
"Halo, Zalina!" sapa Reina sembari melambaikan tangan ke arah pria setengah wanita yang sedang terdiam kaku di dalam peti. "Upsss, maaf. Sepertinya aku salah menyebutkan namamu. Baiklah, kita ralat. Halo, Zidane."
Lorus dan Resan menyeringai sinis melihat bagaimana cara Reina menyapa Zidane. Lucu, tapi sarat akan ancaman. Sementara yang di sapa, hanya diam dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan. Antara kaget, takut, bingung dan juga panik. Wajar saja. Meski dalam kondisi setengah sadar, Zidane menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana Eroz di habisi oleh kelompok mereka. Kemungkinan besar hal inilah yang membuat Zidane sangat syok begitu bertatap muka dengan mereka. Belum lagi dengan siksaan yang di alaminya di dalam peti. Siksaat tersebut pasti meninggalkan trauma yang cukup berat di diri pria tersebut.
"Eh, kenapa diam saja? Aku ini bukan setan, Zidane. Aku Reinadelwis, kau tidak lupa siapa aku kan?" tanya Reina kesal saat sapaannya tidak di balas.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Siksaan macam apa yang akan di berikan mereka kepadaku? Tatapan mereka ....
"Reina, jangan terlalu menakut-nakutinya. Nanti calon rekan kita kencing di celana!" tegur Resan melucu.
"Rekan kita ya?"
Kedua alis Reina bergerak-gerak saat dia mendengar kata kata rekan yang di tujukan pada Zidane. Setelah itu dia berjalan memutar sambil menarik palu yang tadi di pakai Lorus untuk membuka peti tempat Zidane di kurung. Suara yang di timbulkan akibat gesekan palu dan pinggiran peti membuat suasana menjadi semakin mencekam. Dan hal tersebut sepertinya berpengaruh besar pada mental Zidane karena sekarang wajah pria g*y tersebut sudah pucat pasi dan di banjiri keringat dingin.
"Zidane, aku sungguh tidak mengerti kenapa kau bisa begitu tega menyiksa Mamanya Adamar. Bukankah Nyonya Karina itu adalah istrimu? Kenapa kau bisa setega itu padanya? Dan juga ... tanganmu sendiri kan yang mengantarkan Nyonya Karina ke ranjang Tuan Philippe? Bisa-bisanya kau menyalahkannya atas perselingkuhan yang terjadi di antara mereka. Otakmu sakit ya?" cecar Reina penuh penekanan.
"K-kau tidak tahu a-apa-apa. J-jangan menghakimiku!" sahut Zidane memberanikan diri untuk bicara. Padahal sekarang kerongkongannya sudah sangat kekeringan saking terintimidasinya dia akan apa yang dilakukan Reina.
"Tidak tahu apa-apa?"
Geram karena Zidane tak memberikan jawaban pasti, Reina dengan kesal menggetok keningnya menggunakan palu yang dia bawa. Dan hal itu tidak hanya dilakukan satu kali. Reina terus menggetok kening Zidane sampai keningnya mengucurkan darah segar.
"Aaarrggghhhhh sakittttt! HENTIKAN!" jerit Zidane sambil melindungi keningnya yang terus di pukul. Matanya sampai berkunang-kunang di buatnya.
"Hentikan? Hahahaha, jangan harap!" sahut Reina tanpa kenal ampun. "Kalaupun aku berhenti, itu artinya aku akan kembali memberimu pelajaran lewat penyiksaan yang lain. Mau kau!"
__ADS_1
Melihat Reina yang mengambil star lebih dulu untuk menyiksa Zidane, membuat Lorus menjadi sangat gatal ingin ikut menyiksanya juga. Dia sejak tadi terus menggeretakkan gigi, tak sabar ingin segera mencubit ginjal milik pria g*y tersebut.
"Sabarlah. Biarkan Reina menuntaskan kekesalannya dulu. Lagipula tidak asik juga kalau kau menyiksa Zidane di dalam peti. Aku khawatir Tuan Adam murka jika kemarahannya tidak tersalurkan dengan baik. Kita bertanggung jawab memberinya kepuasan, Lorus!" ucap Resan sambil terus mengarahkan kamera ke wajah Zidane yang sudah berlumuran darah.
"Tanganku sudah sangat gatal ingin segera mencabut kuku-kuku tangannya yang lentik itu, Res. Dari fisik Nyonya Karina, sepertinya dia juga melakukan hal yang sama kepadanya. Aku yakin Tuan Adam pasti akan sangat senang kalau aku bisa memberikan rasa sakit yang sama seperti yang di terima oleh Nyonya Karina selama ini. Benar tidak?" tanya Lorus dingin. Tatapan matanya begitu bengis, dia benar-benar sangat haus darah sekarang.
"Oh, begitu ya? Ya sudah, tarik dia keluar dari dalam peti. Aku ingin lihat apakah dia akan menjerit kesakitan atau tidak saat kukunya di cabut paksa. Dan jika hal tersebut sampai terjadi, maka aku ingin bertanya apakah saat dia mencabut kuku Nyonya Karina, beliau menjerit kesakitan atau tidak!" imbuh Resan santai.
"Lalu?"
Resan menoleh. Dia kemudian memperlihatkan satu seringai yang mana membuat Lorus ikut menyeringai juga.
"Aarrkhhhhh, t-tolong ampuni aku, Nona Reinadelwis. Hentikan! Kepalaku seperti akan pecah!" jerit Zidane sambil berusaha untuk keluar dari dalam peti.
Reina yang melihat mainannya ingin kabur melarikan diri, hanya diam saja sambil mengayun-ayunkan palu ke udara. Dia tertawa, merasa lucu melihat Zidane yang jatuh terjungkal ke lantai karena kondisi tubuhnya yang tidak seimbang.
"T-tolong jangan sakiti aku. Aku mohon!" ratap Zidane saat Lorus berjalan mendekat ke arahnya. Sambil menahan sakit, Zidane beringsut menjauh.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur. Maka itu yang akan menentukan nasibmu malam ini," ucap Lorus sembari membuka kotak yang berisi alat-alat penyiksaan. "Saat Nyonya Karina memohon seperti yang kau lakukan barusan, apa kau mengabulkannya?"
Glukkkk
Jakun Zidane bergerak cepat sesaat setelah dia mendengar jenisnya pertanyaan yang jawabannya akan sama-sama mematikan. Sadar kalau dia akan segera mengalami sesuatu yang sangat mengerikan, Zidane segera memutar otak agar dirinya bisa kabur dari cengkeraman orang-orang ini. Dia tidak boleh mati, Zidane harus tetap hidup demi menjaga nama baik dan juga harta kekayaannya. Termasuk juga melenyapkan Karina agar Adamar bisa kembali percaya kepadanya.
"Ckckckck, dasar tidak tahu diri kau. Sudah baik aku memberikan tawaran menggiurkan kepadamu. Tapi kenapa kau malah sibuk merencanakan sesuatu agar bisa pergi dari sini? Kau bodoh atau bagaimana, hah!" teriak Lorus emosi.
__ADS_1
Daggg buggghhhh
Dengan sangat kuat Lorus menendang dagu Zidane hingga terdongak ke atas. Tak berhenti sampai di sana. Sebelum sempat Zidane tersadar dari kesakitannya, Lorus sudah lebih dulu menarik kakinya ke atas. Di satu tangannya terpegang sebuah tang yang akan dia gunakan untuk mencabut kuku kaki milik Zidane.
"S-sakit ... t-tolong aku!" lirih Zidane kami tak berdaya. Dia hanya bisa pasrah saat kuku kakinya di ketuk menggunakan benda tumpul yang dia sendiri tidak tahu apa.
"Saat Nyonya Karina meminta tolong padamu, apa kau melepaskannya?" tanya Resan sambil mengarahkan layar kamera ke kaki Zidane yang tengah di telusuri oleh Lorus dengan tang yang dia bawa.
"Toloong. Ini sangat sakit."
"Jadi kau tidak mau menjawab pertanyaan temanku, iya?!" sentak Lorus.
"Aihh Lorus. Kau terlalu lembek menghadapi induk iblis ini. Sudah, cabut saja semua kuku kakinya. Jangan di beri ampun!" protes Reina tak sabar melihat teman-temannya yang seperti mengulur waktu.
"Tidak perlu terburu-buru, Rein. Tuan Adam bilang dia ingin melihatnya menderita perlahan-lahan. Jadi santai saja. Kita nikmati malam ini dengan penuh suka cita!" sahut Resan menenangkan kekesalan temannya.
"Terserah kalian sajalah. Aku ikut."
Setelah berkata seperti itu Reina langsung unjuk gigi dengan memegangi kaki Zidane yang mulai memberontak. Saat ini, keadaan terlihat begitu timpang dimana ada seorang pria yang sedang terluka parah tengah di cekal oleh dua orang yang sama-sama memegang benda tumpul di tangannya. Juga ada satu pria lagi yang bertugas merekam jalannya penyiksaan yang entah kapan akan berakhir karena penyiksaan yang sebenarnya baru saja akan di mulai. Neraka Zidane akan segera tiba, dan bisa di pastikan kalau malam dia dia akan bergelut dengan rasa sakit yang tiada duanya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...