
Keringat dingin langsung memenuhi keningnya Rose saat dia melihat sesuatu yang membuat kepalanya menjadi begitu sakit. Secara perlahan kepingan-kepingan ingatan mulai datang bermunculan, membuat Rose didera rasa sakit yang teramat sangat hebat.
“Akhhhhh sakiittt!” teriak Rose menjerit dengan suara yang sangat kuat. Dia lalu menjambak rambutnya dengan brutal saat ingatan itu semakin banyak bermunculan. “Sakkiiiiitttttt!!”
“Rose!” teriak Adam, Grizelle dan Reina bersamaan.
Gerald dengan cepat mengahadang ketiga orang ini saat mereka hendak mendekati Rose. Dia acuh saja ketika orang-orang ini menatapnya dengan pandangan membunuh.
“Apa maksudmu melarangku mendekati Rose, Gerald. Lihat, dia sedang sangat kesakitan. Kalau bayi kami sampai kenapa-napa bagaimana!” amuk Adamar penuh kebencian.
“Bayi kalian tidak akan mati hanya kerana Rose kesakitan. Santailah!” sahut Gerald. “Bibi Grizelle, bukankah tempat ini sengaja kalian persiapkan untuk membantu Rose mengingat kembali memori yang telah hilang? Jadi sekarang biarkan aku bekerja sesuai dengan caraku sendiri. Bibi dan yang lainnya tidak perlu merasa cemas, aku sudah cukup lama menangani penyakitnya Rose. Dia aman di bawah pengawasanku!”
Semua orang terkejut mendengar pengakuan Gerald yang ternyata mengenal Rose. Namun keterkejutan mereka hanya sekilas karena sekarang mereka semua di buat kaget oleh teriakan Rose yang semakin menjadi-jadi. Oya, acara ulang tahun Danrian Group telah selesai di gelar. Jadi sekarang hanya tinggal pihak keluarga saja yang masih berada di lokasi pesta. Dan seperti yang direncanakan oleh Liona cs kalau mereka akan membawa Rose ke tempat yang sengaja dibuat agar bisa membantu memulihkan ingtaannya. Bukannya apa, semua orang hanya berharap Rose bisa kembali seperti dulu dan bisa mengingat kenangan manis saat dirinya kecil. Tapi sepertinya rencana yang sudah mereka atur dengan begitu matang tidak akan berjalan sempurna karena sekarang Rose malah kesakitan begitu melihat tempat ini.
“Sakit, sakiiittttt!!” teriak Rose dengan wajah yang sudah pucat pasi. Tak lama setelahnya tubuh Rose luruh ke lantai. Dia lalu mendongakkan wajah menatap satu-persatu orang yang ada di sana. Dengan bibir gemetar Rose berusaha meminta pertolongan dari mereka. Dia benar-benar tidak kuat menahan rasa sakit ini. “B-beri aku obat. To … long. A-aku sakit!”
Drax segera mendekap Grizelle yang sudah histeris melihat putri mereka yang begitu menderita. Andai saja bisa, menghabiskan seluruh darah yang ada di tubuhnya pun Drax rela asalkan darah itu bisa membebaskan Rose dari penderitaan ini. Drax benar-benar sangat terluka melihat putrinya tidak berdaya menahan rasa sakit tersebut. Hatinya hancur.
“Tuan Gerald, sepertinya anda terlalu mengulur waktu. Apalagi yang anda tunggu hah. Cepat obati Nona kami!” amuk Lorus sambil mencengkeram kerah bajunya Gerald, orang yang selama ini memberikan obat untuk Nona-nya.
“Aku butuh darahnya saat rasa sakit itu datang. Jadi bersabarlah, Rose hanya akan sedikit menderita saja. Dia tidak mati semudah itu,” sahut Gerald tanpa merasa takut menghadapi amukan Lorus. Ini harus tetap dia lakukan agar bisa menemukan obat untuk klien khusus yang ternyata adalah sepupunya sendiri.
“Kau gila, Rald. Lihat, Rose sudah sekarat. Mengambil darahnya kan tidak harus dengan cara menyiksanya seperti ini!” teriak Rolland panik melihat Rose menggelepar di lantai dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
__ADS_1
“Hmmm. Tolong kalian jawab pertanyaanku. Ingin Rose sembuh atau tetap terbelenggu dengan racun itu. Jika kalian memilih agar aku memberikan obat padanya, maka jangan pernah cari aku ataupun anak buahku lagi jika rasa sakitnya Rose kembali kambuh. Dan akan sangat benar jika kalian memilih untuk membantuku menyembuhkan Rose. Silahkan pilih. Semakin cepat kalian mengambil keputusan, maka itu akan semakin baik!” kesal Gerald sambil menatap nyalang pada semua orang.
Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Gerald begitu mereka mengetahui alasannya menolak mengobati Rose. Adam yang begitu tidak tega melihat keadaan istri kesayangannya memutuskan untuk mendekat. Dia kemudian duduk di lantai, dengan hati-hati mengangkat dan memindahkan kepala Rose di atas pangkuannya. Kedua mata Adam memerah, dia merasa tak berguna karena tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu meringankan rasa sakit yang tengah Rose rasakan. Adam merasa kecewa pada dirinya sendiri.
“Daam sakiiit. Tolong aku,” rintih Rose dengan nafas tersengal. Kepalanya seperti di himpit sesuatu yang begitu berat dan juga panas. Dan sekujur tubuhnya serasa seperti sedang dikuliti dan direbus dalam minyak panas. Sangat menyakitkan.
“Bertahanlah. Aku yakin kau pasti bisa melewati rasa sakit ini, Honey. Jangan takut, aku akan selalu berada di sampingmu. Aku tidak akan mmebiarkanmu melewati ini sendirian. Tolong tahan sebentar lagi ya,” sahut Adam sambil menciumi jari tangan Rose yang mulai mengeras seperti potongan kayu.
“Hikssss, sakiiitttt. Toloong,” ….
Tak kuat melihat Rose yang terus merintih kesakitan, Grizelle akhirnya jatuh pingsan. Dengan cepat Rolland menggantikan ayahnya untuk menggendong sang ibu kemudian membaringkannya ke sofa yang berada tak jauh dari sana. Dan tanpa perlu di perintah, Brenda segera menemani calon mertuanya yang sedang pingsan lalu meminta Rolland agar kembali memantau Rose. Walaupun Brenda tidak sepenuhnya mengerti akan apa yang sedang terjadi, tapi dia berusaha untuk meringankan bebannya Rolland dengan cara membantunya lewat hal-hal kecil seperti ini.
“Terima kasih banyak, sayang,” ucap Rolland sambil menatap hangat ke arah Brenda. Dia merasa sangat terharu akan kepedulian tunangannya ini.
“Tapi nanti jangan lama-lama menikahiku, Kak. Kalau kita menikah cepat, aku pasti akan memiliki banyak waktu untuk menjaga Mommy. Ya?” sahut Brenda yang malah membahas tentang pernikahan.
“Aaaaarrrgggggggg, sakiiiittttt. Resan, berikan obatku. Obaattt!” teriak Rose saat sebagian tubuhnya menjadi kaku tak bisa digerakkan.
Sadar kalau puncak rasa sakitnya Rose hampirt tiba, dengan tenang Gerald mengeluarkan botol dari saku jasnya. Setelah itu dia berjalan mendekat dan berjongkok di sebelah Rose. Gerald hanya diam, tapi manik matanya terus memperhatikan setiap perubahan aneh yang terjadi di diri sepupunya ini. Hingga di satu menit selanjutnya Gerald tiba-tiba menyunggingkan senyum saat Rose menyemburkan cairan pekat tepat ke depan wajahnya. Cairan tersebut sangat kental dan memiliki aroma amis yang cukup membuat perut menjadi tidak nyaman.Adam yang melihat wajah Gerald di penuhi darah yang berasal dari mulutnya Rose hanya bisa menggeretakkan giginya. Sudah sekacau ini tapi Gerald masih sempat untuk tersenyum. Meskipun sangat ingin marah, tapi Adam berusaha menahan diri karena dia tahu inilah yang sedang di tunggu oleh pria dingin ini.
“Keluarkan semuanya, Rose. Jangan di tahan lagi!” ucap Gerald sembari menempelkan botol yang dia bawa ke depan mulutnya Rose. Dia sama sekali tak menun jukkan ekpresi jijik meski wajahnya begitu kotor.
“Kapan ini akan berakhir, Rald?” tanya Liona dengan suara gemetar. Dia kaget setengah mati saat Rose tiba-tiba memuntahkan cairan aneh dari mulutnya. Walaupun bentuknya hampir mirip dengan darah, tapi Liona tahu itu bukan darah. Cairan itu sangat kental dan juga memiliki aroma yang sangat menyengat.
__ADS_1
Gerald menatap ke arah Nenek Liona. “Sampai Rose benar-benar sekarat.”
Jawaban frontal Gerald sukses membuat semua orang yang ada di sana naik pitam. Cleo yang tahu kalau cucunya juga terpaksa melakukan semua itu segera mengambil tindakan dengan menenangkan hati semua orang.
“Tenangkan diri kalian masing-masing. Gerald bicara seperti itu karena memang hanya cara ini yang bisa dia gunakan untuk melakukan penelitian agar nanti bisa mengobati racun yang ada di tubuhnya Rose. Tolong kalian semua jangan gegabah. Gerald tidak akan mungkin tega menyakiti sepupunya sendiri!”
“Kalau terpaksa aku juga tidak keberatan untuk menghabisi Rose, Nek!”
Plaaaakkkkkk
Hanya terdengar suara rintih kesakitannya Rose saja setelah Cleo menghantam kepala Gerald denga tas kulit buaya asli miliknya. Cleo sungguh tak habis pikir dengan ulah si kulkas dua puluh pintu ini. Sudah tahu semua orang sedang menahan emosi padanya, Gerald malah seenak jidat mengibarkan bendera perang pada semua orang. Kadang-kadang anak ini. Hmmmmm.
“Woeeeekkkkkkkkk!”
“Honey!” pekik Adam kaget melihat Rose yang langsung pingsan setelah memuntahkan gumpalan aneh yang warnanya tidak sama denga warna darah yang pertama kali keluar dari mulutnya. “Gerald, bagaimana ini? Rose kehilangan kesadarannya. Apa yang harus kita lakukan?”
“Di luar gedung sudah ada orangku. Bawa Rose ke sana!” jawab Gerald sambil menatap lekat ke arah gumpalan yang tergeletak di lantai. Dia kemudian memungutnya, terheran-heran dan juga sangat tidak menyangka kalau racun yang ada di tubuhnya Rose ternyata telah menyatu dan membeku bersama darah. Pantas saja Rose selalu sekarat tiap kali kepingan ingatan muncul itu di kepalanya. Hmm. “Nenek Cleo, sepertinya aku butuh bantuan Nenek untuk memeriksa racun ini. Aku curiga parasite dari racun ini sudah terbawa ke janin yang sedang Rose kandung. Kita harus segera mencari solusinya!”
“Baiklah. Ayo!” sahut Cleo.
Drax tampak mengusap wajahnya dengan kasar begitu dia mendengar penuturan Gerald. Dia tak pernah mengira kalau racun itu akan menurun pada cucunya juga. Jika Grizelle sampai mendengar hal ini, Drax yakin Grizelle pasti akan merasa sangat terpukul sekali.
Ya Tuhan, jika reinkarnasi itu benar adanya, tolong izinkan aku dan keluargaku terlahir sebagai orang biasa saja. Aku jera karena semua kemegahan yang kami miliki malah mendatangkan masalah yang tiada habisnya. Terlahir dengan takdir seorang pemulungpun aku rela, Tuhan. Asalkan aku bersama anak dan istriku bisa hidup dengan tenang dan bahagia, menjadi apapun aku rela. Sungguh.
__ADS_1
{Banyak orang berpikir keliru dengan berpatokan kalau kemewahan adalah puncak kehidupan. Namun berdasarkan fakta yang ada, orang yang hidupnya terbiasa dengan bergelimang harta sebenarnya memiliki hati yang tidak tenang. Hari-hari mereka selalu diliputi ketidakpuasan dan juga ketakutan. Memang tidak semuanya begitu, tapi 99,9% hampir semuanya seperti itu. Uang adalah segalanya, kata ini biasanya berlaku untuk kita-kita yang berada dalam ekonomi menengah ke bawah. Namun bagi mereka yang bergelimang kemewahan, uang adalah sesuatu yang bisa berubah menjadi momok yang sangat mengerikan hingga mampu membuat mereka tumbuh menjadi sosok yang berbeda. Dan salah satu sebab dan akibatnya adalah kematian dan ketamakan}
***