
"Nenek Liona, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Resan sambil memperhatikan wanita tua yang kini tengah membilas kedua tangannya yang berlumuran darah.
Liona mengangguk. "Tunggu sebentar. Aku akan membersihkan tanganku dulu setelah bermain-main dengan mereka. Tapi aku bisa menebak kalau kau itu datang atas nama cucuku. Benar bukan?"
"Anda benar sekali, Nenek Liona. Nona Rose baru saja menghubungiku dan dia mengatakan kalau para mutan harus sudah ada di markas sebelum Nona sampai di sini."
Liona tersenyum. Sepertinya dia akan kembali menyaksikan cara bermainnya Rose yang sangat mirip dengan sepak terjangnya dulu. Setelah memastikan kalau tangannya sudah benar-benar bersih dari noda darah, Liona memanggil Hansen kemudian meminta ponsel darinya.
"Kita lihat apakah pekerjaan saudaranya Rose bisa memuaskan imajinasinya atau tidak," ucap Liona kemudian menekan satu nomor di ada di ponsel.
"Halo, Nenek."
"Apa kabar dengan pesanan Nenek kemarin, Rald? Siang ini Rose ingin melihat barangnya. Kau seharusnya tidak membuat Nenek kehilangan muka di depan saudaramu itu," jawab Liona seraya melangkah menuju sofa. Dia kemudian duduk di sana sambil menatap datar ke arah Resan. Ya, Liona sedang memberi pengertian pada anak buah cucunya kalau Organisasi Grisi bukanlah organisasi yang bisa di remehkan. Apalagi sekarang organisasi tersebut di pegang oleh Gerald yang notabenenya tidak memiliki rasa belas kasih sedikitpun. Gerald kejam, tapi bodoh soal perasaan. Itulah kekurangannya.
"Akan segera tiba sebentar lagi, Nek. Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapapun memandang rendah harga diri Nenek. Aku bersumpah untuk itu!"
"Baiklah, kalau begitu kau lanjutlah bekerja."
Setelah itu Liona memutuskan panggilan. Dia kemudian menatap Resan sambil tersenyum aneh. "See? Yang Rose minta akan segera tiba. Jadi kau aman, Resan!"
Sadar kalau perkataannya sudah menyinggung emosi di diri Nenek Liona, Resan dengan cepat segera membungkukkan tubuhnya. Dia meminta maaf dengan tulus karena sudah berpikir kalau keinginan sang Nona telah di abaikan.
"Saya meminta maaf atas kelancangan yang tidak sengaja saya lakukan, Nenek Liona."
__ADS_1
"Tak masalah, tapi usahakan jangan pernah meminta maaf padaku karena aku sangat membenci kata-kata itu. Ingat, Resan. Nona-mu adalah cucuku, itu artinya kalau dia adalah prioritas kami semua. Nanti setelah ingatan Rose pulih, aku ingin kelompok kalian di pindahkan ke pulau di mana kalian akan bergabung dengan organisasi Grisi. Itu hanya organisasinya saja, bukan laboratoriumnya. Perlu orang-orang mumpuni jika ingin masuk ke sana. Dan beberapa anggota Queen Ma sudah masuk dalam rekomendasiku!" sahut Liona tegas tanpa bisa di bantah.
"Kami hanya mematuhi perintah dari Rose saja, Nenek Liona. Jadi sebesar dan semanis apapun janji yang kau buat, itu tidak akan membuat kami berpindah haluan. Dan ini adalah sesuatu yang tidak bisa di tawar dengan apapun, Nenek Liona!"
Reina berjalan dengan langkah pelan sambil melayangkan tatapan tajam ke arah wanita yang baru saja seenaknya mengatur tentang kelompok Ma Queen. Dia kemudian duduk di sebelahnya tanpa merasa takut ataupun canggung sedikitpun.
"Di sini hanya ada satu ketua. Dan itu adalah Rose, si mawar kesayanganku. Jadi kau jangan berharap bisa memiliki kami karena hati dan hidup kami sepenuhnya sudah menjadi milik Rose. Kami hidup hanya untuk kelompok ini, dan kami mati pun harus karena membela kelompok ini juga. Kau harus tahu, Nenek Liona. Ada beberapa batasan yang tidak bisa kau lewati sesuka hati meski statusmu sendiri adalah nenek kandungnya Rose. Kami sudah bersamanya sejak awal kelompok ini di dirikan. Jadi aku harap kau jangan coba-coba merusak persatuan kami karena kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" lanjut Reina sembari memilin rambut panjangnya.
Sudut bibir Liona berkedut.
"Apa kau sedang mengancamku, Nona Reinadelwis?"
"Anggaplah memang seperti itu, Nenek Liona. Ma Queen Rose adalah puncak kehidupan semua orang yang tergabung di sini. Di tangan cucumu itu kami semua bisa merasakan apa yang di sebut manusia. Jadi akan sangat fatal jika ada seseorang yang berani mengusik kami, terutama ketua kami. Mati, dan itu tidak bisa termaafkan!"
Prookkk prookkk prookkk
"Kau tahu, Reina. Jawabanmu tadi benar-benar membuatku merasa sangat bahagia. Aku lega karena cucuku di kelilingi oleh orang-orang yang sangat setia kepadanya. Dan untuk masalah pulau itu, aku hanya mengetes kesetiaan kalian saja. Aku ingin tahu seberapa besar kalian mampu menahan n*fsu untuk menjadi orang yang jauh lebih baik dari ini. Dan jawabanmu ... woww. Amazing!" ucap Liona tanpa ragu memberikan pujian atas kesetiaan para anggota yang di ketuai oleh cucunya.
Sebelah alis Reina terangkat ke atas. Dia menatap wajah Nenek Liona lekat-lekat, sangat sadar kalau ada maksud lain di balik kata-katanya barusan.
"Ya, yang kau pikirkan benar, Reina. Aku bicara seperti ini karena ada tujuan lain. Dan itu akan aku beritahukan pada kalian berdua!" ucap Liona membenarkan apa yang sedang di pikirkan oleh Reina.
Haaa? Bagaimana bisa Nenek Liona tahu kalau aku sedang berfikir tentangnya? Dia ini seperti cenayang saja.
__ADS_1
"Apa yang ingin anda beritahukan kepada kami, Nenek Liona?" tanya Resan penasaran.
"Lusa kami semua akan kembali ke Negara N. Perusahaan milik orangtuanya Rose akan berulang tahun, dan kami berencana untuk memulihkan ingatan Rose dengan menampilkan salah satu tempat yang paling bersejarah di dalam hidupnya. Aku tahu ini agak sedikit beresiko karena sekarang Rose sedang hamil. Akan tetapi dia tetap harus ingat kenangan-kenangan bersama kami dulu karena ada sesuatu yang harus dia selesaikan. Dan aku harap kalian bisa menemaninya datang ke sana nanti!" jawab Liona dengan tatapan penuh arti terpendam.
"Apa ini ada hubungannya dengan pulau yang anda sebutkan tadi?" tanya Resan kembali memastikan.
"Ada, tapi bukan itu tujuannya."
"Lalu?"
"Hanya dia yang bisa menjawab. Dan setelah puzzle-puzzle itu tersusun, kita semua akan langsung tahu apakah Adamar merencanakan ini semua atau tidak," jawab Liona.
"Adamar? Apa hubungannya Adamar dengan masa lalunya Rose, Nenek Liona?"
Kali ini Reina benar-benar merasa sangat penasaran. Dia bingung kenapa orang-orang ini memiliki banyak sekali rahasia yang belum terpecahkan. Sangat aneh.
Jelas itu sangat berhubungan, Reina. Karena Rose sejak dulu mampu melihat masa lalu dan juga masa depannya sendiri. Aku sendiri masih merasa sangat penasaran apakah Rose benar-benar melupakan semua masa lalunya atau dia sengaja melakukannya hanya untuk tujuan tersendiri. Dan Adamar, aku yakin namanya ada di deretan pertama dalam ingatannya itu.
Tanpa menjelaskan apapun lagi Liona langsung pergi dari sana. Pikirannya sedikit tidak tenang, dia khawatir kalau-kalau Rose tengah merencanakan sesuatu yang sangat besar di mana sesuatu tersebut sangat mengancam keselamatannya.
"Res, apa kau menangkap maksud dari perkataan Nenek Liona tadi?" tanya Reina.
"Jujur aku agak bingung mengartikannya, Reina. Akan tetapi jika di urutkan dengan benar, sepertinya maksud perkataan Nenek Liona barusan itu menjurus pada susunan rencana yang sebelumnya sudah di atur sendiri oleh Nona Rose. Coba kau ingat-ingat lagi ketika kita pertama kali di selamatkan oleh Nona. Dia hanyalah gadis remaja biasa, tapi memiliki kemampuan bela diri yang sangat luar biasa baik dan juga perakit senjata yang sangat handal. Belum lagi dengan jumlah kekayaannya yang sangat mustahil bisa dimiliki oleh seseorang yang berasal dari satu pedesaan miskin. Apakah puzzle-puzzle ini yang di maksud oleh Nenek Liona? Semacam teka-teki dengan siapa dulu Nona Rose mempelajari ini semua. Benar tidak?"
__ADS_1
"Astaga, kepalaku kenapa jadi sakit begini ya. Sudahlah, masa bodo dengan masa lalunya Rose. Yang terpenting dia adalah penyelamatku dan aku akan terus berada di sampingnya sampai aku mati!" sahut Reina kemudian mengajak Resan untuk pergi dari sana.
*****