
“Larilah sejauh yang kau bisa, Royce. Minta semua anak buahmu untuk menyerang kami. Karena hari ini adalah hari yang sangat special sebab keturunan keluarga Xia saling bertemu, bagaimana kalau kita merayakannya dengan cara yang special juga. Saling mempertahankan nyawa mungkin. Benar begitu kan, Mom?” ucap Dante sembari melepas satu-persatu kancing kemejanya. Tatapannya terus tertuju pada Royce, keponakan dari orang yang telah menjebak ibunya hingga ajal menjemput. Bara api jelas terlihat di matanya, menandakan betapa Dante begitu ingin melahap nyawanya Royce.
“Mommy tidak akan ikut campur dalam masalah ini, Dante. Tapi jika kau ingin mengajak Mommy bersenang-senang, Mommy juga tidak akan menolak,” jawab Grizelle dengan senang hati mengiyakan tawaran dari putranya.
“Kau dengar itu, Royce. Wanita yang telah berbesar hati merawat dan mencintai anak dari orang yang telah menyengsarakan hidup putrinya menerima dengan baik ajakan untuk nostalgia dengan kita berdua. Jadi … mulailah kau mengatur siasat untuk menghabisi kami semua. Aku sudah tidak sabar,”
Royce tampak mengeratkan kedua rahangnya saat Dante, yang ternyata adalah sepupu kandungnya, memintanya untuk mulai menyerang. Sadar kalau ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa menghabisi Rose, Royce pun segera membisikkan beberapa rencana pada anak buahnya yang telah kembali berjejer di belakangnya. Royce meminta mereka agar fokus menghabisi Rose dulu, yang lain masa bodo. Royce juga sudah tidak peduli kalaupun dia harus mati, yang terpenting dia berhasil membalaskan dendam atas kematian semua keluarganya. Yaitu dengan cara mengirim Rose menyusul mereka kea lam baka.
“Kepung dari semua sisi. Saat ini Rose dilindungi oleh orang-orang hebat, kita jangan sampai lengah. Begitu ada celah, tembak. Siapapun di antara kalian yang berhasil menghabisinya, aku akan memberikan imbalan yang sangat besar. Paham?” ucap Royce dengan liciknya menghasut anak buahnya dengan menjanjikan hadiah besar untuk mereka. Padahal Royce tahu benar kalau mereka semua akan mati. Yang membedakan hanyalah kubu siapa yang akan tumbang lebih dulu. Entah kubunya Rose, atau malah kubunya sendiri. Yang jelas saat ini Royce hanya perlu membuat jiwa pembunuh di diri anak buahnya semakin bertambah besar dengan menjanjikan imbalan yang besar pula untuk mereka semua.
“Tapi Tuan, bagaimana cara kita membunuh wanita itu kalau sekarang saja dia sudah di jaga ketat oleh mereka?” tanya salah satu anak buahnya Royce sambil melirik ke arah wanita yang kini hanya terlihat sedikit wajahnya saja. Jujur, dia ketar-ketir, merasa ragu kalau kelompoknya bisa menang mengingat betapa besarnya kekuatan musuh.
“Tunggu setelah mereka terpecah belah. Salah satu dari kalian fokuslah padanya. Sekarang kita berpencar, aku dan yang lainnya akan membuat mereka pergi menjauh dari Rose. Kau carilah tempat untuk mengintai kepalanya. Oke?” jawab Royce lalu meminta anak buahnya untuk segera bersiap karena perburuan nyawa akan segera dimulai.
Resan langsung berdiri di belakang Tuan Ethan dan Tuan Priston saat Royce dan anak buahnya mulai bergerak. Dia kemudian menoleh saat mendengar suara rintihan dari arah belakangnya.
“Nona, anda baik-baik saja?”
“Ya. Hanya sedikit pusing saja,” jawab Rose. Mungkin efek sisa racun di tubuhnya yang membuat Rose tiba-tiba merasa pusing.
“Tunggulah sebentar, Nona. Saya dan yang lainnya akan segera membereskan masalah ini. Dengan begitu anda bisa segera beritirahat di rumah,” ucap Resan dengan sopan. Sopan dalam artian yang hanya bisa dimengerti oleh Rose dan Resan saja.
Rose mengangguk. Dia kemudian mendongak saat Marcellino mencium keningnya. “It’s oke. I’m fine.”
“Kau memang harus baik-baik saja, Honey. Kau dengar itu ‘kan?” sahut Marcellino.
__ADS_1
“Iya aku dengar,”
Marcellino tersenyum. Pandangannya beralih ke depan saat suara baku senjata mulai terdengar.
Bersiaplah mati, sahabatku. Aku sangat menantikannya.
Dante memimpin perburuan dengan menembak satu anak buahnya Royce yang diam-diam sedang mengintai dari sudut gudang. Saat ini Dante telah membuka pakaiannya, dan dia hanya mengenakan celana panjangnya saja. Bukan apa, seluruh tubuhnya Dante serasa terbakar api saat mendengar pembicaraan antara Royce dengan keluarganya. Meskipun Royce tahu kalau ibunya meninggal di tangan keluarga Mommy-nya, tapi dia berbesar hati menerima kenyataan tersebut karena bagaimanapun ibunyalah yang bersalah. Akan tetapi untuk apa yang dilakukan oleh ayah dan juga pamannya, Dante tak berniat untuk memaafkan mereka. Mata di balas mata, nyawa di balas nyawa. Ayahnya dan ayahnya Royce bersekongkol menjadikan ibunya sebagai tumbal demi bisa membalas dendam mereka, maka Dante bersumpah akan menjadikan Royce sebagai piala akhir sebagai bentuk pembalasan atas kematian snag ibu. Bukankah cara ini cukup adil? Ibunya mati demi keluarga Xia, dan Royce mati demi membalaskan dendam kematian ibunya. Hah.
Dorr dorrr
“Larilah sejauh yang kau bisa, Royce. Jangan khawatir, aku pasti akan mendapatkanmu!” teriak Dante setelah menembak kepala dua anak buahnya Royce.
Sial. Kalau begini ceritanya aku akan kalah dengan mudah. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sial sial sial.
Dengan keadaan satu tangan yang terluka, Royce tidak bisa maksimal saat menggunakan pistolnya. Dia tak henti mengumpat saat mendengar suara gelak tawa dari kubunya Rose yang telah berhasil membantai habis anak buahnya. Tak mau mati konyol, Royce memutuskan mencari jalan untuk kabur dari sana. Mendadak dia jadi tak ingin mati, Royce ingin tetap hidup bagaimanapun caranya.
“Dia yang datang mengantarkan nyawanya sendiri, kenapa sekarang harus lari?” gumam Dante sambil berjalan cepat menuju tempat persembunyian Royce. Dante tak mau mengulur waktu lagi, sepupunya itu harus mati.
Tepat ketika Royce melihat ada jalan setapak menuju hutan belakang gudang, di saat yang bersamaan ada seseorang yang menarik rambutnya kemudian membantingnya ke tanah. Dia yang tidak siap dengan serangan tersebut hanya memekik kesakitan saat orang tersebut menginjak dadanya dengan kuat hingga membuat Royce menyemburkan darah segar dari dalam mulutnya.
“Uhuuk-uhukkkk!”
“Ingin kabur, eh? Jangan harap!” ejek Dante sambil tersenyum bengis. Tanpa memberi kesempatan untuk Royce menarik nafas, dia sudah lebih dulu mengangkat kakinya hendak mematahkan lehernya Royce. Dante benar-benar sudah tidak tahan lagi sekarang. Sungguh.
“Terlalu mudah jika Royce dibiarkan mati secepat ini, Dante. Dia masih belum menyelesaikan urusannya denganku!”
__ADS_1
Dengan penjagaan yang sangat ketat, Rose berjalan menghampiri Dante yang terlihat sudah begitu bern*fsu hendak menghabisi sepupunya sendiri. Sambil memperhatikan bagaimana semua orang membantai habis anak buahnya Royce, Rose melepaskan diri dari pelukan Marcellino. Setelah itu Rose mengelus pundaknya Dante. “Jangan bunuh dia sekarang. Aku ingin dia tetap hidup.”
“Rose, kau ….
“Ternyata peperangan ini tidak seseru yang aku bayangkan. Menyesal aku ikut datang kemari!”
Gerald dengan santainya berjalan melangkahi mayat-mayat yang mati dengan cara mengenaskan. Setelah itu dia mengeluarkan sebuah suntikan dari saku bajunya. Marcellino, Ethan, Priston, Resan dan yang lainnya langsung mundur ke belakang begitu tahu ketua Grisi ini hendak melakukan eksperimen pada Royce yang terkapar di tanah dengan mulut penuh darah.
“S-siapa k-kau?” tanya Royce terbata. Dia berusaha beringsut menjauh saat pria berwajah dingin itu berjongkok di sebelahnya sambil memegang jarum suntik.
“Aku?”
Gerald menoleh. Dia lalu menatap lekat ke arah Rose.
“Lakukan saja,” ucap Rose tanggap akan arti tatapan mata Gerald.
“Oke.”
Dan Gerald pun menyuntikkan cairan ke dalam tubuhnya Royce begitu mendapat izin dari Rose. Setelah itu dia melengang pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah katapun. Sedangkan Royce, dia langsung jatuh tak sadarkan diri begitu mendapat suntikan tersebut.
“Apa yang Gerald lakukan padanya, Rose? Kenapa tidak langsung membunuhnya saja?” tanya Dante antara penasaran dan juga kesal.
“Cairan yang di suntikkan ke tubuhnya Royce adalah racun yang dulu di suntikkan ke tubuhku. Gerald melakukan ini semua agar nantinya kami bisa menemukan obat penawar untuk anakku. Angap saja kalau Royce dijadikan sebagai kelinci percobaannya Gerald demi bisa menciptakan penawar untuk racun buatan orang Grisi,” jawab Rose. “Nanti akan ada anak buahnya Gerald yang akan membawa Royce ke labolatorium Grisi. Dan begitu dia sadar, dia tidak akan bisa mengingat apapun lagi. Dia juga akan merasakan kematian bertubi-tubi seperti yang aku alami selama ini. Jadi kau jangan khawatir. Di tangan Gerald hidupnya Royce seribu kali akan jauh lebih menyakitkan daripada mati di tanganmu.”
Saat Rose sibuk berbincang dengan Dante, tanpa sepengetahuan siapapun Marcellino diam-diam menyelinap masuk ke dalam gudang. Dia langsung pergi menuju ruangan yang sampai sekarang masih belum bisa dibuka oleh Royce dan anak buahnya. Begitu sampai, Marcellino dengan mudahnya membuka ruangan tersebut. Dia memutar vas bunga yang berada di meja, lalu perlahan-lahan pintu itu pun terbuka.
__ADS_1
“Finally, Honey. Kau berhasil sampai ke singgasanaku dengan deretan puzzle-mu yang sangat luar biasa itu. Ini benar-benar kabar yang sangat baik. Aku suka itu!”
***