
“Kau sudah siap, Honey?” tanya Adamar sembari menatap Rose yang sedang duduk di depan meja rias. Dia lalu berjalan mendekat, mengampiri ratu yang kini tengah menatapnya lewat pantulan cermin. “Kau sangat cantik dengan gaun itu. Aku jadi tidak rela membiarkanmu ditatap oleh para lelaki yang ada di pesta nanti. Hmmm,”
Rose hanya tersenyum saja menanggapi keluhan Adamar yang kembali memperlihatkan keposesifannya. Setelah itu Rose membelai deretan batu safir yang terpasang pada gaun yang di pakainya. “Bibi Elea merancang gaun ini secara khusus untukku. Dia juga memberikan hiasan batu safir termahal yang ada di dunia ini. Aku sungguh terharu melihat ketulusannya meski dia baru beberapa kali bertemu denganku.”
“Kalau hanya batu safir seperti itu aku juga bisa membelikannya untukmu, Hon. Jangan melebih-lebihkanlah, aku jadi cemburu,” sahut Adamar merasa kalah saing dengan ibunya si kembar.
“Kau ini. Pada batu safir pun kau bisa merasa cemburu. Ada-ada saja.”
“Itu karena aku sangat mencintaimu dan juga mencintai calon anak kita. Makanya aku sampai seposesif ini pada kalian!”
“Baiklah, jangan ribut lagi. Lebih baik sekarang kita segera keluar saja. Yang lain pasti sudah menunggu kita di sana.”
Bukannya pergi, Adamar malah berjongkok di hadapan Rose kemudian membelai perutnya. Tatapannya begitu dalam, seolah ingin memberitahukan kalau Adamar sangat amat menyayangi makhluk kecil yang tinggal di dalamnya. Rose yang melihat perlakuan Adam hanya diam saja. Jujur, dia masih sangat dilema. Nanti setelah acara pesta ini selesai, Rose akan segera di hadapkan pada satu kenyataan mencekam di mana nanti keputusan Adamar akan sangat menetukan apakah anak mereka akan terlahir dengan orangtua yang lengkap atau tidak. Karena dari informasi yang Rose dapatkan, Adam dan Royce merupakan dua orang yang begitu dekat. Mereka sama kuatnya, tapi Adam sedikit lebih berkuasa karena suaminya ini bak monster yang tak punya hati ketika menjadi sosok Marcellino. Kendati demikian, Rose sangatlah berharap kalau Adam akan memilih dia dan bayi mereka. Rose mencintainya, dan dia tidak ingin anaknya terlahir tanpa ada sosok ayah yang mendampingi.
“Hon?”
“Hmm?”
__ADS_1
“Aku harap kau jangan berpikir terlalu jauh tentangku. Apapun yang akan terjadi nanti, tolong kau tetap percaya kalau aku melakukannya demi anak kita. Oke?” ucap Adam seraya mendongakkan wajah. Dia tahu, sangat amat tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya yang misterius ini.
“Termasuk menjadi musuh dari istrimu sendiri?” tanya Rose lirih. Hatinya perih, dan ini adalah pertama kalinya Rose merasakan sesuatu yang seperti ini.
“Honey, please. Trust me. Okey?”
“Aku tidak bisa berjanji, Dam,” sahut Rose. “Aku punya tanggung jawab pada kelangsungan hidup orang-orang yang selama ini telah setia pada kelompok Queen Ma. Kita memang suami istri, tapi aku tidak bisa mengabaikan mereka hanya demi dirimu yang hanyalah orang lain sebelum menjadi suamiku. Jadi entah kita akan menjadi musuh atau tidak, aku akan tetap berpegang teguh pada kelompokku. Tolong kau juga bisa memahami keputusanku ini karena mereka sudah lebih dulu menyayangiku sebelum dirimu hadir!”
Jawaban tegas Rose seakan menohok relung hatinya Adam yang begitu berharap kalau Rose akan mempercayainya. Akan tetapi di sini Adam juga harus bisa mengerti posisinya Rose sebagai ketua dari kelompok Queen Ma. Kalaupun Adam yang ada di posisinya Rose, Adam yakin kalau dia pasti akan melakukan hal yang sama juga di mana Adam akan lebih memilih untuk melindungi orang-orang yang sudah lebih dulu bersamanya alih-alih berpihak pada orang yang belum lama dia kenal. Namun, jawaban Rose ini membuat Adam merasa risau. Di satu sisi, Royce adalah bayangan Adamar dalam semua bisnis yang dimilikinya. Akan tetapi di sisi lain, Rose adalah istrinya yang tengah mengandung pewarisnya. Keadaan ini sungguh sangat membuat Adam merasa dilemma. Terlalu berat bagi Adam untuk memihak salah satunya karena keduanya sama-sama orang penting di hidup Adam.
Royce menginginkan kematian Rose, sedangkan Rose sepertinya telah menargetkan Royce akan sesuatu yang sedang dicarinya selama ini. Aku jadi penasaran mengapa mereka berdua bisa terhubung dalam dendam yang begitu besar di saat mereka sendiri bahkan belum pernah saling bersinggungan. Hmmmm,
“Apa, Hon?” sahut Adam dengan mata berbinar. Dia tadi tidak salah dengar ‘kan? Rose-nya baru saja mengatakan kalau dia mencintainya bukan?
Rose memalingkan muka ke arah lain. Malu. Secara tidak langsung dia mengakui akan rasa cinta yang dimilikinya selama ini. Suasana yang tadinya terasa menegangkan kini malah berubah menjadi aneh setelah Rose salah bicara. Benar-benar sangat memalukan.
“Ekhmmmmm, tidak kusangka malam ini aku akan melihat pemimpin kelompok Quenn Ma tersipu malu gara-gara tak sengaja mengungkapkan rasa cinta kepada suaminya. Tapi ngomong-ngomong yang tadi aku dengar itu benar kan, Honey? Kau mencintaiku bukan?” cecar Adam sambil tersenyum bahagia. Akhirnya dia mendengar juga kata-kata keramat ini keluar dari dalam mulutnya Rose. Haha.
__ADS_1
“Jangan menggodaku, Dam. Mari kita kembali ke pembicaraan awal saja,” sahut Rose mencoba mengalihkan pembicaraan. Saat ini tubuhnya serasa seperti sedang di bakar, apalagi sekarang tangan Adam tak henti mengelus-elus kedua sisi pinggangnya. Membuat Rose merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang asik beterbangan di dalam perut. Sangat geli.
“Aku menolak, Honey. Bicara tentang perasaan kita rasanya jauh lebih menyenangkan ketimbang kita terus membahas tentang permusuhan,” jawab Adam menepis keinginan Rose yang berniat melarikan diri dari ucapannya. No nono, kali ini Adam tidak akan membiarkannya lolos.
“Tapi, Dam. Kita ….
“Sstttttt, Honey. Kau ratuku, tolong percaya padaku kalau masalah ini aku pasti bisa menyelesaikannya tanpa harus kita menjadi musuh. Jadi tolong biarkan aku sekali lagi mendengar ungkapan rasa cintamu padaku. Saat ini saja. Ya?”
Rose terpaku malu. Namun di detik selanjutnya dia tiba-tiba menangkup kedua sisi rahang Adam lalu mengecup bibirnya penuh perasaan. Meskipun Rose begitu mencintai pria ini, tapi dia bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya secara langsung. Bukan karena malu, tapi lebih kepada rasa yang tak biasa. Selama ini Rose hidup dalam kebekuan dan kesengsaraan, jadi apapun yang Rose rasa hampir selalu dia simpan dalam diam. Namun karena tak mau terus dipaksa oleh Adam, alhasil Rose lebih memilih untuk mengungkapkannya lewat sentuhan. Dan ciuman ini adalah contohnya. Rose ingin Adam tahu kalau dia sangat sangat amat berharap mereka tidak akan berakhir dalam keputusan yang menyakitkan. Rose ingin mereka tetap bersama sampai akhir hayat.
Cup cup cup
“Apa kau menyukainya?” tanya Rose sambil menatap wajah Adam dari jarak dekat.
“Honey, malam ini kenapa kau begitu manis padaku. Haruskah kita tidak usah pergi ke pesta itu? Kita istirahat saja di kamar. Ya?” rayu Adam sambil menelan ludah. Adik kecilnya tiba-tiba bangun setelah Rose menciumnya dengan begitu mesra. Adam butuh pelepasan sekarang juga. Sungguh.
“Percaya tidak begitu kau bangun besok, Mommy,Daddy dan juga yang lainnya akan langsung menghabisimu dengan cara yang paling brutal. Kau jangan gila, Dam. Acara malam ini sudah lama dinanti-nantikan oleh mereka semua. Jadi kau jangan membuat masalah dulu hanya karena adik kecilmu yang terbangun. Paham?” tegur Rose sambil menahan tawa melihat ekpresi Adam sekarang. Sungguh sangat mesum sekali.
__ADS_1
Adam berdecak. Wajahnya berubah menjadi sangat masam saat Rose mengajaknya pergi menemui semua orang yang telah menunggu di ruang tamu. Dan untuk beberapa jam ke depan, sepertinya Adam harus rela menahan sakit di bagian kedua kakinya. Hmmmm, sungguh sangat menyedihkan. Haih.
***