
Setelah panggilan terputus Cesar langsung berbalik menghadap belakang. Dia kemudian menggoyangkan ponsel yang baru saja menjadi penghubung antara dia dengan Gheana, si wanita bodoh yang berlagak bak seorang superstar.
"Sangat berani bukan?" tanya Cesar sambil tertawa kecil.
"Aku pikir dia akan jera setelah menjadi mainan Lorus dan Reina. Rupanya tidak," ujar Rose seraya menghela nafas panjang. "Dam, aku malas menghadapi lawan seperti mantan calon jodohmu itu. Dia terlalu terang-terangan pada Cesar. Sama sekali tidak ada tantangannya."
"Lalu kau ingin bagaimana, hm? Langsung menghabisinya atau membuatnya hidup seperti di neraka?" tanya Adam sembari mengelus perutnya Rose yang sedikit membengkak karena terlalu banyak meminum jus jahanam itu.
Sebelum menjawab, Rose terlebih dahulu menoleh ke arah ibu dan neneknya yang juga ada di sana. Dia berniat menggunakan kekuatan mereka untuk memberi pelajaran pada wanita yang begitu terobsesi pada suaminya. Jika dulu Rose santai-santai saja menghadapi kegilaan Gheana, entah kenapa sekarang dia jadi terpancing untuk meladeninya. Akan tetapi dalam artian malas. Ingin tetap bermain, tapi orang lain yang bergerak. Semacam membunuh tanpa menyentuh.
"Kau menginginkan apa dari kami, Rose?" tanya Liona yang tanggap akan arti tatapan mata cucunya. Liona cukup takjub akan kegigihan Gheana dalam mencari celah untuk merusak rumah tangganya Rose dan Adamar. Membuatnya jadi teringat dengan Kiran, wanita plastik yang juga tergila-gila pada suaminya dulu.
"Aku penasaran dengan mutan yang waktu itu Nenek kirim untuk membantu Reina," jawab Rose tanpa ragu mengungkapkan apa yang dia mau. "Dan aku menginginkan satu yang menyerupai aku. Gheana, aku ingin dia mengakui kejahatannya sendiri di hadapan mutan tiruanku. Dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah meneteskan keringat untuk menyingkirkannya."
Liona tersenyum. Dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi nomor seseorang.
"Halo, Nenek."
"Gerald, kirim satu mutan tiruan untuk Rose. Dia ingin mencoba kecanggihan dari organisasi yang kau pimpin," ucap Liona. "Harus yang serupa, jangan sampai ada yang salah. Nanti detailnya akan Nenek kirimkan."
"Kapan?"
"Lebih cepat akan jauh lebih baik. Saudaramu sedang mengandung, jangan sampai cicit Nenek kenapa-napa hanya karena kalian yang lelet dalam bekerja. Paham?"
Setelah memberikan perintah, Liona memutuskan panggilan. Dia kemudian menatap lekat ke arah Rose yang tengah tersenyum, senyum yang sarat akan suatu kemarahan terpendam. Dan Liona tahu itu.
"Apa sudah lebih baik?"
Rose menggeleng. "Sebelum aku melihat mutan itu dengan mata kepalaku sendiri, maka semuanya belum akan baik-baik saja."
__ADS_1
Adamar diam mendengarkan percakapan antara Rose dengan Nenek Liona. Sebenarnya dia bisa saja menyingkirkan Gheana malam ini juga, tapi tidak bisa Adam lakukan karena sejak awal Rose sudah mengklaim kalau wanita bermuka dua itu adalah bagiannya. Selama keselamatan istri dan calon anaknya tidak terusik, maka Adam hanya akan menjadi penonton setia. Tapi ... hal berbeda akan terjadi jika sampai ada manusia yang berani menyentuh harta paling berharga miliknya. Mungkin orang itu akan langsung mati di tangan seorang Marcellino.
"Resan!"
"Iya, Nona."
"Apa Lorus sudah sadar?" tanya Rose.
"Sudah, Nona. Akan tetapi keadaannya masih belum stabil karena racun yang masuk ke tubuhnya lumayan berbahaya," jawab Resan memberitahukan keadaan Lorus pada Nona-nya. "Untung saja pertolongan datang di saat yang tepat. Jika terlambat, ada kemungkinan besar kalau Lorus tidak akan selamat."
Tanpa harus diminta, Resan segera membungkukkan badan ke arah Tuan Adamar. Berkatnya Lorus bisa selamat dari tangan malaikat maut. Cesar yang melihat bagaimana cara Resan menunjukkan rasa terima kasihnya diam-diam tersenyum puas karenanya. Selain kejam, cerdik, dan juga berbahaya, para anggota Ma Queen ternyata di didik agar memiliki attitude yang baik.
Selamat, Tuan Philippe. Anda akan memiliki seorang menantu yang begitu hebat dalam memimpin kelompoknya. Dengan begini kita semua tidak perlu terlalu mencemaskan keselamatan calon pewaris di keluarga Lorenzo karena dia akan di kelilingi oleh orang-orang yang sangat berpengalaman. Marcellino sungguh beruntung bisa mempunyai pasangan hidup yang kekuatannya seimbang dengan kekuatan yang dia miliki sekarang.
Grizelle melirik ke arah ibunya saat mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Cesar. Tuan Philippe Lorenzo, dia jadi semakin penasaran dengan jati diri dari orang yang telah menjadi besannya itu. Menilik dari bagaimana cara Cesar menghargai orang tersebut, besar kemungkinan kalau Tuan Lorenzo memiliki status yang jauh lebih besar dari yang Grizelle bayangkan.
"Sepertinya ada, Nona," jawab Resan. "Dan ada kemungkinan juga kalau kedatangan mereka masih terhubung dengan salah satu sekte yang di anut oleh Zucca."
"Hmmmm, lagi-lagi para bedebah tidak berguna itu."
Saat menyebut kata sekte, tiba-tiba saja Adam langsung teringat dengan Zidane yang saat ini sudah di pindahkan ke rumah keluarga Clarence. Adam yang tadinya duduk dengan tenang menjadi sedikit gelisah saat mulai kesulitan mengendalikan emosi. Tubuh Adam memanas, dia ingin segera pergi menemui bajingan itu kemudian menyiksanya sampai puas. Ya, Adam menginginkan hal itu.
"Ada apa, Dam? Dudukmu gelisah sekali, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rose seraya menatap lekat ke arah suaminya.
"Zidane, aku ingin menyiksanya sekarang juga, Honey. Otakku seperti berdenyut saat terkenang dengan kondisi Mama," jawab Adam dengan intonasi suara yang begitu rendah. Adam sedang berusaha meredam emosinya.
"Temui Mama dulu sebelum pulang. Kau harus sering-sering menjenguknya agar trauma yang di alami Mama bisa cepat terlupakan."
Adam mengangguk. Setelah itu dia mencium bibir Rose sekilas sebelum akhirnya pergi menemui sang ibu dengan di temani oleh Cesar.
__ADS_1
Liona and the gengs diam menatap Adamar yang pergi dengan diliputi amarah yang begitu besar. Sungguh, adalah suatu kemalangan bagi Zidane Clarence karena sebentar lagi dia akan di siksa oleh seseorang yang selama ini sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Benar-benar tragis.
"Setiap perbuatan pasti akan ada karmanya, entah itu karma baik atau karma buruk. Dan sekarang Zidane akan segera menuai hasil dari apa yang sudah dia semai selama ini. Siapa yang menyangka kalau hidupnya akan berakhir di tangan Adamar, seseorang yang selama ini dia klaim sebagai anak kandungnya sendiri. Sungguh malang!" ucap Greg seraya tersenyum tipis.
"Sebenarnya tidak baik menyoraki kesengsaraan orang lain, Greg!" tegur Liona pelan. "Akan tetapi untuk yang satu ini aku sangat ingin memberikan ucapan selamat. Semoga saja Tuhan tidak menurunkan karma buruk pada keluarga kita karena sudah menertawakan musibah yang sebentar lagi akan segera mendatangi hidupnya Zidane."
Resan melirik ke arah Nona-nya ketika mendengar suara dengusan nafas yang cukup kuat. Dia tahu, sangat tahu kalau Nona-nya ini tengah merasa tidak puas akan sesuatu hal. Resan kemudian mulai mengoreksi satu-persatu masalah yang sedang di hadapi oleh kelompok Ma Queen. Selang beberapa detik kemudian, barulah Resan sadar kalau dia telah melewatkan satu masalah yang sangat penting. Yaitu ....
"Sudah tahu di mana letak kesalahannya?" tanya Rose tanpa melihat ke arah Resan.
"Sudah, Nona. Saya lalai, saya siap menerima konsekuensinya," jawab Resan tanpa ragu.
"Aku sedang tidak mau menghukum orang. Jadi selesaikan masalah itu secepatnya agar aku tidak merasa terganggu lagi!" ucap Rose. "Dan ingat, Resan. Apapun yang mereka tawarkan jangan pernah mau menerimanya. Kita memang organisasi hitam, tapi aku tidak akan pernah mau bekerja sama dengan orang-orang yang suka merugikan masyarakat kecil. Mereka tidak memiliki hati nurani, mereka binatang!"
"Baik, Nona. Kalau begitu saya pamit pergi!"
"Ya."
Resan segera undur diri dari hadapan semua orang setelah mendapat perintah. Sedangkan Rose dan yang lainnya, mereka masih tetap berkumpul di sana sembari mengobrolkan tentang kehamilannya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1