
Rolland diam memandangi wajah gadis yang masih terlelap di atas ranjangnya. Brenda, ya, calon istrinya ini semalam begitu berani naik ke atas tempat tidurnya tanpa merasa takut kalau-kalau Rolland akan khilaf dan menerkamnya.
"Tidak apa-apa. Temanku bilang wajar kalau sepasang kekasih tidur di ranjang yang sama. Lagipula Papa juga meminta oleh-oleh anak dariku sepulang dari sini, Kak. Jadi kalau Kak Oland ingin menyentuhku, ya sentuh saja. Aku tidak keberatan kok."
Sangat polos bukan? Itulah kata yang di ucapkan oleh Brenda saat menepis usiran Rolland. Dan pada akhirnya, Rolland mengalah kemudian membiarkan Brenda tidur dalam pelukannya semalaman penuh. Namun ... hal itu membuat sesuatu di diri Rolland menegang selama berjam-jam lamanya. Bayangkan, berada di atas ranjang bersama seorang gadis yang begitu cantik siapalah yang tidak t*rangsang. Ayolah kawan, Rolland adalah laki-laki normal. Dia setengah mati menahan gairahnya agar tidak menyentuh Brenda yang seakan menantang karena tidur dengan menggunakan piyama yang cukup tipis. Hingga di saat malam menjelang dini hari tiba, Rolland yang sudah tidak kuat lagi dengan begitu menggebu sedikit mempermainkan bagian di tubuh calon istrinya ini. Dia haus, tapi tetap berusaha menyadarkan diri agar tidak melewati batas.
"Kau tahu sayang, seumur-umur aku mengenal makhluk yang bernama wanita, hanya kau satu-satunya wanita yang tidak mengenal rasa takut. Memang benar kalau kita akan menikah, tapi itu nanti setelah kau lulus kuliah. Tapi kenapa kau selalu saja datang dan menawarkan diri padaku, hm? Bagaimana jika aku sampai tidak mampu mempertahankan akal sehatku kemudian mengajakmu melakukan sesuatu yang belum seharusnya kita lakukan. Apa kau tidak akan menyesal kehilangan masa mudamu, hm?" bisik Rolland sembari memainkan bulu mata Brenda yang sangat lentik.
Brenda menggeliat pelan saat merasa ada yang menggangu tidurnya. Perlahan-lahan dia mulai membuka mata, tertegun ketika matanya bertatapan dengan manik mata seseorang yang begitu indah.
"Apa aku sedang berada di zaman kerajaan Yunani? Tampan sekali," gumam Brenda keheranan.
"Dasar."
Ctaakk
Rolland dengan sengaja menjitak pelan kening Brenda yang sedang bicara melantur. Setelah itu dia tertawa, lucu melihat ekpresi kaget di wajah gadis yang tengah mengusap-usap bekas jitakan di keningnya.
"Apa pangeran di zaman Yunani bisa menjitak orang juga ya? Aneh," gumam Brenda yang masih belum sadar dimana dia berada sekarang.
"Tentu saja bisa. Bukankah kau baru saja merasakan jitakannya? Sakit tidak?" sahut Rolland ikut terbawa suasana.
"Tidak sakit sih. Hanya sedikit panas saja."
"Benarkah? Mau coba yang sakit tidak?"
Brenda mengerjapkan mata beberapa kali. Ancaman ini seperti familiar, tapi dimana dia pernah mendengarnya? Sambil mengingat-ingat, Brenda terus menatap wajah pria tampan yang tengah tersenyum ke arahnya. Sedetik kemudian barulah dia sadar siapa dan dimana dia berada.
"Astaga, kenapa aku lupa ya kalau sedang menginap di rumah Kak Oland?" pekik Brenda.
"Hmmm," ....
Tok tok tok
__ADS_1
"Hei kalian calon pengantin, cepat hentikan kemesuman kalian di dalam sekarang juga atau aku akan mendobrak pintu kamar ini. Aku hitung sampai lima ya. Satu, tiga, lima ....
Rolland dan Brenda sama-sama mengerutkan kening mendengar suara teriakan yang begitu mengganjal di telinga mereka. Benak mereka saling bertanya-tanya, sejak kapan angka dua dan empat menghilang dari penghitungan satu ke lima? Apakah yang baru saja menghitung adalah seorang idiot yang begitu bodoh atau bagaimana?
"Kak Oland, sejak aku masuk taman kanak-kanak, seingatku cara menghitung yang benar tidak seperti itu. Tapi kenapa Kak Dante begitu? Apa sekarang dia sudah menjadi bodoh karena terlalu banyak bekerja?" tanya Brenda keheranan.
"Mungkin," jawab Rolland singkat.
"Oh, begitu. Kasihan sekali dia. Padahal dia belum menikah dan punya pacar. Kalau Kak Dante mati, di alam baka sana dia pasti akan sangat kesepian. Miris sekali."
Hampir saja Rolland tersedak air ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Brenda yang errr ... sudahlah. Sambil menahan tawa, Rolland mengajak Brenda untuk keluar menemui sang kakak. Dia tidak mau gila sendiri jika gadis ini kembali mengeluarkan kata ajaibnya.
Ceklek
"Wowww Brenda. Apa yang terjadi denganmu, hm? Apa semalam kalian terlalu banyak bekerja sampai-sampai kau masih belum mandi di jam begini?" ledek Dante seraya menaik-turunkan kedua alisnya. Menggoda kedua orang ini adalah kegiatan paling menyenangkan bagi Dante. Yang pria selalu acuh dan beku, sedangkan yang wanita terlalu polos bahkan mendekati bodoh. Definisi pasangan yang saling melengkapi.
"Semalam? Emm, semalam aku dan Kak Oland tidak bekerja kok. Kami hanya tidur sambil berpelukan saja," jawab Brenda jujur tanpa menyadari maksud yang sebenarnya dari pertanyaan Dante barusan.
"Jangan mengotori otak polos calon istriku, Kak. Mau kau bicara sampai berbusa pun dia tidak akan pernah mengerti!" omel Rolland sembari mendelikkan mata ke arah sang kakak yang suka sekali menggoda dia dan Brenda.
"Apa? Calon istri? Apa kau tidak salah bicara, Land? Setahuku kau begitu alergi pada Brenda, tapi kenapa sekarang kau menyebutnya calon istri? Ada apa ini?" tanya Dante dengan sengaja kembali melayangkan godaan.
Tatapan Brenda langsung beralih ke wajah Rolland setelah dia mendengar pertanyaan Dante. Benar juga. Sejak kapan laki-laki beku ini menyebutnya sebagai calon istri di hadapan orang lain?
"Apa?" tanya Rolland pada Brenda.
"Kak Oland, kau sedang kesurupan ya? Iya aku tahu kalau kita akan segera menikah. Tapi kenapa kau tiba-tiba menyebutku sebagai calon istri di hadapan Kak Dante? Aneh sekali. Kau ingin pamer atau bagaimana?"
"Pffttttt ... hahahhahahhaa!!!!"
Saking lucunya, Dante sampai berjongkok sambil memegangi perutnya saat menertawai Rolland yang tercengang syok begitu mendengar pertanyaan Brenda. Sungguh, gadis ini sangat ajaib. Bisa-bisanya dia berpikiran kalau Rolland ingin pamer hanya karena memanggilnya calon istri di hadapan Dante. Jika wanita lain, pasti telinga mereka sudah langsung mengembang saat mendapat pengakuan seperti ini dari pria yang mereka suka. Tapi Brenda, astaga. Kebodohan gadis ini benar-benar tidak ada obat. Perut Dante sampai kram di buatnya.
"Brenda, masuk kamar dan mandilah. Ini sudah siang, kita belum sarapan," ucap Rolland sembari menghela nafas dalam. Menghadapi gadis to lol bin polos seperti calon istrinya ini ternyata memerlukan kesabaran yang ektra besar.
__ADS_1
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Kak. Jawablah dulu, lalu setelahnya aku akan pergi mandi," sahut Brenda penasaran.
"Cepat mandi, jangan membantah. Nanti aku akan mengantarkanmu pergi ke universitas."
"Oh, baiklah kalau begitu."
Tanpa babibu lagi, Brenda langsung berlari masuk ke dalam kamar. Di pikirannya sekarang sudah tersemat niat untuk pamer pada teman-temannya kalau dia akan di antar oleh calon suaminya yang tampan dan kaya raya itu.
Selepas Brenda pergi, Rolland langsung melayangkan tatapan membunuh ke arah kakaknya yang masih tertawa-tawa sambil berjongkok di lantai. Kalau saja pria usil ini bukan saudaranya, Rolland pasti akan menendangnya. Dia kesal sekali.
"Tertawalah terus sampai gigimu kering, Kak. Setelah itu lihat apa yang akan aku lakukan padamu!" ancam Rolland jengkel.
"Hehehe, calon istrimu benar-benar sangat menggemaskan, Land. Aku yakin rumah tangga kalian nanti pasti akan sangat berwarna!" sahut Dante. Dia kemudian berdiri sambil mengelus-elus perutnya. "Oh ya Land. Tadi Mommy menelponku, dia ingin agar aku segera pergi ke Negara S sekarang juga untuk bertemu dengan Rose. Juga karena ada tugas penting yang perlu aku lakukan di sana. Kau tidak apa-apa kan kalau aku tinggal sendirian?"
"Mommy memintamu untuk pergi ke Negara S?"
Dante mengangguk. Raut wajahnya langsung berubah serius.
"Baiklah. Hati-hati!' ucap Rolland tanggap kalau sang kakak pergi untuk sesuatu yang sangat berharga.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jika ada apa-apa di perusahaan segera hubungi aku. Oke?"
"Ya."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1