
Mona duduk diam di atas ranjangnya. Dia begitu merindukan Rose, sahabatnya yang seperti batu es itu. Baru sehari tidak bertemu, Mona sudah di landa perasaan yang begitu menggebu. Andai saja kakinya sedang tidak terluka, juga karena dia yang masih menyimpan trauma dengan kejadian kemarin malam, Mona sekarang pasti sudah menyusul Rose ke tempat kerjanya. Sayang, saat ini kondisinya sedang sangat tidak mendukung.
"Hufftt, kenapa juga aku harus terluka di hari libur begini sih. Kan aku jadi tidak bisa mengajak Rose pergi jalan-jalan,"
Sambil terus merutuki keadaannya, Mona menimang apakah akan menghubungi Rose atau tidak. Jujur saja, dia seakan tidak bisa lepas lagi dari gadis dingin itu. Semenjak Mona mengenal Rose, dia seperti menemukan hidup yang baru. Mona melupakan segala kesedihan yang di tanggungnya selama ini. Di bully, dikucilkan, di anggap seperti manusia asing, bahkan pernah hampir menjadi korban pelecehan jika saat itu kakek dan neneknya datang terlambat. Hidup Mona dulu seperti neraka hanya karena dia yang tidak memiliki orangtua seperti teman-temannya yang lain. Bukan tidak punya sebenarnya, hanya saja Tuhan memisahkan dia dengan orangtuanya terlalu cepat.
"Uuhh, aku harus bagaimana ya? Mau kabur tapi kakiku cacat, tidak kabur tapi aku bosan dan ingin menempel pada Rose. Ahh, bingung sekali!" ucap Mona sambil memukuli kepalanya sendiri.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Mona yang melihatnya segera menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Tampak di sana kakek dan neneknya sedang berjalan masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan juga susu hangat kesukaannya.
"Sayang, ada apa dengan wajahmu? Kenapa kusut sekali?" tanya Kakek Niel setelah duduk di samping ranjang.
"Aku bosan sekali, Kek. Aku ingin pergi menemui Rose, tapi kakiku tidak bisa diajak kerjasama. Lihat," jawab Mona kemudian membuka selimut yang menutupi kakinya. "Tiba-tiba saja kakiku dibungkus seperti mummy. Menjengkelkan!"
Kakek Niel dan Nenek Shiren tergelak. Mereka lalu tertawa saat menyadari kelucuan dari ucapan cucu mereka. Sambil membelai-belai rambut cucunya, Kakek Niel dengan sabar memberi penghiburan.
"Maaf ya, gara-gara ada sedikit urusan di kantor Kakek jadi tidak bisa bertemu dengan Rose. Padahal Kakek begitu ingin bertemu dengannya. Kakek ingin mengucapkan terima kasih pada sahabatmu itu."
Kening Mona mengerut. Dia menatap wajah tua kakeknya lekat-lekat.
"Terima kasih untuk apa, Kek?"
"Untuk kesediannya menjadi temanmu," jawab Kakek Niel. "Kakek ingin berterima kasih karena berkatnya kau jadi bisa tersenyum. Kau melewati hari-harimu dengan begitu ceria setelah berteman dengan Rose, dia membawa banyak perubahan di hidupmu."
Nenek Shiren mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia lalu memperhatikan Mona, cucunya ini terlihat begitu bahagia saat nama Rose disebut.
"Rose adalah orang terbaik yang aku kenal selain Kakek dan Nenek. Tak pernah sekalipun dia mengataiku sebagai anak kesepian seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang saat melihatku. Meskipun sikapnya sangat dingin, tapi sebenarnya Rose itu sangat menyayangiku. Pokoknya dia adalah yang terbaik di antara semua orang!" sahut Mona membanggakan sahabatnya.
Kakek Niel dan Nenek Shiren tersenyum. Mona kemudian diminta untuk segera meminum susu yang dibawakan oleh neneknya. Karena sedang senang, dalam sekejap susu itupun sudah habis. Mona jadi sedikit lupa akan kerinduannya pada Rose, pikirannya teralihkan oleh candaan dua lansia yang tidak berhenti menggodanya.
__ADS_1
"Ekhm, Mona, apa Kakek boleh bertanya?" tanya Kakek Niel.
Mona yang sedang menikmati cemilan langsung menganggukkan kepala.
"Apa di kampus kau mempunyai seorang kekasih? Atau seseorang yang mungkin kau sukai, mungkin?"
Uhukk, uhukkk
Mendengar pertanyaan sang kakek membuat Mona langsung tersedak. Dia lalu meminta neneknya untuk mengambilkan air minum di atas meja. Setelah dia bisa bernafas teratur, barulah Mona mengungkapkan isi hatinya pada sang kakek.
"Aku menyukai seseorang, Kek. Sangat suka malah. Tapi aku sadar diri siapa aku, dia tidak akan mungkin mau menerimaku jika tahu yang sebenarnya."
"Kenapa seperti itu? Apa kau sudah mengungkapkan padanya tentang perasaan yang kau rasa?"
Wajah Nenek Shiren terlihat sendu. Tanpa Mona bicara pun dia bisa tahu apa alasan cucunya bicara seperti itu.
"Aku ingin Kek, sangat ingin memberitahu orang itu kalau selama ini aku sangat menyukainya. Akan tetapi jika aku nekad melakukannya yang ada aku akan di anggap menjijikkan. Kakek tahu kan seperti apa lingkar pertemananku? Apakah dengan kondisiku yang selalu diasingkan oleh mereka akan membuat orang itu bersedia menjalani satu hubungan denganku? Aku rasa itu tidak akan mungkin terjadi, Kek" jawab Mona lirih.
"Tapi sayang, semua orang itu memiliki hak untuk mencintai. Tidak baik memendam perasaan seperti ini, kau bisa sakit hati jika melihat orang itu pergi bersama yang lain!" ucap Kakek Niel iba dengan nasib cucunya.
Mona menggigit bibir bawahnya. Matanya nampak berkaca-kaca dan wajahnya terlihat menderita menahan beban perasaan yang dia tahan. Rasa ini sungguh amat menyiksa, tapi Mona tak bisa melakukan apa-apa. Dia cukup sadar diri dengan hidupnya, dia tak mau dimusuhi oleh orang tersebut.
"Sayang, sudah ya jangan pikirkan hal itu lagi. Nenek paham seperti apa perasaanmu, karena Nenek dulu juga pernah merasakannya. Tidak apa-apa kalau sekarang kau belum siap untuk mengungkapkan perasaanmu, itu sama sekali bukan masalah menurut Nenek. Mungkin kau masih membutuhkan sedikit waktu untuk memupuk keberanian. Jadi it's oke, semuanya pasti baik-baik saja," hibur Nenek Shiren.
Kakek Niel langsung melihat ke arah Nenek Shiren dengan kening mengerut. Dia bingung kenapa istrinya malah meminta cucunya untuk tetap stuck di tempatnya sekarang, padahal dia tengah menyemangati Mona agar berani memperjuangkan perasaannya. Kakek Niel hanya ingin melihat cucunya hidup dengan bahagia seperti gadis-gadis lain.
Nenek Shiren yang menyadari tatapan tak biasa dari sang suami pun segera berbisik. Dia tak ingin suaminya ini sampai salah paham dengan apa yang dia sampaikan pada cucunya barusan.
"Kita bahas masalah ini di kamar saja. Kasihan Mona, kau jangan menekan perasaannya terlalu jauh."
"Tapi ini demi kebahagiaannya,"
__ADS_1
"Aku tahu, dan kita akan bahas masalah ini nanti."
Mona yang melihat kakek dan neneknya saling berbisik segera melemparkan candaan. Dia selalu saja dibuat gemas setiap kali melihat pasangan lansia ini bersikap romantis.
"Ekhm ekhm... kenapa aku merasa seperti berubah menjadi makhluk tak kasat mata ya?" ledek Mona sambil menatap sekeliling kamar, pura-pura tak melihat keberadaan kakek dan neneknya.
Kakek Niel dan Nenek Shiren menatap bingung ke arah Mona. Tapi beberapa detik kemudian mereka sadar kalau gadis lucu ini sedang menggoda mereka.
"Dasar gadis nakal. Beraninya menggoda Kakek dan Neneknya seperti ini," omel Kakek Niel sambil mencubit pipi cucunya.
"Aww aww aww, sakit Kek!" protes Mona. "Nek, lihat Kakek. Kakek melakukan kdrt padaku."
"Aiyoo... lihatlah cucumu ini, sayang. Pandai sekali jika sedang mengadu."
Mendapat aduan dari dua orang yang paling dia sayang, Nenek Shiren pun segera menengahi. Dia menarik kuping suami dan cucunya kemudian memarahi keduanya.
"Tidak Kakek tidak cucu, sama-sama nakal!"
"Aku tidak!" sahut Mona dan kakeknya berbarengan.
Setelah itu mereka bertiga tertawa bersama. Karena terlalu asik bercengkerama, mereka sampai tidak menyadari kalau hari sudah lumayan malam. Kakek Niel dan Nenek Shiren pun akhirnya berpamitan untuk istirahat di kamar mereka. Meninggalkan Mona yang kini sedang duduk sambil memandangi satu foto berisi wajah dari seseorang yang di sukainya.
"Aku sangat mencintaimu asal kau tahu. Biarlah seperti ini, aku sudah bahagia hanya dengan mengagumimu dari kejauhan!" bisik Mona sambil tersenyum manis ke arah foto yang sedang dipegangnya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...