Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Gadis Bermental Baja


__ADS_3

Rolland terus menarik nafas kasar saat akan keluar dari dalam mobil. Rasanya benar-benar sangat malas saat akan mengajak Brenda makan malam bersama. Ya, sesuai dengan permintaan gadis itu, malam ini Rolland sudah mempersiapkan sebuah makan malam romantis di sebuah restoran bintang lima milik keluarganya. Meski sebenarnya sangat tidak ingin, Rolland mau tidak mau harus tetap menepati janjinya pada Brenda. Dia tidak mau di cap sebagai pria yang tidak konsisten dengan ucapannya sendiri.


"Huftt, santai saja, Land. Brenda itu bukan binatang buas, kau tidak perlu takut padanya!" ujar Rolland berargumen sendiri.


Tepat ketika Rolland hendak keluar dari mobilnya, dari dalam rumah muncul Brenda yang datang bersama dengan ibunya. Untuk sesaat Rolland sempat terkesima melihat penampilan gadis tersebut. Brenda terlihat begitu cantik dan elegan dengan gaun berwarna merah menyala yang memiliki belahan tinggi sebatas paha. Rambutnya yang panjang tampak di cepol ke atas dengan menyisakan anak rambut di kedua sisi telinganya. Tanpa sadar, sudut bibir Rolland tertarik ke atas. Harus dia akui kalau malam ini Brenda memiliki aura dewasa yang sangat memukau, berbeda dengan penampilan imut yang biasa dia lihat setiap hari.


Tok, tok, tok


Rolland yang masih tersesat dalam kekagumannya tersentak kaget saat pintu mobil diketuk. Dia buru-buru keluar setelah menormalkan ekpresi kagum di wajahnya.


"Waaaaa, tampan sekali!" pekik Brenda begitu melihat si pujaan hati keluar dari dalam mobil.


Felan, ibunya Brenda, nampak menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. Dia lalu tersenyum ke arah Rolland yang sedang menyapa.


"Selamat malam, Bibi Felan."


"Malam, Rolland. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, Bi," jawab Rolland sopan. "Bibi dan Paman apa kabar?"


"Kami semua sangat baik, Land. Oh ya, Brenda bilang Rosalinda sudah di temukan. Apakah benar?"


Sebelum menjawab, Rolland melirik ke arah Brenda yang sedang menatapnya dengan mata berbinar. Gadis ini benar-benar. Bahkan di hadapan ibunya sendiri Brenda tanpa merasa malu berani menatapnya secara terang-terangan. Sungguh gadis bermental baja.


"Sudah, Bi. Tapi Rose kami hilang ingatan. Mungkin ini di sebabkan luka yang dia dapat saat kecelakaan itu terjadi. Makanya dia tidak bisa mengingat kenangan bersama kami dulu."


Felan menarik nafas panjang setelah mendengar jawaban Rolland. Dia dan Grizelle memiliki hubungan yang sangat baik. Felan sudah pasti tahu seperti apa penderitaan keluarga Osmond dalam menanti putri mereka yang hilang. Dalam hatinya, Felan tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Grizelle saat tahu kalau putrinya ternyata hilang ingatan. Sahabatnya itu pasti sedang sangat bersedih sekarang.

__ADS_1


"Land, apa tidak sebaiknya kalau Rose di bawa ke dokter untuk melakukan pemeriksaan? Bibi dengar ada beberapa metode medis yang bisa di gunakan untuk membantu seseorang mengingat kembali ingatannya yang sudah hilang. Siapa tahu dengan begini Rose bisa segera sembuh dari amnesianya," ucap Felan mencoba membantu.


Rose bukan amnesia, Bibi Felan. Tapi ingatannya memang sengaja di rusak oleh seseorang yang tidak mau dia hidup. Dibawa ke rumah sakit pun tidak akan ada gunanya karena penyakit itu tidak ada obatnya. Ingatan Rose baru bisa kembali jika dia sendiri yang menemukan celah. Obat-obatan dan juga bantuan medis tidak akan bisa membuatnya sembuh.


Melihat Rolland yang hanya diam saja, Brenda pun berinisiatif untuk menghiburnya. Dia segera merangkul lengan Rolland kemudian mengedipkan mata ke arah sang ibu.


"Ma, jangan terlalu menekan batin calon suamiku. Kata-kata Mama hanya akan membuatnya semakin bersedih. Masalah Rose biar Mommy dan Oma Liona saja yang urus. Mereka itukan wanita-wanita tangguh dengan segala ide brilian di otak mereka. Jadi Mama tidak usah repot-repot mengajari Kak Oland tentang bagaimana cara untuk menyembuhkan Rose. Karena memang jika penyakitnya tidak parah, Mommy dan Oma Liona pasti sudah mengambil tindakan lebih dulu. Sampai sini paham?"


Rolland dan Felan sama-sama tergelak mendengar penuturan Brenda. Ingin rasanya mereka melakban mulut gadis ini sekarang juga. Tapi meskipun begitu, apa yang di ucapkan oleh Brenda ada benarnya juga. Gadis ini seolah tahu kalau keadaan Rose memang tidak bisa di sembuhkan dengan obat-obatan maupun metode medis. Karena apa yang menjadi penyebab hilangnya ingatan Rose bukan karena sebuah benturan. Melainkan karena memang sengaja di rusak permanen.


Kenapa ucapan Brenda benar sekali ya? Apa iya gadis ini bisa mendengar pikiran orang lain sepertiku?


"Kak Oland, ayo kita berangkat dinner. Lipstikku hampir mengering karena terkena angin malam," ucap Brenda manja.


"Em Rolland, tolong maafkan sikap Brenda ya," ucap Felan tak enak hati.


"Ihh, Kak Oland ini bagaimana sih. Di mana-mana orang berkencan itu menghabiskan waktu semalaman penuh. Bahkan beberapa dari temanku menginap di hotel dengan pasangan mereka. Masa iya aku akan di pulangkan jam sepuluh malam!" gerutu Brenda sambil mengerucutkan bibir.


"Pria-pria yang membawa temanmu itu bukanlah pria yang baik, Brenda. Kau tahu kenapa?" tanya Rolland sambil menahan keinginannya untuk tidak menjitak kepala gadis yang terus bergelayut di lengannya.


Mendapat pertanyaan seperti itu Brenda pun menggelengkan kepala.


"Karena pria yang baik pasti akan melindungi harga diri wanitanya, bukan malah merusaknya. Mencintai itu bukan hanya soal n*su saja Brenda, tapi juga tentang tanggung jawab untuk menjaga masa depan pasangannya. Jadi kau jangan sampai salah beranggapan kalau teman-temanmu itu adalah pasangan yang bisa kau jadikan contoh. Paham?"


"Ekhm Kak Oland, aku jadi semakin mencintaimu. Aku benar-benar tidak salah memilih calon suami. Iya kan Ma?" puji Brenda kemudian memeluk pria pujaannya dengan penuh kebahagiaan.


Felan hanya bisa menarik nafas panjang melihat kelakuan Brenda. Bukan rahasia umum lagi kalau putrinya ini begitu tergila-gila pada Rolland sejak mereka masih kecil. Sebenarnya Felan dan suaminya juga sangat berharap kalau Rolland bisa menjadi menantu mereka. Namun, mereka tidak berani untuk memaksa karena sadar kalau pria ini tidak menginginkan putri mereka.

__ADS_1


"Brenda, apa kau tidak malu memeluk pria lain di hadapan Mama-mu?" tanya Rolland heran.


Kepala Brenda mendongak ke atas saat mendengar pertanyaan dari Rolland. Dia lalu menggeleng cepat.


"Untuk apa aku malu? Yang sedang aku peluk ini kan calon suami masa depanku yang nantinya akan menjadi menantu Mama juga. Jadi pertanyaan Kak Oland itu sangat tidak masuk akal."


"Memangnya aku pernah bilang kalau aku mau menikahimu?"


Hati Rolland sedikit tergelitik mendengar ucapan Brenda. Bohonglah kalau dia tidak merasa senang di kagumi dengan begitu dalam oleh gadis cantik ini. Rolland tentu saja senang, apalagi sekarang adiknya sudah di temukan. Membuatnya sedikit demi sedikit sudah mulai membuka hati untuk Brenda meski terkadang masih merasa kesal dan juga enggan.


"Haiisshh, sudahlah. Urusan mau atau tidak itu biar nanti aku saja yang urus. Kalau Kak Oland tidak mau menikahiku, biar aku saja yang menikahi Kakak. Bereskan?" jawab Brenda dengan entengnya. "Ma, aku pergi dulu ya dengan calon suamiku. Do'akan agar hubungan kami semakin hangat supaya Mama bisa secepatnya mendapat cucu."


Hampir saja Felan terkena serangan jantung saat mendengar ucapan konyol putrinya. Dia lalu melambaikan tangan ke arah Brenda dan Rolland yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


"Bye Mama....


"Hati-hati sayang!" sahut Felan saat mobil mulai bergerak menjauh.


Ya Tuhan, tolong sabarkan hatinya Rolland. Semoga dia tidak membuang Brenda di jalan gara-gara perkataannya tadi. Hmm, astaga. Menurun daripada siapa sebenarnya mulut gadis itu. Bisa-bisanya dia berkata tentang hal seperti itu di depan Rolland. Kau ini benar-benar, Brenda.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2