
Plaakkkkk
Kepala Dante sampai tertoleh ke samping setelah mendapat satu tamparan dari Reina. Sebenarnya Dante ingin marah, tapi dia tahan karena di sana ada Rose yang sedang duduk santai sambil memejamkan mata di sana. Kecerobohan yang tidak sengaja Dante lakukan ternyata mampu mendatangkan aura mencekam yang begitu kuat di tempat ini. Oh ya, mungkin sebagian dari kalian ada yang merasa bingung di mana Dante dan Mona berada sekarang. Dan jawabannya, saat ini mereka berdua tengah berada di markas Ma Queen. Ya. Setelah insiden kejar-kejaran antara Dante dan para anggota sekte yang mengincar Mona, di tengah jalan mobil Dante di hadang oleh Resan. Mereka kemudian diminta untuk segera datang ke markas ini atas perintahnya Rose. Takut? Itu sudah pasti. Tak terkecuali dengan Mona. Mereka berdua sadar betul kalau apa yang baru saja terjadi telah memantik kemarahan di diri Rosalinda Osmond, si wanita dingin yang kini tengah mengandung.
"Haih, Dante-Dante. Mommy Grizelle dan Daddy Drax adalah sepasang manusia yang begitu cerdik dan juga hebat. Lalu bagaimana bisa mereka mempunyai anak seceroboh dirimu? Sudah tahu kalau hutan itu adalah bagian dari para penganut sekte, kenapa kau malah membawa Mona pergi ke sana. Sudah bosan hidup atau bagaimana, hem?" tanya Reina seraya berdecak kesal.
"Em, Reina. Tolong kau jangan menyalahkan Dante. Di sini akulah yang bersalah karena terlahir sebagai anak dari anggota seperti mereka. Dante mengajakku pergi ke sana karena dia tidak tahu ada bahaya besar yang mengancam keselamatanku. Jadi aku mohon tolong jangan salahkan dia ya?" sahut Mona merasa bersalah ketika Dante harus menerima hukuman gara-gara dirinya. Mona tidak sekejam itu meski dia sendiri tidak terlalu menyukai pria ini.
"Wow, lihatlah sayangku. Gadis cantik ini sudah berani membela Dante di hadapan kita. Tidakkah menurutmu ini adalah sesuatu yang menarik?" tanya Reina pada Rose. Dia cukup takjub akan rasa simpatik yang coba di tunjukkan Mona untuk Dante mengingat kalau gadis ini cukup alergi dengan yang namanya laki-laki.
"Mona?"
Suara rendah Rose ketika memanggil Mona membuat bulu kuduk semua orang yang ada di sana langsung berdiri tegak. Bahkan Adam yang baru saja kembali dari kamar mandi sampai menelan ludah karenanya.
"I-iya, Rose?" sahut Mona gugup.
"Kalau kau sudah bosan hidup, aku sarankan kau sebaiknya kembali saja ke hutan itu. Percuma. Manusia bebal yang keras kepala sepertimu tidak akan pernah bisa merasakan betapa berharganya arti sebuah nyawa!" ucap Rose penuh penekanan. Setelah itu Rose membuka mata, langsung menghunuskan tatapan yang sangat tajam ke arah Mona yang berdiri sambil menundukkan kepala. "Kau tahu, Mona. Aku menyayangimu, begitu juga dengan semua orang yang berada di sekelilingmu. Aku tahu apa yang kau rasakan sangatlah sulit untuk dilepaskan, tapi bukan berarti kau harus terus mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas bisa membahayakan keselamatan banyak orang. Dante contohnya. Kalau saja kau bersedia untuk menemui aku dan Adam, kalian berdua pasti tidak akan mungkin masuk ke kandang macan. Sekarang keberadaanmu sudah terlanjur di ketahui oleh mereka, itu artinya kau sama sekali tidak aman jika tetap berada di negara ini. Pergi. Pergi sejauh mungkin kemudian rubahlah kehidupanmu. Mengerti!"
Dante langsung menatap lekat ke arah Rose begitu mendengar perkataannya yang sangat sulit untuk di bantah. Dia kaget, sangat amat tidak menyangka kalau Rose akan mengambil keputusan sebesar ini dalam menekan perasaan Mona. Sungguh.
"Tapi Rose, aku ....
"Tidak ada bantahan!" sela Rose dingin.
"Aku ingin tetap tinggal di negara ini bersama dengan Kakek dan Nenekku!" teriak Mona frustasi. Matanya memerah, dia kecewa dan juga kesakitan mendengar keputusan Rose yang ingin mengusirnya pergi dari negara ini. Mona tidak ingin, dia tidak mau.
__ADS_1
Resan segera berjalan mendekat ke arah Nona-nya begitu melihat sang Nona menghela nafas. Tanpa banyak berkata-kata, Resan langsung menghubungi nomor seseorang kemudian menyerahkan ponselnya.
"Kau menginginkan Mona bukan? Malam ini juga kalian akan mendapatkannya!" ucap Rose.
Bola mata Dante dan Mona langsung membulat lebar begitu mereka mendengar apa yang di katakan oleh Rose. Sungguh, mereka benar-benar tidak menyangka kalau Rose akan setega ini ingin menyerahkan Mona pada orang-orang yang memang sedang memburunya. Ini keterlaluan, Rose sudah gila.
"Reina?" panggil Rose sambil memainkan ponsel di tangannya. Panggilan itu tak lagi terhubung, Rose langsung mematikannya begitu mengatakan kalau dia akan menyerahkan Mona pada orang-orang k*parat itu.
"Yes, baby," sahut Reina manja. Segera dia datang mendekat ke arah Mona yang kini tengah bersembunyi di belakang tubuhnya Dante. Reina kemudian menyeringai. "Jangan takut, sweety. Aku dan Rose hanya ingin mempercepat ajalmu saja. Bukankah kau begitu ingin tinggal di negara ini dan tidak mempedulikan keselamatan Kakek dan juga Nenekmu? Maka dari itu patuhlah padaku. Okey?"
"Reina, berhenti. Jangan sentuh Mona meski hanya seujung kuku. Paham kau!" hardik Dante meradang.
"O o oww, maaf Tuan Dante yang tampan. Sayangnya hanya Rose saja yang bisa memerintah dan melarangku agar jangan membawa Mona pergi. Karena selain dia, aku bahkan tak segan untuk menghabisimu. Tidak percaya? Mari kita berduel!" tantang Reina dengan santainya.
Tanpa di duga-duga, Dante yang tidak ada persiapan sama sekali langsung jatuh terjerembab ke lantai saat Reina memutar tubuhnya kemudian menendang wajahnya. Gerakan ini terlalu cepat hingga membuat Dante kalah telak hanya dalam satu pukulan. Rose yang melihat saudaranya di hajar oleh Reina hanya diam membiarkan. Dia kemudian menoleh saat Adam mengelus pinggangnya pelan.
"Dam, kita berdua dilahirkan dengan sikap yang kejam dan tidak berperasaan. Melihat mereka yang plin-plan dan tidak mempunyai keyakinan, maka perlu bagi kita untuk memberi mereka pelajaran. Mona dan Dante harus tahu kalau hidup ini sangatlah kejam. Siapa yang lemah, dialah yang akan tertindas. Aku hanya ingin mereka tahu kalau sikap yang mereka tunjukkan sekarang bisa berakibat fatal untuk ke depannya nanti. Kau mengerti bukan?" sahut Rose menjelaskan alasan mengapa dia sampai tega melakukan kekejaman seperti ini pada Mona dan juga Dante. "Mereka masih beruntung karena aku bukan meminta Lorus yang menghajar Dante. Kalau saja dia sudah pulih, aku jamin Dante tidak akan bisa kembali ke negara N untuk memperingati hari ulang tahun Dantian Group!"
Adam terkekeh. Istrinya ini terlalu mengerikan, Rose-nya tidak pernah main-main dalam memberikan hukuman meski pada keluarganya sendiri. Sungguh menggemaskan.
"Rose, please. Pleaseeee ... aku mohon tolong minta Reina berhenti memukuli Dante. Kasihan dia, Rose. Aku mohon tolong hentikan Reina. Aku mohooonnn!" ucap Mona memohon sambil duduk bersimpuh di hadapan Rose. Air matanya terus bercucuran melihat bagaimana Dante yang terus di hajar tanpa henti oleh Reina.
Rose diam tak merespon permohonan Mona. Dia butuh sesuatu yang lain.
"Rose, please. Tolong Dante, dia bisa mati!"
__ADS_1
Masih tak ada tanggapan. Mona yang tersadar kalau Rose tengah menunggu jawaban darinya, seketika berhenti menangis kemudian diam berpikir.
Haruskah aku pergi dari negara ini?
"ARGGGHHHHHHH!"
Dante memekik kesakitan saat perutnya di injak oleh Reina hingga membuatnya memuntahkan darah segar yang cukup banyak. Mona yang kala itu masih merenung langsung tersentak kaget begitu mendengar suara teriakan Dante. Dia lalu mengatakan jawaban yang memang sedang di tunggu-tunggu oleh Rose.
"Aku akan pergi kemanapun kau suruh, Rose. Tapi tolong minta Reina berhenti memukuli Dante. Aku janji aku akan patuh. I'm promise,"
"Good girl!" sahut Rose senang. "Resan, urus kepindahan Mona dari negara ini. Pastikan kau telah menghabisi orang yang tadi berbicara denganku. Dan kau, Reina. Obati Dante lalu siapkan semua barang miliknya agar besok pagi dia dan Mona bisa langsung berangkat ke Negara N. Kita pulang, Dam!"
"Oke, Honey!" ucap Adam terkesima melihat bagaimana kerennya Rose menyelesaikan masalah dalam satu waktu. Sungguh luar biasa istrinya ini, Adam jadi semakin mencintainya saja.
Begitu Rose dan Adam pergi dari sana, Mona langsung menghambur ke arah Dante yang sudah tidak sadarkan diri. Mona kemudian teringat belum meminta izin pada Kakek dan Neneknya kalau besok pagi dia akan segera pergi dari negara ini.
"Reina, bagaimana dengan ....
"Sweety, percayalah. Semua hal yang dilakukan oleh Rose pasti sudah di persiapkan dengan sangat matang olehnya. Kau tidak perlu cemas karena Kakek dan Nenekmu juga ikut pergi bersamamu ke Negara N. Hanya saja mereka sudah pergi lebih dulu tepat saat kau dan Dante sedang di kejar-kejar oleh mereka!" ucap Reina memotong omongan yang ingin di sampaikan oleh Mona.
"T-tapi kenapa bisa begitu? Tidak mungkin kan mereka mendatangi rumahku?" kaget Mona. Wajahnya langsung memucat seketika.
Reina menyeringai.
Mona-Mona. Kau belum tahu saja betapa darahmu begitu berharga di mata orang-orang seperti mereka. Untung saja kau memiliki Rose. Karena jika tidak, kau beserta Kakek dan Nenekmu pasti akan berakhir di atas meja persembahan. Heh,
__ADS_1
*******