
Mona menatap sinis ke arah pria yang sejak tadi terus berada di dalam kamarnya. Ini sudah sangat malam, tapi pria ini masih saja tak mau pergi dari sana.
"Kau. Kapan kau akan pergi dari sini?" tanya Mona yang sudah tidak tahan berada dalam satu ruangan bersama pria asing yang baru dia kenal. Mona sangat risih.
"Hemm, kapan ya?"
Dante dengan santai menjawab pertanyaan Mona. Dia tentu saja tahu kalau gadis ini sangat tidak nyaman dengan keberadaannya di sini. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa Dante lakukan agar bisa semakin mengenal gadis ini. Juga karena Dante yang tengah mengemban tugas penting yang di berikan oleh Nenek Liona dan juga Mommy Grizelle. Jadi mau tidak mau Dante harus tetap memaksakan diri untuk terus berada di dekat Mona sekalipun sadar kalau gadis ini sangat membencinya.
"Ini sudah sangat malam. Tidak sepantasnya kau masih berada di dalam kamar seorang gadis!" tegur Mona yang sudah benar-benar jengah melihat keberadaan Dante di kamar ini.
"Sekalipun aku menginap di kamarmu tidak akan ada orang yang berani mengusirku pergi dari sini. Apa kau tahu kenapa?"
Setelah berkata seperti itu Dante beranjak dari tempatnya duduk. Dia kemudian berjalan ke arah Mona yang saat itu duduk di pinggiran ranjang. Setelah berada dalam jarak yang cukup dekat, Dante membungkukkan tubuh agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah gadis yang sama sekali tak bergeming dari posisinya sekarang.
"Karena aku sudah mengantongi izin dari semua orang untuk mendekatimu. Jadi sekalipun kau berteriak meminta tolong pada Kakek dan Nenekmu, aku berani jamin kalau mereka tidak akan pernah datang untuk memberikan pertolongan. Paham sekarang?"
Untuk beberapa saat Mona hanya diam mencerna perkataan Dante. Tapi sedetik kemudian dia menyeringai, sudut bibir Mona tertarik ke atas hingga membuat satu senyum mengerikan muncul di sana. Bukannya merasa takut ataupun canggung, Mona dengan berani malah mendekatkan wajahnya ke wajah Dante hingga ujung hidung mereka saling menempel.
"Tapi sayangnya kau tidak akan mengantongi restu dariku, Tuan Dante. Hanya akan ada dalam mimpimu saja kalau kau bisa mendekati aku. Kau itu sama saja dengan mereka. Sama-sama sampah murahan yang bisanya hanya menggertak orang yang lemah," ucap Mona dengan intonasi suara yang begitu rendah. "Dengarkan aku baik-baik, Tuan Dante. Seumur hidup aku tidak akan pernah membiarkan satu pria pun mengganggu kehidupanku. Tak peduli meski kau adalah saudaranya Rose sekalipun. Di mataku kaum kalian itu sangat rendah. Aku muak, dan aku sangat membenci kalian."
"Oh, jadi seperti ini rupa asli dari gadis yang menyukai adikku? Ckck, miris!"
Masih dengan ujung hidung yang saling menempel, Dante dengan cepat mendorong tubuh Mona hingga jatuh telentang di atas ranjang. Setelah itu Dante langsung menindih dan mengunci kedua tangan Mona tepat di atas kepalanya yang terus bergerak hendak memberontak.
__ADS_1
"Lepaskan aku, brengsek!"
Bagaimana ini? Apa Dante akan melecehkan aku juga seperti ini yang dilakukan para bajingan itu? Kakek, Nenek, tolong aku. Aku sangat takut sekarang.
"Lepas?"
Dante terkekeh.
"Setelah kau menghinaku beraninya kau meminta untuk di lepaskan? Hahaha, itu baru akan terjadi jika kau bersedia untuk bersikap patuh padaku. Aku ini bukan penjahat, Mona. Jadi kau tidak berhak menyamakan aku dengan orang-orang yang telah merusak hidupmu!"
"Kau sama saja, Dante. Kalian menjijikkan!" teriak Mona dengan mata yang sudah di genangi air mata. Mona takut, tapi dia juga sangat benci dengan posisi ini. Apalagi setelah tahu kalau pria ini berniat mendekatinya, membuat Mona semakin gila si buatnya.
"Sadar, Mona. Sadar!" sahut Dante balas berteriak. "Kau bisa berpikir seperti ini karena otakmu masih belum lepas dari hipnotis psikiater sinting itu. Di dunia ini tidak ada laki-laki yang menjijikkan, yang ada hanyalah mereka yang tidak punya otak dan hati nurani. Sadarlah, Mona. Bawa fokusmu agar bisa keluar dari bisikan sesat manusia laknat itu. Kau normal, kau berhak memiliki kehidupan seperti gadis-gadis lain. Kau berhak untuk itu, Mona!"
Dante mengendurkan kuncian tangannya ketika melihat Mona yang memejamkan mata sambil terisak lirih. Tiba-tiba saja seperti ada yang bergetar di dalam hatinya menyaksikan betapa gadis ini sangat amat tidak berdaya di bawah kuasanya. Dante melemah, dia menggerakkan satu tangannya untuk menyeka air mata yang tidak berhenti mengalir keluar dari sudut matanya Mona. Terenyuh, itu yang dia rasakan sekarang.
"Hiksss, aku kesulitan, Dante. Sudah lama nama Rose hidup di hatiku, semuanya hanya tentang dia. Aku seperti tercekik, aku mati rasa dan aku seperti akan gila setiap kali terpikir untuk melupakannya. Itu sangat tidak mudah untukku. Benar-benar sangat sulit," sahut Mona seraya terisak pilu. Dia jujur, Mona mengatakan yang sebenar-benarnya.
"Iya aku tahu itu. Akan tetapi tidak ada salahnya untukmu terus mencoba melupakan Rose. Dia sekarang sudah bahagia bersama Adamar dan juga calon bayi mereka. Apa kau tidak terpikir untuk memiliki kisah hidup yang sama sepertinya, hm? Kau cantik, kau hanya sedang tersesat karena sesuatu hal yang tidak kau sadari. Percaya padaku, Mon. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti bisa memiliki kehidupan normal seperti para gadis di luaran sana. Kau akan mempunyai kekasih, bahkan yang jauh lebih baik lagi kau akan membina rumah tangga bersama dengan pria yang bisa menerimamu apa adanya."
Perlahan-lahan mata Mona mulai terbuka saat ucapan Dante sedikit mengena di hatinya. Masih dengan terisak, Mona memastikan apakah benar dirinya bisa memiliki semua yang di ucapkan oleh Dante atau tidak.
"Apakah itu mungkin?"
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Mona. Selagi kau mau berusaha, aku yakin suatu saat Tuhan pasti akan mengirimkan pria baik yang akan mencintaimu sampai mati. Masa lalu buruk itu biarkan terkubur seiring berjalannya waktu. Kau jangan risau. Di balik cobaan berat yang Tuhan berikan, pasti akan ada kebahagiaan yang menantimu sebagai balasannya. Tuhan itu adil karena Dia tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan makhluk ciptaannya. Kau percaya itu bukan?"
Seulas senyum muncul di bibir Dante saat Mona mengangguk patuh. Tangan yang masih tadinya berada di pipi gadis ini tanpa sadar bergerak turun menyusuri bibir merahnya. Dante seperti terhipnotis, dia lupa kalau sendirinya datang hanya untuk sekedar menjalankan perintah saja.
"Dante, jangan begini. Tolong turun dari atas tubuhku. Kau sangat berat!" ucap Mona risih ketika bibirnya di sentuh oleh jemari Dante. Seketika kebencian kembali merasuki hatinya.
"Aku tidak mau," sahut Dante antara sadar dan tidak sadar.
"Tapi aku tidak bisa bernafas!"
"Aku tidak peduli."
"Dante, aku ....
Entah setan mana yang merasuki pikiran Dante, dia tiba-tiba saja memagut bibirnya Mona. Dante seperti hilang akal setelah Mona bersikap patuh padanya. Juga setelah Dante menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa gadis ini menjadi sangat tidak berdaya ketika diminta untuk melepaskan perasaan tak lazimnya terhadap Rose. Ada semacam perasaan ingin melindungi, dan ini membuat Dante terjebak dalam suatu kondisi di mana awalnya dia yang hanya menjalankan perintah semata.
Tidak, Mona. Kau harus bisa meyakini kalau di masa depan orang yang akan menjadi pasanganmu adalah seorang pria. Sekarang biarkan saja Dante menyentuhmu sedikit. Anggaplah kalau ini adalah terapi fisik yang pertama untuk penyakitmu. Tahan, Mona. Kau pasti bisa.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...