takut kalau-kalau wanita ini benar adalah teman dari Adamar atau Gracia.


"Santai saja, Zalina. Aku bukan tipe manusia bermulut bocor. Jadi rahasiamu aman di tanganku!"

__ADS_1


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Zalina curiga. Dia lalu melihat ke arah Eroz yang juga sedang panik sepertinya.


"Tidak ada. Eh, ada sih sebenarnya, tapi bukan aku yang menginginkannya," jawab Reina seraya meneguk habis minuman di gelasnya. "Ada salah satu temanku yang sangat ingin berbicara denganmu. Dan dia sedang dalam perjalanan kemari."


Jangan di tanya lagi seperti apa takutnya Zalina saat ini. Pikirannya di penuhi dengan dugaan kalau yang akan datang adalah salah satu dari anaknya. Eroz yang melihat kekasihnya duduk dengan gelisah pun berusaha untuk menenangkannya. Dia lalu menatap tajam ke arah Reina, wanita asing yang tiba-tiba mengacaukan malamnya bersama Zalina.


"Reina, kau jangan coba-coba mempermainkan kami ya. Aku bisa saja menghabisimu sekarang kalau kau tidak segera memberitahu siapa temanmu itu!" ancam Eroz geram.


"Uhh, aku takut sekali, Eroz. Siapapun tolong aku!" sahut Reina sambil bertingkah seolah sedang ketakutan. Sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaa ... Eroz-Eroz, caramu mengancam malah membuatku merasa geli. Tolong lebih jantan sedikit lah."


"Kau!!"


"Kau apa, hm?"


Rahang Eroz mengetat saat Reina lagi-lagi mentertawakannya. Dia lalu melihat ke arah Zalina yang sudah pucat pasi. Khawatir terjadi sesuatu, Eroz pun berniat membawa kekasihnya ini pergi dari club tersebut.


"Sayang, ayo kita pergi dari sini. Jangan pedulikan dia ataupun temannya yang ingin menemuimu. Mereka hanya sampah yang iri melihat kebersamaan kita. Kita pergi saja ya. Oke?" bisik Eroz kemudian berdiri.


"REINADELWIS!" teriak Eroz dengan tatapan menyala-nyala.


Byuuurrr


"Aku bilang temanku sedang dalam perjalanan kemari. Yang artinya kalian tidak boleh pergi dari sini sebelum temanku sampai. Paham!" ucap Reina dingin setelah menyiramkan alkohol ke wajahnya Eroz.


"K*parat kau, Reina. Apa hakmu melarang kami untuk pergi dari sini, hah!" umpat Eroz emosi sambil menyeka wajahnya yang basah. "Siapapun temanmu itu kami tak mau peduli. Yang jelas, aku akan tetap membawa kekasihku pergi dari sini. Ayo Zalina, jangan pedulikan manusia sinting ini!"


"Kau yakin tidak mau mendengarkan perkataanku?"


Tubuh Zalina kaku saat Reina menempelkan ujung senjata ke pinggangnya. Dia lalu menarik pelan tangan Eroz yang masih berdiri.

__ADS_1


"D-duduk, Eroz. K-kita t-tunggu saja temannya R-Reina datang!"


"Tapi Zalina, aku ....


"Aku b-bilang duduk, Eroz. Jangan membantah!" sahut Zalina sambil memberi tanda agar Eroz bisa mengetahui kalau Reina sedang mengancamnya.


Mata Eroz langsung membelalak lebar begitu melihat senjata yang menempel di pinggang Zalina. Untuk beberapa saat dia sempat bleng, tidak percaya dengan apa yang dilakukan Reina pada kekasihnya.


"Nah Eroz, kau dengar sendiri kan kalau Zalina memintamu untuk duduk? Tunggu apalagi. Ayo cepat duduk dan mari kita bersulang!" ejek Reina kemudian menyimpan kembali senjatanya. Dia lalu dengan santai menuangkan minuman ke dalam tiga gelas kemudian menyodorkannya pada Zalina dan Eroz. "Minumlah, jangan terlalu tegang. Temanku itu baik, dia tidak akan mungkin membunuh kalian berdua. Percaya padaku!"


"Kau benar-benar k*parat Reina!" geram Eroz sambil meraih gelas berisi minuman kemudian menghabiskannya dalam sekali teguk. Baru setelah itu dia duduk di sebelah Zalina yang mendadak diam seribu bahasa.


"Uhhh, kau peminum yang cukup handal ternyata."


"Jangan bicara lagi kau. Aku muak mendengar suaramu yang menjijikkan itu!"


"Hahahaha. Oke-oke, aku tidak akan bicara lagi. Astaga, kau galak sekali sih!" ucap Reina sambil menahan tawa.


Suara dentuman musik yang sangat kuat nyatanya tak mampu membuat Eroz dan Zalina merasa tenang. Mereka berdua duduk dengan sangat gelisah sampai dimana orang yang sedang mereka tunggu datang.


"Maaf membuat kalian lama menunggu," ucap seorang wanita cantik yang baru saja datang bersama beberapa pria. "Selamat malam, Tuan Zidane. Apa kabar?"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2