Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Latar Belakang


__ADS_3

"Kau seharusnya tidak memancing kemarahanku, Nona Zalina!"


Setelah puas menikmati makan malam yang ada, Rose segera mencari keberadaan ayah mertuanya yang ternyata sedang menyendiri di balkon. Dia ingin memberi peringatan agar tidak mengulangi kebodohan yang sama seperti yang terjadi di ruang makan tadi.


"Jaga ucapanmu, Rose!" hardik Zidane tanpa berani melihat ke arah wanita yang kini sedang berdiri di sebelahnya.


"Bukan aku yang seharusnya menjaga ucapan, tapi kau. Aku tidak akan mungkin menyebut nama Zalina kalau kau tidak menyinggungku lebih dulu, Papa. Bukankah saat di club aku sudah mengatakan kalau rahasiamu aman di tanganku? Tapi kenapa kau malah ingin membongkar rahasiamu sendiri di hadapan Adam dan Gracia?" sahut Rose dingin. "Jangan coba-coba mengkambing hitamkan aku atas kebodohan yang kau buat, Pa. Ingat, Adam masih belum tahu kalau kau terlibat dengan kematian ibunya."


Terdengar helaan nafas berat dari mulut Zidane setelah Rose selesai bicara. Dia sadar, mustahil untuk bisa mengalahkan wanita ini. Satu-satunya cara agar rahasianya tetap aman adalah dengan tidak banyak bicara. Ya, hanya ini cara yang tepat agar rahasia siapa ayah kandung Adamar tidak terbongkar. Juga dengan kebenaran tentang rahasia kematian istri pertamanya.


"Hmm, harusnya malam ini menjadi malam yang indah karena kita sudah menjadi satu keluarga. Tidak kusangka malah berakhir seperti ini. Membosankan!" gumam Rose sambil mengelus-elus perutnya.


"Dimana Adam?" tanya Zidane. Dia sedikit cemas, takut kalau putranya mendengar percakapan mereka.


"Dia sedang menerima telepon dari rekan bisnisnya. Ada apa? Apa kau ingin mengakui semuanya pada Adam?" jawab Rose sarkas.


"Sinting kau, Rose!"


"Hati-hati dengan lidahmu, Papa. Lidah memang tidak bertulang, tapi lidah bisa menghancurkan seluruh tulang yang ada di tubuhmu. Tidak percaya?"


Zidane sudah ketar-ketir sendiri saat Rose tiba-tiba memegang punggungnya. Karena yang Zidane rasakan pegangan itu bukan seperti pegangan biasa. Melainkan serasa seperti orang yang tengah menempelkan sesuatu di sana. Dan terbukti. Begitu Rose menurunkan tangannya, tiba-tiba saja satu titik merah mengarah pada matanya Zidane. Hal ini tentu saja membuat Zidane langsung sesak nafas. Bagaimana tidak! Tanda merah ini berasal dari bidikan sniper yang tengah bersembunyi di suatu tempat. Dan sialnya sniper tersebut adalah anak buah dari wanita ini.


"Aku akan bicara terus terang padamu. Di antara kita tidak ada hubungan apapun selain hubungan pura-pura, Tuan Zidane. Jadi aku harap kau jangan bereaksi berlebihan dengan menolak kehadiranku di rumah ini. Ingat, Adam bukan anakmu. Dan marga Clarence yang dia sandang bukanlah marga yang sebenarnya. Kalau kau masih berani menyinggung kemarahan kami berdua, suatu saat titik merah yang kini terarah padamu akan meledakkan bom kecil seperti yang aku tempelkan di bagian punggungmu. Kau tahu bukan kalau aku tidak suka bercanda?"


"Kau sedang mengancamku?" tanya Zidane dengan sekujur tubuh sudah di banjiri keringat dingin. Siapa yang tidak akan takut jika berada di posisinya Zidane sekarang.


"Tidak!" jawab Rose singkat. "Tapi anak buahku akan langsung membunuhmu kalau kau berani macam-macam. Saat ini aku tengah mengandung keturunan dari orang-orang besar. Hidupmu tidak akan baik-baik saja jika sampai terjadi sesuatu pada kami berdua. Terlebih lagi pada anak yang sedang ku kandung. Karena apa? Karena bayi ini ... adalah cucu dan juga cicit ... dari ... dua keluarga yang tidak bisa kau bayangkan latar belakangnya. Kau ingin tahu mereka siapa?"


"S-siapa?"

__ADS_1


Rose menyeringai.


"Aku adalah anak dari pasangan Drax Osmond dan Grizelle Shaenette Ma. Juga cucu dari pasangan Liona Serra dan Greg Ma. Group Ma, L&S Company, dan Dantian Group, kau tidak mungkin tidak mengenal tiga perusahaan raksasa di Negara N ini kan?"


"A-A-APAAAA!!!"


Gila, ini benar-benar gila. Bukankah Rose adalah anak miskin yang datang dari pedesaan? Lalu bagaimana bisa tiba-tiba dia menjadi bagian dari keluarga mengerikan itu? Zidane tentu saja sangat tahu semua nama-nama yang tadi di sebutkan oleh Rose. Oh my god, Liona Serra? Ini gila. Pantas saja Rose bisa sebegini kejam. Zidane sekarang tahu mengapa Rose bisa mempunyai anak buah yang mengerikan seperti Reinadelwis dan kawan-kawannya. Ternyata ini penyebabnya.


"Tuan Zidane, kau adalah satu-satunya orang yang tahu latar belakangku yang sebenarnya. Jika rahasia ini sampai bocor ke telinga orang lain, aku pastikan kau akan menjadi kelinci percobaan di labolatorium Grisi. Kau tahu siapa mereka bukan?"


Setelah berkata seperti itu Rose mencabut benda yang tadi dia tempelkan ke punggung pria ini. Dia kemudian pergi dari sana sambil tersenyum samar. Bukan tanpa alasan kenapa Rose memberitahu Zidane tentang latar belakang keluarganya. Hal ini dia lakukan agar pria tersebut tak lagi membuat kegaduhan yang bisa membuat Adam menjadi curiga. Sampai saat ini Rose masih menimang apakah harus memberitahu Adam tentang kebenaran dari kematian ibunya atau tidak. Juga dengan status ayahnya yang ternyata adalah seorang penyuka sesama jenis. Rose sangat khawatir kalau Adam akan terluka dengan kenyataan ini. Itulah kenapa dia terpaksa harus membungkam mulut Zidane lebih dulu agar tidak mengacaukan rencananya.


Semoga saja apa yang aku lakukan tidak salah. Tapi kenapa aku tidak merasakan ada yang berbeda di diri Adam saat aku menyebut nama Zalina tadi? Apa jangan-jangan dia sudah tahu seperti apa Tuan Zidane yang sebenarnya? Jika iya, apa tujuannya? Siapa Adamar sebenarnya? Untuk waktu-waktu tertentu aku seperti merasa kalau dia itu memiliki aura yang sangat besar dan misterius. Mungkinkah aku melewatkan sesuatu yang penting tentangnya?


Adam yang saat itu baru selesai bicara dengan rekan bisnisnya di telepon langsung pergi mencari keberadaan istrinya. Dia tersenyum ketika melihat Rose yang sedang berjalan menuruni anak tangga.


"Kau darimana, Hon?" tanya Adam sambil mengulurkan tangan ke depan. Dia menunggu wanita cantik ini sampai di anak tangga terakhir dengan tatapan penuh cinta.


"Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?" cecar Adam khawatir. Dia lalu menatap Rose dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Papa akan langsung di tembak mati oleh Lorus jika berani menyentuhku, Dam. Kau tahu kan kalau mereka sangat posesif padaku. Apalagi setelah mereka tahu aku sedang hamil. Mereka pasti akan menjagaku jauh lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Jadi kau jangan khawatir, ya?"


Rose kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia tengah mencari keberadaan Gracia.


"Dia sedang berada di dapur bersama para pelayan. Ingin membuatkan menu makanan sehat untuk calon keponakan katanya," ucap Adam. Dia tahu hal ini karena tidak sengaja mendengar percakapan pelayan.


"Hmm, calon bibi yang baik!" sahut Rose terharu.


Adam dengan hati-hati mengajak Rose untuk duduk. Dengan penuh perhatian Adam menaikkan kakinya Rose ke atas pangkuannya. Setelah itu dia memijitnya.

__ADS_1


"Hei, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kau memijit kakiku, Dam?" tanya Rose keheranan.


"Daddy bilang ini sangat baik dilakukan pada wanita yang sedang hamil. Kau sekarang pasti mudah lelah bukan?" jawab Adam.


Rose tersenyum mendengar jawaban suaminya. Lucu sekali. Kemesraan mereka terus berlanjut sampai dimana Gracia muncul sambil membawa kertas yang berisi daftar menu makanan sehat yang harus di konsumsi oleh Rose selama hamil.


"Menu ini di rekomendasikan khusus dari dokter terbaik yang ada di negara kita, Rose. Jadi kau tidak perlu takut."


"Akan terasa lebih baik kalau kau yang memasaknya langsung, Grace. Keponakanmu pasti akan jauh lebih sehat lagi," sahut Rose.


"Tapi aku tidak bisa memasak, Rose. Bagaimana kalau kalian malah keracunan. Kak Adam pasti akan langsung membunuhku," keluh Gracia tak berdaya. Untuk sekedar masak nasi saja dia tidak bisa, apalagi memasak. Hasilnya pasti akan sangat mengerikan.


"Jangan mengeluh sebelum mencobanya. Aku yakin kau pasti bisa. Berusahalah!"


"Apa kau yakin?"


"Harus yakin!" timpal Adam. "Ini sudah malam. Aku akan membawa kakak iparmu pulang ke rumah. Besok pagi kami akan menunggu kiriman makanan darimu. Malam ini belajarlah dengan keras!"


Gracia begitu terharu saat menerima semangat dari sang kakak. Dia lalu mengantarkan pasangan suami istri ini sampai di luar rumah. Sungguh, meski awalnya penuh ketegangan, tapi pertemuan mereka berakhir dengan Gracia yang akhirnya di hargai oleh kakaknya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain kenyataan ini, khususnya untuk hati Gracia yang sudah lama sepi.


Terima kasih Rose. Berkatmu aku dan Kak Adam bisa semakin dekat. Kau adalah pembawa keberuntungan di hidupku, Rose. Terima kasih.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2