
Tok tok tok
“Apa aku mengganggu?”
Rose bertanya sambil menatap Gracia yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan adik iparnya ini baru saja kembali setelah latihan bersama Cesar di luar rumah. Sangat rajin sekali.
“Tentu saja tidak, kakak ipar. Masuklah, dan silahkan duduk di tempat yang menurutmu nyaman,” jawab Gracia dengan ramah mempersilahkan kakak iparnya untuk masuk ke dalam kamar. Setelah itu dia berjalan menuju meja rias, membuka laci meja kemudian mengambil hairdrayer untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Sambil memperhatikan Gracia, Rose memilih untuk berdiri di dekat jendela kamar. Matanya yang tajam menerawang jauh ke depan, seolah ingin menembus suasana malam yang gelap dan juga dingin. Tinggal hitungan jam Rose akan mendatangi Negara yang akan menjadi tempat bertemunya dia dengan si Tuan setelah belasan tahun mereka tak bertemu. Rose bukan takut, itu mustahil. Akan tetapi Rose tengah mengkhawatirkan nasib dari kandungannya. Selain kabar kalau calon anaknya nanti akan menderita kelainan yang lumayan aneh, juga dengan keselamatnnya yang bisa saja terancam jika Adam sampai berbelok arah dengan memilih untuk menjadi musuhnya. Sebenarnya bukan tanpa alasan mengapa Rose membiarkan Adam jatuh cinta padanya. Dia sengaja diam membiarkan karena sejak awal Adam memang telah menjadi miliknya. Dulu ketika Rose sedang kacau dalam mengenali jati dirinya yang tiba-tiba hilang dari ingatan, dia tak sengaja bertemu dengan pria berkulit putih yang bernama Phillips Lorenzo. Awalnya Rose tidak tahu siapa dia, tapi setelah mereka tak sengaja saling menolong, Rose akhirnya mengetahui satu rahasia penting kalau putra dari Zidane Clarence bukanlah anak kandungnya, melainkan anaknya Phillip. Pertemanan Rose dan Phillip terjalin cukup lama sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk kembali ke Negara asalnya setelah gagal menemukan keberadaan seorang wanita bernama Karina Haque, yang adalah ibunya Adam. Hingga di suatu ketika Rose dan Phillip akhirnya kembali di pertemukan. Dan di saat itulah perjanjian di antara mereka terjadi. Rose yang entah kapan belajarnya bisa menguasai ilmu perakitan senjata, setuju untuk bekerjasama dengan Phillip dengan syarat Adam akan menjadi miliknya. Awalnya kerjasama mereka berjalan dengan baik sebelum akhirnya Phillip tertangkap basah ingin mengambil keuntungan pribadi. Rose murka, tentu saja. Dia lalu menyembunyikan satu rahasia penting yang mana rahasia itu membuat Phillip menyerah tanpa syarat dan bersedia menuruti semua keinginan Rose. Termasuk menyerahkan separuh dari semua harta kekayaan miliknya.
Aku akan tetap memanggilmu Adamar jika di pertemuan nanti kau tetap berada di pihakku, Dam. Tapi aku akan memanggilmu dengan sebutan Marcellino jika di sana nanti kau nekad berdiri di kubunya Royce. Aku mungkin mencintaimu, tapi rasa ini tak bisa menutup kemungkinan kalau kita akan menjadi musuh. Semoga saja kau bisa memenuhi janjimu yang ingin menjagaku dan anak kita sampai akhir hayat. Karena jujur, aku sangat mengharapkan kesetiaan itu darimu, Dam.
“Kakak ipar, kau melamun ya?” tanya Gracia sambil mengguncang pelan lengan kakak iparnya yang hanya diam saja meski sudah di panggil berulang kali. “Kak, kau itu sedang hamil. Tidak baik melamun malam-malam begini di dekat jendela. Bagaimana jika tadi ada setan yang lewat kemudian mencuri bayimu? Apa kau rela, hm?”
“Setan itu harus melangkahi mayatku dulu jika ingin mengambil bayi yang ada di dalam perutku!” jawab Rose datar. Dia kemudian menoleh, menatap seksama ke arah Gracia yang terlihat sangat cantik dengan piyama tidur yang di pakainya. “Grace, boleh aku bertanya?”
Gracia mengangguk.
__ADS_1
“Pada siapa kau akan berpihak jika seandainya nanti aku dan Adam sampai berselisih paham?” tanya Rose penuh maksud.
“Hmmmm, pertanyaan yang sama persis seperti yang tadi di tanyakan oleh Cesar saat kami sedang berlatih!” jawab Gracia sambil menghela nafas. “Kak, aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi antara kau dengan Kak Adam. Tapi di sini aku ingin menegaskan kalau aku tidak akan berpihak pada salah satu dari kalian. Keputusanku hanya satu. Yaitu aku hanya akan mengikuti seseorang yang bisa mengerti diriku. Entah itu kau atau Kak Adam, atau bahkan orang lain sekalipun aku tidak peduli. Yang jelas aku akan memilih orang yang tepat!”
“Sepertinya hubunganmu dengan Cesar cukup dekat juga ya. Aku tidak menyangka kalau dia akan menanyakan lebih dulu tentang hal ini padamu. Cukup aneh,” ucap Rose sambil tersenyum miring. Dia mengendus aroma benih-benih rasa di diri kedua orang ini.
Muncul semburat merah di kedua pipi Gracia saat dia menyadari maksud di balik ucapan kakak iparnya barusan. Sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, Gracia tanpa ragu mengatakan tentang rencananya yang ingin menaklukkan kuda nil beku itu. Biar saja, toh tidak ada gunanya juga Gracia menyembunyikan hal ini dari kakak iparnya. Karena cepat atau lambat rencana Gracia pasti akan terbongkar juga.
“Kak, menurutmu salah tidak jika aku mengejar cintanya Cesar? Jujur, aku tertarik padanya. Waktu yang sering kami habiskan bersama membuatku memiliki rasa lebih terhadapnya,” tanya Gracia sedikit malu. Dia bicara tanpa berani menatap wajah kakak iparnya.
“Cinta tak pernah salah, tapi terkadang cinta bisa mengantarkan kita pada rasa sakit yang sangat luar biasa,” sahut Rose sudah tak kaget mendengar pengakuan Gracia. Sejak awal Rose sudah menebak kalau adik iparnya ini memiliki ketertarikan khusus pada orang kepercayaan Adam. Dan benar saja, dugaan Rose sama sekali tidak meleset. “Grace, kau tahu bukan siapa Cesar? Dia bukan laki-laki seperti yang sering kau temui di luaran sana. Cesar adalah pria yang berbahaya, menjalin hubungan dengan pria seperti dia bisa membuatmu berada di ambang kematian. Aku bicara seperti ini bukan karena aku ingin mengendurkan perasaanmu, bukan. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu saja kalau cinta tidak selamanya indah. Kau paham kan apa maksudnya?”
“Sekarang kau istirahatlah. Besok pagi kita semua akan berangkat ke Negara N, aku harap kau sudah menyiapkan mentalmu dengan baik!” ucap Rose kembali mengingatkan Gracia tentang keberangkatan mereka ke Negara tempat keluarganya berada.
“Tenang saja, Kak. Cesar sudah mengingatkan aku tentang apa saja yang perlu kubawa ke sana. Kalau begitu kau kembalilah ke kamarmu, Kak. Kak Adam bisa memusuhiku nanti jika dia tahu kita mengobrol terlalu lama.”
Rose tersenyum kecil. Dia lalu melngkah keluar dari dalam kamarnya Gracia dengan membawa seribu tanda tanya di hatinya. Masih ada banyak hal yang mengganjal di benaknya Rose, tapi dia sudah tidak punya waktu untuk memikirkannya lagi karena sekarang dia sudah mendengar suara Adam yang sedang berteriak mencarinya.
__ADS_1
“Honey, kau darimana saja?” tanya Adam sambil berjalan cepat menuruni anak tangga. Dia lalu mendekap Rose dengan erat begitu sampai di dekatnya. “Darimana, hm?”
“Aku dari kamarnya Gracia. Mengingatkan dia kalau besok pagi kita semua akan pergi ke Negara N,” jawab Rose sembari memejamkan mata menikmati aroma tubuh Adam yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Rose sangat suka denga aroma ini.
“Lalu … apa dia sudah mempersiapkan semuanya dengan benar?”
“Ya. Cesar yang membantu memberitahu Gracia barang apa saja yang perlu dia bawa.”
“Cesar?”
Rose mengangguk.
“Ini hanya kebetulan saja atau ….
“Aku ingin istirahat, Dam. Lelah,” ucap Rose memotong perkataan Adam.
“Baiklah Yang Mulia Ratu,”
__ADS_1
Dengan gentle Adam langsung mengangkat Rose ala bridal style kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Dia cukup maklum kalau semenjak hamil Rose jadi mudah lelah, tidak seenerjik sebelum wanita cantik ini mengandung buah cinta mereka.
***