
Dengan di papah oleh Resan, Dante berjalan keluar dari dalam kamarnya. Semalam Reina menghajarnya dengan sangat brutal, dan hal itu membuat Dante terluka cukup parah. Bahkan semalam dia masih sempat memuntahkan darah meski Resan telah memberinya obat racikan terbaik yang di buat oleh dokter khusus yang ada di kelompok ini.
"Resan, sebenarnya Reina itu wanita atau monster sih. Kenapa tenaganya bisa kuat sekali. Aku sampai tidak berdaya di buatnya," tanya Dante penasaran.
"Tuan, dulunya Reina itu adalah seseorang yang sangat lemah. Tapi setelah dia bertemu dengan Nona Rose kemudian dilatih khusus olehnya, Reina tiba-tiba saja berubah menjadi orang yang sangat mengerikan yang kemampuannya hampir setara dengan Nona Rose. Kami di sini menyebutnya sebagai Reinadelwis, bunga kedua setelah mawar hitam, yaitu ketua kami," jawab Resan dengan bangga memuji kekuatan rekannya.
"Kalaupun benar dia menjadi kuat karena dilatih oleh Rose, tidak mungkinkan dia bisa sampai sekuat ini. Aku yakin pasti ada alasan lain yang membuatnya bisa jadi seperti sekarang. Benar tidak?"
Resan tak langsung menjawab pertanyaan Dante. Dia lalu mendudukkan Dante di salah satu kursi kemudian meminta penjaga untuk memanggilkan Mona yang masih belum keluar dari kamarnya. Tadi Resan mendapat laporan kalau Reina mengamuk pada gadis malang itu gara-gara mendengar omongan yang berhasil memantik emosinya. Dan Resan bisa langsung menebak kalau Mona telah mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan Nona Rose. Itu sudah pasti, karena memang hanya itulah yang bisa meledakkan emosi di diri wanita cantik itu.
"Resan, kau jangan khawatir. Apapun yang kau katakan akan langsung ku anggap sebagai angin lalu. Jadi kau tidak perlu cemas untuk memberitahu aku tentang siapa Reina. Oke?" ucap Dante kekeh ingin mendengar yang sebenarnya.
"Tuan Dante, orang yang pernah mendapat perlakuan sangat hina kemudian di tolong oleh seseorang yang mana seseorang tersebut mampu membalaskan semua rasa sakit yang pernah di terimanya, mungkinkah orang tersebut akan tetap menjadi orang yang lemah dan juga penakut dalam menantang maut? Jawabannya adalah tidak, Tuan. Dan seperti itulah seorang Reinadelwis. Aku yakin kau pasti bisa membayangkan seperti apa gambarannya dulu sebelum dia jadi seperti yang sekarang!" sahut Resan. "Dan Tuan Dante, aku sarankan kau sebaik jangan terlalu jauh mencari tahu tentang kami. Aku khawatir salah satu dari kami akan lepas kendali kemudian menargetkan anda sebagai orang yang harus di singkirkan dari muka bumi ini. Jangan kau kira dengan menjadi saudaranya Nona Rose kami tidak akan tega untuk menghabisimu ya. Kau salah besar jika mempunyai pemikiran seperti itu!"
Semengerikan itukah mereka?
Jakun Dante bergerak turun naik setelah pendengar peringatan dari Resan. Ya, sekarang dia cukup tahu kalau orang-orang yang berada di kelompok Queen MA adalah orang-orang bermental pembunuh. Dante jadi penasaran akan seperti apa reaksi Rose nanti jika sampai berhadapan dengan Bern, anak dari Bibi Elea dan Paman Gabrielle yang begitu serakah dan juga arogan itu. Belum lagi dengan Gerald si psikopat itu. Dante rasa jika mereka sampai berseteru, maka kemenangan akan berat kepada Rose dan juga Gerald. Rose memiliki kelompok Queen MA yang siap mati membelanya. Sedangkan Gerald, dia memimpin Organisasi Grisi yang kemampuannya telah di akui secara turun-temurun di dunia hitam. Dante bisa mempunyai pemikiran seperti ini bukan karena dia meremehkan Bern ya, bukan seperti itu. Meskipun Bern sendiri mempunyai orang-orang tertentu, sepupunya itu seakan ada orang yang mengendalikan. Setiap langkah yang di ambil oleh Bern, Dante bisa melihat kalau Bern seperti menunggu aba-aba dari seseorang. Entahlah, mungkin itu hanya pemikirannya saja.
"Dante, kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Dante yang sedang melamun sampai tersentak kaget saat ada yang tiba-tiba bertanya padanya. Sambil mengerjapkan mata, Dante menoleh. Dia kemudian tersenyum melihat Mona yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Kau baik-baik saja bukan?" tanya Mona lagi.
"Seperti yang kau lihat. Aku masih bernafas, itu artinya aku baik-baik saja," jawab Dante berusaha tak membuat Mona merasa khawatir.
"Maaf,"
"Apa?"
"Aku minta maaf,"
Mona menundukkan kepala sambil ******* ujung bajunya. Setelah itu Mona berjongkok di hadapan Dante kemudian menggenggam tangannya dengan erat. Jujur, sampai detik ini Mona masih sangat ketakutan setelah melihat kemarahan Reina pagi tadi. Dia terlalu syok sampai jantungnya tidak berhenti berdetak cepat hingga sekarang.
"Dante, aku benar-benar ingin meminta maaf padamu atas semua yang terjadi. Aku janji. Aku janji setelah kita sampai di Negara N aku akan mematuhi semua yang kau katakan. Aku akan patuh meskipun kau memintaku terjun ke dalam jurang sekalipun. Sungguh!" jawab Mona dengan sepenuh hati meminta maaf pada Dante. Pikirannya seperti terbuka setelah di amuk oleh Reina.
"Hei, kenapa tiba-tiba kau jadi aneh begini, Mona. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Aku hanya baru saja di sadarkan oleh sesuatu hal, Dante. Mata hatiku akhirnya terbuka setelah sekian lama aku terbelenggu oleh sebuah ego yang sangat besar. Sekarang aku ingin mengakhiri semua itu, aku ingin berubah secara perlahan!"
__ADS_1
Mona mengangkat wajahnya. Dia lalu menatap Dante yang sedang tercengang dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu aku mungkin tidak akan pernah bisa terlepas dari perburuan para anggota sekte itu. Akan tetapi selagi Rose dan kalian semua berusaha untuk menyelamatkan aku, maka aku berjanji akan mematuhi apapun yang kalian katakan. Aku sekarang juga sudah sadar kalau aku tidak akan pernah bisa memiliki Rose, aku sangat sadar akan hal itu. Entah ini akan berhasil atau tidak, aku akan mencoba untuk membuka lembaran baru di Negara N nanti. Dan untuk membalas usaha yang telah kau lakukan selama ini, di sana nanti aku hanya akan mendengarkan apa katamu saja. Aku juga akan bersedia melakukan terapi ulang agar perasaan salah ini bisa segera pergi dari pikiranku!" jelas Mona dengan setulus-tulusnya. Dia sudah membulatkan tekad untuk merubah diri agar orang-orang yang telah berjuang untuknya tidak merasa kecewa.
"Ini kau tidak sedang bercanda kan, Mona?" tanya Dante terkaget-kaget mendengar keseriusannya Mona. Dia kembali melihat ke arah Resan untuk mencari jawaban kalau dia salah dengar atau tidak. "Resan, kau mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Mona tidak? Telingaku tidak mungkin salah dengar 'kan?"
"Telingamu masih berfungsi dengan sangat baik, Tuan Dante. Nona Mona memang sedang membuat pengakuan di hadapanmu. Dan dia terlihat sungguh-sungguh ingin berubah," jawab Resan seraya melirik kilas ke arah gadis malang yang masih belum tahu kalau dia ....
Nona Mona, sebenarnya mau di manapun kau berada, kau tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari anggota para sekte itu. Asal kau tahu saja. Sekuat apapun Nona Rose mencoba untuk menyelamatkanmu, pasangan itu akan tetap mendatangimu ketika waktunya tiba untuk mereka menjadikan darahmu sebagai obat awet muda. Kemampuan kami tidak sekuat itu untuk menghalau kesesatan sepasang anak manusia yang telah hidup selama ratusan tahun dengan menjanjikan sebuah keabadian dari seorang iblis. Mereka ... adalah sepasang suami istri yang hatinya telah di kuasai oleh keserakahan dan juga ketamakan yang sangat besar hingga nekad menjual ruh mereka untuk di tukarkan dengan keutuhan abadi di dunia ini. Hmmmmm.
"Mona, kau tidak akan berubah pikiran lagi bukan?" tanya Dante memastikan. Dia cukup bahagia mengetahui keinginan Mona yang akhirnya bersedia untuk berubah.
"Tidak, Dante. Tekadku sudah bulat," jawab Mona dengan sangat yakin.
"Bagus. Rose pasti akan sangat bahagia jika mendengar kabar baik ini. Em Resan, kapan Rose akan datang kemari?"
"Mungkin sebentar lagi, Tuan. Bersabarlah!"
Dante mengangguk. Dia lalu tersenyum ke arah Mona yang masih menggenggam tangannya. Sungguh, Dante benar-benar merasa sangat lega sekarang. Setidaknya dia berhasil menyelesaikan tugas yang di berikan oleh keluarganya meski tugas ini membuat Dante hampir mati di tangan Reina.
__ADS_1
Aku tahu kau pasti bisa melewati ini semua, Mona. Kau gadis yang sangat hebat, aku salut padamu.
******